Tundukkan Pandanganmu! Selamatkan Hatimu! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Tundukkan Pandanganmu! Selamatkan Hatimu! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Jika seseorang memberi kesempatan bagi dirinya untuk mengumbar pandangan dan di sisi lain ia tidak ingin hatinya berpenyakit maka ini adalah sebuah kontradiksi, karena itu adalah jalan bagi penyakit hati.

Jadi, keselamatan dari penyakit hati adalah dengan menundukkan pandangan. Ketika Ibnu al-Qayyim rahimahullah membahas tentang menundukkan pandangan sebelum adanya media-media yang sekarang ada di setiap genggaman anak-anak dan orang dewasa, serta lelaki dan perempuan di zaman kita ini yang tidak pernah ada di zaman kami dulu.

Jika orang yang hidup sebelum kita, ketika belum ada media-media ini juga terjangkit oleh penyakit-penyakit ini, maka bagaimanakah keadaan orang ketika media-media ini telah ada seperti sekarang ini?!

Yang dengan media-media ini orang dapat melihat apa yang tidak terbersit di pikiran seorang pun di zaman dahulu bahwa itu dapat dilihat atau akan terlihat suatu hari nanti. Namun sekarang melalui alat-alat elektronik ini, hal-hal itu dapat terlihat.

Dan betapa banyak hati yang terkena penyakit-penyakit yang sangat berbahaya akibat melihat hal-hal itu. Bahkan orang-orang kafir, musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala mendapati media-media ini sebagai lahan subur bagi mereka untuk sampai pada hati para pemuda-pemudi kaum muslimin agar dapat merusak hati mereka.

Semoga Allah melindungi kita dari keburukan mereka. Semoga Allah melindungi kita dari keburukan mereka dan melindungi keturunan kita dan keturunan kaum muslimin dari makar dan tipu daya mereka.

Demi Allah mereka memiliki tipu daya besar dan kejahatan agung terhadap para pemuda-pemudi kaum muslimin.

Apa yang dibahas oleh Ibnu al-Qayyim rahimahullah, yaitu MENUNDUKKAN PANDANGAN, mencakup juga mencakup juga penundukan pandangan dari hal-hal yang ada dalam alat-alat elektronik ini, seperti gambar-gambar dan penampakan-penampakan yang mengundang fitnah dan mendatangkan penyakit bagi hati.

Bahkan bisa jadi gambar-gambar yang tampak dalam alat-alat elektronik ini mungkin lebih berbahaya bagi seseorang daripada ketika melihatnya secara langsung, jika ditinjau dari beberapa sisi.

Karena alat-alat elektronik ini memberi kesempatan bagi banyak orang di zaman kita ini untuk berkhalwah (menyendiri) dengan bentuk khalwah yang tidak ada di zaman dahulu. Bahkan khalwah yang saya bicarakan ini mungkin dapat terjadi ketika seseorang duduk bersama banyak orang.

Dia duduk dengan banyak orang dan orang-orang berada di sekitarnya, sedangkan dia membuka alat elektroniknya (HP dan yang semisalnya) dengan tenang karena orang di kanan dan kirinya tidak melihat apa yang dia lihat.

Dia dapat menyendiri dengan perkara haram sedangkan orang-orang ada di sekitarnya. Dia melihat tontonan yang haram sedangkan orang-orang ada di sekitarnya. Seandainya ia merasa seseorang di sekitarnya melihat apa yang ia tonton, pasti ia akan panik kebingungan, sedangkan pada Allah Rabb semesta alam yang melihatnya, namun ia tidak panik dan tidak pula tergerak hatinya.

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah padahal Allah beserta mereka, saat suatu malam mereka menetapkan keputusan yang tidak Allah ridhai.” (QS. An-Nisa’: 108)

Adapun melihat secara langsung tanpa melalui alat elektronik, mungkin terdapat beberapa perkara dan sebab yang menghalangi seseorang dalam melihat atau terus melihat hal haram.

Namun dengan alat-alat elektronik (semisal HP, dll) ini, seseorang dapat melihat sesuka hati tanpa berpikir lagi, kecuali jika Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan ke dalam hatinya rasa takut kepada-Nya dan rasa selalu diawasi oleh Allah, maka ia dapat selamat dengan izin Allah.

Namun jika tidak, maka tidak ada lagi yang dapat melindunginya dari hal-hal yang membinasakan ini. Dan pembahasan Ibnu al-Qayyim tentang menundukkan pandangan, lihatlah beliau memulainya dengan membahas tentang pengobatan penyakit-penyakit hati ini.

Beliau rahimahullahu Ta’ala memulai pembahasannya tentang itu karena MENGUMBAR PANDANGAN sangat berbahaya sekali, dan ia dapat menjadi jalan kebinasaan bagi manusia. Dan pandangan itu meliputi pandangan secara langsung dan juga meliputi pandangan melalui alat-alat elektronik baik itu handphone, televisi, atau lainnya.

Dan bisa jadi perkara ini (mengumbar pandangan) melalui alat-alat elektronik ini lebih berbahaya di banyak keadaannya. Demikian.

=====================

فَإِذَا أَطْلَقَ لِنَفْسِهِ الْمَجَالَ لِلنَّظَرِ

وَلَا يُرِيدُ أَنْ يَمْرَضَ قَلْبُهُ

هَذَا تَنَاقُضٌ لِأَنَّ هَذَهِ وَسِيلَةَ مَرَضِ الْقَلْبِ

فَالسَّلَامَةُ مِنْ مَرَضِ الْقَلْبِ أَنْ يَغُضَّ بَصَرَهُ

وَإِذَا كَانَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ يَتَحَدَّثُ عَن غَضِّ الْبَصَرِ

قَبْلَ وُجُودِ الوَسَائِلِ الَّتي بِأَيْدِي

الصِّغَارِ وَالْكِبَارِ وَالذُّكُوْرِ وَالْإِنَاثِ فِي زَمَانِنَا

وَالَّتِي لَمْ يَكُنْ لَهَا وُجُودٌ فِي زَمَانِنَا السَّابِق

إِذَا كَانَ مَنْ سَبَقَنَا

وَلَمْ تُوْجَدْ هَذِهِ الْوَسَائِلُ أُصِيبُوا بِهَذِهِ الأَدْوَاءِ

فَكَيْفَ مَعَ وُجُودِ هَذِهِ الْوَسَائِلِ؟

الَّتِي أَصْبَحَ النَّاسُ يَرَوْا مِنْ خِلَالِهَا

مَا لَا يَخْطُرُ بِبَالِ أَحَدٍ سَابِقًا أَنَّهَا تُرَى أَوْ سَتُرَى فِي يَوْمٍ مِنَ الْأَيَّامِ

لَكِن أَصْبَحَتِ الْآنَ مِنْ خِلَالِ هَذِه الأَجْهِزَةِ تُرَى

وَكَمْ تُصَابُ الْقُلُوبُ بِسَبَبِ رُؤْيَتِهَا مِنْ أَمْرَاضٍ خَطِيرَةٍ جِدًّا

بَلْ إِنَّ الْكُفَّارَ أَعْدَاءَ دِينِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَدُوا

هَذِهِ الْوَسَائِلَ مَرْتَعًا لَهُم

لِلْوُصُولِ إِلَى قُلُوبِ أَبْنَاءِ الْمُسْلِمِينَ وَبَنَاتِهِمْ بِغَرَضِ إِفْسَادِهَا وَإِعْطَابِهَا

كَفَانَا اللهُ شَرَّهُمْ

كَفَانَا اللهُ شَرَّهُمْ وَحَفِظَ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ مَكْرِهِمْ وَكَيْدِهِمْ

وَلَهُم وَاللهِ كَيْدٌ كُبَّارٌ وَإِجْرَامٌ عَظِيمٌ

فِي أَبْنَاءِ الْمُسْلِمِينَ وَبَنَاتِهِمْ

فَهَذَا الَّذِي يَتَحَدَّثُ عَنْهُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ الَّذِي هُوَ غَضُّ الْبَصَرِ

يَدْخُلُ فِيهِ

يَدْخُلُ فِيهِ غَضُّهُ عَمَّا فِي هَذِهِ الأَجْهِزَةِ

مِنْ صُوَرٍ وَمَنَاظِرَ فَاتِنَةٍ مُمْرِضَةٍ لِلْقُلُوبِ

بَلْ رُبَّمَا كَانَتِ الصُّوَرُ الَّتِي تُرَى فِي هَذِهِ الأَجْهِزَةِ

رُبَّمَا كَانَتْ أَخْطَرَ عَلَى الْإِنْسَانِ

مِنَ الرُّؤْيَةِ الْمُبَاشَرَةِ مِنْ جِهَاتٍ عَدِيدَةٍ

لِأَنَّ هَذِهِ الأَجْهِزَةَ

لَمْ تَكُنْ مَوْجُودَةً فِي الزَّمَانِ الْأَوَّلِ

حَتَّى إِنَّ الْخَلْوَةَ هَذِهِ الَّتِي أَتَحَدَّثُ عَنْهَا

قَدْ تَحْصُلُ وَالشَّخْصُ فِي خَلْوَتِهِ جَالِسٌ مَعَ النَّاسِ

جَالِسٌ مَعَ النَّاسِ

وَهُمْ مِنْ حَوْلِهِ يَفْتَحُ جِهَازَهُ بِحَيْثُ يَطْمَئِنُّ أَنَّ مَنْ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ لَا يَرَى مَا يُشَاهِدُ

فَيَخْلُو بِالْحَرَام وَمِنْ حَوْلِهِ النَّاسُ

وَيَنْظُرُ الْمَشَاهِدَ الْمُحَرَّمَةَ وَمِنْ حَوْلِهِ النَّاسُ

وَلَوْ ظَنَّ أَنَّ أَحَدًا حَوْلَهُ يَرَى مَا يُشَاهِدُ اِرْتَبَكَ

وَرَبُّ الْعَالَمِيْنَ يَرَاهُ لَا يَرْتَبِكُ وَلَا يَتَحَرَّكُ قَلْبُهُ

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللهِ

وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُوْنَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ

وَالنَّظَرُ الَّذِي هُوَ عَنْ مُبَاشَرَةٍ لَيْسَ عَنْ طَرِيقِ الأَجْهِزَةِ

لَكِنْ مَعَ هَذِهِ الأَجْهِزَةِ

يَنْظُرُ مَا شَاءَ وَلَا يُفَكِّرُ

إلَّا إِنْ أَلْقَى اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي قَلْبِهِ الْخَوْفَ مِنَ اللهِ

وَالْمُرَاقَبَةَ لِلهِ فَإِنَّهُ يَنْجُوْ بِإِذْنِ اللهِ

وَإِلَّا لَا عَاصِمَ

مِنْ هَذِهِ الْمُهْلِكَاتِ

فَحَدِيثُ ابْنِ الْقَيِّمِ عَنْ غَضِّ الْبَصَرِ

وَأَنَّهُ وَانْظُرْ بَدَأَ بِهِ فِي مُعَالَجَةِ هَذِهِ الْأَدْوِيَةِ أَوْ هَذِهِ الأَدْوَاءِ

بَدَأَ بِهِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى لِأَنَّ الْبَصَرَ خَطِيْرٌ جِدًّا

وَمَهْلَكَةٌ لِلْإِنْسَانِ

وَهُوَ يَتَنَاوَلُ النَّظَرَ الْمُبَاشِرَ

وَيَتَنَاوَلُ النَّظَرَ مِنْ خِلَالِ الأَجْهِزَةِ

 

Tips Istiqomah di Permulaan Hijrah – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Tips Istiqomah di Permulaan Hijrah – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Apa nasehat Anda bagi seorang pemuda yang baru berada di awal jalan istiqamahnya? Pertama, hendaknya dia punya waktu khusus untuk membaca Al-Quran dan berusaha merutinkannya. Dan lebih baik lagi jika dia berusaha menghafal Al-Quran semampu dia, secara bertahap jika memang memungkinkan. Dan saya nasehatkan juga untuk membaca hadis-hadis. Dan aku nasehatkan membaca kitab Riyaḍuṣ Ṣāliḥīn atau kitab Ṣaḥīḥ at-Targhīb wa at-Tarhīb, hendaknya dia membacanya setiap hari.

Demikian pula kami menasehatkan untuk memilih teman yang saleh yang memiliki tekad yang kuat untuk membantunya dalam kebaikan.Yang mengingatkannya jika mendapatinya turun ketaatannya sehingga dia bisa bekerja sama dengannya dalam kebaikan dan ketakwaan. Dan aku berwasiat kepadanya agar memanfaatkan waktunya dengan baik dan tidak menyia-nyiakan waktunya.

Namun juga aku wasiatkan agar tetap bersikap pertengahan di atas jalan istiqamahnya, dan tidak memaksakan dirinya untuk berbuat yang berlebihan yang biasanya jiwa muda mendorong seseorang bersikap demikian, karena amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dia lakukan terus-menerus walaupun sedikit. Dia harus menjaga ibadah-ibadah wajib dan tidak melalaikannya dan meninggalkan perkara-perkara yang haram. Adapun perkara-perkara sunah, hendaknya diamalkan semampunya dan terus-menerus mengamalkannya dengan disertai doa kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menguatkannya. Hendaknya dia senantiasa berdoa kepada Allah agar menguatkannya, agar Allah subḥānhu wa ta’alā mengukuhkannya.

===========

مَا نَصِيحَتُكُمْ لِلشَّابِّ فِي بِدَايَةِ طَرِيقِ الْاِسْتِقَامَةِ؟

أَوَّلًا بِأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وِرْدًا مِنَ الْقُرْآنِ يُحَافِظُ عَلَيْهِ

وَحَبَّذَا لَوْ حَفِظَ الْقُرْآنَ بِمَا يَسْتَطِيعُ

رَتَّبَ ذَلِكَ بِحَسَبِ اسْتِطَاعَتِهِ

وَكَذَلِكَ يُنْصَحُ بِأَنْ يَجْعَلَ لَهُ نَصِيبًا مِنَ السُّنَّةِ

وَأَنَا أَنْصَحُهُ إِمَّا بِكِتَابِ رِيَاضِ الصَّالِحِينَ وَإِمَّا بِكِتَابِ صَحِيحِ التَّرْغِيبِ وَالتَّرْهِيبِ

يَقْرَأُ مِنْهُمَا فِي كُلِّ يَوْمٍ

وَكَذَلِكَ نَنْصَحُهُ بِاخْتِيَارِ جَلِيسٍ صَالِحٍ

ذِي هِمَّةٍ عَالِيَةٍ يُعِينُهُ عَلَى الْخَيْرِ

وَإِذَا رَأَى مِنْهُ فُتُورًا نَبَّهَهُ

فَيَتَعَاوَنُ مَعَهُ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

وَأُوْصِيهِ بِأَنْ يَحْرِصَ عَلَى وَقْتِهِ

وَأَنْ لَا يُضِيعَ وَقْتَهُ

كَمَا أَنِّي أُوْصِيهِ بِأَنْ يَأْخُذَ بِالْاِعْتِدَالِ فِي الْاِسْتِقَامَةِ

وَأَنْ لَا يَأْخُذَ نَفْسَهُ بِشِدَّةٍ

تَدْعُو إِلَيْهَا حَرَارَةُ الشَّبَابِ

فَإِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ وَإِنْ قَلَّ

فَيُحَافِظُ عَلَى الْفَرَائِضِ مَا يُفَرِّطُ فِيهَا

وَيَجْتَنِبُ الْمُحَرَّمَاتِ

وَأَمَّا النَّوَافِلُ فَيَأْتِي مِنْهَا بِمَا يَسْتَطِيعُ

أَنْ يَسْتَمِرَّ عَلَيْهِ مَعَ الدُّعَاءِ

بِأَنْ يُثَبِّتَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

وَأَنْ يَدْعُوَ اللهَ دَائِمًا أَنْ يُثَبِّتَهُ اللهُ

أَنْ يُثَبِّتَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Tips agar Menjadi Orang yang Diberkahi – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Tips agar Menjadi Orang yang Diberkahi – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Penanya berkata, “Bagaimana cara agar menjadi seorang yang diberkahi?” Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, tentang Nabi-Nya, Isa yang berkata, “Dan Dia menjadikanku diberkahi di mana saja aku berada…” (QS. Maryam: 31) “Dan Dia menjadikanku diberkahi” Maka keberkahan tidak mungkin ada pada diri seorang hamba kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadikannya. Jika Allah menjadikannya diberkahi maka itu baru dapat terjadi dan tujuan yang agung itu baru dapat tercapai.

Dan keberkahan adalah karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keutamaan dari-Nya bagi hamba-Nya yang Dia kehendaki. Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, “Namun Allahlah menyucikan siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 49) Dan juga berfirman, “Kalaulah bukan karena karunia dan rahmat Allah, niscaya tidak seorang pun dari kalian itu suci selama-lamanya, akan tetapi Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nur: 21)

Dan keberkahan yakni keteguhan di atas kebenaran dan peningkatan di dalamnya. Inilah maknanya. Yakni keteguhan di atas kebenaran dan peningkatan di dalamnya. Tujuan yang agung ini agar dapat dicapai oleh seorang hamba, memerlukan beberapa perkara. Di antaranya:

(PERTAMA)
Berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya, dengan memohon, berdoa, meminta, dan mengharap kepada Allah.  Dan salah satu doa yang berguna dalam perkara ini adalah:

ALLAAHUMMA AATI NAFSII TAQWAAHAA WA ZAKKIHAA ANTA KHOIRU MAN ZAKKAA-HAA ANTA WALIY-YUHA WA MAULAAHAA

Ya Allah, anugerahkan ketakwaan kepadaku. Sucikanlah. Engkaulah sebaik-baik Zat yang mensucikannya. Engkau adalah pelindung dan penjaganya. Doa ini ada dalam Shahih Muslim. Dan juga doa-doa agung lainnya yang semisal.

Juga seperti doa,

ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKATS-TSABAATA FIL AMRI WAL ‘AZIIMATA ‘ALAR-RUSYDI

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan dan ketetapan hati dalam menempuh jalan yang benar.
Nabi ‘alaihis shalatu wassalam mengucapkannya dalam doa yang agung dan diberkahi yang beliau sampaikan kepada Syaddad bin Aus. Beliau bersabda, “Wahai Syaddad,…jika orang-orang memperbanyak dinar dan dirham, maka cukuplah kamu memperbanyak doa ini…”

Lalu Nabi mulai membaca doa ini melalui sabdanya,

ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKATS-TSABAATA FIL AMRI WAL ‘AZIIMATA ‘ALAR-RUSYDI

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam semua urusan dan ketetapan hati dalam menempuh jalan yang benar.

WA-AS-ALUKA QOLBAN SALIIMAN WA LISAANAN SHOODIQON

Dan aku mohon kepada-Mu hati yang selamat dan lisan yang jujur.

WA-AS-ALUKA SYUKRO NI’MATIKA WA HUSNA IBAADATIK

Aku juga memohon kepada-Mu rasa syukur terhadap semua nikmat-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu.

WA AS-ALUKA MIN KHOIRI MAA TA’LAMU WA-A-‘UUDZUBIKA MIN SYAR-RI MAA TA’LAMU WA-ASTAGHFIRUKA MIM-MAA TA’LAMU INNAKA ANTA ‘ALLAAMUL-GHUYUUB

Aku juga memohon kepada-Mu kebaikan yang Engkau ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang Engkau ketahui. Aku meminta ampunan kepada-Mu atas dosa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara ghaib.

(KEDUA)
Dan perkara yang kedua, ia harus mengerahkan sebab. Ia harus mengerahkan sebab untuk meraih keberkahan dengan menjaga waktunya dan melawan hawa nafsunya. Dan Allah Ta’ala telah berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk meraih keridhaan Kami maka Kami pasti akan memberi petunjuk kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Dan dalam perkara ini terdapat risalah agung dan tulisan berharga dari seorang ulama yang sangat alim, Ibnu al-Qayyim rahimahullahu Ta’ala, yang dicetak dengan judul, “Risalah Ibnu al-Qayyim li-ahadi ikhwanihi” “Risalah Ibnu al-Qayyim untuk seorang saudaranya (sahabatnya)” Dan Allah ‘Azza wa Jalla telah memberi kemudahan di waktu yang telah lalu dalam mengadakan majelis untuk mempelajari risalah ini, karangan Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah (maksud Syaikh: Ibnu al-Qayyim -pen) rahimahullahu Ta’ala, dan majelis ini tersimpan dalam rekaman audio.

===============

يَقُوْلُ كَيْفَ يَكُونُ الرَّجُلُ مُبَارَكًا

يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

فِي

نَبِيِّهِ عِيسَى قَالَ وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا حَيْثُ مَا (أَيْنَ مَا) كُنْتُ

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا

فَالْبَرَكَةُ لَا تَكُونُ فِي الْعَبْدِ إِلَّا بِجَعْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

إِذَا جَعَلَهُ اللهُ مُبَارَكًا

يَتَحَقَّقُ لَهُ هَذَا الْأَمْرُ

وَيَنَالُ هَذَا الْمَطْلَبَ الْعَظِيمَ

وَ

البَرَكَةُ

مِنَّةُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَفَضْلُهُ جَلَّ شَأْنُهُ عَلَى مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ

قَدْ قَالَ عَزَّ وَجَلَّ بَلِ اللهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ

وَقَالَ تَعَالَى وَلَوْلَا فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ

مَا زَكَى مِنكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا

وَلَكِنَّ اللهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ

وَالْبَرَكَةُ تَعْنِي الثَّبَاتَ عَلَى الْحَقِّ وَالزِّيَادَةَ فِيهِ

هَذَا مَعْنَاهَا

تَعْنِي الثَّبَاتَ عَلَى الْحَقِّ وَالزِّيَادَةَ فِيهِ

وَهَذَا الْمَطْلَبُ الْجَلِيلُ

لِيَتَحَقَّقَ لِلْعَبْدِ يَحْتَاجُ إِلَى أُمُورٍ

مِنْهَا

اللُّجُوْءُ الصَّادِقُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

بِالسُّؤَالِ وَالدُّعَاءِ وَالطَّلَبِ وَالْإِلْحَاحِ عَلَى اللهِ

وَمِنَ الدَّعَوَاتِ النَّافِعَةِ فِي هَذَا الْمَقَامِ

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

وَهُوَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ

وَنَحْوِهِ مِنَ الدَّعَوَاتِ الْعَظِيمَةِ

مِثْلُهُ أَيْضًا اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ

قَالَهُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي دَعْوَةٍ عَظِيمَةٍ مُبَارَكَةٍ

قَالَهَا لِشَدَّادِ ابْنِ أَوْسٍ قَالَ يَا شَدَّادَ

إِذَا اكْتَنَزَ النَّاسُ الدِّرْهَمَ وَالدِّينَارَ فَاكْتَنِزْ هَذِهِ الدَّعَوَاتِ

وَبَدَأَهَا بِقَوْلِهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ

وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا

وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ

وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ

الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يَبْذُلَ السَّبَبَ

أَنْ يَبْذُلَ السَّبَبَ فِي نَيْلِ الْبَرَكَةِ وَتَحْصِيلِهَا بِحِفْظِ وَقْتِهِ

وَمُجَاهَدَةٍ فِي نَفْسِهِ

وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا

لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

وَفِي هَذَا الْبَابِ رِسَالَةٌ عَظِيمَةٌ

وَمُؤَلَّفٌ نَفِيسٌ

لِلْعَلَّامَةِ ابْنِ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى

مَطْبُوعٌ بِعُنْوَانٍ رِسَالَةُ ابْنِ الْقَيِّمِ لِأَحَدِ إِخْوَانِهِ

رِسَالَةُ ابْنِ الْقَيِّمِ لِأَحَدِ إِخْوَانِهِ

وَأَيْضًا يَسَّرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي وَقْتٍ مَضَى عَقْدَ مَجَالِسَ فِي مُدَارَسَةِ

هَذِهِ الرِّسَالَةِ لِشَيْخِ الْإِسْلَامِ

ابْنِ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَهِيَ

مَحْفُوظَةٌ فِي تَسْجِيْلٍ صَوْتِيٍّ

 

Silaturahmi: Ketaatan yang Paling Cepat Mendapat Balasan – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Silaturahmi: Ketaatan yang Paling Cepat Mendapat Balasan – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ketaatan yang paling cepat mendapat balasan adalah silaturahim.”  Wahai ikhwah, maksudnya adalah amal shalih yang paling banyak balasannya di dunia sebelum mendapat balasan di akhirat adalah silaturahim. Silaturahim adalah amal shalih yang paling banyak balasannya di dunia sebelum mendapat balasan di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya ketaatan yang paling cepat mendapat balasan  adalah silaturahmi, bahkan sungguh terdapat keluarga yang para anggotanya adalah orang-orang yang sering berbuat dosa lalu harta mereka terus bertambah dan jumlah mereka terus meningkat jika mereka saling menjaga silaturahim. Dan tidaklah ada keluarga yang saling menjaga silaturahim lalu menjadi miskin.”Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan dihasankan oleh al-Albani

Yakni keluarga jika silaturahim mereka tetap terjaga dan mereka saling menjaga hubungan, meski mereka punya beberapa perbuatan maksiat, meski mereka punya beberapa kelalaian, tetapi kebaikan mereka tetap tumbuh dan jumlah mereka bertambah berkat mereka menjaga silaturahim. Dan tidaklah ada keluarga yang saling menjaga silaturahim lalu menjadi miskin. Silaturahim adalah pengusir kemiskinan dan kekurangan.Silaturahim adalah pengusir kemiskinan dan kekurangan. Jika silaturahim dalam suatu rumah itu terjaga maka kemiskinan akan keluar dari pintunya.

===================

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

إِنَّ أَعْجَلَ الطَّاعَةِ ثَوَابًا

صِلَةُ الرَّحِمِ

وَالْمَقْصُودُ يَا إِخْوَةُ

أَكْثَرَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا الْإِنْسَانُ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الْآخِرَةِ

هِيَ صِلَةُ الرَّحِمِ

صِلَةُ الرَّحِمِ أَكْثَرُ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ إِثَابَةً فِي الدُّنْيَا

قَبْلَ الْآخِرَةِ

يَقُولُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَعْجَلَ الطَّاعَةِ ثَوَابًا

صِلَةُ الرَّحِمِ

حَتَّى إِنَّ أَهْلَ الْبَيْتِ

لَيَكُونُوا فَجَرَةً

فَتَنْمُو أَمْوَالُهُمْ

وَيَكْثُرُ عَدَدُهُمْ

إِذَا تَوَاصَلُوا

وَمَا مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ يَتَوَاصَلُوْنَ فَيَحْتَاجُوْنَ

رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ

يَعْنِي أَهْلُ الْبَيْتِ

إِذَا وَقَعَتْ بَيْنَهُمُ الصِّلَةُ

وَكَانُوا يَتَوَاصَلُوْنَ حَتَّى لَوْ كَانَتْ عِنْدَهُم مَعَاصِي

حَتَّى لَوْ كَانَ عِنْدَهُمْ تَقْصِيْرٌ

فَإِنَّهُ يَنْمُو خَيْرُهُم

وَيَكْثُرُ عَدَدُهُمْ

لِصِلَتِهِمْ الرَّحِمَ

وَمَا مِنْ أَهْلِ بَيْتٍ يَتَوَاصَلُوْنَ فَيَحْتَاجُوْنَ

صِلَةُ الرَّحِمِ مَنْفَاةٌ لِلْفَقْرِ وَالْحَاجَةِ

صِلَةُ الرَّحِمِ مَنْفَاةٌ

لِلْفَقْرِ وَالْحَاجَةِ

إِذَا وُجِدَتِ الصِّلَةُ فِي الْبَيْتِ

خَرَجَ الْفَقْرُ مِنَ الْبَابِ

Obat Riya – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama

Obat Riya – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama

Kemudian beliau menyebut salah satu obat riya, yaitu seseorang harus berpikir bahwa mahluk seluruhnya tidak mampu mendatangkan manfaat dan mudharat kepadanya kecuali apa yang telah ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya.

Mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan mudharat dan manfaat. Jika makhluk paling mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dapat mendatangkan mudharat dan manfaat bagi dirinya sendiri, maka terlebih lagi selain beliau.

Jika kamu memperhatikan ini pada manusia, bahwa mereka tidak dapat menambah atau mengurangi suatu apapun bagimu, maka itu akan membuatmu tidak mempedulikan mereka lagi untuk melakukan riya’.

Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kesempurnaan hikmah-Nya Dia akan membalas orang yang riya’ dengan hal yang menyelisihi tujuannya.

Hal ini karena orang yang riya’ menampakkan amalannya agar orang-orang berterima kasih kepadanya.

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasnya dengan menyingkap keburukan niatnya di hadapan orang-orang…

dan menyingkap kejelekan tujuannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Jundub radhiyallahu ‘anhu dalam Shahihain,

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang melakukan sum’ah, maka Allah akan memperdengarkan aibnya dan siapa yang melakukan riya’, maka Allah akan memperlihatkan aibnya.”

Sum’ah dan riya’ memiliki sisi kesamaan, yaitu sama-sama ingin memamerkan amalan kepada orang lain, namun keduanya berbeda dari sisi cara memamerkannya.

Adapun sum’ah merupakan upaya memamerkan amalan agar orang-orang dapat MENDENGARNYA sehingga mereka memujinya atas amalan itu.

Sedangkan riya’ adalah upaya memamerkan amalan agar orang-orang dapat MELIHATNYA, sehingga mereka memujinya atas amalan itu.

===================

ثُمَّ ذَكَرَ مِنْ أَدْوِيَةِ الرِّيَاءِ

أَنْ يُفَكِّرَ الْإِنْسَانُ بِأَنَّ الْخَلْقَ

كُلَّهُمْ لَا يَقْدِرُونَ عَلَى نَفْعِهِ وَلَا عَلَى ضَرِّهِ إِلَّا

بِمَا قَدَّرَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَيْهِ

فَهُمْ لَا يَمْلِكُونَ لَهُم ضَرًّا وَلَا نَفْعًا

وَإِذَا كَانَ أَشْرَفُ الْخَلْقِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

لَا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلا نَفْعًا فَمَا بَالُكَ بِغَيْرِهِ؟

فَإِذَا لَاحَظْتَ هَذَا فِي النَّاسِ

وَأَنَّهُمْ لَا يَزِيْدُوْنَكَ شَيْئًا وَلَا يَنْقُصُوْنَكَ شَيْئًا

حَمَلَكَ ذَلِكَ عَلَى عَدَمِ مُلَاحَظَتِهِم بِالرِّيَاءِ

ثُمَّ إِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ كَمَالِ حِكْمَتِهِ

يُعَاقِبُ الْمُرَائِيَ بِضِدِّ قَصْدِهِ

فَإِنَّ الْمُرَائِيَ يُظْهِرُ عَمَلَهُ

لِيَشْكُرَهُ النَّاسُ عَلَيْهِ

فَيُعَاقِبُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

بِأَنْ يُطْلِعَ الْخَلْقَ عَلَى سُوءِ نِيَّتِهِ

وَقُبْحِ سَرِيرَتِهِ

كَمَا جَاءَ فِي حَدِيثِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي الصَّحِيحَيْنِ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ

وَمَنْ رَاءَى رَاءَى اللهُ بِهِ

وَالتَّسْمِيْعُ وَالرِّيَاءُ يَشْتَرِكَانِ فِي كَوْنِهِمَا إِظْهَارًا لِلْعَمَلِ

وَيَفْتَرِقَانِ فِي الْأَدَاةِ

فَإِنَّ التَّسْمِيْعَ إِظْهَارُ الْعَمَلِ

لِيَسْمَعَ النَّاسُ بِهِ

فَيَحْمَدُوْهُ عَلَيْهِ

وَالرِّيَاءُ إِظْهَارُ الْعَمَلِ

لِيَرَاهُ النَّاسُ فَيَحْمَدُوْهُ عَلَيْهِ

Menunda-nunda Pernikahan adalah Kesalahan Besar – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama


Menunda-nunda Pernikahan adalah Kesalahan Besar – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Beliau -rahimahullah- menyebutkan hadits ini dalam kitab ash-Shahih bahwa Nabi ‘alaihis shalatu wassalam pernah melihat seorang wanita, maka beliau mendatangi istrinya, Zainab,lalu beliau menunaikan hajatnya pada istrinya tersebut, kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya wanita datang dalam bentuk setan dan pergi dalam bentuk setan…maka jika seseorang dari kalian melihat wanita yang membuatnya takjub, maka hendaklah ia mendatangi istrinya.”

Kecenderungan yang aku sebutkan ini, yakni kecenderungan lelaki terhadap wanita, dan kecenderungan wanita terhadap lelaki. Jika pandangan lelaki tertuju kepada seorang wanita sehingga membuatnya takjub meski pada asalnya adalah dengan menahan dan menundukkan pandangan, seperti dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Katakanlah kepada kaum lelaki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya,…” (QS. An-Nur: 30)

Maka jika pandangannya tertuju (pada wanita)-yakni pandangan pertama yang wajib segera ia palingkan setelah itu-lalu wanita itu membuatnya takjub, rasa takjub padanya masuk ke dalam dirinya. Dan hal ini perkara normal pada seorang lelaki, yang memiliki kecenderungan ini dan tertarik pada hal seperti ini. Ini perkara yang normal. Lalu di sini Nabi ‘alaihis shalatu wassalam memberi pengarahan jika seseorang masuk pada hal seperti ini. “Jika seseorang dari kalian melihat wanita dan membuatnya takjub, maka hendaklah ia mendatangi istrinya,…karena itu dapat menghilangkan apa yang ada di dalam dirinya itu.”

“Karena itu dapat menghilangkan apa yang ada di dalam dirinya itu.” Perhatikan kalimat, “Apa yang ada dalam dirinya”, karena diri seseorang…terkadang terkait dengan sesuatu.

Karena diri seseorang terkadang terkait dengan sesuatu maka hendaklah ia mendatangi istrinya. Hendaklah ia mendatangi istrinya, karena itu dapat menghilangkan apa yang ada dalam dirinya itu. Dan hadits ini mengandung motivasi untuk menikah dan menyegerakannya, mempercepat pernikahan, dan menjaga kehormatan dengannya, dan melindungi diri dengannya. Oleh sebab itu, orang yang sudah menikah disebut dengan “Muhshan” (terlindungi) karena ia telah melindungi dirinya dengan pernikahan itu.

Maka pernikahan harus disegerakan, terlebih lagi dengan banyaknya fitnah yang ada. Salah satu penanggulangan yang paling baik bagi pemuda terhadap banyaknya fitnah yang terjadi adalah dengan bersegera menikah dan tidak menunda-nunda pernikahan. Dan salah satu pemahaman yang salah saat ini adalah menunda pernikahan, bahkan sebagian mereka sudah sampai usia 25 tahun dan lebih dari itu, dan ketika ditanya tentang pernikahan, ia menjawab, “Masih kecil”. Jika ditanya tentang pernikahan, ia menjawab, “Aku masih kecil”. Kenyataan ini adalah salah satu bentuk kelemahan. Perhatikanlah perkataan penting ini!

Ibnu al-Qayyim berkata tentang pembahasan tadi, “Adapun mencintai istri-istri tidaklah sesuatu yang tercela pelakunya, bahkan itu bagian dari tanda kesempurnaannya.” Itu bagian dari tanda kesempurnaan lelaki. Salah satu tanda kesempurnaan lelaki adalah dengan mempercepat dan menyegerakan nikah, dan menjaga kehormatan dirinya. Ini adalah salah satu tanda kesempurnaannya.

Dan jika seseorang tidak lagi peduli terhadap hal ini dan tidak terpaut padanya, tidak pula memiliki semangat dalam hal ini. Maka ini bentuk kekurangan dirinya. Ini bentuk kekurangan dirinya. Salah satu bentuk kesempurnaan lelaki adalah dengan menyegerakan hal ini, menyukai hal ini, dan menjaga kehormatannya, serta berusaha melaksanakannya.

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian dan yang layak menikah dari para budak kalian yang lelaki dan yang perempuan…Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur: 32)

Menikah adalah salah satu pintu-pintu rezeki, dan salah satu pintu-pintu kekayaan, dan salah satu pintu-pintu untuk meraih keutamaan. Ia mengandung kebaikan yang agung.

Dan kesimpulannya, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam memberi tuntunan bahwa barangsiapa yang melihat wanita lalu ada ketertarikan dalam dirinya dan membuatnya takjub serta dirinya condong padanya dan seterusnya; maka hendaklah ia mendatangi istrinya, hendaklah ia mendatangi istrinya, karena itu dapat menghilangkan apa yang ada dalam dirinya itu. Karena itu dapat menghilangkan apa yang ada dalam dirinya itu.

Ibnu al-Qayyim berkata, “Hadits ini mengandung banyak faedah, di antaranya adalah mengandung tuntunan untuk menunaikan keinginan (yang haram) dengan hal (halal) yang sejenis.

Ini adalah kaidah dalam segala perkara;sebagaimana makanan dapat menggantikan makanan lain, dan pakaian mengganti pakaian lain. Juga mengandung perintah untuk mengobati ketakjuban terhadap wanita yang menggugah syahwatnya, dengan obat yang paling manjur. Pertama-tama hanya berupa ketakjuban, lalu setelah itu syahwatnya tergugah, maka hendaklah ia berusaha memadamkan syahwat itu dengan mendatangi istrinya.

Dan ini adalah pengobatan hal tersebut dengan obat yang paling manjur yakni dengan menunaikan syahwatnya kepada istrinya, dan itu dapat memadamkan syahwatnya terhadap wanita yang membuatnya takjub itu. Dan ini juga mengandung tuntunan agar dua orang yang saling mencintai untuk menikah.

Ini juga mengandung bab lain. Jika seseorang jatuh cinta kepada wanita maka hendaklah ia berusaha menikahinya, jika rasa cintanya itu telah menguasai dirinya, dan rasa kasih sayangnya telah menguasai dirinya, maka hendaklah ia segera menikahinya. Jika ia melakukan itu dan diterima untuk menikahinya, maka itulah yang diharapkan.

Namun jika tidak diterima, maka hendaklah ia menjauhkan diri darinya. Dan Ibnu al-Qayyim -rahimahullah- telah menyebutkan sebelumnya tentang cara-cara yang sangat bermanfaat dalam perkara ini. Demikian.

———————-

أَوْرَدَ رَحِمَهُ اللهُ هَذَا الْحَدِيثَ

فِي الصَّحِيحِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ رَأَى امْرَأَةً فَأَتَى زَيْنَبَ

فَقَضَى حَاجَتَهُ مِنْهَا

وَقَالَ إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ

فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ امْرَأَةً فَأَعْجَبَتْهُ فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ

هَذَا الْمَيْلُ الَّذِي أَشَرْتُ إِلَيْهِ

فِي الرَّجُلِ تِجَاهَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةِ تِجَاهَ الرَّجُلِ

إِذَا وَقَعَ نَظَرُ الرَّجُلِ

عَلَى امْرَأَةٍ

فَأَعْجَبَتْهُ

الْأَصْلَ

هُوَ كَفُّ هُوَ غَضُّ الْبَصَرِ

كَمَا قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ

فَإِنْ وَقَعَ نَظَرُهُ

وَهِيَ النَّظْرَةُ الْأُولَى الَّتِي عَلَى إِثْرِهَا يُطْلَبُ مِنْهُ أَنْ يَغُضَّ بَصَرَهُ

فَأَعْجَبَتْهُ دَخَلَ إِعْجَابٌ بِهَا فِي نَفْسِهِ

وَهَذَا طَبِيعِيٌّ فِي الرَّجُلِ أَنْ يُوجَدَ فِيهِ هَذَا الْمَيْلُ وَأَنْ يَجْذِبَهُ هَذَا الْأَمْرُ

هَذَا طَبِيعِيٌّ فِي الرَّجُلِ

فَأَرْشَدَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي هَذَا الْمَقَامِ إِذَا وَقَعَ مِثْلُ هَذَا

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ امْرَأَةً فَأَعْجَبَتْهُ فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ

فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

انْتَبِهْ إِلَى كَلِمَةِ مَا فِي نَفْسِهِ لِأَنَّ النَّفْسَ

قَدْ يَعْلَقُ بِهَا شَيْءٌ

النَّفْسُ قَدْ يَعْلَقُ بِهَا شَيْءٌ

فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ

فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

وَهَذَا الْحَدِيثُ يَتَضَمَّنُ

إِلَى حَثٍّ

عَلَى الزَّوَاجِ وَالْمُبَادَرَةِ إِلَيْهِ

وَالْمُسَارَعَةِ عَلَيْهِ وَإِعْفَافِ النَّفْسِ بِهِ

وَتَحْصِيْنِ النَّفْسِ وَلِهَذَا يُسَمَّى الْمُتَزَوِّجُ مُحْصَنًا

لِأَنَّهُ حَصَّنَ نَفْسَهُ بِهَذَا النِّكَاحِ

فَيَحْتَاجُ إِلَى الْمُبَادَرَةِ إِلَيْهِ وَخَاصَّةً مَعَ كَثْرَةِ الْفِتَنِ

الْفِتَنُ كَثْرَتُهَا مِنْ أَنْفَعِ مَا يَكُونُ عِلَاجًا فِي هَذَا الْبَابِ أَنْ يُبَادِرَ الشَّابُّ إِلَى الزَّوَاجِ

وَأَنْ لَا يُؤَخِّرَ الزَّوَاجَ

وَمِنَ النَّظَرَاتِ الْخَاطِئَةِ الْآنَ تَأْخِيْرُ الزَّوَاجِ

حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ

يَبْلُغُ مِنَ الْعُمْرِ الْخَمْسَةَ وَعِشْرِيْنَ وَأَزْيَدَ مِنْ ذَلِكَ

وَإِذَا حُدِّثَ فِي الزَّوَاجِ يَقُولُ صَغِيرٌ

إِذَا حُدِّثَ فِي الزَّوَاجِ يَقُولُ مَا زِلْتُ صَغِيرًا

فَهَذَا حَقِيقَةً مِنْ الضَعْفِ

انْتَبِهْ إِلَى كَلَامٍ مُهِمٍّ

قَالَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِيمَا سَبَقَ أَمَّا مَحَبَّةُ الزَّوْجَاتِ فَلَا لَوْمَ عَلَى الْمُحِبِّ فِيهِ

بَلْ هُوَ مِنْ كَمَالِهِ

هَذَا مِنْ كَمَالِ الرَّجُلِ

هَذَا مِنْ كَمَالِ الرَّجُلِ أَنْ يُبَادِرَ وَأَنْ يُسَارِعَ وَأَنْ يُعِفَّ نَفْسَهُ

هَذَا مِنْ كَمَالِهِ

وَإِذَا أَصْبَحَ غَيْرَ مُبَالٍ بِهَذَا الْأَمْر

وَلَيْسَتْ عِنْدَهُ هِمَّةٌ فِي هَذَا الْأَمْرِ هَذَا مِنْ نَقْصِهِ

هَذَا مِنْ نَقْصِهِ

مِنْ كَمَالِ الرَّجُلِ أَنْ يُبَادِرَ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ

وَأَنْ يَكُونَ مُحِبًّا لِهَذَا الْأَمْرِ وَأَنْ يُعِفَّ نَفْسَهُ

وَأَنْ يَسْعَى فِي ذَلِكَ

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ

إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ

الزَّوَاجُ مِنْ أَبْوَابِ الرِّزْقِ

وَمِنْ أَبْوَابِ الْغِنَى

وَمِنْ أَبْوَابِ تَحْصِيلِ الْفَضْلِ

وَفِيهِ خَيْرٌ عَظِيمٌ

فَالْحَاصِلُ أَرْشَدَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

مَنْ رَأَى امْرَأَةً فَوَقَعَتْ فِي نَفْسِهِ أَعْجَبَتْهُ

مَالَتْ نَفْسُهُ إِلَى آخِرِهِ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ

أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ هَذَا الْحَدِيثُ فِيهِ فَوَائِدُ

مِنْهَا الْإِرْشَادُ إِلَى التَّسَلِّي عَنِ الْمَطْلُوبِ بِجِنْسِهِ

هَذِهِ قَاعِدَةٌ فِي كُلِّ بَابٍ

كَمَا يَقُومُ الطَّعَامُ مَقَامَ الطَّعَامِ وَالثَّوْبُ مَقَامَ الثَّوْبِ

وَمِنْهَا الْأَمْرُ بِمُدَاوَاةِ الْإِعْجَابِ بِالْمَرْأَةِ

الْمُوْرِثِ لِشَهْوَتِهِ بِأَنْفَعِ الْأَدْوِيَةِ

أَوَّلُ مَا يَكُونُ إِعْجَابٌ ثُمَّ تَثُوْرُ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ شَهْوَةٌ

فَيَحْرِصُ عَلَى إِطْفَاءِ ذَلِكَ بِأَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ

وَهَذَا مُدَاوَاةٌ لِهَذَا الْأَمْرِ بِأَنْفَعِ الْأَدْوِيَةِ

وَهُوَ قَضَاءُ وَطَرِهِ مِنْ أَهْلِهِ

وَذَلِكَ يَنْقُضُ شَهْوَتَهُ لَهَا أَيْ لِتِلْكَ الْمَرْأَةِ

وَهَذَا كَمَا أَرْشَدَ الْمُتَحَابَّيْنِ إِلَى النِّكَاحِ

وَهَذَا أَيْضًا بَابٌ آخَرُ

إِذَا وَقَعَ فِي قَلْبِ الْإِنْسَانِ عِشْقٌ أَوْ مَحَبَّةٌ لِامْرَأَةٍ

فَلْيَسْعَ فِي زَوَاجِهَا إِنْ كَانَ عِشْقًا

تَمَكَّنَ مِنْ نَفْسِهِ

وَحُبًّا تَمَكَّنَ مِنْ نَفْسِهِ فَلْيُبَادِرْ إِلَى زَوَاجِهَا

فَإِنْ حَصَلَ ذَلِكَ وَقُبِلَ فَبِهَا

وَإِنْ لَمْ يُقْبَلْ فَلْيَصْرِفْهَا عَنْ نَفْسِهِ

وَابْنُ الْقَيِّمِ ذَكَرَ رَحِمَهُ اللهُ فِيْمَا تَقَدَّمَ وَسَائِلَ نَافِعَةً جِدًّا

فِي هَذَا الْبَابِ نَعَمْ

Cara Bertaubat dari Dosa Ghibah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Cara Bertaubat dari Dosa Ghibah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

يَقُولُ شَيْخَنَا أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ
Penanya berkata: “Ya Syaikh kami, ahsanallahu ilaikum.

رَجُلٌ اغْتَابَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ
Ada seseorang yang banyak menggunjing orang-orang

حَتَّى إِنَّهُ لَا يَذْكُرُ أَسْمَاءَهُمْ
hingga ia tidak ingat lagi nama-nama mereka,

وَهُوَ الْآنَ يُرِيدُ التَّوْبَةَ
dan ia sekarang ingin bertaubat,

فَكَيْفَ السَّبِيلُ إِلَى ذَلِكَ
maka bagaimana cara ia untuk bertaubat?

وَكَيْفَ يَرُدُّ الْمَظَالِمَ وَيَتَحَلَّلُ مِنْ هَؤُلَاءِ
Dan bagaimana caranya agar ia dapat membayar kezalimannya dan meminta penghalalan dari mereka?

جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا
Jazakumullahu khairan…”

أَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ بِأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى
Aku memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan nama-nama-Nya yang baik

أَنْ يَتُوبَ عَلَى أَخِينَا السَّائِلِ وَأَنْ يُوَفِّقَهُ لِــ
agar mengampuni saudara kita yang bertanya ini dan memberinya taufik untuk…

التَّوْبَةِ النَّصُوحِ
bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya

وَأَنْ يَمُنَّ عَلَيْنَا أَجْمَعِيْنَ
dan mengaruniakan kepada kita semua

بِالتَّوْفِيقِ لِسَدِيْدِ الْأَقْوَالِ وَصَالِحِ الْأَعْمَالِ
taufik kepada perkataan yang benar dan amalan yang shalih,

وَأَنْ يُعِيذَنَا مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
serta melindungi kita dari keburukan diri kita dan kejelekan amalan kita.

الْغِيبَةُ
Ghibah…

أَمْرُهَا لَيْسَ بِالْهَيِّنِ
urusannya tidaklah remeh.

أَمْرُهَا عَظِيمٌ جِدًّا
Urusannya sangat besar!

وَ
Dan…

لَوْ لَمْ يَأْتِ فِي الْغِيبَةِ إِلَّا الْآيَةُ الْكَرِيمَةُ الَّتِي فِي سُورَةِ الْحُجُرَاتِ
seandainya tidak ada larangan tentang ghibah kecuali ayat dalam surat al-Hujurat (niscaya sudah cukup menjelaskan keburukannya)

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
“Apakah salah satu dari kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kalian merasa jijik terhadapnya…

وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

وَهَذَا فِيهِ فَتْحُ بَابٍ لِلْمُغْتَابِ أَنْ يَتُوبَ
Dalam ayat ini terdapat pembuka pintu bagi orang yang mengghibah agar bertaubat.

وَأَنَّ بَابَ التَّوْبَةِ مَفْتُوحٌ
Pintu taubat terbuka baginya,

وَأَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تَوَّابٌ
dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Penerima Taubat

مِنَ الْغِيبَةِ وَغَيْرِهَا
dari dosa ghibah dan dosa lainnya.

لَكِنْ إِذَا صَدَقَ الْعَبْدُ مَعَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Namun itu jika seorang hamba jujur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

فِي التَّوْبَةِ
dalam taubatnya.

وَالذَّنْبُ الَّذِي يَتُوبُ مِنْهُ الْعَبْدُ
Dan dosa yang seorang hamba hendak bertaubat darinya…

إِذَا كَانَ
jika itu…

يَتَعَلَّقُ بِالْآدَمِيِّيْنَ
berkaitan dengan hak-hak sesama manusia.

إِذَا كَانَ يَتَعَلَّقُ بِالْآدَمِيِّيْنَ
Jika itu berkaitan dengan hak-hak sesama manusia…

لَا بُدَّ أَنْ يَتَحَلَّلَهُمْ
maka ia harus meminta penghalalan dari mereka

وَأَنْ يَطْلُبَ مُسَامَحَتَهُمْ
dan meminta maaf kepada mereka

لِأَنَّ ذَنْبَهُ تَعَلَّقَ بِحَقٍّ لَهُمْ
karena dosanya berkaitan dengan hak mereka

وَ
dan…

سَيُقْتَصُّ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالْقَصَاصُ مِنَ الْحَسَنَاتِ
akan dimintai ganti darinya pada hari kiamat, dan gantinya berupa pahala-pahala kebaikan.

يُقْتَصُّ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
akan dimintai ganti darinya pada hari kiamat,

وَالْقَصَاصُ مِنَ الْحَسَنَاتِ
dan gantinya berupa pahala-pahala kebaikan.

يَأْخُذُونَ مِنْ حَسَنَاتِهِ مِنْ صَلَاتِهِ
Mereka akan mengambil pahala kebaikannya; dari shalatnya,…

مِنْ قِرَاءَتِهِ لِلْقُرْآنِ
dari bacaan al-Qur’annya,

مِنْ جُلُوسِهِ لِطَلَبِ الْعِلْمِ
dari duduknya untuk menuntut ilmu.

يَجْلِسُ لِطَلَبِ الْعِلْمِ سَنَوَاتٍ رُبَّمَا تَذْهَبُ بِالسَّنَوَاتِ الَّتِي جَلَسَهَا
Ia telah menuntut ilmu bertahun-tahun, namun bisa jadi pahala duduk bertahun-tahun ini pergi begitu saja…

لِآخَرِيْنَ مَا جَلَسُوا فِي طَلَبِ الْعِلْمِ مِثْلَهُ
untuk orang lain yang tidak menuntut ilmu selama itu.

فَتَذْهَبُ جُلُوسُهُ لَهُم
Pahala menuntut ilmu ini untuk mereka,

تَذْهَبُ صَلَاتُهُ
begitu juga pahala shalatnya,

حَتَّى إِنَّ بَعْضَ النَّاسِ مِنْ كَثْرَةِ
bahkan sebagian orang karena begitu banyak…

تَعَدِّيَاتِهِ عَلَى الْآخَرِينَ
kezalimannya terhadap orang lain

يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَكُونُ مُفْلِسًا
datang di hari kiamat sebagai orang yang bangkrut,

مَعَ أَنَّ عِنْدَهُ صَلَاةً كَثِيرَةً
padahal ia memiliki pahala shalat yang banyak,

وَصِيَامٌ كَثِيرٌ
puasa yang banyak,

وَصَدَقَاتٌ وَإِعْمَالُ بِرٍّ
sedekah-sedekah, dan amal-amal kebaikan lainnya.

كُلُّهَا تَذْهَبُ
Semuanya lenyap.

تَذْهَبُ لِأَصْحَابِ التَّبِعَاتِ وَالْحُقُوقِ
Pahala itu pergi untuk orang-orang yang memiliki hak atasnya.

فَمِنَ الْخَيْرِ لِلْعَبْدِ
Maka sebuah kebaikan bagi seorang hamba…

أَنْ يَتَخَلَّصَ مِنْهَا فِي الدُّنْيَا
untuk membebaskan diri dari hak-hak ini di dunia

قَبْلَ أَنْ تُؤْخَذَ مِنْ حَسَنَاتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
sebelum pahala kebaikan-kebaikannya diambil di hari kiamat.

قَبْلَ أَنْ تُؤْخَذَ مِنْ حَسَنَاتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Sebelum pahala kebaikan-kebaikannya diambil di hari kiamat.

وَفِيمَا يَتَعَلَّقُ بِـ
Dan adapun yang berhubungan dengan…

الطَّعْنِ فِي أَعْرَاضِ النَّاسِ وَالْغِيبَةِ لَهُم وَالسُّخْرِيَةِ وَالِاسْتِهْزَاءِ
tuduhan terhadap kehormatan orang lain, ghibah, hinaan dan celaan,

وَنَحْوِ ذَلِكَ
dan lain sebagainya.

إِذَا كَانَ يَعْلَمُ
Jika pelakunya itu mengetahui

أَنَّ
bahwa…

طَلَبَ الْمُسَامَحَةِ
meminta maaf

مِمَّنِ اغْتَابَهُمْ
dari orang-orang yang ia ghibahi

بِتَفْصِيْلِ مَا قَالَهُ فِيهِمْ
dengan cara menjelaskan dengan detail apa yang ia katakan tentang mereka

يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ مَفَاسِدُ
akan menimbulkan berbagai kerusakan

فَالشَّرِيعَةُ جَاءَتْ بِدَرْءِ الْمَفَاسِدِ
maka syariat hadir untuk mencegah kerusakan.

إِذَا كَانَ يَعْلَمُ أَنَّ هَذَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ مَفَاسِدُ
Jika ia mengetahui bahwa cara itu menyebabkan berbagai kerusakan…

فَالشَّرِيعَةُ جَاءَتْ بِدَرْءِ الْمَفَاسِدِ
maka sebenarnya syariat hadir untuk mencegah kerusakan.

فَعَلَيْهِ فِي هَذَا الْمَقَامِ
Oleh sebab itu, dalam keadaan ini ia harus…

أَنْ يَفْعَلَ أَمْرَيْنِ
melakukan dua perkara

الْأَوَّلَ
PERTAMA:

أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِهِمْ بِالْخَيْرِ
banyak menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka

تَعْوِيضًا عَنِ الذِّكْرِ لَهُم بِالسُّوءِ
sebagai ganti atas keburukan yang ia sebutkan tentang mereka.

أَنْ يُكْثِرَ مِنْ ذِكْرِهِمْ بِالْخَيْرِ مَعَ الدُّعَاءِ لَهُمْ
Banyak menyebut kebaikan mereka, mendoakan mereka,

وَالِاسْتِغْفَارِ وَالتَّرَحُّمِ وَنَحْوِ ذَلِكَ
memohonkan ampun dan rahmat bagi mereka, dan lain sebagainya,

أَحْيَاءً كَانُوا أَوْ أَمْوَاتًا
baik itu mereka masih hidup maupun telah meninggal.

وَالثَّانِي
KEDUA:

أَنْ يَطْلُبَ
Hendaklah ia meminta…

مِنْ هَؤُلَاءِ الْمُسَامَحَةَ
dari mereka pemberian maaf

لَيْسَ عَلَى وَجْهِ التَّفْصِيلِ بِذِكْرِ مَا كَانَ مِنْهُ
tanpa menjelaskan dengan detail apa yang telah ia katakan tentang mereka

مِمَّا يُخْشَى أَنْ تَتَرَتَّبَ عَلَيْهِ الْمَفْسَدَةُ
yang dikhawatirkan dapat menimbulkan kerusakan.

وَلَكِنْ عَلَى وَجْهِ الْعُمُومِ
Namun cukup dengan menyebutkan secara umum.

عَلَى وَجْهِ الْعُمُومِ
Menyebutkan secara umum.

عَلَى وَجْهِ الْعُمُومِ يَذْهَبُ وَيَقُولُ لاَ بُدَّ أَنَّنِي أَخْطَأْتُ فِي حَقِّكَ
Menyebutkan secara umum dengan menemui dan berkata kepadanya, “Aku telah melakukan kesalahan terhadap hakmu…

وَحَصَلَ مِنِّي تَقْصِيْرٌ
dan aku telah lalai…”

وَيَطْلُبُ مِنْهُ يَعْنِي مُتَلَطِّفًا مَعَهُ أَنْ يُسَامِحَهُ
Dan meminta darinya dengan lembut agar rela memberinya maaf.

وَالْغَالِبُ النَّاسُ فِيهِمْ خَيْرٌ
Dan kebanyakan orang akan berbaik hati.

فَمِنَ الخَيْرِ لَهُ أَنْ يَطْلُبَ مِنْهُمْ مُسَامَحَةً فِي الدُّنْيَا
Jadi lebih baik baginya untuk meminta maaf dari mereka di dunia

فَيَعْفُوا عَنْهُ قَبْلَ أَنْ يَقْتَصُّوا مِنْهُ
sehingga mereka memaafkannya sebelum mereka menuntut balas darinya

مِنْ حَسَنَاتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ نَعَمْ
dengan mengambil pahala kebaikannya di hari kiamat. Demikian.

12 Contoh Sedekah Jariyah yang Paling Utama – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid

12 Contoh Sedekah Jariyah yang Paling Utama – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid

يَقُولُ السُّؤَالُ مَاذَا تَنْصَحُ بِالنِّسْبَةِ لِلصِّدْقَاتِ نَحْنُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ

Ada pertanyaan: “Kita sekarang berada pada bulan Ramadan. Apa nasihat Anda terkait sedekah…

مَنْ عِنْدَهُ مَالٌ كَثِيرٌ وَيُرِيدُ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِهِ؟

bagi seseorang yang memiliki kelebihan harta dan ingin menyedekahkan hartanya.”

وَاللهِ أَنْصَحُ بِهِ يَا إِخْوَانُ الْوَقْفُ فِي نَشْرِ الْعِلْمِ

PERTAMA:
(Wakaf untuk Membantu Menyebarkan Ilmu)

Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, yang aku nasihatkan adalah memberi wakaf untuk membantu menyebarkan ilmu.

الْوَقْفُ فِي نَشْرِ الْعِلْمِ

Wakaf dalam menyebarkan ilmu.

نَشْرُ الْعِلْمِ وَالتَّعْلِيمُ مِنْ أَعْظَمِ الْعِبَادَاتِ

Menyebarkan ilmu dan mengajarkannya termasuk ibadah yang paling mulia.

لِأَيشْ؟ لِأَنَّهُ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ

Mengapa? Karena itu merupakan bentuk Sedekah Jariyah.

أَوَّلًا أَنْتَ تَنْشُرُ الدِّينَ وَتُقِيمُ الدِّينَ

Anda menyebarkan ajaran agama dan menegakkannya,

وَتُعِينُ فِي رِعَايَةِ الدِّينِ تُقِيمُ وَتُسَاهِمُ فِي إِقَامَةِ حُجَّةِ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ

Anda membantu menjaga agama, ikut berkontribusi dalam menegakkan hujjah Allah kepada para hamba-Nya.

لِأَيشْ اللهُ أَرْسَلَ الرُّسُلَ؟

Mengapa Allah mengutus para Rasul?

لِأَيشْ لِمَاذَا أَنْزَلَ اللهُ الْكُتُبَ؟

Mengapa Allah menurunkan kitab-kitab?

فَأَنْتَ لَمَّا تَنْشُرُ الْعِلْمَ تُسَاهِمُ فِي نَشْرِ الْعِلْمِ وَتَعْلِيمِ الْعِلْمِ الشَّرْعِيِّ لِلنَّاسِ

Oleh karena itu, ketika Anda menyebarkan ilmu agama atau membantu menyebarkan dan mengajarkannya kepada manusia,

هَذِهِ الْحُجَّةُ الْإِلَهِيَّةُ عَلَى الْخَلْقِ تَقُومُ

berarti Anda menegakkan hujjah Allah kepada manusia.

فَلَمَّا تُنْفِقُ يَا أَخِي الْكَرِيمُ

KEDUA:
(Memenuhi Kebutuhan Ulama dan Penuntut Ilmu)

Wahai saudaraku yang budiman, ketika Anda mau memberikan harta Anda

تَضَعُ لَهُ وَقْفًا تَقُوْلُ عِنْدَكَ أَمْوَالٌ كَثِيرَةٌ

dalam bentuk wakaf -Anda katakan bahwa Anda memiliki banyak harta-,

لَمَّا تَضَعُ لَهُ وَقْفًا تُنْفِقُ مِنْهُ

ketika Anda mau memberi sedekah dalam bentuk wakaf, Anda dapat memberikannya

فِي كَفَالَاتِ طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَالْعُلَمَاءِ وَتَفْرِيغِهِمْ

untuk mencukupi kebutuhan penuntut ilmu dan para ulama serta meringankan beban mereka.

وَهَذَا شَيْءٌ عَظِيمٌ بَدَلًا هُوَ يَرُوحُ وَيَشْتَغِلُ

Dan ini adalah amalan yang sangat agung, alih-alih para ulama sibuk pergi mencari nafkah

وَيُضَيِّعُ ثَمَانِي سَاعَاتٍ مِنْ يَوْمِهِ

menghabiskan waktu delapan jam setiap harinya,

هَذِهِ لِمَا… هَذِهِ الْأُمَّةُ أَحَقُّ بِهَا وَأَولَى بِهَا

lebih baik waktu dan kesibukannya diberikan untuk umat, karena umat lebih utama dan lebih berhak untuk mendapatkannya.

لَوْ وَاحِدٌ وُجِدَ وَاحِدٌ جَادٌّ جَادٌّ عَلَى الْمَنْهَجِ عَلَى الْمَنْهَجِ الصَّحِيحِ

Jika ada seseorang yang lurus, tegak di atas manhaj yang benar,

كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

di atas Kitabullah dan Sunah Nabi ṣallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَلَى الْسُّنَّةِ عَلَى الْسُّنَّةِ واللهِ هَذَا تَفْرِيغُهُ لِلْأُمَّةِ

berpegang dengan sunah, maka demi Allah, meringankan bebannya agar bisa fokus terhadap umat

صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ عَظِيمَةٌ

adalah sedekah jariyah yang sangat agung!

شُفْ الْأَحَدُ أَنْتَ كَمْ؟

Bayangkan, berapa yang akan Anda dapatkan?

كُلَّمَا كُلُّ شَيْءٍ يَقُولُهُ فِي مِثْلِ فِي مِيزَانٍ

Semua yang dia ajarkan maka Anda dapat pahala yang sama di timbangan amal Anda!

أَنْتَ أَنْتَ مَا سَاهَمْتَ؟

Apakah Anda tidak mau berkontribusi?

ثُمَّ كَفَالَةُ طَلَبَةِ الْعِلْمِ الْفُقَرَاءِ

KETIGA:
(Mencukupi Kebutuhan Penuntut Ilmu yang Fakir Miskin)

Kemudian, sedekah untuk mencukupi kebutuhan penuntut ilmu yang fakir (miskin).

قَضِيَّةُ طِبَاعَةِ الْكُتُبِ

KEEMPAT:
(Menerbitkan Buku/Kitab)

Pembiayaan penerbitan kitab-kitab.

الْجَوَائِزُ فِي الْمُسَابَقَاتِ الْعِلْمِيَّةِ

KELIMA:
(Memberikan Hadiah untuk Lomba Islam)

Penyediaan hadiah untuk kompetisi-kompetisi ilmiah.

(*) Seperti lomba menghafal al-Quran dan hadis Nabi.

مِنْ زَمَانٍ تَرَى الْمُسْلِمِينَ فِي… إِنْشَاءُ الْمَكْتَبَاتِ الْعِلْمِيَّةِ
KEENAM:
(Mendirikan Perpustakaan Islam)

Sejak dahulu umat Islam mendirikan perpustakaan.

الْمُسْلِمُونَ فِي الْأَنْدَلُسِ وَغَيْرِهَا وَفِي بَغْدَادَ وَفِي دِمَشْقَ فِي حَوَاضِرِ الْعَالَمِ الْإِسْلَامِيِّ

Umat Islam di Andalus, Baghdad, Damaskus, dan lain sebagainya di berbagai wilayah Islam,

كَانَ عِنْدَهُمْ أَوْقَافٌ كَثِيرَةٌ جِدًّا عَلَى الْمَدَارِسِ

sejak dahulu mereka memiliki banyak sekali aset-aset wakaf untuk madrasah

الَّتِي تُخَرِّجُ الْعُلَمَاءَ وَلِذَلِكَ مَا كَانَ فِيهِ كَانَ الْعُلَمَاءُ وَالْكُتُبُ عَظِيمَةً

yang melahirkan para ulama. Oleh sebab itulah pada zaman tersebut banyak bermunculan para ulama dan karya-karya besar.

مَخْطُوطَاتٌ الْآنَ مَا طَبَعَ كَمْ طَبَعَ مِنْهَا ؟

KETUJUH:
(Mencetak Manuskrip Karya Ulama)

Betapa banyak manuskrip kitab ulama yang belum dicetak. Ada berapa yang sudah dicetak?!

وَلَيْسَ! بَاقٍ كَثِيرٌ جِدًّا

Sedikit! Ada banyak yang belum dicetak.

مَخْطُوطَاتُ الْمَوْصُلِ وَبَغْدَادَ وَحَلَبَ وَدِمَشْقَ

Manuskrip yang ada di kota Mosul, Baghdad, Aleppo, Damaskus,

وَمَخْطُوطَاتُ الْمِصْرِيَّةِ وَالْمَغْرِبِ وَالْأَنْدَلُسِ

di Mesir, di Maroko, di Andalus (Spanyol),

وَمَخْطُوطَاتُ الْيَمَنِ وَالْعَالَمِ الْإِسْلَامِيِّ وَالْحِجَازِ

di Yaman, kota Hijaz, dan di negeri-negeri Islam lainnya.

هَذِهِ أَيْنَ جِهَةٌ؟ تَفْرِيغُ أَهْلِ الْعِلْمِ

Ini semua tujuannya apa? Untuk mempermudah para ulama.

كَانَ فِيهِ تَفْرِيغٌ فِي أَوْقَافٍ

Aset-aset wakaf ini semua mempermudah mereka.

تَصْرِيْفٌ عَلَى طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَالْعُلَمَاءِ

Bersedekah untuk para penuntut ilmu dan ulama…

مَا كَانَ الْعَالِمُ يَحْتَاجُ وَلَا يَمُدُّ يَدَهُ

untuk memenuhi kebutuhan mereka, agar mereka tidak meminta-minta…

عِنْدَ مَا يُغْنِيهِ وَيَكْفِيهِ

dengan terpenuhi kebutuhannya.

بَسْ تَفَرَّغَ لِنَفْعِ الْأُمَّةِ

Dengan demikian fokusnya hanya memberikan manfaat untuk umat

وَالْآنَ إِنْشَاءُ الْكُلِّيَّاتِ إِنْشَاءُ الْمَعَاهِدِ

KEDELAPAN:
(Mendirikan Kampus dan Pondok Pesantren)

Dan zaman sekarang, bisa mendirikan kampus, mendirikan pondok pesantren,

إِنْشَاءُ الْمِنَصَّاتِ الشَّرْعِيَّةِ يَا جَمَاعَةُ

KESEMBILAN:
(Mengadakan Program Pelatihan/Pembelajaran Islam)

Jamaah sekalian, Anda bisa membuat Islamic Courses.

مِنَصَّاتٌ شَرْعِيَّةٌ إِلِكْتُرُونِيَّةٌ الَّتِي تُدَرِّسُ الآنَ عَنْ بُعْدٍ أَوْ عَنْ قُرْبٍ

Anda mengajar melalui Islamic e-Learning, jarak jauh maupun dekat.

مُمْكِنٌ عَشَرَاتِ الْآلَافِ مَقَارِئُ القُرْآنِ تَحْفِيظُ الْقُرْآنِ

Bisa puluhan ribu dibuat, contohnya seperti halaqoh belajar membaca dan menghafal Al-Quran,

التَّفْسِيرُ وَالتَّدَبُّرُ هَذَا نَشْرُ الْعِلْمِ

juga tafsir dan tadaburnya. Ini semua termasuk menyebarkan ilmu.

يَعْنِي فِيهِ وَاحِدٌ كَانَ عِنْدَهُ مَشْرُوعٌ مَا أَدْرِي إِذَا كَانَ نَسْتَطِيعُ نَطَّلِعُ هَذَا

KESEPULUH:
(Membangun Masjid)

Ada seseorang yang memiliki sebuah proyek. Mungkin bisa diperlihatkan proyek tersebut!

وَاحِدٌ كَانَ عِنْدَهُ يَعْنِي صُورَةٌ صُورَةٌ

Ada seseorang yang punya gambar rancangan proyeknya.

هَذَا شُفْ هَذَا مِثَالٌ شُفْ وَاحِدٌ وَاحِدٌ أَنَا أَعْتَبِرُهُ هَذَا الشَّخْصُ ذَكِيٌّ ذَكِيٌّ
Ini, perhatikan! Ini contohnya, orang ini, menurut saya, dia adalah orang cerdas,

سَوَّى الْمَشْرُوعَ فِيهِ مَسْجِدٌ مَرْكَزِيٌّ

dia merancang proyek pembangunan gedung yang terdapat masjid padanya,

لِأَنَّهُ الْمَسْجِدُ فَضْلُ الْمَسْجِدِ وَالْمَسْجِدُ وَبُيُوتُ اللهِ

karena masjid memiliki keutamaan. Masjid adalah rumah Allah.

بُيُوتُ اللهِ فَوَضَعَ مَسْجِدًا لِلهِ

Masjid adalah rumah Allah sehingga dia membangunnya karena Allah,

الْجُمُعَةُ وَحَلَقَاتُ التَّحْفِيظِ وَالْفَرَائِضُ وَالْاِعْتِكَافُ وَحِلَقُ الذِّكْرِ

untuk salat Jumat, majelis tahfidz al-Quran, salat wajib, iktikaf, dan pengajian.

وَفِيهِ أَدْوَارٌ فُنْدُقِيَّةٌ وَسَكَنِيَّةٌ وَمَكْتَبِيَّةٌ وَمَعَارِضُ

Dan di sini juga ada lantai untuk hotel, apartemen, kantor, dan pertokoan.

هَذِهِ مِنْهَا عَلَى الْمَسْجِدِ وَمِنْهَا عَلَى نَشْرِ الْعِلْمِ أَوِ الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ

Sehingga proyek ini sebagiannya untuk masjid dan sebagiannya untuk menyebarkan ilmu dan dakwah.

هَذِهِ الْمَشَارِيعُ هَذِهِ الْمَشَارِيعُ هَذِهِ إِذَا يَعْنِي سُبْحَانَ اللهِ

Proyek-proyek semacam ini, subḥānallāh!

لَوْ أَنَّ هُنَاكَ يَعْنِي هِيَ شُفْ هِدَايَةٌ مِنَ اللهِ يَعْنِي

Perhatikan! Proyek semacam ini adalah hidayah dari Allah.

هِيَ هِدَايَةٌ مِنَ اللهِ هِدَايَةٌ مِنَ اللهِ

Ini semata-mata hidayah dari Allah.

لَوْ وَاحِدٌ اللهُ يُوَجِّهُهُ هَا؟

Bayangkan apabila ada orang yang Allah arahkan ke arah ini…
(Yaitu Allah beri hidayah untuk membuat proyek semacam ini, dan hasilnya banyak orang yang salat di masjid yang dia bangun, dst…)

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا – الْبَقَرَةُ: ١٤٨

“Dan tiap-tiap umat memiliki kiblatnya masing-masing yang mereka menghadap ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah: 148)

يَبْنِي بُيُوتَ اللهِ وَيُوقِفُ عَلَيْهَا الْأَوْقَافَ

Dia membangun rumah Allah kemudian mewakafkan banyak aset padanya.

وَيُوقِفُ الْأَوْقَافَ عَلَى الْعِلْمِ عَلَى الْعِلْمِ يَا جَمَاعَةُ عَلَى الْعِلْمِ

Dia mewakafkan banyak aset untuk ilmu! Untuk ilmu, wahai para jamaah, untuk ilmu!

نَحْنُ الْآنَ فِي زَمَنِ الْفِتَنِ فِيهِ أَشْيَاءُ

Kita sekarang berada di zaman fitnah dan banyak sekali jenisnya.

خُذِ الْعِلْمَ عَلِّمْ عَلِّمْ النَّاسَ التَّوْحِيدَ وَالْعَقِيدَةَ الصَّحِيحَةَ

KESEBELAS:
(Berdakwah ke Masyarakat dengan Mengajarkan Ilmu)

Mengajarlah! Ajarkan kepada manusia ilmu tauhid, akidah yang benar,

السُّنَّةَ النَّبَوِيَّةَ التَّفْسِيرَ وَالْحَدِيثَ وَالْفِقْهَ وَالْعَقِيدَةَ وَالسِّيْرَةَ

sunah-sunah Nabi, tafsir, hadis, fikih, akidah, sirah Nabi,

وَاللُّغَةَ الْعَرَبِيَّةَ وَ… وَ فِيهَا يَعْنِي فِيهِ فِيهِ كَمْ تَحْيَى الْقُلُوبُ؟

bahasa Arab, dan lain sebagainya, karena dengan semua itu betapa banyak hati menjadi hidup.

وَبَعْدٍ تَعْلِيمُ الْأَطْفَالِ فِي النَّاسِ

KEDUA BELAS:
(Mengajar dan Mendidik Anak-anak)

Begitu juga mengajar anak-anak, karena di tengah masyarakat

أَوْلَادٌ الَّذِينَ لَا يَعْرِفُونَ الْعَرَبِيَّةَ مَا يَعْرِفُونَ الْأَشْيَاءَ مِنَ الدِّينِ

banyak anak-anak yang tidak mengerti bahasa Arab dan tidak paham tentang Islam,

وَهُمْ أَوْلَاَدُ مُسْلِمِينَ بِالْاِسْمِ

padahal dari nama-namanya, mereka adalah anak-anak Islam.

TAMBAHAN HALAMAN DI BELAKANG VIDEO (30 DETIK)

***
Anda dapat ikut serta sedekah jariyah, dengan cara memberikan wakaf untuk menyebarkan ilmu melalui video dakwah bersama Yufid.TV
***
BANK SYARIAH INDONESIA
7086882242
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
Kode BSI: 451
***
Sedekah Jariyah yang Anda berikan insya Allah digunakan untuk biaya operasional dan biaya produksi video dakwah Yufid.TV

Rupanya di Sinilah Letak Kebahagiaan – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama


Rupanya di Sinilah Letak Kebahagiaan – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

أَيُّهَا الْأَحِبَّةُ أُحِبُّ أَنْ أَتَذَاكَرَ مَعَكُمْ أَمْرًا يَطْلُبُهُ النَّاسُ وَيَشْكُو كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الْيَوْمَ فَقْدَهُ

Wahai orang-orang yang aku cintai, aku ingin berbicara kepadamu tentang sesuatu yang dicari manusia, yang pada zaman ini banyak dari mereka mengeluh tidak memilikinya…

هُوَ أَمْرٌ يَطْلُبُهُ كُلُّ أَحَدٍ يَطْلُبُهُ الصَّغِيرُ وَيَطْلُبُهُ الْكَبِيرُ يَطْلُبُهُ الذَّكَرُ وَتَطْلُبُهُ الْأُنْثَى

Sesuatu yang semua orang menginginkannya; anak kecil, orang dewasa, laki-laki dan wanita.

ذَلِكُمُ الْأَمْرُ هُوَ السَّعَادَةُ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الْيَوْمَ يَقُولُونَ إِنَّا لَا نَشْعُرُ بِالسَّعَادَةِ

Sesuatu itu adalah KEBAHAGIAAN, yang banyak manusia pada zaman sekarang berkata, “Kami tidak merasakan kebahagiaan…”

وَقَدْ تَنَوَّعَتْ طُرُقُ النَّاسِ فِي طَلَبِ السَّعَادَةِ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ ظَنَّ أَنَّ السَّعَادَةَ فِي تَكْثيرِ الْأَمْوَالِ

Banyak jalan yang telah manusia tempuh untuk mencari kebahagiaan ini. Sebagian mereka menyangka bahwa kebahagiaan itu ada pada banyaknya harta,

فَأَصْبَحَ يَسْعَى فِي تَكْثيرِ الْأَمْوَالِ وَلَا يُبَالِي مِنْ أَيِّ طَرِيقٍ كَانَتْ وَأَلْهَتْهُ عَنْ ذِكْرِ اللهِ

sehingga mereka berusaha memperbanyak harta tanpa peduli bagaimana cara ia mendapatkannya. Ini membuat mereka lalai dari mengingat Allah.

فَإِذَا تَعَارَضَ طَلَبُ الْمَالِ مَعَ الصَّلَاةِ نَادَاهُ شَيْطَانُهُ حَيَّ عَلَى الْمَاءِ

Ketika berbenturan antara waktu mencari uang dan shalat, setan lantas mengajaknya, “hayya ‘alal maa’!” (Ayo kita mencari air!) – (seruan yang berkebalikan dari seruan azan “hayya ‘alas shalaah!”)

فَلَا يُحَقِّقُ الْسَعَادَةَ وَإِنَّمَا يَكُونُ حَالُهُ كَمَا قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّى ٰ زُرْتُم الْمَقَابِرَ- التَّكَاثُرُ الْآيَةُ 2-1

Namun kebahagiaan juga tidak dia dapatkan. Keadaannya seperti apa yang Allah ‘Azza wa Jalla firmankan, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian. Sampai kalian masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2)

فَطَلَبَ التَّكْثِيرَ بِالْأَمْوَالِ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ طَلَبَ التَّكْثيرَ بِالْأَوْلَادِ وَأَلْهَاهُ ذَلِكَ عَنْ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Mereka terus menumpuk harta. Sebagian manusia ada yang berusaha memperbanyak anak sehingga membuat mereka lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ ظَنَّ أَنَّ السَّعَادَةَ فِي الْأَسْفَارِ فَيَظَلُّ طُولَ عُمْرِهِ يَنْتَقِلُ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ لَا تَهْنَأُ بِهِ زَوْجَةٌ وَلَا وَلَدٌ يَبْحَثُ عَنِ السَّعَادَةِ فَلَا يُحَصِّلُهَا

Dan sebagian manusia menyangka bahwa kebahagiaan ada dalam tamasya sehingga dia habiskan sepanjang usianya bertamasya dari satu tempat ke tempat lain. Istri dan anaknya tak cukup membuatnya bahagia sehingga dia pergi mencari kebahagiaan namun juga tidak mendapatkannya…

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ أَيِسَ مِنَ السَّعَادَةِ وَقَالَ إِنَّ السَّعَادَةَ وَهْمٌ مَنْشُودٌ لَاحَقِيقَةَ لَهُ

Sebagian manusia ada yang berputus asa untuk mendapatkan kebahagiaan. Ia berkata bahwa kebahagiaan adalah ilusi indah yang tidak ada realitanya…

وَمَا دَرَى أُولَئِكَ الْحَيَارَى أَنَّ السَّعَادَةَ مَوْجُودَةٌ وَاللهِ إِنَّهَا مَوْجُودَةٌ إِنَّ السَّعَادَةَ فِي قَلْبٍ تَقِيٍّ وَعَمَلٍ صَالِحٍ زَكِيٍّ

Dan orang-orang bingung ini tidak mengetahui bahwa kebahagiaan itu ada. Demi Allah, kebahagiaan memang ada! Sungguh kebahagiaan itu ada pada HATI YANG BERTAKWA dan AMAL SALEH yang murni.

مَنْ وَفَّقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِلتَّقْوَى فَرَزَقَهُ اللهُ قَلْبًا تَقِيًّا يَقِفُ بِهِ عِنْدَ مَحَارِمِ اللهِ فَلَا يَنْتَهِكُهَا

Barang siapa yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan taufik pada jalan takwa maka Allah karuniakan kepadanya hati yang bertakwa, yang dengannya dia mampu menahan diri dari hal-hal yang Allah haramkan dan tidak melanggarnya,

وَيَقِفُ بِهِ عِنْدَ فَرَائِضِ اللهِ فَلَا يُفَرِّطُ فِيهَا وَرَزَقَهُ عَمَلًا صَالِحًا فَقَدْ رَزَقَهُ السَّعَادَةَ

dan dengannya dia bisa mengenali kewajiban-kewajiban dari Allah sehingga dia tidak melalaikannya, dan Allah membuat dia beramal saleh. Sungguh dia telah dikaruniai kebahagiaan…

وَذَلِكَ أَنَّ السَّعَادَةَ يَا إِخْوَةُ هِيَ اطْمِئْنَانُ الْقَلْبِ وَالْقُلُوبُ بَيْنَ أُصْبُعَينِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

Wahai saudaraku, yang demikian itu karena kebahagiaan adalah ketenangan hati, dan hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jemari Allah Yang Maha Pengasih sehingga Dia bisa membolak-baliknya sesuai kehendak-Nya…

فَالسَّعَادَةُ هِبَةٌ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَهَبُهَا لِعِبَادِهِ الصَّالِحِينَ

Jadi, KEBAHAGIAAN adalah PEMBERIAN DARI ALLAH Subhanahu wa Ta’ala yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya yang saleh..

Bolehkah Ghibah Terhadap Orang yang Zalim – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri

Bolehkah Ghibah Terhadap Orang yang Zalim – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri

سَأَلَتْ تَقُولُ: هَلْ هُنَاكَ فَرْقٌ بَيْنَ الْغِيْبَةِ وَبَيْنَ أَنْ يَشْتَكِيَ الْإِنْسَانُ لِآخَرَ

Wanita ini bertanya, “Apa perbedaan antara ghibah dan mengeluhkan perbuatan seseorang kepada orang lain…

يَقُولُ مَا ظُلْمَ إِنْسَانٍ لَهُ مِنْ بَابِ فَضْفَضَةٍ فَقَطْ لَا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ

…dengan menceritakan perbuatan orang yang menzaliminya hanya sekedar untuk membela diri saja, tidak lebih dari itu.”

الْغِيْبَةُ مُحَرَّمَةٌ قَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا

Ghibah hukumnya haram karena Allah Ta’alā berfirman, “Dan janganlah kalian menggunjing satu sama lain. …

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا

…Adakah seorang di antara kalian suka jika memakan daging saudaranya yang sudah meninggal? …

فَكَرِهْتُمُوهُ – الحجرات: ١٢

…Tentulah kalian akan merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12)

وَالْغِيْبَةُ فَسَّرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ

Dan pengertian ghibah telah dijelaskan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan sabda beliau,

هِيَ ذِكرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

“Ghibah itu adalah membicarakan kejelekan saudaramu yang tidak dia sukai.” (HR. Muslim)

يَعْنِي مِمَّا هُوَ فِيهِ وَبِالتَّالِي الْأَصْلُ فِي الْغِيبَةِ هُوَ التَّحْرِيمُ

Yakni, kejelekan yang benar-benar ada pada dirinya, sehingga hukum asal ghibah adalah haram.

مِنَ الْغِيْبَةِ ذِكْرُ مَعَايِبِ الْآخَرِينَ ذِكْرُ مَا فَعَلُوهُ

Di antara bentuk ghibah adalah membicarakan aib orang lain dan menceritakan apa yang telah dia lakukan,…

مِنْ أُمُورٍ غَيْرِ مُسْتَحْسَنَةٍ كُلُّ هَذَا غِيْبَةٌ

…berupa perbuatan-perbuatannya yang tidak terpuji. Ini semua adalah ghibah.

وَمِنْ ثَمَّ مَا ذَكَرَتْهُ سَائِلَةٌ هَذَا نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ الْغِيْبَةِ

Dengan demikian, apa yang disebutkan oleh penanya adalah salah satu bentuk ghibah.

عِنْدَمَا تَتَحَدَّثُ الْمَرْأَةُ عِنْدَ زَمِيلَتِهَا: فُلَانَةٌ فَعَلَتْ بِي

Ketika seorang wanita bercerita kepada temannya, “Si fulanah telah berbuat ini dan itu kepadaku.”

فُلَانَةٌ قَالَتْ فِيهِ لِي

Bahwa si fulanah telah berkata ini dan itu tentang aku…

فُلَانَةٌ تَكَلَّمَتْ فِيَّ بِالْكَلَامِ الْفُلَانِيِّ

Bahwa si fulanah telah membicarakanku dengan perkataan begini dan begitu.

هَذَا كُلُّهُ غِيْبَةٌ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُقَالَ حَتَّى مَسَائِلِ الظُّلْمِ

Ini semua adalah ghibah, tidak boleh dilakukan, walaupun menceritakan tentang kezaliman orang lain.

تَقُولُ فُلَانَةٌ ظَلَمَتْنِي

Seseorang berkata, “Si fulanah telah menzalimi saya.”

تَقُولُ أَنَّ فُلَانَةً أَخَذَتْ حَقِّيْ

Atau dia berkata, “Si fulanah telah mengambil hak saya.”

هَذَا ظُلْمٌ هَذَا غِيْبَةٌ وَلَوْ أَنَّهُ كَانَ حَقِيقَةً

Ini juga kezaliman, ini adalah ghibah walaupun yang dikatakan benar adanya.

وَإِنَّمَا تَجُوزُ الْغِيْبَةُ فِي مَوَاطِنَ مِنْهَا عِنْدَمَا فِي مَجْلِسِ الْقَضَاءِ

Dan ghibah diperbolehkan dalam beberapa kondisi, di antaranya di majelis pengadilan.

اِشْتَكَتْ فُلَانٌ فَعَلَ بِي ذَلِكَ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُحْكُمَ عَلَيْهِ

Dia bisa menggugat, “Si fulan telah berbuat ini dan itu kepada saya.” Agar tergugat bisa diadili…

وَيُؤْخَذَ الْحَقُّ هَذَا لَا بَأْسَ بِهِ

…dan penggugat bisa mendapatkan haknya. Seperti ini tidak mengapa.

وَمِثْلُهُ مَا لَوْ تَقَدَّمَ خَاطِبٌ مَا لَوْ تَقَدَّمَ خَاطِبٌ

Begitu pula ketika ada orang yang datang melamar, ketika pelamar datang.

فَيُقَالُ فِيهِ أَنَّهُ فَعَلَ الشَّيْءَ الْفُلَانِيَّ أَوْ كَانَ مِنْ صِفَاتِهِ كَذَا

Kemudian dikabarkan tentangnya bahwa dia pernah berbuat ini dan itu atau dia sifatnya begini dan begitu.

وَيَنْبَغِي أَنْ يُقْتَصَرَ بِالتَّلْمِيحِ عَنِ التَّصْرِيحِ مَتَى أَمْكَنَ ذَلِكَ

Namun hendaknya dia berusaha menyampaikan dengan bahasa yang santun dan tidak vulgar selagi memungkinkan.

وَهَكَذَا فِي الطَّعْنِ فِي شَهَادَةِ الشُّهُودِ

Begitu pula ketika ingin menggugurkan kesaksian saksi.

وَهَكَذَا إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَنْ يُغَرُّ بِهِ

Begitu pula ketika ada orang yang melakukan penyimpangan…

وَيَكُونُ هُنَاكَ مَنْ يَتَّبِعُ عَلَى طَرِيقَتِهِ وَهُوَ مُخَالِفٌ لِلْحَقِّ

…dan penyimpangan tersebut diikuti orang-orang padahal dia adalah orang yang menyelisihi kebenaran.

فَالْأَصْلُ تَحْرِيمُ الْغِيْبَةِ تَحْرِيمُ الْكَلَامِ فِي مَعَايِبِ الْآخَرِينَ

Kesimpulannya, hukum asal ghibah adalah haram, haram hukumnya menceritakan aib orang lain,…

إِلَّا لِمُقْتَضٍ شَرْعِيٍّ

…kecuali ada alasan-alasan yang dibenarkan syariat.