Jangan Remehkan Orang Lain

فينبغي للإنسان أن لا يحتقر أحدًا ؛ فربما كان المحتقَر أطهرُ قلبًا ، وأزكى عملًا ، وأخلص نية ، فإنَّ احتقار عباد الله يورث الخسران ، ويورث الذُّل والهوان

 Seorang ulama, Al-Munawi memberi nasehat,

“Sepatutnya seorang muslim itu tidak meremehkan siapapun. Boleh jadi orang yang diremehkan itu lebih bersih hatinya, lebih berkualitas amalnya dan lebih ikhlas amalnya. Tindakan meremehkan sesama muslim hanya akan membuahkan kerugian dan menyebabkan kehinaan.” (Faidhul Qodir 5/380)

Berupaya menjadi orang baik  adalah sebuah keharusan. 

Akan tetapi merasa sempurna jadi orang baik merupakan sikap yang tidak benar. 

Memantaskan diri untuk meraih predikat sholih wajib diupayakan. 

Akan tetapi merasa sudah bertakwa dan sholih adalah hal yang dilarang oleh Allah dalam surat an-Najm.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Jika Kamu Mendengar Kata Yang Menyakitkanmu

Umar bin al-Khattab mengatakan, 

 

إذا سمعت الكلمة تؤذيك فطأطئ لها حتى تتخطاك

“Jika anda mendengar kata-kata yang menyakitkan dirimu tundukkanlah kepalamu sehingga kata-kata tersebut berlalu.” (Al-Aqd al-Farid 2/130) 

Dalam hidup kita tidak lepas dari mendengar kata-kata yang menyakitkan hati dari isteri, suami, anak, kawan, tetangga dll. 

Kata-kata yang menyakitkan ini jika dimasukkan ke dalam hati hanya membuat kita terhalang untuk bahagia. 

Sikap yang tepat adalah anggaplah kata-kata tersebut bagaikan angin lalu.

“Jika kata-kata tersebut membuat kita jengkel solusinya adalah tundukkan kepala beberapa saat lamanya sampai dia berlalu”.

Setelah itu angkat kepala sambil senyum manis kepala orang yang mengucapkan kata-kata tersebut. 

Insya Allah dengan kiat ini hati kita tetap bahagia. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

 

Kaedah Menegur Kesalahan

Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib mengatakan, 

وَإِيَّاكِ وَكَثْرَةَ الْعَتْبِ فَإِنَّهُ يُوْرِثُ الْبَغْضَاءَ

“Hindari terlalu sering menegur kesalahan orang lain karena hal tersebut menyebabkan timbulnya kebencian di dalam hati.” (Fiqhus Sunnah karya as-Sayyid Sabiq 2/199, Dar al-Fikr)

Yang dimaksud dengan kesalahan dalam hal ini adalah non maksiat. 

Inilah kaedah penting menegur, mengkritik, membahas dan komplain atas kesalahan yang dilakukan oleh orang lain semisal isteri, suami, anak, bawahan, dll.

Ketika melatih anak untuk melakukan kegiatan rumah semisal masak, ngepel lantai dll semestinya ortu jangan terlalu sering menyalahkan. 

Sikap yang tepat adalah teguran hanya ditujukan kepada kesalahan yang fatal sehingga anak tidak merasa terlalu sering ditegur dan disalahkan.

Orang yang merasa terlalu sering ditegur akan merasa dirinya itu selalu salah. Dampaknya dia mogok, mudah ngambek, ada perasaan kurang suka bahkan benci dengan orang yang sering menegur. 

Demikian juga ketika suami melakukan kesalahan dalam membelikan pesanan isteri. Hendaknya isteri tidak berulang kali komplain kepada suami karena hal ini.

Demikian pula ketika isteri melakukan kesalahan teknis terkait masakan, meletakkan barang dll. Semestinya suami bersikap lapang dada dalam kesalahan non maksiat. 

Teguran terkait hal ini dilakukan kadang-kadang saja. 

Hal yang sama juga berlaku untuk kesalahan teknis yang dilakukan oleh bawahan. 

Diantara akhlak mulia adalah tidak sering, tidak berulang kali memberi teguran atas kesalahan non maksiat yang dilakukan oleh orang lain.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Karakter Musibah

ما من شيء إلا يبدو صغيرا ثم يكبر إلا المصيبة فإنها تبدو كبيرة ثم تصغر

Wahab bin Munabbih mengatakan, “Segala sesuatu pada awalnya kecil lantas membesar kecuali musibah. Pada awal terjadinya musibah itu besar. Seiring berjalannya waktu musibah tersebut mengecil.” (Hilyatul Auliya 4/63)

Musibah itu mudah mengecil jika orang yang mengalaminya tidak memikirkannya dan menyibukkan diri dengan aktivitas yang bermanfaat.

Akan tetapi musibah tak kunjung mengecil jika orang yang mengalaminya selalu duduk termenung memikirkannya.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Kata Mutiara Untuk Wanita

Abul Aswad menasehati anak perempuannya, 

إياك والغيرة فإنها مفتاح الطلاق وعليك بالزينة وأزين الزينة الكحل وعليك بالطيب وأطيب الطيب إسباغ الوضوء

“Waspadai cemburu karena cemburu itu kunci perceraian. Berdandanlah dan sebaik-baik dandanan adalah celak. Pakailah parfum dan sebaik-baik parfum adalah berwudhu dengan sempurna.” (Uyunul Akhyar 4/76)

Ada tiga nasehat penting bagi seorang isteri:

Jangan cemburu berlebihan. Betul, cemburu itu tanda cinta. Tapi suami yang semua gerak gerik dicurigai karena alasan cemburu tentu saja membuat dia sangat tidak nyaman. 

Jika ini terlalu bolak-balik terjadi sering kali berakhir dengan perceraian. 

Rajin berdandan untuk suami. Diantara kiat penting agar bisa menyejukkan mata suami adalah rajin berdandan. 

Memakai parfum pengharum badan. Parfum terbaik adalah badan yang bersih dan segar karena mandi atau wudhu. 

“Ingat, Suami juga dituntut untuk bersih dan wangi ketika berada di dekat istri”.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Kiat Istiqomah

Ibnu Qudamah al-Maqdisi mengatakan, 

وَاعْلَمْ أَنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ إِنَّمَا هَلَكُوْا لِخَوْفِ مَذَمَّةِ النَّاسِ وَحُبِّ مَدْحِهِمْ

“Sadarilah bahwa mayoritas orang itu berubah jadi rusak agamanya karena khawatir dengan komentar negatif orang-orang disekelilingnya dan ingin mendapatkan pujian dari kawan-kawannya.” (Mukhtasar Minhaj al-Qashidin hlm 212)

Sering kali orang yang baik agamanya berubah menjadi rusak diawali dari coba-coba melakukan maksiat.

Coba-coba melakukan maksiat itu sering kali karena motivasi agar dipuji kawan atau agar tidak dicela oleh kawan. 

Demikian pula perubahan kualitas agama seringkali terjadi karena khawatir celaan tetangga ataupun kerabat. 

Muslimah berjilbab syar’i berubah menjadi berjilbab mini dan ala kadarnya seringkali terjadi karena tidak kuat dengan celaan rekan kerja, kerabat atau pun tetangga.

Oleh karena itu, kiat penting untuk awet jadi orang baik setelah hidayah dari Allah adalah memiliki mentalitas teguh pendirian.

Orang yang teguh pendirian akan membersamai orang-orang di sekitarnya ketika mereka berbuat kebaikan dan tidak ikut-ikutan berbuat kejelekan ketika mereka berbuat kejelekan. 

Kiat penting agar menjadi orang yang teguh pendirian adalah tidak menjadikan ‘selamat dari komentar miring manusia’ sebagai orientasi hidup. 

Orientasi hidup seorang muslim adalah mendapatkan ridho Allah, bukan ridho manusia.

Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini orang-orang yang istiqomah dalam kebaikan dan ketaatan. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Kiat Praktis Tadabbur Al-Quran

Ali bin Abi Thalib mengatakan:

وَلَا خَيْرَ فِيْ قِرَاءَةٍ لَا تَدَبُّرَ فِيْها

“Tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Quran jika tidak ada tadabbur (usaha untuk memahami) di dalamnya.” (Sunan ad-Darimi no 306)

Tujuan al-Quran diturunkan itu untuk direnungi kandungannya dan diamalkan. 

Membaca al-Quran itu sarana untuk tadabbur (merenungi pesan kandungan al-Quran). 

Membaca tanpa tadabbur adalah melaksanakan sarana tanpa mewujudkan tujuan. 

Kiat praktis agar bisa tadabbur adalah:

Pertama:

Paham bahasa Arab atau

Kedua:

Membaca terjemahannya atau tafsirnya setelah selesai membaca bagian dari al-Quran yang ingin dibaca. 

Meski demikian, membaca al-Qur’an itu tetap berpahala meski orang yang membacanya tidak paham isi yang dibaca.

 Perkataan Ali di atas itu motivasi untuk berusaha membaca Al-Quran dan mengetahui kandungan bacaan, bukan untuk menggembosi orang yang semangat membaca Al-Quran.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Kiat Rajin Ibadah

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh mengatakan, 

إِذَا لَمْ تَقْدِرْ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ وَصِيَامِ النَّهَارِ فَاعْلَمْ أَنَّكَ مَحْرُوْمٌ كَبَلَتْكَ خَطِيئَتُكَ

“Jika anda tidak pernah sholat malam dan puasa sunnah di siang hari sadarilah bahwa anda orang yang merugi karena dosa membelenggu dirimu.” (Siyar A’lam an-Nubala‘ 8/435)

Hukuman maksiat itu tidak harus dalam bentuk hal-hal yang ngeri semisal hampir tersambar halilintar.

Diantara bentuk hukuman maksiat: 

  1. Diberi kemudahan untuk kembali bermaksiat.
  2. Ibadah terasa hambar Hati tetap terasa gersang meski ibadah harian tetap rutin dilakukan. Tidak ada kenikmatan yang terasa saat dan setelah melakukan aktivitas ibadah. Sholat, dzikir dan baca al-Qur’an tidak membuahkan ketenangan hati. 
  3. Sulit untuk melakukan ibadah sunnah. Sholat di akhir malam tidak pernah dilakukan. Puasa sunnah total ditinggalkan. 

Diantara sebab sulit sholat di akhir malam dan puasa sunnah adalah maksiat kepada Allah.

Diantara kiat penting agar bisa kembali rajin sholat di akhir malam ataupun puasa sunnah di siang hari adalah taubat yang serius kepada Allah. 

Moga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini orang-orang yang bisa merasakan nikmatnya sholat, berpuasa, dzikir, baca al-Qur’an dll dan meninggal dunia dalam kondisi beribadah kepadaNya. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Hubungan antara Shalat dan Melihat Wajah Allah – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin #NasehatUlama

Adapun ganjaran terbaik di akhirat adalah memandang wajah Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu ketika seorang mukmin melihat Tuhan semesta alam yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi, inilah nikmat yang paling sempurna dan paling nikmat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan melihat Tuhan kalian pada hari Kiamat sebagaimana kalian melihat bulan pada malam purnama, kalian tidak saling berdesak-desakan ketika melihatnya.

“Maka, apabila kalian mampu untuk tidak melewatkan shalat sebelum matahari terbit dan shalat sebelum tenggelamnya, lakukanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sehingga permintaan ini mengumpulkan permintaan yang paling penting dan paling agung di dunia dan di akhirat. Adapun permintaan yang paling penting di dunia adalah kerinduan untuk berjumpa dengan Allah ‘azza wa jalla dan adapun permintaan yang paling penting dan paling agung di akhirat adalah memandang Allah subhanahu wa ta’ala, memandang Allah subhanahu wa ta’ala yang merupakan nikmat yang paling sempurna, paling besar dan paling mulia. Kita memohon kepada Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Agung karunianya. Disebutkan dalam Shahih Muslim, dan perhatikan betapa agung nikmat ini, diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Nabi kita -Semoga shalawat dari Allah dan salam-Nya terlimpah untuk beliau- bersabda,

“Ketika penduduk surga telah memasuki surga, ….” “Ketika penduduk surga telah memasuki surga, ….” Beliau bersabda: “Ketika penduduk surga telah memasuki surga, …Beliau bersabda: “Ketika penduduk surga telah memasuki surga, Allah ta’ala berfirman kepada para penduduk surga, “Apakah kalian masih menginginkan kenikmatan lain?” Ketika mereka semua sedang menikmati kenikmatan surga, Allah berfirman, “Apakah kalian masih menginginkan kenikmatan lain?” Mereka menjawab, “Bukankah Engkau telah membuat wajah kami bersinar? Bukankah Engkau telah masukkan kami ke dalam surga? Bukankah Engkau telah selamatkan kami dari neraka? Dan Allah berfirman, “Ada sebuah janji untuk kalian yang Aku ingin penuhi janji itu untuk kalian.” Nabi bersabda, “Kemudian Allah menyingkap penutup yang menutupi-Nya, ….”
Nabi bersabda, “Kemudian Allah menyingkap penutup yang menutupi-Nya dan mereka tidak pernah diberikan kenikmatan yang lebih agung dari pada kenikmatan memandang Tuhan mereka ‘azza wa jalla.”

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu yang mulia. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu yang mulia.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu yang mulia, tanpa penderitaan yang menyengsarakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu yang mulia dan kerinduan untuk berjumpa dengan-Mu, tanpa penderitaan yang menyengsarakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan.

Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan keimanan dan jadikanlah kami sebagai penunjuk bagi orang-orang yang mendapat petunjuk.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan aku memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu dan kerinduan untuk untuk berjumpa dengan-Mu, tanpa penderitaan yang menyengsarakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan.” (HR. An-Nasa’i)

Wahai orang yang berdoa demikian, wahai orang yang berkata demikian dalam doanya memohon kepada Tuhan-Mu, “Aku memohon kepada-Mu kenikmatan untuk melihat wajah-Mu.” Anda harus mengerti kedudukan shalat, Anda harus memahami pentingnya shalat dan kedudukan shalat dalam meraih perkara yang mulia ini. Perhatikan di sini, dalam hadis yang agung ini, hadis Ammar bin Yasir, bahwa Nabi kita -Semoga shalawat dari Allah dan salam-Nya terlimpah untuk beliau- meminta permintaan yang agung ini dalam shalat beliau. Oleh sebab itu, Anda harus mengetahui adanya keterkaitan yang kuat dan erat antara shalat dan memandang Allah. Perhatikan! Ada keterkaitan yang kuat antara shalat dan memandang Allah tabaraka wa ta’ala. Dan hadis yang telah kita lewati bersama tadi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan pada malam purnama, kalian tidak saling berdesak-desakan ketika melihatnya. Apabila kalian mampu ….”

Lihatlah keterkaitan antara shalat dan memandang Allah. “… Apabila kalian mampu untuk tidak melewatkan shalat sebelum matahari terbit dan shalat sebelum tenggelamnya, maka lakukanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Meninggalkan shalat, menunda shalat dan melalaikan perkara shalat merupakan beberapa sebab dari terhalangnya seseorang dari kebaikan di dunia dan akhirat, dan di antaranya adalah terhalangi dari melihat Allah ‘azza wa jalla. Jika perlu, silakan Anda baca firman Allah tabaraka wa ta’ala dalam surat Al-Qiyamah.

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

Yakni, melihat Allah. Dan Hasan Al Basri -Semoga Allah merahmati beliau- berkata, “Mereka diberi izin untuk melihat-Nya.” Maksudnya, mereka bisa melihat dengan pandangan yang baik lagi indah ketika memandang Allah jalla wa ‘ala, mereka diizinkan untuk hal itu.

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

“Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.” “Sekali-kali jangan. Apabila nafas telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya): ‘Siapakah yang dapat menyembuhkan?'” “Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan).”

Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. (QS. Al-Qiyamah: 24-30)

Lanjutkan…

“Dan ia tidak membenarkan (Al Quran) dan tidak mengerjakan shalat, …” (QS. Al-Qiyamah: 31)

Inilah yang Allah kabarkan tentang keadaan orang-orang dalam firman-Nya, “Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram,

Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.” (QS. Al-Qiyamah: 34-35)

Di antara perbuatan mereka adalah mereka
“Dan tidak membenarkan (Al Quran) dan tidak mengerjakan shalat, …” (QS. Al-Qiyamah: 31)

Maka di sinilah adanya hubungan yang kuat tersebut, dalam shalat yang merupakan penghubung antara seorang hamba dengan Tuhan-Nya. Maka, Wahai orang mukmin, Anda wajib menjaga shalat, terutama shalat wajib, dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya untuk menggapai doa yang agung tersebut yang terdapat dalam hadis ini yang Rasulullah -Semoga shalawat dari Allah dan salam-Nya terlimpah untuk beliau- selalu berdoa dengan doa ini,

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu dan kerinduan untuk untuk berjumpa dengan-Mu, tanpa penderitaan yang menyengsarakan dan tanpa fitnah yang menyesatkan.” (HR. An-Nasa’i)

……………………

وَأَمَّا أَحْسَنُ مَا فِي الْآخِرَةِ فَهُوَ رُؤْيَةُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَرَى الْمُؤْمِنُ رَبَّ الْعَالَمِينَ جَلَّ وَعَلَا فَهَذَا أَكْمَلُ نَعِيمٍ وَأَلَذُّ نَعِيمٍ

وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاَةُ وَالسَّلَامُ: إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ

فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَصَلاَةٍ قَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا

فَإِذَنْ هَذَا الْمَطْلَبُ جَمَعَ أَهَمَّ مَطْلَبٍ وَأَعْظَمَ مَطْلَبٍ فِي الدُّنْيَا وَ الْآخِرَةِ

أَمَّا أَهَمَّ مَطْلَبٍ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ الشَّوْقُ إِلَى لِقَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَ أَمَّا أَهَمَّ مَطْلَبٍ وَأَعْظَمَ مَطْلَبٍ فِي الْآخِرَةِ رُؤْيَةَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

رُؤْيَةَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّتِي هِيَ أَكْمَلُ وَأَعْظُمُ وَأَجَلُّ نَعِيمٍ

نَسْأَلُ اللهَ الْكَرِيمَ الْعَظِيمَ مِنْ فَضْلِهِ

جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ – وَانْظُرُوا فِي عَظَمَةِ هَذِهِ النِّعْمَةِ – جَاءَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ نَبِيِّنَا صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ قَالَ

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ… إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ
قَالَ: إِذَا … إِذَا … قَالَ: إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ

قَالَ: إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ يَقُولُ اللهُ تَعَالَى مُخَاطِبًا أَهْلَ الْجَنَّةِ

أَتُرِيدُونَ شَيْئًا؟ – وَهُمْ فِي نَعِيمِ الْجَنَّةِ- يَقُولُ: أَتُرِيدُونَ شَيْئًا؟

فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ؟ أَلَمْ تُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟

وَيَقُولُ: إِنَّ لَكُمْ مَوعِدًا وَإِنِّي أُنْجِزُكُمُوْهُ

قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ… قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أَعْطَوْا شَيْئًا… فَمَا أَعْطَوْا شَيْئًا أَعَظْمَ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيمِ… اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيمِ… اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيمِ فِي غَيْرِ ضَرَّاءٍ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيمِ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءٍ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الْإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةَ المُهْتَدِينَ

قَالَ: وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءٍ مُضِرَّةٍ

يَا مَنْ تَقُوْلُ فِي دُعَائِكَ… يَا مَنْ تَقُوْلُ فِي دُعَائِكَ مُنَادِيًا رَبَّكَ: أَسَأَلَكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ

عَلَيْكَ أَنْ تَعْلَمَ قِيْمَةَ الصَّلَاَةِ، عَلَيْكَ أَنْ تَعْلَمَ قِيْمَةَ الصَّلَاَةِ وَ مَكَانَةَ الصَّلَاَةِ فِي نَيْلِ هَذَا الْمَطْلَبِ الْعَظِيمِ

وَانْظُرْ هُنَا فِي هَذَا الْحَديثِ الْعَظِيمِ حَديثِ عَمَّارِ بْن يَاسِرٍ يَسْأَلُ نَبِيُّنَا صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ هَذَا السُّؤَالَ الْعَظِيمَ فِي صَلَاتِهِ

وَلِهَذَا يَجِبُ أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ ثَمَّةَ اِرْتِبَاطٌ عَظِيمٌ كَبِيرٌ بَيْنَ الصَّلَاَةِ وَ بَيْنَ رُؤْيَةِ اللهِ، اِنْتَبِهْ! ثَمَّةَ اِرْتِبَاطٌ عَظِيمٌ بَيْنَ الصَّلَاَةِ وَبَيْنَ رُؤْيَةِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

وَالْحَديثُ الَّذِي مَرَّ مَعَنَا قَرِيبًا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاَةُ وَالسَّلَامُ: إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ – انْظُرُوْا الْاِرْتِبَاطَ بَيْنَ الصَّلَاَةِ وَالرُّؤْيَةِ – فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَصَلاَةٍ قَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا

تَضْيِيْعُ الصَّلَاَةِ وَإِهْمَالُ الصَّلَاَةِ وَتَفْرِيطٌ وَالتَّفْرِيطُ فِي أَمْرِ الصَّلَاَةِ مِنْ أَسْبَابِ الْحِرْمَانِ… أَسْبَابِ الْحِرْمَانِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

وَمِنْ ذَلِكَ الْحِرْمَانِ مِنْ رُؤْيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنْ شِئْتَ أَيْضًا فَاقْرَأْ قَوْلَ اللهِ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى فِي سُورَةِ الْقِيَامَةِ

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
اَلْقِيَامَةُ اَلْآيَةُ 22 – 23

أَيْ تَنْظُرُ إِلَى اللهِ، يَقُولُ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ رَحِمَهُ اللهُ حُقَّ لَهَا أَنْ تَنْظُرَ يَعْنِيْ أَنْ تَكُونَ نَاظِرَةً حَسَنَةً بَهِيَّةً وَهِيَ تَنْظُرُ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا، حُقَّ لَهَا ذَلِكَ

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
اَلْقِيَامَةُ اَلْآيَةُ 22 – 23

وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ تَظُنُّ أَن يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ

كَلَّا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ وَقِيلَ مَنْ ۜ رَاقٍ وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ

إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ
اَلْقِيَامَةُ اَلْآيَةُ 24 – 30

…أَكْمِلْ

فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّىٰ
اَلْقِيَامَةُ اَلْآيَةُ 31

هذا الّذِي قَالَ اللهُ عَنْهُ
وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ بَاسِرَةٌ

تَظُنُّ أَن يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ
اَلْقِيَامَةُ اَلْآيَةُ 24 – 25

مِنْ أَعْمَالِهِمْ لَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّى

فَفِيهِ اِرْتِبَاطٌ عَظِيمٌ بَيْنَ الصَّلَاَةِ الَّتِي هِيَ صِلَةٌ بَيْنَ الْعَبْدِ وَرَبِّهِ وَلِهَذَا عَلَيْكَ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُ أَنْ تُحَافِظَ عَلَى الصَّلَاَةِ وَلَا سِيَّمَا الْمَفْرُوضَةِ

وَأَنْ تَحْرِصَ فِيهَا عَلَى هَذِهِ الدَّعْوَةِ الْعَظِيمَةِ الْوَارِدَةِ فِي هَذَا الْحَديثِ الَّتِي كَانَ يَدْعُو بِهَا رَسُولُ اللهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسَأَلَكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءٍ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

Lihatlah Akhirnya

فَلَا يُنْظَرُ إِلَى نَقْصِ الْبِدَايَةِ وَلَكِنْ يُنْظَرُ إِلَى كَمَالِ النِّهَايَةِ

“Jangan pandang kekurangan di awal namun lihatlah kesempurnaan di akhirnya.” (Minhaj As-Sunnah an-Nabawiyyah 2/430)

Ini adalah kaedah penting dalam berbagai hal, diantaranya: 

Pertama:

Akhir Ramadhan. Manfaatkan akhir Ramadhan semaksimal mungkin. Ingat yang jadi tolok ukur adalah akhir yang bagus dan berkualitas. Semangat yang hanya biasa saja di awal Ramadhan itu dimaafkan jika ditutup dengan semangat ibadah yang membara di akhir Ramadhan.

Kedua:

Belajar ilmu. Yang jadi acuan bukanlah semangat membara di awal jika pada akhirnya melempem. Semangat biasa di awal namun tuntas sampai akhir itu yang lebih bagus. Meski yang lebih bagus lagi jika memiliki semangat membara dari awal sampai akhir masa belajar.

Ketiga:

Pendidikan Anak. Jangan terlena dengan hafalan al-Qur’an yang mempesona di usia TK manakala berujung kebosanan di usia remaja dan dewasa. Lebih baik, biasa saja di usia kanak-kanak karena ortu tidak pasang target muluk-muluk kepada anaknya yang masih belia namun rasa cinta dengan agama tetap membara di masa remaja dan dewasa.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.