Betapa Indahnya, Ibadah Pada Saat Aku Tidur di Kasurku

Seorang ulama tabiin, Abul Aliyah mengatakan:

الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ مَا لَمْ يَغْتَبْ أَحَدًا وَإِنْ كَانَ نَائِمًا عَلَى فِرَاشِهِ

“Orang yang sedang berpuasa itu berada dalam ibadah selama tidak menggunjing siapa pun meski dalam kondisi tidur di kasurnya.”

Hafshah binti Sirin mengomentari hal ini dengan mengatakan:

يَا حَبَّذَا عِبَادَة وَأَنَا نَائِمَةٌ عَلَى فِرَاشِيْ

“Betapa indahnya, ibadah pada saat aku tidur di kasurku.” (Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab hlm 168)

Ketika seorang itu dalam kondisi beribadah semua aktivitasnya bernilai ibadah.

Contoh yang lain adalah:

Jihad perang di jalan Allah: Seorang mujahid itu berada dalam ibadah meski dalam kondisi tertidur karena kelelahan.

Contoh lain adalah:

Ihram haji atau umroh: Seorang yang dalam kondisi ihram itu berada dalam ibadah meski sedang tertidur pulas.

Pernyataan Abul Aliyah di atas bukanlah motivasi untuk memperbanyak tidur namun menunjukkan berapa istimewanya ibadah puasa.

Memperbanyak tidur tanpa ada kebutuhan adalah bagian dari godaan setan. Setan ingin mengurangi waktu ibadah seorang muslim.

Ghibah atau menggunjing sesama muslim adalah dosa yang menghapus pahala ibadah puasa.

Terlelap tidur setelah capek dengan aktivitas bermanfaat bagi orang yang berpuasa tetap dinilai ibadah selama pahala ibadah puasanya tidak hilang karena dusta, ghibah dll.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

 

Nasehat Dari Segelas Air

Suatu ketika al-Hasan al-Bashri diberi minuman air putih segar. Tatkala beliau memegang gelas berisi air tersebut tiba-tiba beliau pingsan. Gelas pun jatuh dari tangan beliau. 

Setelah beliau siuman ditanyakan kepada beliau:

“Ada apa wahai Abu Said?”

Jawaban beliau:

ذَكَرْتُ أُمْنِيَّةَ أَهْلِ النَّارِ حِيْنَ يَقُوْلُوْنَ لِأَهْل الْجَنَّةِ

Segelas air itu mengingatkan diriku dengan angan-angan penduduk neraka ketika mereka berkata kepada penduduk surga:

“Berikan kepada kami sedikit air atau rezki yang Allah berikan kepadamu.” (QS al-A’raf: 50)

(Ayyuhal Walad karya Abu Hamid al-Ghazali hlm 48-49, Dar al-Minhaj Jeddah)

Inilah beda orang yang benar-benar shalih dengan orang yang kayaknya shalih. Orang yang benar-benar shalih hatinya lembut, mudah mengambil pelajaran dan berdzikir ingat Allah Ta’ala dengan hal-hal sepele di sekitar dirinya. 

Lain halnya dengan orang yang kayaknya shalih, sulit mengambil pelajaran dan berdzikir ingat Allah Ta’ala dengan sebab hal-hal di sekitarnya. 

Manfaat penting membaca cuplikan kisah hidup orang shalih di masa silam adalah menghancurkan kesombongan dan perasaan sudah shalih. 

Bagi Al-Hasan al-Bashri segelas air minum sudah cukup untuk membuat beliau ingat dengan surga dan neraka, bahkan merasa takut dengan neraka. Akhirnya beliau pingsan karena hal ini. 

Coba bandingkan beliau dengan kita. Nampak sekali seberapa buruk kualitas hati kita. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Orang Yang Patut Dikasihani

Abdullah bin Mas’ud mengatakan:

إِذَا كُنْتَ فِيْ خَلْوَتِكَ لَا تَبْكِي عَلَى خَطِيئَتِكَ وَلَا تَتَأَثَّرُ بِتِلَاوَةِ كِتَابِ رَبِّكَ فَاعْلَمْ أَنَّكَ مِسْكِيْنٌ قَدْ كَلَبَتْكَ خَطِيئَتُكَ

“Jika dirimu ketika sepi sendiri tidak bisa menangisi dosa dan emosimu pun tidak terpengaruh oleh bacaan Al-Quran sadarilah bahwa dirimu adalah orang yang patut dikasihani. Dosa-dosa telah membelenggu dirimu.” (Halu as-Salaf ma’al Qur’an hlm 135 Dar al-Hadharah)

 Menurut Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibnu Mas’ud ada dua ciri orang yang patut dikasihani: 

Pertama:

Orang yang ketika sepi sendiri tidak bisa terkenang dengan dosa-dosanya lantas menangis karenanya.

Kedua:

Orang yang emosinya tidak terpengaruh dengan bacaan al-Quran yang dibaca, tidak bisa gembira ketika al-Quran yang dibaca bercerita tentang surga dan tidak bisa sedih ketika al-Quran yang sedang dibaca bercerita tentang murka dan adzab Allah Ta’ala.

Dua hal terjadi karena belenggu dosa yang demikian kuat mencengkeram hati. 

Banyak dari kita menangis bukan karena terkenang dosa namun malah karena teringat hutang, kehilangan uang, lamaran nikah yang ditolak dll. 

Kita selayaknya menangis karena tidak bisa menangisi dosa-dosa kita. 

Banyak dari kita yang emosinya demikian larut karena novel cinta cinta, sinetron atau film namun tidak bisa larut dengan bacaan al-Quran yang kita baca. 

Sungguh kita adalah orang yang lebih patut dikasihani dibandingkan orang fakir miskin, orang yang kesusahan untuk makan, kesulitan untuk bisa memakai pakaian yang layak dll. 

Mereka ini patut dikasihani karena problem fisik dan dunia sedangkan kita patut dikasihani karena problem hati dan akhirat. 

Hanya kepada Allah Ta’ala kita mengadu. 

Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

 

Paling Hebat Dalam Ibadah

Said bin al-Musayyib, seorang ulama era tabi’in pernah ditanya mengenai orang yang paling hebat dalam beribadah kepada Allah. 

Jawaban beliau, 

رَجُلٌ اجْتَرَحَ مِنَ الذُّنُوْبِ فَكُلَّمَا ذَكَرَ ذُنُوْبَهُ احْتَقَرَ عَمَلَهُ

“Orang yang melakukan sejumlah dosa lantas setiap kali teringat dosa-dosanya tersebut dia menganggap remeh amal sholih yang pernah dia lakukan.” (Shifah ash-Shofwah 2/665)

Diantara label yang mulia adalah abid, ahli ibadah.

Ahli ibadah yang paling hebat bukanlah orang yang tidak pernah melakukan dosa. 

Ahli ibadah yang paling hebat adalah orang yang merasa remeh dan sedikit amal shalih yang pernah dilakukannya, tidak merasa banyak beramal apalagi merasa berjasa untuk Islam dan merasa berjasa kepada Allah.

Diantara kiat agar bisa merasa bahwa amal kebaikan yang pernah dilakukan itu tidak berharga adalah dengan ingat banyak dosa yang pernah dilakukan. 

Jangan pernah lupakan dosa agar kita tidak pernah merasa sudah hebat dalam beramal shalih.

Semoga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini orang-orang yang merasa hina di hadapan Allah karena menyadari betapa tidak bernilainya  amal ibadah yang pernah dilakukan. Aamiin.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Pendengar Yang Baik

‘Atha’ bin Abi Rabah, seorang ulama tabiin, mengatakan, 

إِنَّ الرَّجُلَ يُحَدِّثُنِيْ بِالْحَدِيْثِ فَأَنْصِتُ لَهُ كَأَنِّيْ أَسْمَعُهُ وَقَدْ سَمِعْتُهُ قَبْلَ أَنْ يُوْلَدَ

“Sungguh ada orang yang menyampaikan sebuah hadits. Akupun diam menyimak seakan aku baru pertama kali mendengar hadits tersebut padahal aku telah mendengar hadits tersebut sebelum dia lahir.” (Siyar A’lam an-Nubala’ 5/86)

Diantara adab yang luhur ketika ada yang berbicara atau bercerita adalah kita simak dengan penuh perhatian dan penuh antusias seakan kita baru mendengarnya pertama kali.

Diantara adab yang buruk ketika ada orang yang bercerita adalah:

  1. Kita dengarkan sambil mainan gadget. 
  2. Kita dengarkan sambil menengok ke kanan atau ke kiri, seakan bosan mendengarkan ceritanya. 
  3. Kita simak pembicaraannya lantas kita komentari bahwa kita sudah pernah mendengarnya dari pembicara yang lain. 
  4. Kita potong pembicaraan orang sepuh tersebut dan kita komentari bahwa kita sudah mendengar cerita tersebut dari beliau sendiri untuk kesekian kalinya.

Adab yang luhur dan mulia itu membuat kita dicintai dan dihormati manusia. 

Sebaliknya adab yang buruk menyebabkan orang tidak suka dengan kita. 

Orang yang cakep, cantik, pintar atau berilmu itu jatuh nilainya disebabkan adab yang buruk.

Oleh karena itu warisan terbaik ortu kepada anaknya adalah penanaman adab yang luhur dan mulia. 

Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk bisa memiliki adab yang luhur dan mulia. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Obat Amarah

Nabi bersabda, 

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

 

“Jika kalian emosi dan marah diam saja.” (HR Ahmad dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Kiat penting untuk mengendalikan amarah adalah diam, tidak ngomong dan tidak nulis.

Orang yang sedang marah jika berbicara atau menulis itu dikendalikan oleh amarahnya, bukan oleh akal dan dirinya.

Saat marah orang itu sering lepas kendali ketika berbicara. 

Saat marah sering keluar kata-kata yang nantinya disesali semisal cacian yang sangat kasar, menjatuhkan talak atau minta cerai. 

Oleh karena itu sikap tepat saat emosi adalah diam, tidak ngomong dan tidak pegang HP. Saat marah melanda, jangan telpon, jangan kirim chat WA dll. Insya Allah dengan demikian kita tidak akan menyesali ucapan dan tulisan yang yang terlontar ketika itu.

Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar bisa menjadi orang yang pandai mengendalikan diri ketika emosi dan marah. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Penyakit Hati & Obatnya

Abdullah bin ‘Aun mengatakan, 

ذِكْرُ النَّاسِ دَاءٌ وَذِكْرُ اللَّهِ دَوَاءٌ

“Membicarakan orang itu penyakit hati, sedangkan membicarakan dan mengingat Allah itu obat penyakit hati.” (Siyar A’lam an-Nubala’ 6/365)

Pada dasarnya membicarakan orang lain itu sumber penyakit hati. 

Membicarakan kejelekan orang berdasarkan data akurat adalah ghibah, sebuah dosa besar. 

Membicarakan kejelekan orang lain tanpa data adalah dusta dan fitnah. 

Membicarakan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain seringkali berbuah iri dengki. 

Lain halnya dengan membicarakan Allah. 

Membicarakan nikmat Allah itu membuahkan syukur. 

Membicarakan ilmu tentang agama Allah membuahkan rasa takut kepada-Nya. 

Membaca firman Allah dan kalimat-kalimat dzikir adalah sebab ketenangan hati. 

Anehnya, banyak orang yang memilih penyakit dari pada obatnya. 

Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk selalu mengobati dan memperbaiki hati kita. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

 

Puncak Kenikmatan Dunia

اللذات كلها بين حسي وعقلي ؛ فنهاية اللذات الحسية وأعلاها النكاح ، وغاية اللذات العقلية العلم ، فمن حصلت له الغايتان في الدنيا ، فقد نال النهاية

Ibnul Jauzi mengatakan, “Seluruh kenikmatan duniawi itu bisa dibagi menjadi dua kategori; kenikmatan fisik dan kenikmatan akal. Puncak kenikmatan fisik adalah menikah. Sedangkan puncak kenikmatan akal adalah ilmu agama. Siapa yang mendapatkan dua puncak kenikmatan di atas ketika dia hidup dia dunia sungguh dia telah mendapatkan seluruh kenikmatan duniawi.” (Shoidul Khathir hal. 190) 

Sungguh beruntung seorang muslim yang diberi rasa nikmat belajar ilmu agama, hadir di majelis ilmu, membaca buku agama, dll. 

Nikmat ini menjadi sempurna manakala Allah mudahkan untuk menikah dan berketurunan.

Moga Allah jadikan kita orang yang merasakan nikmatnya agama plus diberi kemudahan untuk menikah dan mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahan tersebut.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Nasehat Ulama: Rahasia Rezeki Anda – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3)

Asas rezeki adalah takwa kepada Allah, para ulama berkata, “Jika Anda menginginkan rezeki maka bertakwalah kepada Allah, jika Anda menginginkan keberkahan pada rezeki Anda maka bertakwalah kepada Allah, dan jika Anda menginginkan kelanggenggan rezeki Anda maka bertakwalah kepada Allah.” Takwa kepada Allah adalah asas rezeki dan oleh sebab itu dalam hadis disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuannya, niscaya Allah akan cerai beraikan urusannya, dan dijadikan kefakiran berada di depan kedua matanya, dan dia tidak akan mendapatkan bagian dunianya kecuali apa yang telah Allah takdirkan untuknya. Dan barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, niscaya Allah akan kumpulkan segala urusannya, dijadikan kekayaan di dalam hatinya dan dunia akan tunduk mendatanginya.” Hadis diriwayatkan oleh Tirmizi.

Bagi orang yang tidak bertakwa kepada Allah dan mengutamakan dunia dari pada akhiratd an menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya dan yang halal baginya adalah apa yang telah masuk ke dalam kantongnya. Niscaya Allah akan cerai beraikan urusannya, Wahai saudaraku, hatinya akan tercerai berai dan tidak bahagia, dia tidak akan pernah bahagia karena Allah yang mencerai beraikan segala urusannya. Dan apabila Allah telah mencerai beraikan hatinya, siapa yang mampu untuk menyatukannya? Oleh sebab itu, wahai saudara-saudaraku, kita dapati orang-orang kaya dari kalangan orang-orang kafir bunuh diri.

Banyak dari mereka bunuh diri karena Allah telah mencerai beraikan hati mereka. Dan dijadikan kefakiran berada di depan kedua matanya, Setiap kali dia melihat, apa yang dia lihat? Dia melihat kefakiran meskipun brangkasnya penuh namun dia tetap melihat kefakiran. Setiap kali dia melihat, dia melihat kefakiran sehingga dia tidak bisa menikmati hartanya karena dia memandang dirinya masih kekurangan. Sehingga dia sangat bersemangat mengejar harta dan berlelah-lelah dalam mengumpulkannya namun dia tidak bisa mengambil manfaat dari hartanya. Dan dia tidak akan mendapatkan bagian dunianya kecuali apa yang telah Allah takdirkan untuknya. Walau apapun yang dia lakukan.

Karena rezeki itu seperti ajal, tidak akan berkurang sedikitpun dan tidak akan bertambah sedikitpun. Allah telah menulis rezeki kita sebagaimana Dia telah menulis ajal kita. Dulu, ketika kami berada di halaqah Syeikh Atiyyah -Semoga Allah merahmati beliau- di kursi yang aku mengajar di sana sekarang. Beliau menjelaskan masalah ini dan Syeikh -Semoga Allah merahmati beliau- bercerita, beliau berkata, “Seorang yang terpercaya telah bercerita kepadaku bahwa seseorang terjatuh ke dalam sebuah sumur hingga sekelompok orang datang dan menemukannya kemudian mereka mengeluarkan dia dari sumur tersebut.dan dia tidak memiliki apapun, dia tidak membawa apapun. Kemudian mereka memberi dia semangkuk susu kemudian dia meminumnya. Subhanallah, setelah dia meminumnya, salah seorang dari mereka bertanya, ‘Bagaimana bisa Anda jatuh ke sumur ini?’ Dia berkata, ‘Aku datang kemudian berdiri di sebelah sini.’ Dan ketika dia berkata demikian, dia terjatuh lagi kemudian meninggal.”

Karena rezekinya masih tersisa berupa semangkuk susu tersebut, maka dia keluar untuk mengambil rezekinya. Dan karena menit-menit itu adalah sisa umurnya maka dia keluar dari sumur itu untuk menghabiskannya. Ketika dia telah mendapatkannya secara sempurna, maka matilah dia. Oleh sebab itu, rezeki itu seperti ajal. Dan barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya, inilah orang yang bertakwa kepada Allah, baginya akhirat itu diutamakan atas segala sesuatu. Niscaya Allah akan kumpulkan segala urusannya. Sehingga hatinya tenang karena Allah ‘Azza wa Jalla yang mengumpulkan hatinya untuknya sehingga hatinya tenang dan tidak tercerai berai.

Dijadikan kekayaan di dalam hatinya. Dia selalu bersyukur, ketika diberi rezeki apapun, dia akan berkata, Alhamdulillah.” Dia bersyukur kepada Allah atas nikmat-Nya, menunaikan hak dalam hartanya dan bersedekah, dan bertambahlah hartanya. Sehingga dia senantiasa bersyukur. Dijadikan kekayaan di dalam hatinya. Dan dunia akan tunduk mendatanginya. Sehingga dunia tidak akan hilang karena ketakwaan kepada Allah.

***
Translasi ceramah bahasa Arab:

وَمَن يَتَّقِ الله يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
الطلاق الآية 2 – 3

أَسَاسُ الرِّزْقِ تَقْوَى الله

يَقُولُ الْعُلَمَاءُ: إِنْ أَرَدْتَ الرِّزْقَ فَاتَّقِ الله

إِنْ أَرَدْتَ الْبَرَكَةَ فِي الرِّزْقِ فَاتَّقِ الله

إِنْ أَرَدْتَ دَوَامَ الرِّزْقِ فَاتَّقِ الله

تَقْوَى الله أَسَاسُ الرِّزْقِ وَ لِذَلِكَ جَاءَ فِيْ الْحَدِيْثِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ الله عَلَيْهِ أَمْرَهُ

وجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ

وَ لَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كَتَبَ الله لَهُ

وَمَنْ جَعَلَ الآخِرَةَ نِيَّتَّهُ جَمَعَ الله عَلَيْهِ أَمْرَهُ

وَ جَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَ أَتَتْهُ الدُّنْيَا وَ هِيَ رَاغِمَةٌ
رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

الَّذِيْ لَا يَتَّقِي الله وَيَلهُو بِالدُّنْيَا عَنِ الْآخِرَةِ

وَ يَجْعَلُ الدُّنْيَا هَمَّهُ وَ الْحَلَالُ مَا حَلَّ فِي الْجَيْبِ

فَرَّقَ الله عَلَيْهِ أَمْرَهُ
يَتَشَتَّتُ قَلبُهُ- يَاإِخْوَة- مَا يَسْعَدُ

مَا يَسْعَدُ اَبَدًا، الله يُفَرِّقُ أَمْرَهُ

فَإِذَا فَرَّقَ الله عَلَيْهِ قَلبَهُ مَنْ الَّذِيْ يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَجْمَعَهُ

وَ لِذَلِكَ- يَا إِخْوَة- نَجِدُ أَغْنِيَاءَ الأَغْنِيَاءِ مِنَ الْكُفَّارِ يَنْتَحِرُونَ

جَمْعٌ مِنْهُمْ اِنْتَحَرُوْا لِأَنَّ الله فَرَّقَ عَلَيْهِمْ قُلُوبَهُمْ

وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ

إِذَا نَظَرَ مَاذَا يَرَى؟ يَرَى الْفَقْرَ لَوْ اِمْتَلَأَتْ الْخَزَائنُ يَرَى الْفَقْرَ

كُلَّمَا نَظَرَ رَأَى فَقْرًا فَلَا يَهْنَأُ بِالْمَالِ لِأَنَّهُ يَرَى نَفْسَهُ فَقِيرَا

وَ يَحْرِصُ عَلَى الْمَالِ وَ يَتْعَبُ فِي جَمْعِ الْمَالِ وَ لَا يَسْتَفِيْدُ مِنَ الْمَالِ

وَ لَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كَتَبَ الله لَهُ
مَهْمَا فَعَلَ

فَالرِّزْقُ مِثْلُ الْأَجَلِ لَنْ يَنْقُصَ مِنْهُ شَيْءٌ وَ لَنْ يَزِيدَ عَلِيْهِ شَيْءٌ

الله كَتَبَ أَرْزَاقَنَا كَمَا كَتَبَ آجَالَنَا

كُنَّا فِي حَلْقَةِ الشَّيْخِ عَطِيَّةَ رَحِمَهُ الله فِي الْكُرْسِيِّ الَّذِي أُدَرِّسُ فِيهِ الْآنَ

فَذَكَرَ لَنَا هَذَا الْمَوْضُوعَ وَ قَالَ الشَّيْخُ رَحِمَهُ الله، قَالَ: أَخْبَرَنِي ثِقَةٌ

أَنَّ رَجُلًا سَقَطَ فِي بِئْرٍ فَجَاءَ قَوْمٌ فَوَجَدُوهُ فِي الْبِئْرِ فَأَخْرَجُوهُ

وَلَمْ يَكُنْ بِهِ شَيْءٌ لَمْ يَكُنْ بِهِ شَيْءٌ

فَأَعْطَوهُ طَاسَةً مِنَ اللَّبَنِ فَشَرِبَهَا

سُبْحَانَ الله بَعْدَمَا شَرِبَهَا قَالَ لَهُ أَحَدُهُمْ أَنْتَ كَيْفَ سَقَطْتَ فِيْ هَذَا الْبِئْرِ؟

قَالَ جِئْتُ وَ وَقَفَتُ هُنَا
يَقُوْلُ كَذَا هُوَ يَسْقُطُ فَمَاتَ

بَقِيَتْ لَهُ هَذِهِ الطَّاسَةُ مِنْ رِزْقِهِ خَرَجَ مِنْ أَجْلِهَا

وَهَذِهِ اللَّحْظَاتُ مِنْ أَجْلِهِ
مِنْ أَجَلِهِ خَرَجَ مِنْ أَجْلِهَا

فَلَمَّا اِسْتَوْفَاهَا مَاتَ

فَالرِّزْقُ مِثْلُ الْأَجَلِ

وَ مَنْ جَعَلَ الآخِرَةَ نِيَّتَهُ
هَذَا الَّذِيْ يَتَّقِي الله

اَلْآخِرَةُ عِنْدَهُ مُقَدَّمَةٌ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ

جَمَعَ الله عَلَيْهِ أَمْرَهُ
فَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ الله عَزَّ وَجَلَّ جَمَعَ عَلَيْهِ الْقَلْبَ قَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ مَا يَتَشَعَّبُ

وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ
فَهُوَ شَكُورٌ كُلَّمَا رُزِقَ شَيْئَا قَالَ الْحَمْدُ لله

شَكَرَ الله عَلَى النَّعْمَةِ وَ أَتَى حَقَّ الْمَالِ وَ تَصَدَّقَ وَ يَزِيدُ مَالُهُ

فَهُوَ شَكُورٌ
جَعَلَ الله غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ

وَ أَتَتْهُ الدُّنْيَا وَ هِيَ رَاغِمَةٌ
لَنْ يُحْرَمَ الدُّنْيَا مِنْ أَجْلِ التَّقْوَى

Memberi Buka Puasa Yang Mengenyangkan

 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئٌ

“Siapa yang memberi buka puasa untuk orang yang berpuasa baginya pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikitpun.” (HR at-Tirmidzi, dinilai shahih oleh at-Tirmidzi dari Zaid bin Khalid)

 وَالْمُرَادُ بِتَفْطِيْرِهِ أَنْ يُشْبِعَهُ

“Yang dimaksud memberi buka puasa adalah makanan yang mengenyangkannya.”

(al-Akhbar al-Ilmiyyah min al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyyah hlm 161, Dar al-‘Ashimah) 

Hadits di atas menunjukkan kemurahan Allah Ta’ala.

Hanya dengan memberi buka puasa kita bisa mendapatkan pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa. 

Ada dua pendapat ulama tentang pengertian memberi buka puasa:

Pertama:

Memberi menu pembuka berupa beberapa butir korma, satu gelas teh hangat atau yang lain.

Kedua: 

Memberi satu paket lengkap makanan dan minuman yang bisa mengenyangkan orang yang berbuka puasa.

Pendapat yang lebih tepat adalah pendapat kedua.

Makanan yang mengenyangkan dalam hal ini tidak harus berupa makanan siap saji namun boleh juga berupa bahan makanan yang digunakan untuk berbuka puasa. 

Saat ini kesempatan mendapatkan pahala memberi buka orang yang berpuasa masih tetap terbuka lebar.

Semoga Allah menerima amal sedekah yang dilakukan oleh penulis dan semua pembaca tulisan ini. Aamiin.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.