Hubungan antara Shalat dan Melihat Wajah Allah – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin #NasehatUlama

Adapun ganjaran terbaik di akhirat adalah memandang wajah Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu ketika seorang mukmin melihat Tuhan semesta alam yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi, inilah nikmat yang paling sempurna dan paling nikmat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan melihat Tuhan kalian pada hari Kiamat sebagaimana kalian melihat bulan pada malam purnama, kalian tidak saling berdesak-desakan ketika melihatnya.

“Maka, apabila kalian mampu untuk tidak melewatkan shalat sebelum matahari terbit dan shalat sebelum tenggelamnya, lakukanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sehingga permintaan ini mengumpulkan permintaan yang paling penting dan paling agung di dunia dan di akhirat. Adapun permintaan yang paling penting di dunia adalah kerinduan untuk berjumpa dengan Allah ‘azza wa jalla dan adapun permintaan yang paling penting dan paling agung di akhirat adalah memandang Allah subhanahu wa ta’ala, memandang Allah subhanahu wa ta’ala yang merupakan nikmat yang paling sempurna, paling besar dan paling mulia. Kita memohon kepada Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Agung karunianya. Disebutkan dalam Shahih Muslim, dan perhatikan betapa agung nikmat ini, diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Nabi kita -Semoga shalawat dari Allah dan salam-Nya terlimpah untuk beliau- bersabda,

“Ketika penduduk surga telah memasuki surga, ….” “Ketika penduduk surga telah memasuki surga, ….” Beliau bersabda: “Ketika penduduk surga telah memasuki surga, …Beliau bersabda: “Ketika penduduk surga telah memasuki surga, Allah ta’ala berfirman kepada para penduduk surga, “Apakah kalian masih menginginkan kenikmatan lain?” Ketika mereka semua sedang menikmati kenikmatan surga, Allah berfirman, “Apakah kalian masih menginginkan kenikmatan lain?” Mereka menjawab, “Bukankah Engkau telah membuat wajah kami bersinar? Bukankah Engkau telah masukkan kami ke dalam surga? Bukankah Engkau telah selamatkan kami dari neraka? Dan Allah berfirman, “Ada sebuah janji untuk kalian yang Aku ingin penuhi janji itu untuk kalian.” Nabi bersabda, “Kemudian Allah menyingkap penutup yang menutupi-Nya, ….”
Nabi bersabda, “Kemudian Allah menyingkap penutup yang menutupi-Nya dan mereka tidak pernah diberikan kenikmatan yang lebih agung dari pada kenikmatan memandang Tuhan mereka ‘azza wa jalla.”

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu yang mulia. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu yang mulia.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu yang mulia, tanpa penderitaan yang menyengsarakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu yang mulia dan kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu, tanpa penderitaan yang menyengsarakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan.

Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan keimanan dan jadikanlah kami sebagai penunjuk bagi orang-orang yang mendapat petunjuk.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan aku memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu dan kerinduan untuk untuk berjumpa dengan-Mu, tanpa penderitaan yang menyengsarakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan.” (HR. An-Nasa’i)

Wahai orang yang berdoa demikian, wahai orang yang berkata demikian dalam doanya memohon kepada Tuhan-Mu, “Aku memohon kepada-Mu kenikmatan untuk melihat wajah-Mu.” Anda harus mengerti kedudukan shalat, Anda harus memahami pentingnya shalat dan kedudukan shalat dalam meraih perkara yang mulia ini. Perhatikan di sini, dalam hadis yang agung ini, hadis Ammar bin Yasir, bahwa Nabi kita -Semoga shalawat dari Allah dan salam-Nya terlimpah untuk beliau- meminta permintaan yang agung ini dalam shalat beliau. Oleh sebab itu, Anda harus mengetahui adanya keterkaitan yang kuat dan erat antara shalat dan memandang Allah. Perhatikan! Ada keterkaitan yang kuat antara shalat dan memandang Allah tabaraka wa ta’ala. Dan hadis yang telah kita lewati bersama tadi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan pada malam purnama, kalian tidak saling berdesak-desakan ketika melihatnya. Apabila kalian mampu ….”

Lihatlah keterkaitan antara shalat dan memandang Allah. “… Apabila kalian mampu untuk tidak melewatkan shalat sebelum matahari terbit dan shalat sebelum tenggelamnya, maka lakukanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Meninggalkan shalat, menunda shalat dan melalaikan perkara shalat merupakan beberapa sebab dari terhalangnya seseorang dari kebaikan di dunia dan akhirat, dan di antaranya adalah terhalangi dari melihat Allah ‘azza wa jalla. Jika perlu, silakan Anda baca firman Allah tabaraka wa ta’ala dalam surat Al-Qiyamah.

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

Yakni, melihat Allah. Dan Hasan Al Basri -Semoga Allah merahmati beliau- berkata, “Mereka diberi izin untuk melihat-Nya.” Maksudnya, mereka bisa melihat dengan pandangan yang baik lagi indah ketika memandang Allah jalla wa ‘ala, mereka diizinkan untuk hal itu.

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

“Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.” “Sekali-kali jangan. Apabila nafas telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya): ‘Siapakah yang dapat menyembuhkan?'” “Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan).”

Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. (QS. Al-Qiyamah: 24-30)

Lanjutkan…

“Dan ia tidak membenarkan (Al Quran) dan tidak mengerjakan shalat, …” (QS. Al-Qiyamah: 31)

Inilah yang Allah kabarkan tentang keadaan orang-orang dalam firman-Nya, “Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram,

Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.” (QS. Al-Qiyamah: 34-35)

Di antara perbuatan mereka adalah mereka
“Dan tidak membenarkan (Al Quran) dan tidak mengerjakan shalat, …” (QS. Al-Qiyamah: 31)

Maka di sinilah adanya hubungan yang kuat tersebut, dalam shalat yang merupakan penghubung antara seorang hamba dengan Tuhan-Nya. Maka, Wahai orang mukmin, Anda wajib menjaga shalat, terutama shalat wajib, dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya untuk menggapai doa yang agung tersebut yang terdapat dalam hadis ini yang Rasulullah -Semoga shalawat dari Allah dan salam-Nya terlimpah untuk beliau- selalu berdoa dengan doa ini,

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu dan kerinduan untuk untuk berjumpa dengan-Mu, tanpa penderitaan yang menyengsarakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan.” (HR. An-Nasa’i)

……………………

وَأَمَّا أَحْسَنُ مَا فِي الْآخِرَةِ فَهُوَ رُؤْيَةُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَرَى الْمُؤْمِنُ رَبَّ الْعَالَمِينَ جَلَّ وَعَلَا فَهَذَا أَكْمَلُ نَعِيمٍ وَأَلَذُّ نَعِيمٍ

وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاَةُ وَالسَّلَامُ: إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ

فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَصَلاَةٍ قَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا

فَإِذَنْ هَذَا الْمَطْلَبُ جَمَعَ أَهَمَّ مَطْلَبٍ وَأَعْظَمَ مَطْلَبٍ فِي الدُّنْيَا وَ الْآخِرَةِ

أَمَّا أَهَمَّ مَطْلَبٍ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ الشَّوْقُ إِلَى لِقَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَ أَمَّا أَهَمَّ مَطْلَبٍ وَأَعْظَمَ مَطْلَبٍ فِي الْآخِرَةِ رُؤْيَةَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

رُؤْيَةَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّتِي هِيَ أَكْمَلُ وَأَعْظُمُ وَأَجَلُّ نَعِيمٍ

نَسْأَلُ اللهَ الْكَرِيمَ الْعَظِيمَ مِنْ فَضْلِهِ

جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ – وَانْظُرُوا فِي عَظَمَةِ هَذِهِ النِّعْمَةِ – جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ نَبِيِّنَا صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ قَالَ

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ… إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ
قَالَ: إِذَا … إِذَا … قَالَ: إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ

قَالَ: إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ يَقُولُ اللهُ تَعَالَى مُخَاطِبًا أَهْلَ الْجَنَّةِ

أَتُرِيدُونَ شَيْئًا؟ – وَهُمْ فِي نَعِيمِ الْجَنَّةِ- يَقُولُ: أَتُرِيدُونَ شَيْئًا؟

فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ؟ أَلَمْ تُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟

وَيَقُولُ: إِنَّ لَكُمْ مَوعِدًا وَإِنِّي أُنْجِزُكُمُوْهُ

قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ… قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أَعْطَوْا شَيْئًا… فَمَا أَعْطَوْا شَيْئًا أَعَظْمَ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيمِ… اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيمِ… اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيمِ فِي غَيْرِ ضَرَّاءٍ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيمِ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءٍ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الْإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةَ المُهْتَدِينَ

قَالَ: وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءٍ مُضِرَّةٍ

يَا مَنْ تَقُوْلُ فِي دُعَائِكَ… يَا مَنْ تَقُوْلُ فِي دُعَائِكَ مُنَادِيًا رَبَّكَ: أَسَأَلَكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ

عَلَيْكَ أَنْ تَعْلَمَ قِيْمَةَ الصَّلَاَةِ، عَلَيْكَ أَنْ تَعْلَمَ قِيْمَةَ الصَّلَاَةِ وَ مَكَانَةَ الصَّلَاَةِ فِي نَيْلِ هَذَا الْمَطْلَبِ الْعَظِيمِ

وَانْظُرْ هُنَا فِي هَذَا الْحَديثِ الْعَظِيمِ حَديثِ عَمَّارِ بْن يَاسِرٍ يَسْأَلُ نَبِيُّنَا صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ هَذَا السُّؤَالَ الْعَظِيمَ فِي صَلَاتِهِ

وَلِهَذَا يَجِبُ أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ ثَمَّةَ اِرْتِبَاطٌ عَظِيمٌ كَبِيرٌ بَيْنَ الصَّلَاَةِ وَ بَيْنَ رُؤْيَةِ اللهِ، اِنْتَبِهْ! ثَمَّةَ اِرْتِبَاطٌ عَظِيمٌ بَيْنَ الصَّلَاَةِ وَبَيْنَ رُؤْيَةِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

وَالْحَديثُ الَّذِي مَرَّ مَعَنَا قَرِيبًا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاَةُ وَالسَّلَامُ: إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ – انْظُرُوْا الْاِرْتِبَاطَ بَيْنَ الصَّلَاَةِ وَالرُّؤْيَةِ – فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَصَلاَةٍ قَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا

تَضْيِيْعُ الصَّلَاَةِ وَإِهْمَالُ الصَّلَاَةِ وَتَفْرِيطٌ وَالتَّفْرِيطُ فِي أَمْرِ الصَّلَاَةِ مِنْ أَسْبَابِ الْحِرْمَانِ… أَسْبَابِ الْحِرْمَانِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

وَمِنْ ذَلِكَ الْحِرْمَانِ مِنْ رُؤْيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنْ شِئْتَ أَيْضًا فَاقْرَأْ قَوْلَ اللهِ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى فِي سُورَةِ الْقِيَامَةِ

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
اَلْقِيَامَةُ اَلْآيَةُ 22 – 23

أَيْ تَنْظُرُ إِلَى اللهِ، يَقُولُ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ رَحِمَهُ اللهُ حُقَّ لَهَا أَنْ تَنْظُرَ يَعْنِيْ أَنْ تَكُونَ نَاظِرَةً حَسَنَةً بَهِيَّةً وَهِيَ تَنْظُرُ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، حُقَّ لَهَا ذَلِكَ

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
اَلْقِيَامَةُ اَلْآيَةُ 22 – 23

وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ تَظُنُّ أَن يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ

كَلَّا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍ وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ

إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ
اَلْقِيَامَةُ اَلْآيَةُ 24 – 30

…أَكْمِلْ

فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّىٰ
اَلْقِيَامَةُ اَلْآيَةُ 31

هذا الّذِي قَالَ اللهُ عَنْهُ
وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ

تَظُنُّ أَن يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ
اَلْقِيَامَةُ اَلْآيَةُ 24 – 25

مِنْ أَعْمَالِهِمْ لَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّى

فَفِيهِ اِرْتِبَاطٌ عَظِيمٌ بَيْنَ الصَّلَاَةِ الَّتِي هِيَ صِلَةٌ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ وَلِهَذَا عَلَيْكَ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُ أَنْ تُحَافِظَ عَلَى الصَّلَاَةِ وَلَا سِيَّمَا الْمَفْرُوضَةِ

وَأَنْ تَحْرِصَ فِيهَا عَلَى هَذِهِ الدَّعْوَةِ الْعَظِيمَةِ الْوَارِدَةِ فِي هَذَا الْحَديثِ الَّتِي كَانَ يَدْعُو بِهَا رَسُولُ اللهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسَأَلَكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءٍ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

Lihatlah Akhirnya

فَلَا يُنْظَرُ إِلَى نَقْصِ الْبِدَايَةِ وَلَكِنْ يُنْظَرُ إِلَى كَمَالِ النِّهَايَةِ

“Jangan pandang kekurangan di awal namun lihatlah kesempurnaan di akhirnya.” (Minhaj As-Sunnah an-Nabawiyyah 2/430)

Ini adalah kaedah penting dalam berbagai hal, diantaranya: 

Pertama:

Akhir Ramadhan. Manfaatkan akhir Ramadhan semaksimal mungkin. Ingat yang jadi tolok ukur adalah akhir yang bagus dan berkualitas. Semangat yang hanya biasa saja di awal Ramadhan itu dimaafkan jika ditutup dengan semangat ibadah yang membara di akhir Ramadhan.

Kedua:

Belajar ilmu. Yang jadi acuan bukanlah semangat membara di awal jika pada akhirnya melempem. Semangat biasa di awal namun tuntas sampai akhir itu yang lebih bagus. Meski yang lebih bagus lagi jika memiliki semangat membara dari awal sampai akhir masa belajar.

Ketiga:

Pendidikan Anak. Jangan terlena dengan hafalan al-Qur’an yang mempesona di usia TK manakala berujung kebosanan di usia remaja dan dewasa. Lebih baik, biasa saja di usia kanak-kanak karena ortu tidak pasang target muluk-muluk kepada anaknya yang masih belia namun rasa cinta dengan agama tetap membara di masa remaja dan dewasa.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Malu di Akhirat

Abu Laits as-Samarqandi mengatakannya, 

وَأَمَرَ بِحَدِّ الزَّانِيَيْنِ فِي الدُّنْيَا فَمَنْ لَمْ يُقَمْ حَدُّهُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّمَا يُضْرَبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِسِيَاطٍ مِنْ نَارٍ عَلَى مَشْهَدِ الْخَلَائِقِ 

“Allah perintahkan agar pelaku zina dihukum di dunia. Pelaku zina yang belum mendapatkan hukuman sesuai syariat di dunia akan dihukum pada hari Kiamat dengan dicambuk menggunakan cambuk dari api neraka dalam keadaan disaksikan oleh seluruh makhluk (di Padang Mahsyar)” (Tanbih al-Ghafilin hlm 336)

Kondisi yang sangat sangat memalukan adalah dipermalukan di Padang Mahsyar, di permalukan di depan semua manusia dan jin.

Tetangga, kerabat, kawan dll yang dulu di dunia tidak tahu menahu jadi tahu. Bahkan semua manusia pun jadi tahu. 

Di Padang Mahsyar memandang ke arah jauh itu sejelas memandang apa yang di depan mata.

Diantara yang dipermalukan di Padang Mahsyar adalah pelaku zina yang belum mendapatkan hukuman sesuai syariat di dunia.

Pelaku zina yang di dunia hanya mendapatkan hukuman penjara, dicopot dari jabatannya atau dipecat dari status ASN masih akan dipermalukan di Padang Mahsyar, dicambuk di hadapan seluruh makhluk. 

Manfaat hukuman sesuai syariat di dunia adalah menghilangkan hukuman di akhirat. 

Semoga Allah tutupi aib dan tidak mempermalukan penulis dan semua pembaca tulisan ini di dunia dan akhirat.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Manisnya Ibadah

Ada seorang yang bertanya kepada Wuhaib bin al-Ward, “Apakah orang yang bermaksiat kepada Allah itu bisa merasakan manisnya ibadah kepada Allah?”.

Jawaban beliau, 

لَا، وَلَا مَنْ هَمَّ بِالْمَعْصِيَةِ

“Orang yang bermaksiat itu tidak bisa merasakan manisnya ibadah. Bahkan orang yang berniat hendak melakukan maksiat itu tidak bisa merasakan manisnya ibadah.” (Syu’abul Iman karya al-Baihaqi no 6756)

Ritual ibadah kepada Allah itu memiliki rasa manis yang tak terbayangkan.

Rasa manis dan nikmat melebihi kenikmatan hidup para raja dan pangeran yang hidup penuh kemewahan dan fasilitas hidup yang serba wah. 

Akan tetapi nikmat ini tidaklah dirasakan oleh semua orang yang nampaknya beribadah. 

Tidak bisa merasakan manis dan nikmatnya berdzikir, bersholawat, membaca Al-Quran, sholat rawatib, sholat Dhuha, sholat Tahajjud, puasa Senin Kamis dll adalah salah satu bentuk hukuman dari Allah.

Itulah bentuk hukuman karena maksiat dan merencanakan maksiat. 

Orang yang rajin bermaksiat bisa saja tetap rutin melakukan sejumlah ritual ibadah namun dia tidak akan bisa merasakan kenikmatannya.

Hukuman maksiat itu tidak harus hal yang ngeri-ngeri. 

Dulu bisa merasakan nikmatnya sholat namun nikmat tersebut sekarang sudah hilang itu sudah cukup sebagai hukuman dan adzab Allah. 

Obat agar bisa kembali merasakan nikmatnya ibadah adalah dengan serius bertaubat dan mengkondisikan hati agar tidak lagi punya keinginan untuk bermaksiat kepada Allah. 

Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini nikmat merasakan manis dan indahnya ibadah kepada Allah. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Manusia Berbahagia

Dikutip oleh asy-Syathibi al-Maliki bahwa Abu Ali al-Hasan bin Ali az-Zaujazani mengatakan, 

مِنْ عَلَامَاتِ السَّعَادَةِ عَلَى الْعَبْدِ تَيْسِيْرُ الطَّاعَةِ عَلَيْهِ وَمُوَافَقَةُ السُّنَّةِ فِيْ أََفْعَالِهِ وَصُحْبَتُهُ لِأَهْلِ الصَّلَاحِ وَحُسْنُ أَخْلَاقِهِ مع الْإِخْوَانِ وَاِهْتِمَامُهُ لِلْمُسْلِمِيْنِ وَمُرَاعَاتُهُ لِأَوْقَاتِهِ

“Diantara orang yang beruntung dan bahagia adalah diberi kemudahan untuk melakukan ketaatan, tindak tanduknya sesuai dengan tuntunan Nabi, berkawan dekat dengan orang-orang shalih, berakhak mulia dengan orang-orang dekatnya, suka berbuat baik kepada semua makhluk, perhatian dengan kondisi kaum muslimin dan tidak suka buang-buang waktu.” (al-I’tisham karya asy-Syathibi hlm 70, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah)

Ada tujuh tanda manusia beruntung dan berbahagia di dunia dan akhirat.

  1. Ringan badan, hati, pikiran, uangnya dll untuk kegiatan ibadah dan ketaatan kepada Allah namun berat badan, hati, pikiran, uangnya dll untuk aktifitas yang tidak bermanfaat apalagi yang bernilai dosa. 
  2. Ibadah dan perbuatannya berdasarkan ilmu agama yang benar sehingga sesuai dengan tuntunan Nabi. Artinya menjadi orang yang bersemangat untuk terus belajar agar amal semakin  berkualitas karena semakin sempurna dalam mencontoh Nabi. 
  3. Berkawan dengan orang-orang shalih di dunia nyata dan dunia maya, hanya subscribe channel YouTube yang bermanfaat, follow akun medsos yang kaya ilmu dan nasehat dst. 
  4. Berakhlak mulia kepada orang-orang di sekelilingnya.

 Akhlak mulia adalah:

  1. Suka menolong dan meringankan beban orang lain
  2. Tidak pernah mengganggu orang lain.
  3. Selalu berwajah ceria penuh senyum manis.
  4. Bersabar menghadapi sikap-sikap yang tidak nyaman dari orang-orang di sekitarnya.
  5. Senang berbuat baik karena berbuat baik kepada semua makhluk hidup baik manusia ataupun hewan adalah perbuatan bernilai pahala. 
  6. Punya peduli, empati dan solidaritas yang tinggi kepada kaum muslimin minimal dengan doa penuh khusyu untuk kebaikan kaum muslimin. 
  7. Pandai memenej waktu dengan berkegiatan yang bermanfaat untuk kehidupan dunia ataupun kehidupan di akhirat nanti. 

Semoga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini manusia-manusia yang berbahagia dan beruntung di dunia dan akhirat. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

 

Manusia Mulia

Ayub as-Sikhtiyani mengatakan, 

لَا يَنْبُلُ الرَّجُلُ حَتَّى يَكُوْنَ فِيْهِ خَصْلَتَانِ الْعِفَّةُ عَمَّا فِيْ أَيْدِي النَّاسِ وَالتَّجَاوُزُ عَمَّا يَكُوْنُ مِنْهُمْ 

“Seorang itu tidak akan menjadi mulia kecuali setelah memiliki dua hal, tidak mengharapkan belas kasihan dari orang lain dan memaafkan gangguan dari orang lai.” (Min Akhbar As-Salaf ash-Shalih hlm 331)

Ada dua ciri manusia mulia karena akhlaknya.

  1. Qana’ah, merasa cukup dengan rezki dan karunia Allah untuk dirinya sehingga tidak berharap belas kasihan orang lain.
  2. Mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Memaafkan itu ada dua level. Level kedua lebih mulia dibandingkan level pertama.

Memaafkan dengan menerima apapun alasan orang tersebut dan tidak bertanya lebih lanjut mengenai alasan tersebut. 

Memaafkan tanpa meminta kepada orang tersebut alasan yang menyebabkannya melakukan hal yang menyakiti dirinya.

Memaafkan memang akhlak mulia. Akan tetapi tidak kalah mulia adalah akhlak mudah meminta maaf. 

Untuk bisa meminta maaf seorang itu harus menyingkirkan ego dan gengsinya. 

Tidak semua orang mudah untuk menyingkirkan ego dan gengsi pribadinya. 

Oleh karena itu, hargailah perjuangan orang yang datang meminta maaf dengan memaafkannya. 

Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk menjadi insan mulia dengan akhlak mulia. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Masuk Surga Karena Dosa

Salah satu ulama Salaf mengatakan,

 إن العبد ليعمل الذنب يدخل به الجنة ويعمل الحسنة يدخل بها النار

“Sungguh ada orang yang melakukan dosa namun malah masuk surga. Sebaliknya ada yang melakukan amal kebaikan malah masuk neraka.” (Ibnul Qayyim dalam al-Wabil ash-Shoyyib hal 13)

“Ketika buah dari amal kebaikan adalah bangga dan sombong maka nerakalah dampaknya.” 

“Sebaliknya jika buah dari maksiat adalah serius bertaubat yang ditandai dengan totalitas beramal sholih maka surgalah kesudahannya karena Allah mencintai orang yang sungguh-sungguh bertaubat.”

Pesan di atas bukanlah motivasi untuk berbuat maksiat karena tidak ada yang menjamin tidak akan mati ketika melakukan maksiat sehingga masih ada kesempatan untuk bertaubat.

Jika Anda tiba-tiba mati sedang melakukan maksiat, gimana?

***

Al-Hasan al-Bashri mengatakan, 

إِنَّ الرَّجُلَ يُذْنِبُ الذَّنْبَ فَلَا يَنْسَاهُ وَمَا يَزَالُ مُتَخَوِّفًا مِنْهُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ 

“Sungguh ada seorang yang melakukan dosa lantas dia senantiasa ingat dosa tersebut dan khawatir dampak buruknya. Akhirnya dia pun masuk surga karenanya.” (az-Zuhd karya Imam Ahmad nomor 338)

Terkadang berbuat dosa itu bisa menjadi ‘sebab’ masuk surga

Hal ini bisa terjadi manakala dosa tersebut  membuahkan inabah.

Inabah adalah kondisi ibadah dan amal sholih setelah berbuat dosa dan bertaubat jauh meningkat drastis dibandingkan kondisi sebelum berbuat dosa. 

Ada perubahan signifikan ke arah yang semakin lebih baik setelah bertaubat, inilah yang disebut inabah.

Kiat penting mencapai inabah adalah senantiasa terngiang-ngiang dosa yang telah dilakukan dan khawatir dampak buruk dosa tersebut. 

Hal ini dijadikan motivasi untuk selalu semangat beribadah dan beramal shalih. 

Rasa takut terhadap dosa itu terpuji jika mendorong semangat beribadah

Namun rasa takut terhadap dosa itu tercela jika menyebabkan putus asa dari ampunan dan kasih sayang Allah.

Semoga Allah wafatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini dalam keadaan bertaubat kepada Allah dari semua dosa. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Membantah Orang Tua Itu Durhaka

Yazid bin Abu Habib mengatakan, 

إِيْجَابُ الْحُجَّةِ عَلَى الْوَالِدِيْنِ عُقُوْقٌ

“Membantah ucapan orang tua itu bentuk durhaka kepada orang tua.” (Birrul Walidain karya Ibnul Jauzi)

Membantah atau menyanggah perkataan orang tua yang menyebabkan ortu tersinggung atau bahkan marah adalah salah satu bentuk durhaka.

Seringkali hal ini kita nilai remeh dan sepele padahal dosanya demikian besar, dosa durhaka kepada orang tua. 

Duhai saudaraku, mari merenung berapa banyak kita bantah dan sanggah ucapan ayah dan ibu kita. 

Hakekat bakti kepada orang tua adalah membahagiakan dan menyenangkan orang tua dalam hal-hal yang tidak bernilai dosa. 

Sedangkan hakekat durhaka orang tua adalah membuat orang tua sedih, jengkel, tersinggung atau marah dikarenakan ucapan atau perbuatan anak yang tidak diwajibkan oleh hukum agama.

Jika ucapan atau perbuatan anak yang membuat jengkel ortu itu hal yang diwajibkan oleh agama maka anak tidak tergolong durhaka.

Misal ortu jengkel bahkan marah karena anak tidak mau pasang sesaji di bawah pohon yang angker atau anak perempuan tidak mau melepas jilbab syar’i ketika keluar rumah. Dalam kasus semisal ini anak tidak tergolong durhaka. 

Semoga Allah memberikan ampunan untuk semua dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini. Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak yang berbakti. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Mengungkit Kebaikan Yang Diperbolehkan

Syaikh al-Babili, seorang ulama fikih bermazhab Syafi’i yang wafat tahun 1077 H mengatakan, 

اَلْمَنُّ مِنَ الْوَالِدِ وَالْمُعَلِّمِ لَيْسَ ذَمًّا

“Menyebut nyebut kebaikan di masa silam yang dilakukan oleh ortu atau guru ngaji bukanlah tindakan yang tercela.” (Fath Maula al-Mawahib ‘ala Hidayah ar-Raghib 1/12, Muassasah ar-Risalah)

Menyebut nyebut atau mengingatkan jasa dan kebaikan yang pernah diberikan dan dilakukan adalah hal yang terpuji jika dilakukan oleh Allah dan ditujukan kepada para hamba-Nya.

Tujuan dari hal ini agar manusia bersemangat untuk bersyukur dan beribadah kepada-Nya. 

Hukum asalnya mengungkit ungkit kebaikan itu tercela jika dilakukan oleh manusia kepada sesama manusia.

Lebih tercela lagi jika manusia merasa berjasa kepada Allah dengan ibadah dan dakwah yang dilakukan.

Tidak semua tindakan seorang mengingatkan kebaikan yang pernah dilakukan kepada orang lain itu tercela. 

Dalilnya Nabi pernah mengingatkan jasa dan kebaikan beliau kepada para shahabat Ansor ketika mereka merasa kecewa karena tidak mendapatkan bagian dari harta rampasan perang Hunain. Demikian dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. 

Mengingatkan kebaikan  dan jasa dalam rangka agar orang yang diingatkan menjadi orang yang tahu berterima kasih itu diperbolehkan untuk dua jenis manusia

PERTAMA:

Orang tua kepada anak.

Orang tua boleh mengingatkan jasa-jasa ortu kepada anak agar anak berbakti atau makin berbakti kepada orang tua. 

KEDUA:

Guru ngaji kepada muridnya.

Guru ngaji diperbolehkan menyebut dan mengingatkan jasa dan kebaikannya kepada murid-muridnya untuk menanamkan nilai-nilai positif di jiwa murid-muridnya. 

Semoga Allah anugerahkan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak biologis dan anak-anak ideologis (baca: murid) yang berbakti. Aamiin.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Mengutamakan Sholat

إن من توقير الصلاة أن تأتي قبل الإقامة

Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Diantara bentuk memuliakan (baca: mengutamakan dan menganggap penting) sholat adalah datang ke masjid sebelum iqamah.” (Shifatus Shofwah 2/558)

Sasaran pokok syariat sholat berjamaah di masjid adalah kaum laki-laki.

Rasa cinta untuk sholat berjamaah di masjid adalah sebuah kebaikan yang perlu mendapat apresiasi.

 Namun rasa cinta sholat berjamaah di masjid itu bertingkat-tingkat. 

Semangat untuk sudah berada di masjid sebelum iqamah berkumandang adalah level orang yang tulen menghormati dan mengutamakan sholat dibandingkan kepentingan lainnya.

Menunggu iqamah berkumandang sehingga rajin menjadi makmum masbuk adalah level orang yang kurang menghormati sholat.

“Jika kita begitu semangat untuk naik level dalam masalah dunia (kendaraan, jabatan, rumah dll) lantas mengapa sebagian kita merasa nyaman dengan level rendah dalam masalah sholat berjamaah?”

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.