3 Kelompok Manusia yang Tidak Allah Terima Shalat Mereka – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama

3 Kelompok Manusia yang Tidak Allah Terima Shalat Mereka – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا مَرْفُوعًا ثَلَاثَةٌ لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُمْ صَلَاةً

Hadis dari Ibnu Umar -radhiallahu ‘anhuma- secara marfu’, “Ada 3 kelompok manusia yang tidak Allah terima shalat mereka: …

مَنْ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ

Pertama: Orang yang mengimami suatu kaum (sekelompok orang) namun mereka membenci dia, …

وَرَجُلٌ أَتَى الصَّلَاةَ دِبَارًا

Kedua: Orang yang melaksanakan shalat setelah terlewat waktunya, …

وَرَجُلٌ اعْتَبَدَ مُحَرَّرَهُ

Ketiga: Seseorang yang memperbudak orang yang telah dia merdekakan.”

رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالطَّبْرَنِيُّ بِسَنَدٍ جَيِّدٍ

Hadis ini diriwayatkan Abu Daud dan Thabrani dengan sanad yang bagus.

ثَلَاثَةٌ لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُمْ صَلَاةً هَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ مَنْ هُمْ؟

Tiga kelompok orang yang tidak akan Allah terima shalat mereka, ini adalah ancaman yang keras, siapa saja mereka?

الْأَوَّلُ مَنْ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ يَكْرَهُونَهُ بِحَقٍّ

Golongan pertama, orang yang mengimami suatu kaum (sekelompok orang) namun mereka membencinya, membenci dengan alasan yang benar secara syar’i.

أَمَّا إِنْ كَانُوا يَكْرَهُونَهُ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَا يَدْخُلُ فِي هَذَا الْوَعِيدِ

Adapun apabila mereka membenci dia tanpa alasan yang benar secara syar’i, maka tidak termasuk dalam ancaman ini,

بَلْ يَكْرَهُونَهُ مِنْ بَابِ الْهَوَاءِ وَانْتِوَاءِ التَّفَرُّغَاتِ

bahkan mereka membencinya atas dasar hawa nafsu saja dan bermaksud menyingkirkannya.

النَّاسَ لَا يُرْضِيهُمْ أَحَدٌ

Tidak ada seorang pun yang bisa mendapatkan keridhaan semua orang.

فَهَذَا لَا يَدْخُلُ فِي الْحَدِيثِ إِنَّمَا إِذَا كَانُوا يَكْرَهُونَهُ لِحَقٍّ

Yang seperti ini tidak termasuk dalam hadis ini. Hanya yang membencinya karena kebenaran secara syar’i saja yang termasuk dalam hadis tersebut,

لِكَوْنِهِ شَيْئًا فِي دِينِهِ أَوْ شَيْئًا فِي أَمَانَتِهِ فَيَكْرَهُونَهُ

misalnya karena dia bermasalah dalam hal agama dan amanahnya sehingga mereka membencinya,

فَهَذَا لَا تُقْبَلُ صَلَاتُهُ لَا تُقْبَلُ صَلَاتُهُ

inilah yang tidak diterima shalatnya, tidak akan diterima shalatnya.

وَجَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّهُ لَا تَتَجَاوَزُ صَلَاتُهُ رَأْسَهُ لَا تَرْتَفِعُ إِلَى السَّمَاءِ

Dan dalam hadis lain disebutkan bahwa shalatnya tidak akan naik melebihi kepalanya, tidak akan diangkat ke langit.

هَذَا إِذَا كَانُوا يَكْرَهُونَهُ بِحَقٍّ لِكَوْنِهِ عَلَى مَذْهَبٍ بَاطِلٍ أَوْ عَقِيدَةٍ فَاسِدَةٍ

Ini apabila mereka membenci dia karena alasan yang benar; karena dia berpegang pada mazhab yang keliru atau akidah yang rusak,

أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ لَكِنِ اسْتَوْلَى عَلَى الْمَسْجِدِ بِقُوَّةِ السُّلْطَانِ وَ بِقُوَّةٍ

atau karena hal lain, namun dia menguasai masjid karena wewenang dari penguasa dan dengan paksaan,

فَإِنَّهُ لَا تُقْبَلُ صَلَاتُهُ وَلَوْ صَلَّى بِهِمْ

maka sungguh tidak akan diterima shalatnya walaupun dia shalat mengimami mereka.

الثَّانِي نَعَمْ مَنْ… أَتَى الصَّلَاةَ دِبَارًا… مَنْ لَا… مَنْ… يَأْتِي الصَّلَاةَ دِبَارًا

Golongan kedua, baiklah, orang yang mengerjakan shalat setelah terlewat waktunya, yaitu orang yang mengerjakan shalat setelah habis waktunya.

يَعْنِي يَتَأَخَّرُ تَأَخَّرَ عَنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ حَتَّى تَفُوتَهُ

Yakni dia terlambat, tertinggal dari shalat berjamaah hingga selesai shalatnya,

أَوْ يَتَأَخَّرُ عَنِ الصَّلَاةِ فِي وَقْتِهَا حَتَّى يَخْرُجَ وَقْتُهَا

atau dia terlambat mengerjakan shalat pada waktunya hingga keluar dari waktunya,

فَهَذَا لَا تُقْبَلُ صَلَاتُهُ لِأَنَّهُ صَلَّاهَا فِي غَيْرِ وَقْتِهَا

maka orang ini tidak akan diterima shalatnya tersebut karena dia shalat di luar waktunya,

أَوْ أَنَّهُ تَأَخَّرَ عَنِ الجَمَاعَةِ بِغَيْرِ عُذْرٍ هَذَا أَيْضًا لَا تُقْبَلُ صَلَاتُهُ

atau karena dia melewatkan shalat jamaah tanpa alasan, orang ini juga tidak diterima shalatnya.

هَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ وَإِنْ كَانَ لَا يُأْمَرُ بِالْإِعَادَةِ لَكِنَّ هَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ عَلَيْهِ

Ini adalah ancaman yang keras walaupun dia tidak diperintahkan untuk mengulang shalatnya, namun ini adalah ancaman keras baginya.

الثَّالِثُ مَنِ اسْتِعْبَدَ حُرًّا

Golongan ketiga adalah orang yang memperbudak orang merdeka.

إِنْسَانٌ الْأَصْلُ فِي الْمُسْلِمِ الْأَصْلُ فِي الْإِنْسَانِ أَيًّا كَانَ الْأَصْلُ فِي الْآدَمِيِّيْنَ الْحُرِّيَّةُ

Semua manusia, hukum asalnya, seorang muslim dan juga semua manusia siapa pun itu, hukum asalnya semua manusia adalah orang yang merdeka.

وَلَا يَثْبُتُ عَلَيْهِ الرِّقُّ إِلَّا بِحُكْمٍ شَرْعِيٍّ بِالْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللهِ كَمَا سَبَقَ

Dan tidaklah sah perbudakan itu kecuali berdasarkan hukum syar’i yaitu dengan cara perang di jalan Allah (jihad yang syar’i), sebagaimana telah lalu pembahasannya,

فَالَّذِينَ يَغْصِبُونَ الْأَحْرَارَ يَنْهَبُونَهُمْ وَهُمْ صِغَارٌ يَسْتَرِقُونَهُمْ وَيَبِيعُونَهُمْ

Adapun orang yang menangkap orang-orang merdeka dan menculik anak-anak untuk dijadikan budak dan dijual,

هَؤُلَاءِ لَا تُقْبَلُ صَلَاتُهُ وَإِنْ صَلَّوا

mereka ini tidak akan diterima shalat mereka walaupun mereka mengerjakan shalat.

أَوْ أَنَّ عِنْدَهُ عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ أَنَّ عِنْدَهُ عَبْدًا مَمْلُوكًا يُعْتِقُهُ ثُمَّ يَجْحَدُ عِتْقَهُ

Atau ketika seseorang memiliki budak, kemudian dia bebaskan budak tersebut namun kemudian dia tidak mengakui kebebasannya.

وَيَسْتَخْدِمُهُ عَلَى أَنَّهُ رَقِيقٌ هَذَا اسْتَعْبَدَ حُرًّا

Dia masih saja memperbudaknya seolah-olah dia masih berstatus budak, seperti ini juga bentuk memperbudak orang merdeka.

الْوَاجِبُ أَنْ يُعْلِنَ الْوَاجِبُ أَنْ يُعْلِنَ أَنَّهُ أَعْتَقَهُ وَلَا يَجْحَدُ

Maka seseorang wajib untuk mengumumkan, dia harus mengumumkan bahwa dia telah memerdekakan budaknya dan tidak mengingkarinya.

وَلَا يَجْحَدُ ذَلِكَ مِنْ أَجْلِ أَنْ يَسْتَعْبِدَهُ نَعَمْ

Dia tidak boleh mengingkarinya karena ingin terus memperbudaknya. Demikian..

وَهَذَا مَحَلُّ الشَّاهِدِ مِنَ الْحَدِيثِ اِسْتَعْبَدَ حُرًّا

Dan inilah sisi pendalilan dari hadis tersebut, orang yang memperbudak orang merdeka,

هَذَا مِنَ الظُّلْمِ فِي الْأَبدَانِ نَعَمْ

ini adalah bentuk kezaliman terhadap badan seseorang. Demikian..

وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَرْفُوعًا

Dan dari Abu Umamah -radhiallahu ‘anhu- secara marfu’,

مَنْ جَرَّدَ ظَهْرَ مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Barang siapa membuka dan mencambuk punggung seorang muslim tanpa alasan yang benar, …

لَقِيَ اللهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ- رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ

…dia akan menemui Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya.” (HR. Thabrani)

مَنْ جَرَّدَ ظَهْرَ مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Barang siapa membuka dan mencambuk punggung seorang muslim tanpa alasan yang benar,…”

يَعْنِي كَشَفَ ظَهْرَهُ لِيَضْرِبَهُ بِغَيْرِ حَقٍّ

maksudnya menyingkap pakaiannya untuk dipukul punggungnya, tanpa alasan yang benar,

يَجْلِدُهُ بِغَيْرِ حَقٍّ وَكَشَفَ ظَهْرَهُ لِيَشْتَدَّ لِيَشْتَدَّ عَلَيْهِ الْأَلَمُ

dia mencambuknya tanpa asalan yang benar secara syar’i, dia menyingkap punggungnya untuk menambah dan memperparah rasa sakitnya.

لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ هَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ

“Dia akan menemui Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya.” Ini merupakan ancaman yang keras.

دَلَّ هَذَا دَلَّ عَلَى أَنَّ الَّذِي يَظْلِمُ النَّاسَ فِي أَبْدَانِهِمْ بِالضَّرْبِ

Hadis ini menerangkan bahwa orang yang menzalimi orang lain pada badannya dengan pukulan,

الَّذِي يَظْلِمُ النَّاسَ فِي أَبْدَانِهِمْ بِالضَّرْبِ أَنَّ اللهَ يَغْضَبُ عَلَيْهِ

orang yang menzalimi badan orang lain dengan pukulan, sungguh Allah akan murka kepadanya.

وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَذَا كَبِيرَةٌ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ نَعَمْ

Dan ini juga menunjukkan bahwa perbuatan zalim ini merupakan salah satu dari dosa besar. Demikian..

164 Contoh Amalan di Bulan Dzulhijjah – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

164 Contoh Amalan di Bulan Dzulhijjah – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

الْحَمْدُ لِلهِ

Segala puji hanya bagi Allah.

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ أَحَبُّ إِلَى اللهِ فِيهِنَّ

“Tidak ada hari dimana amal-amal saleh lebih dicintai oleh Allah…

مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
daripada hari-hari ini.” (HR. Bukhari)

عَشْرُ ذِي الْحِجَّةِ

Yaitu pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

وَالْأَعْمَالُ الصَّالِحَةُ كَثِيْرَةٌ جِدًّا وَالْحَمْدُ لِلهِ

Dan amal saleh ada banyak sekali, alḥamdulillāh.

شَرَعَ اللهُ لَنَا مِنَ الْأَعْمَالِ مَا نَزْدَادُ بِهِ إِيْمَانًا

Allah mensyariatkan bagi kita berbagai amalan yang dapat meningkatkan iman kita.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ

Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh niscaya akan mendapatkan ampunan,

وَجَنَّاتٍ وَنَعِيمٌ مُقِيمٌ
surga-surga, dan kenikmatan yang kekal.

فَتَعَالَوْا بِنَا نَسْتَعْرِضُ الْآنَ طَائِفَةً مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ
Mari, sekarang kami akan tunjukkan beberapa amal saleh.

أَنَا أَسْرُدُهَا وَأَنْتُمْ تَحْفَظُونَ وَتُسَجِّلُونَ

Saya yang akan menyebutkannya, sedangkan Anda menghafal dan mencatatnya ya…

فَمِنْهَا الصَّلَاةُ الْفَرِيضَةُ وَالصِّيَامُ النَّافِلَةُ وَعَرَفَةُ

Di antara amal-amal tersebut adalah: (1) Salat Wajib, (2) Puasa sunah, (3) Wukuf di Arafah,

وَالصَّدَقَةُ وَالتَّهْلِيلُ وَالتَّسْبِيحُ وَالتَّحْمِيدُ وَالتَّكْبِيرُ

(4) Bersedekah, (5) Membaca tahlil (Laa ilaaha illallaah), tasbih (Subhanallaah), tahmid (Alhamdulillah), dan takbir (Allaahu Akbar),

وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْكَنْزُ – مُتَّفَقٌ عَلَيهِ

dan (6) Membaca kalimat ‘Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh’ adalah harta karun (HR. Bukhari dan Muslim),

وَالتَّرْدِيدُ مَعَ الْمُؤَذِّنِ وَالْاِسْتِغْفَارُ وَالدُّعَاءُ وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

(7) Mengikuti bacaan muadzin, (8) Beristighfar, (9) Berdoa, (10) Bershalawat kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam,

وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ وَتَدَبُّرُهُ وَحِفْظُهُ وَمُدَارَسَتُهُ وَقِرَاءَةُ تَفْسِيرِهِ
(11) Membaca al-Quran serta mentadaburinya, menghafalnya, mempelajarinya, membaca tafsirnya,

وَتَعْلِيمُهُ وَخُصُوصًا الْفَاتِحَةَ لِلصِّغَارِ
dan mengajarkannya, terutama mengajarkan al-Fatihah untuk anak-anak,
وَالتَّوْبَةُ وَبِرُّ الْوَالِدَيْنِ وَصِلَةُ الرَّحِمِ وَصِلَةُ أَصْدِقَاءِ الْأَبَوَيْنِ
(12) Taubat, (13) Berbakti kepada orang tua, (14) Menjalin hubungan dengan kerabat dan teman-teman orang tua,

وَإِكْرَامُ الضَّيْفِ وَتَشْيِيْعُ الضَّيْفِ يَعْنِي إِذَا خَرَجَ لِيَنْصَرِفَ تَخْرُجُ مَعَهُ

(15) Memuliakan tamu dan mengantarnya, maksudnya ketika dia hendak pulang, Anda ikut keluar menyertai dia,

وَحُسْنُ الْجِوَارِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَحُسْنُ الْكَلَامِ

(16) Berperilaku baik dengan tetangga, (17) Menyebarkan salam, (18) Memberi makanan, (19) Bertutur kata yang baik,

وَقِيَامُ اللَّيْلِ وَالْسُّنَنُ الرَّوَاتِبُ وَصَلَاةُ الضُّحَى

(20) Salat malam, (21) Salat sunah rawatib, (22) Salat Ḍuḥā,

وَأَذْكَارُ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ وَأَذْكَارُ الْأَحْوَالِ الْمُخْتَلِفَةِ دُخُولُ الْمَسْجِدِ وَالْخُرُوجُ

(23) Zikir pagi dan sore, serta zikir-zikir lain dalam berbagai kesempatan, seperti (24) Doa ketika masuk dan keluar masjid,

دُخُولُ الْبَيْتِ وَكَذَلِكَ عِنْدَ النَّوْمِ كَثِيرَةٌ

(25) Doa ketika masuk rumah, (26) Doa sebelum tidur, dan banyak sekali doa yang lainnya,

النَّوْمُ عَلَى طَهَارَةٍ وَغُسْلُ الْجُمُعَةِ

(27) Tidur dalam keadaan berwudu, (28) Mandi untuk salat Jumat,

وَالتَّطَيُّبُ لِلْجُمُعَةِ وَالتَّبْكِيرُ وَالدُّنُوُّ مِنَ الْإِمَامِ

(29) Menggunakan wewangian untuk salat Jumat, (30) Datang ke masjid lebih awal, dan (31) Duduk di dekat imam,

وَسَدُّ فُرْجَةٍ كُلُّ أَعْمَالٍ صَالِحَةٍ هَذِهِ

(32) Mengisi shaf yang kosong. Ini semua adalah amal saleh,

حَتَّى لَوْ خَطْوَةً خَطْوَةً يَسُدُّ فُرْجَةَ الصَّفِّ

bahkan ketika berjalan melangkah untuk menutup shaf yang kosong

وَإِتْمَامُ الصَّفِّ مِنْ طَرَفَيْنِ الْأَوَّلُ فَالْأَوَّلُ

dan menyamakan shaf dari kedua sisinya, mengisi shaf terdepan dulu baru shaf belakangnya,

وَالتَّبَسُّمُ وَالتَّفَكُّرُ فِي آيَاتِ اللهِ الْكَوْنِيَّةِ

kemudian (33) Tersenyum, (34) Merenungkan tanda-tanda keagungan Allah di alam ini,

الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ وَالنُّجُومِ

seperti matahari, bulan, dan bintang,

وَاحْتِمَالُ الْأَذَى مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالصَّبْرُ عَلَيْهِمْ

(35) Menahan diri dan bersabar terhadap perilaku buruk muslim yang lain,

وَمُعَامَلَتُهُمْ بِالْحُسْنَى وَالرِّفْقُ وَالتَّأَنِّيُّ

serta bergaul dengan baik, berkasih sayang, dan berlemah lembut kepada mereka,

وَطَلَاقَةُ الْوَجْهِ وَكَظْمُ الْغَيْظِ وَرَدُّ الْغَضَبِ وَإِنْجَازُ الْوَعْدِ

(36) Menampakkan wajah yang ceria, (37) Mengendalikan amarah, tidak marah, (38) Memenuhi janji,

وَصَلَاةُ التَّوْبَةِ وَرَكَعَتَا الْوُضُوءِ وَالنَّصِيحَةُ

(39) Salat Taubat, (40) Salat dua rakaat setelah wudu, (41) Memberi nasehat,

وَتَعْلِيمُ الْجَاهِلِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكِرِ

(42) Mengajari orang yang tidak paham, (43) Mengajak pada kebaikan dan mencegah terjadinya kemungkaran (amar maruf nahi munkar),

وَنُصْرَةُ الْمَظْلُومِ وَغَضُّ الْبَصَرِ وَزِيَارَةُ الْإِخْوَانِ فِي اللهِ
(44) Menolong orang yang terzalimi, (45) Menundukkan pandangan, (46) Mengunjungi saudara sesama muslim,

وَحُضُورُ الْجَنَائِزِ وَالتَّعْزِيَةُ الْمُصَابِ وَعِيَادَةُ الْمَرْضَى
(47) Datang melayat jenazah, (48) Mengunjungi orang yang tertimpa musibah, (49) Menjenguk orang yang sakit,

وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ دَعْوَةِ أَخِيكَ وَمُوَاسَاةُ الْمَحْزُونِ حَتَّى تَنْفَرِدَ أَسَارِيرُهُ
(50) Memenuhi undangan saudara Anda, (51) Menghibur orang yang sedang bersedih hingga sirna murung di wajahnya,

وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ وَإِتْيَانُ حِلَقِ الْعِلْمِ فِي الْمَسَاجِدِ

(52) Selepas salat menunggu salat berikutnya, (53) Mendatangi pengajian di masjid,

وَالتَّرْدِيدُ خَلْفَ الْمُؤَذِّنِ وَإكْرَامُ الْعُلَمَاءِ وَالرَّدُّ عَلَى الشُّبُهَاتِ
menjawab bacaan muazin (lihat no. 7), (54) Memuliakan orang yang berilmu, (55) Membantah pemikiran menyimpang,

وَنَشْرُ السُّنَنِ وَالْهَدِيَّةُ وَالْمُصَافَحَةُ لِلهِ
(56) Menyebarkan sunah Nabi, (57) Memberikan hadiah, (58) Berjabat tangan karena Allah,

وَتَوْقِيرُ الْكَبِيرِ وَقَضَاءُ الدَّيْنِ عَنِ الْمَدِينِ

(59) Memuliakan orang yang lebih tua, (60) Melunasi hutang orang yang terlilit hutang,

وَإِقْرَاضُ الْمُحْتَاجِ وَإِنْظَارُ الْمُعْسِرِ

(61) Menghutangi orang yang membutuhkan, (62) Memberi penundaan bagi orang yang kesulitan melunasi hutang,

وَإِسْقَاطُ الدَّينِ أَوِ التَّخْفِيفُ وَالسَّعْيُ فِي سَدَادِ دُيُونِ الْغَارِمِينَ

(63) Membatalkan hutang atau meringankannya, (64) Membantu melunasi hutang orang-orang yang terlilit hutang,

وَسَدَادِ فَوَاتِيرِ الْمُحْتَاجِينَ
(65) Mencukupi kebutuhan orang-orang yang sedang kesulitan,

وَالشَّفَاعَةُ الْحَسَنَةُ وَإِقَالَةُ النَّادِمِ

(66) Memberikan rekomendasi dalam kebaikan, (67) Menghilangkan kekecewaan orang lain,

يَعْنِي فِي عَقْدِ البَيْعِ أَوْ عَقْدِ الْإِجَارَةِ أَنْ تَنْسَحِبَ مِنْهُ فَتَسْمَحَ لَهُ مَعَ أَنَّ الْعَقْدَ لَزِمَهُ

yaitu dalam akad jual beli atau sewa menyewa, Anda menyetujuinya membatalkan akad atau Anda relakan hak Anda, padahal dia sudah terikat pada akad tersebut (iqalatu al-bai’),

وَإِمَاطَةُ الْأَذَى وَالتَّسَامُحُ فِي الْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ وَالسَّتْرُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ

(68) Menyingkirkan gangguan, (69) Memudahkan dalam berjual beli, (70) Menutupi aib muslim yang lain,

وَكَفَالَةُ الْيَتِيمِ وَالسَّعْيُ عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَقَضَاءُ حَاجَاتِ الْأَرْمَلَةِ وَالْمُعَامَلَاتِ

(71) Memelihara anak yatim, (72) Menolong para janda dan membantu kebutuhan dan urusan mereka,

وَبِنَاءُ الْمَسَاجِدِ وَالدِّلَالَةُ عَلَى الْخَيْرِ وَطِبَاعَةُ الْكُتُبِ

(73) Membangun masjid, (74) Menunjukkan kebaikan, (75) Mencetak buku,

وَنَشْرُ الْعِلْمِ فِي الشَّبَكَاتِ وَالْوَعْظُ وَسَمَاعُ الْمَوَاعِظِ

(76) Menyebarkan ilmu di dunia maya, (77) Memberi nasehat ataupun mendengarkannya,

وَالْإِهْدَاءُ الْفَقِيرِ إِهْدَاءُ الْفَقِيرِ شَاةً لِيُضَحِّيَ بِهَا

(78) Memberikan hadiah kepada fakir miskin, misalnya, memberikan kambing agar mereka dapat berkurban,

وَالزَّوَاجُ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْعَظِيمَةِ وَالْإِعَانَةُ عَلَى الزَّوَاجِ

(79) Menikah, dan ini adalah amal saleh yang sangat agung, termasuk juga menolong orang yang hendak menikah,

وَتَزْوِيجُ الْفَقِيرِ وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ الْمُتَخَاصِمَينِ

(80) Menikahkan orang yang tidak mampu, (81) Mendamaikan dua orang yang berselisih,

وَمُصَاحَبَةُ الْأَخْيَارِ وَالْوَقْفُ أَنْ تُوْقِفَ لِلهِ

(82) Bersahabat dengan orang yang baik, (83) Memberikan wakaf, Anda berwakaf karena Allah,

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْعَفْوُ

(84) Haji mabrur, (85) Mencintai karena Allah, (86) Memberi maaf,

وَاَنْ تُعِينَ صَانِعًا أَوْ تَصْنَعَ لِأَخْرَقَ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

(87) Anda membantu orang yang bekerja atau Anda bantu orang yang tidak punya pekerjaan (HR. Muslim),

أَوِ التَّدْرِيبُ بِالْمَجَّانِيِّ وَتَعْلِيمُ صَنْعَةٍ كَالْبَرْمَجَةِ

atau (88) Memberi pelatihan secara gratis atau mengajarkan keterampilan tertentu, misalnya pemrograman,

وَإِدْخَالُ السُّرُورِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَمَسْحُ رَأْسِ الْيَتِيمِ

(89) Membuat orang senang, memberi makan (lihat no. 18), (90) Membelai kepala anak yatim,

وَالْمُحَافَظَةُ عَلَى الوُضُوءِ كُلَّمَا انْتَقَضَ الْوُضُوءُ تَتَوَضَّأُ
begitu pula (91) Menjaga wudu, setiap kali wudu Anda batal, Anda berwudu lagi,

وَإِعَالَةُ الْبَنَاتِ وَالْأَخَوَاتِ وَالنَّفَقَةُ عَلَى الزَّوْجَةِ وَالْأَوْلَادِ

(92) Menanggung kebutuhan anak-anak perempuan dan saudara-saudara perempuan, (93) Menafkahi anak dan istri,

وَإِجَابَةُ الْمَرْأَةِ دَعْوَةَ الزَّوْجِ لِلْفِرَاشِ وَطَاعَتُهَا لَهُ وَخِدْمَةُ بَيْتِهِ

(94) Seorang istri yang memenuhi ajakan suaminya untuk tidur (jima’), taat kepadanya, dan memelihara rumahnya,

وَتَنْظِيفُ الْمَسَاجِدِ وَسُقْيُ الْمَاءِ بِجَمِيعِ أَنْوَاعِ سِقَايَاتِ الْمَاءِ
(95) Membersihkan masjid, (96) Memberikan air dengan berbagai cara untuk mendatangkan air,

حَفْرِ بِئْرٍ إِجْرَاءِ النَّهْرِ وَضْعِ الْبَرَّادِ

seperti menggali sumur, membuat parit, menyediakan lemari es,

وَشُكْرُ الْمَعْرُوفِ وَمُكَافَأَةُ فَاعِلِهِ وَالدُّعَاءُ لَهُ إِذَا صَنَعَ لَكَ مَعْرُوفًا

(97) Berterima kasih, memberi imbalan, dan mendoakan orang yang berbuat baik kepada Anda,

فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا هَذَا عَمَلٌ خَيْرٌ عَظِيمٌ

oleh karena itu mengucapkan “Jazākallāhu khairā” (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan) adalah amalan yang agung,

وَالْبُكَاءُ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَسُؤَالُ اللهِ الشَّهَادَةَ

(98) Menangis karena Allah, (99) Memohon mati syahid kepada Allah,

وَالْاِجْتِمَاعُ عَلَى الطَّعَامِ وَلُبْسُ الْبَيَاضِ وَصِبْغُ الشَّيْبِ

(100) Berkumpul ketika makan, (101) Mengenakan pakaian putih, (102) Menyemir uban (dengan warna selain hitam),

وَغَرْسُ الزَّرْعِ بِنِيَّةٍ حَسَنَةٍ وَقَضَاءُ حَوَائِجِ الْمُسْلِمِينَ

(103) Menanam tanaman dengan niat baik, memenuhi hajat dan kebutuhan kaum muslimin (lihat no. 65),

وَالْاِسْتِغْفَارُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

(104) Memohonkan ampun untuk kaum muslimin yang pria ataupun wanita,

وَإِعْفَافُ الزَّوْجَةِ

(105) Menjaga kehormatan pasangannya (suami istri),

وَالْاِحْتِسَابُ فِي رُقِيَّةٍ تَرْقِي مَجَّانًا رُقْيَةٌ رُقْيَةٌ

(106) Mengharap pahala ketika meruqyah, maksudnya Anda meruqyah dengan gratis, membacakan ruqyah, ruqyah!

وَتُعَوِّلُ أَوْلَادَكَ

(107) Menolong anak-anak Anda,

وَتَغْسِيلُ الْمَوْتَى وَتَكْفينُهُمُ احْتِسَابًا

(108) Memandikan dan mengkafani jenazah dengan hanya mengharap pahala,

وَقَتْلُ الْأَوْزَاغِ وَتَعْجِيلُ الْفِطْرِ فِي الصِّيَامِ وَتَأْخِيرُ السُّحُورِ

(109) Membunuh cicak, (110) Menyegerakan berbuka ketika puasa dan (111) Mengakhirkan makan sahur,

وَتَهْنِئَةُ الْمُسْلِمِ عَلَى النِّعْمَةِ تَحْصُلُ لَهُ

(112) Memberikan ucapan selamat kepada seorang muslim atas nikmat yang dia dapatkan,

وَكِتَابَةُ وَصِيَّتِكَ بِحَقٍّ وَكِسْوَةُ الْمُسْلِمِ

(113) Anda menulis wasiat sesuai syariat, (114) Memberi pakaian kepada seorang muslim,

تَنَعُّلُ بِالْيَمِينِ وَالْخَلَعُ بِالشِّمَالِ

(115) Mendahulukan kaki kanan ketika memakai sandal dan mendahulukan kaki kiri saat melepasnya,

وَالشُّرْبُ قَاعِدًا وَالتَّلْقِينُ الْمُحْتَضَرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

(116) Minum sambil duduk, (117) Men-talqin “Lā ilāha illallāh” kepada orang yang hampir meninggal,

وَالْبَدْءُ بِبسْمِ اللهِ فِي الْأُمُورِ

(118) Mengawali segala perkara yang baik dengan lafal “Bismillāh”,

وَالْحِرْصُ عَلَى السِّوَاكِ وَرَدُّ الْقَرْضِ بِأَحْسَنَ

(119) Merutinkan menggunakan siwak, (120) Melunasi hutang dengan yang lebih baik,

94
00:07:50,580 –> 00:07:54,380
وَصَلَاةُ الِاسْتِخَارَةِ وَسُجُودُ الشُّكْرِ

(121) Salat Istikhārah, (122) Sujud syukur,

وَالْعُدُولُ عَنِ الْيَمِينِ وَالْقَسَمِ لِلْمَصْلَحَةِ الشَّرْعِيَّةِ مَعَ إِخْرَاجِ الكَفَّارَةِ

(123) Membatalkan sumpah karena alasan yang dibenarkan syariat dengan tetap melakukan kafārahnya,

وَمُعَاوَنَةُ الْأَهْلِ فِي الْمَنْزِلِ وَالْمَشْيُ إِلَى الْمَسَاجِدِ والصَّلَاةُ إِلَى السُّتْرَةِ

(124) Membantu istri di rumah, (125) Berjalan ke masjid, (126) Salat menghadap sutrah,

وَتَحْسِينُ الصَّوْتِ فِي الْقُرْآنِ وَالْاِسْتِئْذَانُ قَبْلَ الدُّخُولِ

(127) Memperbagus bacaan al-Quran, (128) Izin sebelum masuk suatu tempat,

وَرَدُّ التَّثَاؤُبِ وَتَسْمِينُ الْأَضَاحِي

(129) Menahan (menutup mulut) ketika menguap, (130) Menggemukkan binatang kurban,

وَالْجُلُوسُ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ إِلَى ارْتِفَاعِ الشَّمْسِ

(131) Duduk setelah Salat Subuh hingga matahari terbit,

وَإِرْسَالُ الهَدْيِ إِلَى مَكَّةَ لِغَيْرِ الْحَاجِّ

(132) Mengirimkan hewan sembelihan ke kota Mekkah bagi orang yang tidak berhaji,

هَذِهِ مِنَ السُّنَّةِ المَنْسِيَّةِ يَعْنِي إِرْسَالُ الهَدْيِ إِلَى مَكَّةَ لِغَيْرِ الْحَاجِّ
ini adalah salah satu sunah yang dilupakan, mengirimkan hewan sembelihan ke kota Mekkah bagi orang yang tidak berhaji,

يُرْسَلُ إِلَى مَكَّةَ الهَدْيُ يُذْبَحُ هُنَاكَ

seseorang mengirimkan binatang sembelihan ke Mekkah untuk disembelih di sana

وَأَمْرُ الْأَهْلِ وَالْأَوْلَادِ بِالصَّلَاةِ

(133) Memerintahkan istri dan anak untuk melaksanakan salat,

وَصَلَاةُ رَكْعَتَيْنِ عِنْدَ دُخُولِ الْمَنْزِلِ وَقَبْلَ الْخُرُوجِ مِنْهُ
(134) Salat dua rakaat ketika masuk rumah dan sebelum keluar rumah,

وَمَسْحُ الْوَجْهِ بِالْيَدِ عِنْدَ الْقِيَامِ مِنَ النَّوْمِ

(135) Mengusap wajah dengan telapak tangan ketika terbangun dari tidur

لِصَلَاةِ اللَّيْلِ وَتِلَاوَةُ أَوَاخِرِ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ

untuk Salat Malam kemudian (136) Membaca beberapa ayat terakhir surat Ali Imran,

وَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ وتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ

(137) Menyempurnakan wudu, (138) Mendoakan orang yang bersin,

وَإِرْشَادُ الْمُسْتَدِلِّ عَلَى الْحَاجَةِ

(139) Memberi arahan orang yang tanya jalan jika membutuhkan,

وَقَوْلُ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثًا بَعْدَ رَكْعَةِ الْوِتْرِ

(140) Mengucapkan “Subḥānal malikil quddūs” tiga kali setelah Salat Witir,

وَالنَّوْمُ عَلَى طَهَارَةٍ وَمُؤَانَسَةُ الْمُسْتَوْحِشِ وَإِيوَاءُ الْغَرِيبِ

(141) Tidur dalam keadaan suci, (142) Menenangkan orang sedang panik, (143) Memberi tempat istirahat bagi musafir,

وَتَبْخِيرُ الْمَسَاجِدِ وَتَطْيِيبُهَا وَخِلَافَاتُ الْحَاجِّ فِي أَهْلِهِ بِخَيْرٍ

(144) Memberikan wewangian untuk masjid, (145) Menjadi haji pengganti untuk keluarganya dengan cara yang baik,

كَذَلِكَ أَهَالِي السُّجَنَاءِ وَنَحْوِهِمْ

atau untuk keluarga yang di penjara atau yang semisalnya,

وَتَوْزِيعُ الْمَصَاحِفِ فِي الْمَسَاجِدِ

(146) Membagi-bagikan mushaf al-Quran di masjid-masjid,

نَشْرُ الْعِلْمِ فِي التَّطْبِيقَاتِ وَالْمَوَاقِعِ وَالْقَنَوَاتِ
وَالإِذَاعَاتِ وَسَائِرِ الْوَسَائِلِ

(147) Menyebarkan ilmu melalui aplikasi, situs web, channel, siaran TV dan radio, dan media-media lainnya,

إِقَامَةُ الدُّرُوسِ وَالْمُحَاضَرَاتِ وَالدَّوْرَاتِ الْعِلْمِيَّةِ وَصَلَاةُ الْعِيدِ

(148) Menyelenggarakan pembelajaran, kajian, dan daurah-daurah ilmiah, (149) Salat ‘Idul Aḍḥā,

إِعَارَةُ الثِّيَابِ وَالْحُلِيِّ وَالْآنِيَةِ وَالْأَجْهِزَةِ وَكُلِّ مَا يَنْفَعُ

(150) Meminjamkan pakaian, perhiasan, perabotan, perkakas, atau segala hal yang bermanfaat,

إِقَامَةُ الْجَمْعِيَّاتِ الْخَيْرِيَّةِ وَالْمُؤَسَّسَاتِ الْخَيْرِيَّةِ

(151) Mendirikan lembaga dan yayasan amal,

التَّكَفُّلُ بِنَفَقَةِ الْحُجَّاجِ

(152) Menanggung kebutuhan orang yang sedang melaksanakan haji,

أَوْ حَاجُّ يَحُجُّ عَلَى نَفَقَتِكَ

atau (153) Anda membiayai orang pergi berhaji,

تَفْرِيغُ طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَالْقِيَامُ بِنَفَقَاتِهِمْ

(154) Meringankan beban penuntut ilmu dan menanggung kebutuhan mereka,

إِعْدَادُ الْكُتُبِ وَالْبَرَامِجِ لِأَطْفَالِ الْمُسْلِمِينَ النَّافِعَةِ لَهُمْ

(155) Menyusun untuk anak-anak kaum muslimin buku atau aplikasi yang bermanfaat untuk mereka,

نَقْلُ الْعِلْمِ بِأَمَانَةٍ

(156) Menukil ilmu dengan amanah,

نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي

“Semoga Allah memuliakan orang yang mendengar perkataanku,…

فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

kemudian ia menjaganya, menghafalnya, dan menyampaikannya pada orang lain.” (HR. Tirmizi),
الدِّفَاعُ عَنْ أَعْرَاضِ الْمُسْلِمِينَ سَمَاعُ الْقُرْآنِ الْجَوَائِزُ وَالتَّشْجِيعُ فِي الْعِلْمِ وَالْخَيْرِ

(157) Membela kehormatan kaum muslimin, (158) Mendengarkan Al-Quran, (159) Memberi hadiah dan motivasi dalam ilmu dan kebaikan,

مُلَاطَفَةُ الصِّبْيَانِ التَّذْكِيرُ بِمُنَاسَبَاتِ الْخَيْرِ

(160) Berkasih sayang dengan anak-anak, (161) Mengingatkan orang saat ada momen-momen kebaikan,

حِفْظُ الْأَمَانَاتِ وأَدَائُهَا مُعَالَجَةُ الْمَرْضَى لِمَنْ يُحْسِنُ ذَلِكَ احْتِسَابًا

(162) Menjaga dan menunaikan amanah, (163) Mengobati orang sakit karena Allah, bagi mereka yang ahli dalam hal tersebut,

وَالْإِحْسَانُ إِلَى الْبَهَائِمِ وَالطُّيُورِ

(164) Berbuat baik kepada binatang dan burung.

فَهَذِهِ طَائِفَةٌ مِنَ الْأَعْمَالِ الْخَيْرِيَّةِ الصَّالِحَةِ

Inilah sejumlah amal kebaikan dan amal saleh.

لَعَلَّنَا نَقُومُ بِبَعْضِهَا فِي هَذِهِ الْعَشْرِ

Semoga kita bisa mengamalkan sebagiannya dalam sepuluh hari bulan Dzulhijjah ini.

نَسْأَلُ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنَّا

Kita memohon kepada Allah subhānahu wa ta’alā agar menerima amal-amal kita

وَأَنْ يُعِينَنَا عَلَى ذِكْرِهِ وَشُكْرِهِ وَحُسْنِ عِبَادَتِهِ

dan menolong kita agar selalu mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan beribadah dengan baik kepada-Nya.

Mau Bahagia Dunia & Akhirat? Lakukan Amalan Ini! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr

Mau Bahagia Dunia & Akhirat? Lakukan Amalan Ini! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr

وَمِنْهَا أَيْ فَوَائِدُ هَذِهِ الْقِصَّةِ
Dan salah satu faedah dari kisah ini…

أَنَّ تَقْوَى اللهِ وَالْقِيَامَ بِوَاجِبَاتِ الْإِيمَانِ
bahwa takwa kepada Allah dan menjalankan tuntutan iman…

مِنْ جُمْلَةِ الْأَسْبَابِ الَّتِي تُنَالُ بِهَا الدُّنْيَا
termasuk sebab-sebab untuk meraih kenikmatan dunia,…

وَكَثْرَةُ الْأَوْلَادِ وَالرِّزْقُ وَقُوَّةُ الْأَبْدَانِ
keturunan yang banyak, rezeki, dan kekuatan tubuh.

وَهَذَا مُسْتَفَادٌ مِنْ قِصَّةِ نُوْحٍ فِي سُورَةِ نُوحٍ
Faedah ini dapat diambil dari kisah Nabi Nuh dalam surat Nuh…

لَمَّا دَعَاهُمْ إِلَى الْإِيْمَانِ وَالطَّاعَةِ
ketika beliau menyeru kaumnya untuk beriman, taat,…

وَاتِّبَاعِهِ وَمُلَازَمَةِ الِاسْتِغْفَارِ
menjadi pengikutnya, dan senantiasa memohon ampun.

قَالَ لَهُمْ فِي سِيَاقِ هَذِهِ الدَّعْوَةِ فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ
Beliau berkata kepada kaumnya dalam seruan ini: “Maka aku berkata, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian…

إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
karena sungguh Dia Maha Pengampun,…

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدِكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِيْنَ
niscaya Dia akan mengirim hujan dari langit bagi kalian, dan memperbanyak harta dan keturunan kalian,…

وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ
dan menciptakan kebun-kebun bagi kalian…

وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
serta menciptakan sungai-sungai bagi kalian.”

وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Dan menciptakan bagi kalian kebun-kebun serta menciptakan bagi kalian sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

وَفِي دَعْوَةِ ثَمُوْدَ لِقَوْمِهِ
Dan disebutkan dalam kisah tentang seruan Nabi Hud kepada kaum Tsamud:

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ
“Dan wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhan kalian dan bertaubatlah kepada-Nya,…

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُم قُوَّةً
niscaya Dia akan mengirim hujan lebat dari langit bagi kalian, dan menambah kekuatan…

إِلَى قُوَّتِكُمْ
atas kekuatan yang telah kalian miliki…

وَلَا تَتَوَلَّوا مُجْرِمِيْنَ
Dan janganlah kalian berpaling sebagai orang-orang berdosa.” (QS. Hud: 52)

فَهَذَا مِمَّا يُسْتَفَادُ مِنْ قَصَصِ الْأَنْبِيَاءِ أَنَّ الْإِيمَانَ
FAEDAH:
Inilah salah satu faedah yang dapat diambil dari kisah-kisah para Nabi, bahwa (1) IMAN

وَالطَّاعَةَ وَلُزُومَ الِاسْتِغْفَارِ وَالتَّوْبَةَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يُثْمِرُ
(2) TAAT (TAKWA) (3) ISTIGHFAR YANG TERUS-MENERUS, dan (4) TAUBAT KEPADA ALLAH ‘AZZA WA JALLA dapat membuahkan…

يُثْمِرُ الْمُتْعَةَ الطَّيِّبَةَ الْحَسَنَةَ الدُّنْيَوِيَّةَ
membuahkan kenikmatan dunia yang baik.

كَثْرَةُ الْأَوْلَادِ الرِّزْقُ الطَّيِّبُ قُوَّةُ الْبَدَنِ
Seperti keturunan yang banyak, rezeki yang baik, dan kekuatan badan.

قُوَّةُ الْبَدَنِ. قُوَّةُ الْبَدَنِ بِالطَّاعَةِ
Kekuatan badan. Kekuatan badan berkat ketaatan.

ابْنُ الْقَيِّمِ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ يَذْكُرُ قِصَّةً عَجِيبَةً لِشَيْخِ الْإِسْلَامِ
Ibnu al-Qayyim rahmatullahi ‘alaihi pernah menyebutkan kisah menakjubkan tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

يَقُولُ كَانَ يَجْلِسُ فِي مُصَلَّاهُ إِلَى الضُّحَى يَذْكُرُ اللهَ
Ibnu al-Qayyim berkata: Beliau (Ibnu Taimiyah) selalu duduk di tempat shalatnya hingga waktu dhuha untuk berzikir.

ابْنُ تَيْمِيَّةَ يَجْلِسُ فِي مُصَلَّاهُ إِلَى الضُّحَى يَذْكُرُ اللهَ
Ibnu Taimiyah selalu duduk di tempat shalatnya hingga waktu dhuha untuk berzikir.

فَكُنْتُ أَقُولُ لَهُ فِي ذَلِكَ
Dan aku pernah bertanya tentang ini kepada beliau.

فَيَقُولُ هَذِه قُوَّتِي لَوْ لَمْ أَفْعَلْ ذَلِكَ يَضْعُفُ بَدَنِي
Maka beliau menjawab: “Ini adalah kekuatanku, jika aku tidak melakukannya maka badanku menjadi lemah.”

وَلَوْ لَمْ أَفْعَلْ ذَلِكَ يَضْعُفُ بَدَنِي
“Jika aku tidak melakukannya maka badanku menjadi lemah.”

قُوَّةُ الصَّبَاحِ سُبْحَانَ اللهِ هُوَ
Kekuatan di waktu pagi -subhanallah- itu adalah,…

هُوَ الْوَقْتُ الَّذِي تَتَنَزَّلُ فِيهِ الْبَرَكَاتُ وَالْأَرْزَاقُ
itu adalah waktu turunnya keberkahan dan rezeki,

وَتَتَنَزَّلُ فِيهِ الْخَيْرَاتُ
dan waktu turunnya kebaikan-kebaikan,…

وَتُكْتَسَبُ فِيهِ الْقُوَّةُ وَالْمَصَالِحُ وَغَيْرُ ذَلِكَ
dan di waktu itu untuk mencari kekuatan, kemaslahatan, dan lainnya.

وَمُلَازَمَةُ الْمُؤْمِنِ لِحِفْظِ هَذَا الْوَقْتِ بِذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Konsistensi seorang mukmin dalam menjaga waktu ini untuk berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala…

هَذَا قُوَّةٌ لَهُ وَصِحَّةٌ
akan menjadi kekuatan dan kesehatan baginya,…

نَشَاطٌ خَيْرَاتٌ دُنْيَوِيَّةٌ وَخَيْرَاتٌ أُخْرَوِيَّةٌ عَظِيمَةٌ جِدًّا
serta semangat hidup, dan berbagai kebaikan dunia dan kebaikan akhirat yang agung sekali.

فَتَقْوَى اللهِ وَالْقِيَامُ بِالْوَاجِبَاتِ الدِّينِيَّةِ
Maka ketakwaan kepada Allah dan melaksanakan kewajiban agama…

مِنْ جُمْلَةِ الْأَسْبَابِ الَّتِي تُنَالُ بِهَا الدُّنْيَا
merupakan bagian dari sebab-sebab untuk meraih dunia,…

وَكَثْرَةُ الْأَوْلَادِ وَالرِّزْقُ وَقُوَّةُ الْأَبْدَانِ
keturunan yang banyak, rezeki, dan badan yang kuat.

وَإِنْ كَانَ لِذَلِكَ أَيْضًا أَسْبَابٌ أُخْرَى
Meskipun perkara itu juga memiliki sebab-sebab yang lain.

يَعْنِي هَذِهِ الْأَشْيَاءُ لَهَا أَسْبَابٌ مِثْلُ بَعْضِ الْأَدْوِيَةِ
Yakni hal-hal ini juga memiliki sebab lain seperti obat-obatan,

مِثْلُ بَعْضِ الْمُمَارَسَاتِ الرِّيَاضِيَّةِ مِثْلُ أَشْيَاءِ تُنَالُ
olahraga, dan lainnya; ini dapat menjadi sebab.

لَكِنْ لَيْسَتْ مِثْلَ
Namun hal tersebut tidak seperti…

عَافِيَةِ الْمَرْءِ الَّتِي بَنَاهَا عَلَى مَاذَا؟
kesehatan seseorang yang terbangun atas dasar apa?

عَلَى الْإِيمَانِ
Atas dasar IMAN

وَعَلَى حِفْظِ الْجَوَارِحِ فِي طَاعَةِ الرَّحْمَنِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
dan atas penjagaan anggota tubuh dengan KETAATAN kepada Allah ar-Rahman Subhanahu wa Ta’ala.

هَذَا فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِالدُّنْيَا
Ini yang berhubungan dengan perkara dunia.

أَمَّا أَمْرُ الْآخِرَةِ يَقُولُ وَهِيَ السَّبَبُ الْوَحِيدُ
Adapun perkara akhirat, penulis berkata: Dan ini merupakan sebab satu-satunya.

التَّقْوَى وَالْإِيمَانُ هِيَ السَّبَبُ الْوَحِيدُ
TAKWA dan IMAN adalah sebab satu-satunya…

الَّذِي لَيْسَ هُنَاكَ سَبَبٌ سِوَاهُ
yang tidak ada sebab selainnya…

فِي نَيْلِ الْآخِرَةِ وَالسَّلَامَةِ مِنْ عِقَابِهَا
dalam meraih kenikmatan akhirat dan keselamatan dari siksa neraka.

وَالْمَعْنَى الَّذِي ذُكِرَ هُنَا يَدُلُّ عَلَيْهِ
Makna yang disebutkan disini ditunjukkan oleh…

قَوْلُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala…

فِي سُورَةِ الْإِسْرَاءِ
dalam surat al-Isra’…

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا
“Barangsiapa yang beramal shalih…

مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ
baik itu lelaki atau perempuan, sedang ia dalam keadaan beriman; maka Kami akan menghidupkannya…

حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
dengan kehidupan yang baik, dan Kami akan membalasnya dengan balasan yang lebih baik daripada yang mereka kerjakan.”

نَعَمْ
Demikian.

Nasehat Salaf Untuk Pemuda: Bekerjalah! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Nasehat Salaf Untuk Pemuda: Bekerjalah! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

وَمِن وَصَايَا السَّلَفِ لِلشَّبَابِ
Di antara nasehat para salaf bagi para pemuda

مَا رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِي كِتَابِهِ الْوَرَعِ
adalah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitabnya yang berjudul al-Wara’:

عَنْ عَبْدِ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيِّ
Dari Abdul Wahab ats-Tsaqafi

قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا أَيُّوبُ أَيْ السِّخْتِيَانِيُّ
ia berkata, Ayyub as-Sikhtiyani mendatangi kami

فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ اِحْتَرِفُوْا
lalu berkata, “Wahai para pemuda, bekerjalah!”

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ اِحْتَرِفُوْا
“Wahai para pemuda, bekerjalah!…

لَا تَحْتَاجُوْنَ أَنْ تَأْتُوا أَبْوَابَ هَؤُلَاءِ وَذَكَرَ مَنْ يَكْرَهُ
…sehingga kalian tidak perlu mendatangi pintu-pintu rumah mereka.” Lalu ia menyebutkan orang-orang yang ia benci.

وَذَكَرَ مَنْ يَكْرَهُ
Lalu ia menyebutkan orang-orang yang ia benci.

اِحْتَرِفُوْا! اُنْظُرْ
“Bekerjalah!” Lihat…

جَمَعَ السَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى
para salaf rahimahumullahu Ta’ala menghimpun

فِي وَصِيَّتِهِمْ لِلشَّبَابِ بِاغْتِنَامِهِ فِي الْعِلْمِ وَتَحْصِيلِهِ
dalam nasehat mereka bagi para pemuda agar memanfaatkan waktu untuk menuntut ilmu

وَأَيْضًا أَنْ يَكُونَ لِلْمَرْءِ حِرْفَةٌ
dan hendaknya setiap mereka juga memiliki pekerjaan

يَكْتَسِبُ بِهَا مَالًا رِزْقًا يُنْفِقُ بِهَا عَلَى نَفْسِهِ وَعَلَى أَهْلِهِ فِيمَا بَعْدُ وَوَلَدِهِ
yang dengan pekerjaan itu ia dapat memperoleh harta atau rezeki untuk menafkahi dirinya serta keluarga dan anaknya kelak,

وَأَنْ لَا يَكُونَ عَالَةً عَلَى الْآخَرِينَ
dan janganlah ia menjadi beban bagi orang lain.

لَا يَحْتَاجُ إِذَا كَبُرَ أَنْ يَذْهَبَ إِلَى فُلَانٍ أَوْ إِلَى فُلَانٍ
Jika ia telah lanjut usia maka ia tidak butuh lagi untuk pergi kepada Si Fulan dan Si Fulan

بِطَلَبِ الْمُعَاوَنَةِ وَطَلَبِ الْمُسَاعَدَةِ وَإِلَى آخِرِهِ
untuk meminta bantuan, pertolongan, dan lain sebagainya.

بَلْ يَجْعَلُ لَهُ حِرْفَةً وَبَابًا مِنَ الْأَبْوَابِ
Namun hendaklah ia memiliki pekerjaan dan suatu pintu

الَّتِي يُحَصِّلُ مِنْهَا رِزْقًا
yang dapat ia gunakan untuk memperoleh rezeki.

وَأَبْرَكُ الرِّزْقِ وَأَنْفَعُهُ وَأَطْيَبُهُ مَا كَانَ مِنْ كَسْبِ يَدِ الْمَرْءِ
Dan rezeki yang paling banyak membawa berkah, manfaat, dan kebaikan adalah rezeki yang berasal dari usahanya sendiri.

فَيَجْعَلُ لَهُ فِي مَرْحَلَةِ شَبَابِهِ حِرْفَةً يُتْقِنُهَا
Maka hendaklah di masa mudanya, seseorang memiliki pekerjaan yang dia kuasai

وَيَمْضِي فِي هَذِهِ الْحِرْفَةِ أَوْ هَذَا الْعَمَلِ أَوْ هَذِهِ الصِّنَاعَةِ
dan ia menjalani pekerjaan atau keterampilan tersebut

يَكْتَسِبُ مِنْهَا رِزْقًا وَأَيْضًا يَمْضِي فِي طَلَبِهِ لِلْعِلْمِ وَتَحْصِيْلِهِ لَهُ
untuk memperoleh rezeki, di samping ia juga tetap menjalani prosesnya dalam menuntut dan mencari ilmu.

Tips Mudah Mengenali Usia Kambing untuk Kurban – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid

Tips Mudah Mengenali Usia Kambing untuk Kurban – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid

وَبِالنِّسْبَةِ لِأَسْنَانِهَا وَصِفَاتِهَا

Dan berkenaan dengan gigi kambing dan sifat-sifatnya,

فَلَعَلَّنَا نَتَعَرَّفُ عَلَى شَيْءٍ مِنْهَا فِي هَذَا التَّقْرِيرِ

kita akan mempelajari sebagian dari hal tersebut dari penjelasan berikut ini:

عَلَى الْمُضَحِّيِّ أَنْ يَنْظُرَ أَوَّلًا إِلَى أَسْنَانِ الْأُضْحِيَةِ

Orang yang hendak berkurban hendaknya terlebih dahulu memperhatikan gigi-gigi hewan kurbannya,

فَهَذَا مُهِمٌّ جِدًّا فِي مَعْرِفَةِ عُمْرِ الْأُضْحِيَةِ

karena ini teramat penting untuk mengetahui usia hewan kurbannya.

وَيُنْتَبَهُ أَنَّ أَسْنَانَ الْأَغْنَامِ تَكُونُ فِي الْأَسْفَلِ فَقَطْ

Dan jika diperhatikan bahwa gigi kambing hanya ada di bagian bawah saja

لِأَنَّهَا آكِلَاتُ الْأَعْشَابِ

karena kambing adalah pemakan rerumputan.
إِذَا وَجَدْتَ جَمِيعَ الْأَسْنَانِ صَغِيرَةً جِدًّا وَمُتَسَاوِيَةً

(PERTAMA: Jaża’)
Jika Anda mendapati gigi-giginya semua sangat kecil dan sama panjangnya,

فَهَذَا هُوَ الْمَعْرُوفُ بِالْجَذَعِ

inilah yang dikenal dengan istilah Jaża’.

إِذَا أَتَمَّ الْجَذَعُ عَامَهُ الْأَوَّلَ

(KEDUA: Ṡani)
Jika Jaża’ sudah genap berusia satu tahun,

فَيُلَاحَظُ أَنَّ الزَّوْجَ الْأَوَّلَ مِنَ الْأَسْنَانِ فِي الْمُقَدِّمَةِ طَوِيلٌ جِدًّا

akan nampak sepasang gigi di bagian depan yang sangat panjang,

بِخِلَافِ بَاقِي الْأَسْنَانِ فَهِيَ صَغِيرَةٌ

jika dibandingkan dengan gigi-gigi lain yang cenderung kecil,

وَهَذَا هُوَ الْمَعْرُوفُ بِالثَّنِيِّ

inilah yang dikenal dengan sebutan Ṡani.

وَإِذَا أَتَمَّ عَامَهُ الثَّانِي

(KETIGA: Raba’)
Dan jika sudah genap berusia dua tahun

يُلَاحَظُ ظُهُورُ ثَنِيَّيْنِ أَطْوَلُ مِنْ بَاقِي الْأَسْنَانِ

akan nampak adanya dua buah gigi Ṡani lagi yang lebih panjang dari gigi-gigi lain,

وَأَقْصَرُ مِنَ الزَّوْجِ الَّذِي فِي الْمُقَدِّمَةِ

namun lebih pendek dari dua pasang gigi yang ada di bagian depan,

وَاحِدَةٌ عَلَى الْيَمِينِ وَوَاحِدَةٌ عَلَى الْيَسَارِ وَهَذَا هُوَ الْمَعْرُوفُ بِالرَّبَاعِ

satu di sebelah kanan dan satu lagi di sebelah kiri, inilah yang dikenal dengan istilah Raba’.

ثُمَّ بَعْدَ الدُّخُولِ فِي السَّنَةِ الثَّالِثَةِ يُلَاحَظُ

(KEEMPAT: Sadas)
Kemudian jika sudah memasuki tahun ketiga, akan terlihat

كِبَارُ جَمِيعِ الْأَسْنَانِ الَّتِي فِي الْمُقَدِّمَةِ وَتَلَاصُقُهَا وَقُوَّتُهَا

gigi-gigi di bagian depan sudah besar semua dan nampak kokoh serta rapat satu sama lainnya,

وَعَدَدُهَا سِتٌّ وَهَذَا هُوَ الْمَعْرُوفُ بِالسَّدَسِ

yang berjumlah enam, inilah yang dikenal dengan istilah Sadas.

بَعْدَ إِتْمَامِ السَّنَةِ الثَّالِثَةِ وَالدُّخُولِ فِي الرَّابعَةِ

KELIMA: Zariḥ
Ketika sudah genap berusia tiga tahun dan memasuki tahun keempat,

يُلَاحَظُ كِبَارُ الْأَثْنَانِ وَتَفَرُّقُهَا وَضَعْفُهَا

akan nampak gigi-gigi yang makin besar namun tidak saling rapat dan tidak kokoh lagi,

حَتَّى إِنَّهُ يُمْكِنُ هَزُّهَا وَإِسْقَاطُهَا بِالْيَدِ

sehingga bisa digerakkan dan dipatahkan dengan tangan,

وَهَذَا هُوَ الْمَعْرُوفُ بِالزَّارِحِ وَهَذَا لَحْمُهُ غَيْرُ طَيِّبٍ فِي الْأَكْلِ

inilah yang dikenal dengan istilah Zariḥ, inilah usia kambing yang dagingnya tidak enak dimakan.

وَيَقَعُ فِي هَذَا النَّوْعِ مِنَ الْغَنَمِ الْغِشُّ وَالتَّدْلِيسُ عَلَى النَّاسِ فِيهِ

Dan kambing pada usia inilah orang-orang sering dicurangi dan ditipu.

Siapa yang Memindahkan Singgasana Ratu Bilqis (4 Jawaban) – Syaikh Utsman Al-Khamis #NasehatUlama


Siapa yang Memindahkan Singgasana Ratu Bilqis (4 Jawaban) – Syaikh Utsman Al-Khamis #NasehatUlama

عَرْشُ سَبَأ؟ اللهُ أَعْلَمُ
Singgasana negeri Saba’? Wallahu A’lam.

لَكِنْ هُوَ قَوْلُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
Akan tetapi ia dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala…

عَنْ سُلَيْمَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا
tentang Nabi Sulaiman -‘alaihis shalatu wassalam-, “Siapa di antara kalian yang dapat mendatangkan singgasananya…

قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِيْنَ
sebelum mereka datang menyerahkan diri kepadaku?”

قَالَ عِفْرِيْتٌ مِنَ الْجِنِّ
Ifrit dari golongan jin berkata,…

أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ
“Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berdiri dari majelismu ini,…

وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِيْنٌ
aku mampu melakukannya dan dapat dipercaya.”

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ
Seorang yang memiliki ilmu al-Kitab berkata,..

أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ
“Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berkedip.”

فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ
Dan ketika Nabi Sulaiman melihat singgasananya telah di hadapannya…dst. (QS. An-Naml ayat 38 – 40)

هُنَا الْجِنِّيُّ أَوِ العِفْرِيْتُ مِنَ الْجِنِّ
Jin yang ada dalam kisah ini, atau Ifrit dari golongan jin…

قَالَ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَقَالُوا مَقَامُهُ كَانَ الضُّحَى
berkata, “Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berdiri dari majelismu ini…” Dikatakan bahwa majelisnya di waktu dhuha.

يَجْلِسُ مِنْ أَوَّلِ الضُّحَى تَقْرِيْبًا إِلَى قَرِيبٍ مِنَ الظُّهْرِ
Nabi Sulaiman duduk dari awal waktu dhuha kira-kira hingga mendekati waktu zhuhur.

هَذَا مَقَامُهُ يَعْنِي خَلِيْنَا نَقُولُ سَاعَتَيْنِ ثَلَاثَ سَاعَاتٍ
Inilah majelisnya. Yakni kita bisa katakan dua atau tiga jam.

هَذَا يَجْلِسُ لِلنَّاسِ يَسْتَمِعُ إِلَيْهِم أَحَدٌ عِنْدَهُ شَكْوَى هَذَا مَقَامُهُ
Beliau duduk mendengar rakyatnya, mungkin ada yang memiliki keluhan. Itulah majelisnya.

قَالَ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ خِلَالَ سَاعَتَيْنِ عِنْدَكَ يَعْنِي
Ifrit berkata, “Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berdiri dari majelismu.” Yakni sekitar dua jam.

فَجَاءَهُ الرَّدُّ قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ
Lalu ada yang menyangkalnya. Orang yang memiliki ilmu al-Kitab berkata,…

أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ
“Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berkedip.”

قِيلَ إِنَّ الْكَلَامَ مُوَجَّهٌ إِلَى سُلَيْمَانَ
PENDAPAT PERTAMA:
Ada yang berpendapat bahwa kalimat ini ditujukan kepada Nabi Sulaiman.

وَأَنَّ الَّذِي قَالَ لِسُلَيْمَانَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنَّا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ
Dan yang berkata kepada Nabi Sulaiman -‘alaihissalam-, “Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berkedip”…

هُوَ رَجُلٌ إِنْسِيٌّ
adalah lelaki dari golongan manusia…

اسْمُهُ آصَفُ
Namanya Ashaf.

قَالَ لِسُلَيْمَانَ أَنَا آتِيكَ
Ia berkata pada Sulaiman, “Aku akan mendatangkannya padamu…”

يَقُولُ وَهَذَا الرَّجُلُ كَانَ يَعْنِي مِنْ أَوْلِيَاءِ اللهِ وَأَنَّهُ إِذَا دَعَا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ
Dikatakan bahwa lelaki ini salah satu wali Allah, jika ia berdoa maka Allah akan mengabulkan doanya.

فَدَعَا اللهَ فَأَحْضَرَهُ مُبَاشَرَةً
Maka ia berdoa kepada Allah, dan Allah mendatangkannya dalam sekejap.

وَاللهُ أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَهُ إِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Dan Allah jika menghendaki suatu perkara hanya cukup dengan berfirman, “Jadilah”. Maka jadilah ia.

وَقِيلَ إِنَّ الَّذِي قَالَ هُوَ جِنِّيٌّ مُسْلِمٌ
PENDAPAT KEDUA:
Dikatakan pula bahwa yang mengatakan itu adalah seorang jin muslim.

جِنِّيٌّ مُسْلِمٌ
Seorang jin muslim.

لَمَّا قَالَ العِفْرِيتُ لِأَنَّ العِفْرِيْتَ كَافِرٌ
-saat Ifrit berkata-, karena Ifrit adalah jin kafir.

العِفْرِيتُ كَافِرٌ مِنْ كُفَّارِ الْجِنِّ
Ifrit itu kafir, termasuk jin yang kafir.

فَقَال جِنِّيٌّ مُسْلِمٌ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ
Maka jin muslim berkata, “Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berkedip.”

أَنَا سَأَقْوَى مِنْهُ يَقُولُ لَهُ
Ia berkata kepadanya, “Aku akan mampu melakukannya.”

وَقِيلَ إِنَّ جِبْرِيلَ نَزَلَ مِنَ السَّمَاءِ
PENDAPAT KETIGA:
Dan dikatakan juga bahwa Jibril turun dari langit…

يَرُدُّ عَلَى هَذَا العِفْرِيتِ
untuk menyangkal jin Ifrit ini…

وَقَال لِسُلَيْمَانَ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ لَا يَغْتَرَّنَّ هَذَا بِقُوَّتِهِ
dan berkata kepada Nabi Sulaiman, “Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berkedip… Jangan tertipu dengan kekuatannya.”

أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ
“Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berkedip.”

هَذِهِ ثَلَاثُ إِجَابَاتٍ وَهُنَاك إِجَابَةٌ رَابِعَةٌ
PENDAPAT KEEMPAT:
Demikianlah tiga jawabannya. Dan ada jawaban keempat…

أَنَّ الْكَلَامَ مُوَجَّهٌ لِلرَّجُلِ لِلْجِنِّيِّ
bahwa ucapan itu ditujukan kepada jin (Ifrit),..

وَأَنَّ الَّذِي كَلَّمَهُ سُلَيْمَانُ
dan yang mengucapkannya adalah Nabi Sulaiman.

أَنَّ سُلَيْمَانَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَخْتَبِرُهُمْ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا؟
Nabi Sulaiman -‘alaihissalam- menguji mereka dengan berkata, “Siapa dari kalian yang dapat mendatangkan singgasananya kepadaku?”

فَقَالَ هَذَا العِفْرِيتُ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ
Maka Ifrit berkata, “Aku akan mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berdiri dari majelismu.”

فَرَدَّ عَلَيْهِ سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَقَالَ لَهُ
Maka Nabi Sulaiman -‘alaihissalam- menyangkalnya dengan berkata,..

أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ
“Bahkan aku dapat mendatangkannya kepadamu sebelum kamu berkedip.”

يَعْنِي سُلَيْمَانَ هُوَ الَّذِي جَاءَ بِهِ
Yakni Nabi Sulaimanlah yang mendatangkannya.

وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَا فِيهِ شَيْءٌ ثَابِتٌ
Namun ilmu pastinya ada di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala. Tidak ada yang pasti di sini.

كُلُّهَا احْتِمَالَاتٌ
Semua pendapat ini hanya kemungkinan saja.

Hukum Menonton Sepak Bola – Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri #NasehatUlama

Hukum Menonton Sepak Bola – Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri #NasehatUlama

يَقُولُ فِي السُّؤَالِ الثَّانِي مِنَ الْأَخِ مُحَمَّدٍ مِنَ الْجَزَائِرِ

Pertanyaan kedua dari saudara Muhammad dari Aljazair, dia berkata

بَعْدَ أَدَاءِ الْعِبَادَاتِ كَالصَّلَوَاتِ أَوْ كَذَا أَعْمَدُ إِلَى مُشَاهِدَةِ كُرَّةِ الْقَدَمِ فَمَا حُكْمُ هَذَا؟

“Setelah menunaikan ibadah, misalkan salat atau yang lainnya, aku sengaja menonton pertandingan bola, bagaimana hukumnya?”

أَوَّلًا يَحْسُنُ بِأَهْلِ الْإِيْمَانِ أَنْ يَسْتَعْمِلُوا أَوْقَاتَهُمْ

Yang pertama, selayaknya orang yang beriman memanfaatkan waktunya

فِيمَا يَعُودُ عَلَيْهِمْ بِالنَّفْعِ وَعَلَى غَيْرِهِمْ

pada perkara yang bermanfaat baginya dan orang lain.

مُشَاهِدَةُ الْإِنْسَانِ لِمَا لَا يَسْتَفِيدُ مِنْهُ فِي دُنْيَاهُ وَلَا فِي آخِرَتِهِ

Seseorang menonton sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dunianya dan tidak pula untuk akhiratnya,

لَيْسَتْ مِنْ شَأْنِ أَصْحَابِ الْفَضْلِ وَأَصْحَابِ الْعَقْلِ

bukanlah perbuatan orang mulia dan cerdas

الَّذِينَ يُدْرِكُونَ عَوَاقِبَ الْأُمُورِ

yang memahami akibat dari perbuatannya di kemudian hari.

فَالْأَوْقَاتُ الَّتِي تُضِيْعُهَا الْأُمَّةُ فِي مُتَابَعَةِ هَذِهِ الْمُبَارَيَاتِ
Waktu yang disia-siakan oleh umat islam untuk menonton pertandingan-pertandingan semacam ini

يَحْسُنُ بِنَا أَنْ نُعِيدَ التَّفْكِيرَ فِيهَا وَأَنْ نَتَعَرَّفَ مَا هِي فَائِدَةُ الْمُشَاهِدِ

perlu untuk kita kaji ulang apa manfaat yang mereka dapatkan.

مَا هِيَ فَائِدَةُ الْأُمَّةِ مِنْ مُشَاهِدَةِ هَذَا الشَّخْصِ لِهَذِهِ الْمُبَارَيَاتِ

Apa manfaatnya bagi umat islam jika menonton pertandingan ini?

وَلِذَلِكَ نُرَغِّبُ النَّاسَ فِي أَنْ يُعِيدُوا تَرْتِيبَ أَوْقَاتِهِمْ

Sehingga kami menyarankan orang-orang agar menata kembali waktu mereka

بِمَا يَعُودُ عَلَيْهِمْ بِالنَّفْعِ فِي دُنْيَاهُمْ وَآخِرَتِهِمْ

pada hal-hal yang bisa mendatangkan manfaat bagi dunia dan akhirat mereka.

وَكَوْنُ الْإِنْسَانِ يُشَاهِدُ إِذَا لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ مَعْصِيَةٌ وَلَمْ يَكُنْ هُنَاكَ مُشَاهَدَةٌ لِمُحَرَّمٍ

Sedangkan seseorang yang menonton sesuatu, jika tidak terdapat maksiat di dalamnya dan itu bukan tontonan yang haram

مِنْ كَشْفِ عَوْرَاتٍ أَوْ غَيْرِهَا هَذَا عَلَى الْإِبَاحَةِ

seperti menyingkap aurat dan lain sebagainya maka hukum asalnya BOLEH.

لَكِنَّهُ تَفْوِيتٌ لِوَقْتِ الْإِنْسَانِ

Namun itu semua MENYIA-NYIAKAN WAKTU yang dimiliki seseorang…

الَّذِي هُوَ قِيمَتُهُ الْحَقِيقِيَّةُ وَالَّذِي هُوَ رَأْسُ مَالِهِ

yang merupakan hakikat kualitas dirinya dan modal utama yang dia miliki…

وَالَّذِي يَتَمَكَّنُ بِهِ مِنْ أَنْ يَسْتَفِيدَ مِنْهُ فِي دُنْيَاهُ وَآخِرَتِهِ

serta wasilah yang bisa dia gunakan untuk mendatangkan manfaat bagi dunia dan akhiratnya.

نَعَمْ
أَحْسَنَ الله إِلَيْكُمْ
Demikian…
Semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Anda.

Waktu Lebih Mahal daripada Emas – Syaikh Bin Baz #NasehatUlama

Waktu Lebih Mahal daripada Emas – Syaikh Bin Baz #NasehatUlama

يَقُولُ بَعْضُ النَّاسِ
Sebagian orang berkata,

إِنَّ الْوَقْتَ مِنَ الذَّهَبِ
“Waktu adalah emas.”

وَلَكِنَّ الْحَقِيقَةَ إِنَّهُ أَعَزُّ مِنَ الذَّهَبِ
Namun pada hakikatnya, waktu lebih berharga daripada emas.

فَالذَّهَبُ قَدْ يُسْتَغْنَى عَنْهُ
Karena emas mungkin saja tidak dibutuhkan,

وَلَكِنَّ الْوَقْتَ لَا يُسْتَغْنَى عَنْهُ
namun waktu selalu dibutuhkan.

بَلْ هُوَ السَّبِيلُ وَالطَّرِيقُ
Bahkan ia adalah jalan…

إِلَى كُلِّ مَا يُرْضِي اللهَ وَيُقَرِّبُ لَدَيْهِ
menuju segala yang dapat mendatangkan keridhaan Allah dan mendekatkan kepada-Nya.

وَهُو ظَرْفٌ لَكَ فِيهِ يَا عَبْدَ اللهِ مَا جَعَلْتَ فِيهِ
Ia adalah ruang bagimu -wahai hamba Allah- untuk kamu tempatkan padanya…

مِنْ خَيْرٍ وَشَرٍّ
kebaikan dan keburukan.

فَجَدِيْرٌ بِكَ
Maka selayaknya bagimu

أَنْ تُنَظِّفَ هَذَا الظَّرْفَ
untuk membersihkan ruangan itu

وَأَلَّا تَخْزِنَ فِيهِ إِلَّا مَا يَنْفَعُكَ
dan tidak menyimpan sesuatu di dalamnya kecuali yang bermanfaat bagimu.

فَاللَّيْلُ وَالنَّهَارُ مَطِيَّتَانِ
Siang dan malam adalah dua kendaraan

وَخِزَانَتَانِ
dan dua tempat penyimpanan.

يُخْزَنُ فِيهِمَا الْخَيْرُ وَالشَّرُّ
Di dalamnya tersimpan kebaikan dan keburukan.

وَيُوْصِلَانِ الْعَبْدَ إِلَى النِّهَايَةِ
Dan siang dan malam itu mengantarkan seorang hamba kepada akhir hidup.

فَجَدِيرٌ بِهِ
Maka seorang hamba sudah seharusnya

أَنْ يَصُوْنَهُمَا وَأَنْ يَحْفَظَهُمَا
untuk menjaga dan memelihara keduanya.

وَأَنْ لَا يَخْزِنَ فِيهِمَا إِلَّا مَا يَنْفَعُهُ
serta tidak menyimpan di dalam siang dan malam itu, kecuali apa yang bermanfaat baginya…

مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ
baik itu berupa perkataan atau perbuatan.

Dua Dzikir Setelah Shalat Fardhu yang Digabung – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Dua Dzikir Setelah Shalat Fardhu yang Digabung – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ
-ahsanallahu ilaikum-

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ
“Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu,

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ
lahul mulku walahul hamdu, wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir.

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
Laa haula walaa quwwata illaa billaah

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ
Laa ilaaha illallaahu walaa na’budu illaa iyyaahu

لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ
Lahun ni’matu walahul fadhlu walahuts tsanaa’ul hasan

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Laa ilaaha illallaahu mukhlishiina lahud diina walau karihal kaafiruun.”

يَقُولُه مَرَّةً وَاحِدَةً
Dibaca sebanyak satu kali.

هَذَا هُوَ النَّوْعُ الرَّابِعُ مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ دُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْمَفْرُوضَةِ
Ini adalah zikir keempat yang dibaca setelah shalat wajib lima waktu.

وَهُوَ قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ
Yaitu dengan mengucapkan, “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu,…

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ
lahul mulku walahul hamdu, wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir…

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ … إِلَى تَمَامِ هَذَا الذِّكْرِ
Laa haula walaa quwwata illaa billaah… dan seterusnya.

فِيمَا رَوَاهُ مُسْلمٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الزُّبَيْرِ الْمَكِّيِّ
Hal ini berdasarkan riwayat Imam Muslim dari riwayat Abu az-Zubair al-Makkiy,

قَالَ كَانَ عَبْدُ أَنَّهُ قَالَ كَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ الزُّبَيْرِ
ia berkata, “Dahulu apabila Abdullah bin az-Zubair…

رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِذَا سَلَّمَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ
-radhiyallahu ‘anhu- telah melakukan salam di akhir shalatnya, ia lalu membaca:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ … حَتَّى ذَكَرَهُ
‘Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu…dan seterusnya.’”

ثُمَّ قَالَ
Kemudian ia berkata,

وَكَانَ يَذْكُرُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Ia menyebutkan bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

يُهَلِّلُ بِهِنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ
senantiasa bertahlil dengan zikir itu setiap selesai shalat.”

أَيْ أَنَّهُ كَانَ يَأْتِي بِهَذِهِ التَّهْلِيْلَةِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ
Yakni beliau membaca tahlil itu setelah mendirikan shalat fardhu.

وَوَقَعَ فِي تَصَانِيفِ جَمَاعَةٍ مِنَ الْمُصَنِّفِيْنَ فِي
Dan dalam banyak kitab dari beberapa penulis yang menulis tentang…

الْأَذْكَارِ عُمُوْمًا أَوْ فِي أَذْكَارِ الصَّلَاةِ خُصُوْصًا
kitab-kitab zikir secara umum, atau kitab-kitab zikir shalat secara khusus,

اِقْتِصَارُهُمْ فِي هَذَا الذِّكْرِ عَلَى جُمْلَةِ
zikir ini hanya disebutkan dari kalimat:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
“Laa haula walaa quwwata illaa billaah,

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ إِلَى آخِرِهِ
Laa ilaaha illallaahu… dan seterusnya.

وَلَمْ يَذْكُرُوا الْجُمْلَةَ الْأُولَى
Dan mereka tidak menyebutkan kalimat pertamanya.

فَهُم يَذْكُرُونَ الذِّكْرَ الثَّالِثَ
Mereka menyebutkan zikir ketiga yang dibaca setelah shalat:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شيءٍ قَدِيرٌ
“Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir.

اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ إِلَى تَمَامِهِ
Allaahumma laa maani’a limaa a’thoita walaa mu’thiya limaa mana’ta… dan seterusnya.

ثُمّ يَذْكُرُونَ الرَّابِعَ مُبْتَدِأً بِـ
Kemudian mereka menyebutkan zikir yang keempat, dimulai dari kalimat:

لَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
“Laa haula walaa quwwata illaa billaah… dst.”

مَا الْحَامِلُ لَهُمْ عَلَى ذَلِكَ؟
Apa yang mendasari mereka untuk melakukan ini?

هَا يَا بَدْرُ
Iya, hai Badar?

هَذَا جَوَابُ الْمُحَدِّثِيْنَ
Itu jawaban para ahli hadits.

وَنَحْنُ الْآنَ فِي صِنَاعَةِ فُقَهَاء
Dan kita sekarang membahas metode para ahli fiqih.

نُرِيْدُ جَوَابَ الْفُقَهَاءِ
Kita butuh jawaban ahli fiqih.

أَحْسَنْتَ
Benar.

أَنَّ هَذَا مِنْ بَابِ تَدَاخُلِ الْعِبَادَاتِ
Hal ini termasuk dalam ‘penggabungan antar ibadah’.

وَهَذَا يَتَصَرَّفُ فِيهِ الْفُقَهَاءُ فِي مَوَاضِعَ عِدَّةٍ
Dan ini dilakukan oleh para ahli fiqih dalam banyak perkara.

أَنَّ هَذَا مِنْ تَدَاخُلِ الْعِبَادَاتِ
Jadi hal ini termasuk dalam ‘penggabungan antar ibadah’.

فَالْجُمْلَةُ الْأُولَى لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ
Kalimat pertama pada zikir, “Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariikalahu,

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شيءٍ قَدِيرٌ
lahul mulku walahul hamdu, wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir.”

يَرَوْنَ أَنَّهَا تَكُونُ صَدْرًا لِلْأَوَّلِ وَصَدْرًا لِلثَّالِثِ وَصَدْرًا لِلرَّابِعِ
Mereka memandangnya sebagai permulaan pada zikir yang pertama, ketiga, dan keempat,

فَيَكْفِي الْإِتْيَانُ بِهَا مَرَّةً وَاحِدَةً
sehingga cukup dibaca sekali saja.

فَيَقْتَصِرُوْنَ مِنَ الذِّكْرِ الرَّابِعِ عَلَى مَا زَادَ عَلَيْهِ
Oleh sebab itu, pada zikir keempat mereka cukup menyebutkan kalimat setelahnya saja.

فَيَقْتَصِرُوْنَ مِنَ الذِّكْرِ الرَّابِعِ عَلَى مَا زَادَ عَلَيْهِ
Maka pada zikir keempat, mereka cukup menyebutkan kalimat setelahnya saja.

فَهِمْتُمْ وَجْهَهُ؟
Kalian paham perkara ini?

أَنَّ هَذَا مِنْ تَدَاخُلِ الْعِبَادَاتِ
Ini termasuk dalam perkara ‘penggabungan antar ibadah’,

فَيُكْتَفَى بِوَاحِدٍ عَنِ اثْنَيْنِ
maka cukup melakukan satu saja, dari dua ibadah yang sama.

وَهَذَا مِنْ تَصَرُّفِ الْفُقَهَاءِ فِي مَوَاضِعَ كَثِيرَةٍ مِنَ الْعِبَادَاتِ
Dan perkara ini telah dilakukan para ahli fiqih dalam banyak perkara ibadah.

فَيَكُوْنُ صَحِيْحًا بِاعْتِبَارِ التَّصَرُّفِ الْفِقْهِيِّ
Maka hal ini adalah sesuatu yang sah dari sisi pengamalan fiqih.

فَهُوَ مَا مَرْتَبَتُهُ الْحُكْمِيَّةُ ؟
Sehingga apa tingkat hukumnya?

أَيْش مَرْتَبَتُهُ الْحُكْمِيَّةُ ؟
Apa tingkat hukumnya?

جَائِزَةٌ أَحْسَنْتَ
Boleh, Benar.

مَرْتَبَتُهُ الحُكُومِيَّةُ جَائِزَةٌ
Hukumnya, boleh.

لَكِنَّ السُّنَّةَ ؟
Akan tetapi, sunnahnya seperti apa?

الْإِتْيَانُ بِالذِّكْرَيْنِ التَّامَّيْنِ
Sunnahnya, membaca dua zikir itu sepenuhnya.

لَكِنَّ السُّنَّةَ الْإِتْيَانُ بِالذِّكْرَيْنِ التَّامَّيْنِ
Akan tetapi, hukum sunnahnya adalah membaca dua zikir itu seluruhnya.

فَهُوَ بِاعْتِبَارِ بَابِ الْجَوَازِ جَائِزٌ
Perkara ini boleh dilakukan jika dilihat dari sisi kebolehannya.

وَأَمَّا بِاعْتِبَارِ بَابِ الِاتِّبَاعِ لِلسُّنَّةِ
Namun dari sisi pengamalan sunnahnya,

فَالْأَكْمَلُ أَنْ يَأْتِيَ الْعَبْدُ
maka lebih utama bagi seorang hamba..

بِالسُّنَّةِ كَامِلَةً
membaca seluruhnya sesuai sunnah.

وَهَذَا الْمَوْرِدُ الْفِقْهِيُّ يُبَيِّنُ لَكَ الْفَرْقَ
Dan fenomena fiqih ini menjelaskan kepadamu perbedaan

بَيْنَ فِقْهِ الظَّاهِرِ مِنَ الْمُشْتَغِلِ بِالْحَدِيْثِ
antara fiqih zhahir yang dijalankan ahli hadits

وَبَيْنَ فِقْهِ الْفَقِيهِ
dan fiqih yang dijalankan ahli fiqih,…

الَّذِي هُوَ عَلَى طَرِيقَةِ أَهْلِ الْحَدِيثِ الْأَوَائِلِ
yang merupakan metode ahli hadits terdahulu,

كَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ
seperti Imam Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad.

بِأَنَّ تَصَرُّفَ مَنْ تَصَرَّفَ مِنَ الْفُقَهَاءِ
Dan yang dilakukan para ahli fiqih ini…

مَبْنِيٌّ عَلَى أَصْلٍ عَظِيْمٍ فِي الشَّرِيعَةِ
berdasarkan kaidah agung dalam syariat,

وَهُوَ تَدَاخُلُ الْعِبَادَاتِ
yaitu ‘penggabungan antar ibadah’.

وَهُوَ مِنْ بَابِ الْجَائِزِ
Dan ini adalah perkara yang boleh.

وَأَمَّا السُّنَّةُ فَالْإِتْيَانُ بِهِمَا التَّامَّيْنِ
Sedangkan sunnahnya adalah dengan melakukan keduanya secara sempurna.

فَمَنْ يَزْعُمُ أَنَّ هَذَا مِنَ الْبِدَعِ
Sehingga jika ada yang mengatakan ini adalah perkara bid’ah,

هَذَا قَولٌ بَاطِلٌ
maka itu adalah perkataan batil,

لِأَنَّهُ لَمْ يَقُلْ بِهِ أَحَدٌ قَبْلَهُ
karena tidak ada ulama terdahulu mengatakan itu.

وَهُوَ مَبْنِيٌّ عَلَى أَصْلٍ فِقْهِيٍّ
Dan perkara ini berdasarkan kaidah fiqih,

وَهُو تَدَاخُلُ الْعِبَادَاتِ
yaitu ‘penggabungan antar ibadah’,

وَالْعِبَادَاتُ قَدْ تَتَدَاخَلُ
karena beberapa ibadah terkadang serupa,

فَيُتْرَكُ شَيْءٌ مِنْهَا لِشَيْءٍ اِسْتِغْنَاءً بِهِ
sehingga yang satu ditinggalkan dan cukup melaksanakan yang satu lagi,

دُونَ حَاجَةٍ إِلَى تَكْرَارِ ذِكْرِهِ
tanpa harus mengulangi ibadah yang serupa.

لَكِنَّ السُّنَّةَ أَنْ تَأْتِيَ بِالذِّكْرَيْنِ التَّامَّيْنِ
Namun sunnahnya adalah dengan membaca dua zikir ini secara sempurna.

وَمَنِ اتَّسَعَ عِلْمُهُ عَظُمَ عُذْرُهُ
Dan barangsiapa yang luas ilmunya, maka akan mudah memaklumi.

الَّذِيْ يَتَّسِعُ عِلْمُهُ يَعْظُمُ عُذْرُهُ لِلنَّاسِ
Orang yang luas ilmunya, akan mudah memaklumi orang lain,

يَجِدُ أَنَّ هَذِهِ الْأَقْوَالَ لَهَا مَآخِذُ مُعْتَدٌّ بِهَا فِي الشَّرِيعَةِ
karena ia tahu pendapat-pendapat itu memiliki landasan yang diakui dalam syariat…

فَلَا يُبَادِرُ بِتَجْهِيْلِهَا أَوْ إِضْعَافِهَا أَوْ تَوْهِيْنِهَا
Sehingga ia tidak terburu-buru mengingkari dan melemahkan pendapat itu.

لَكِنْ يَحْمِلُهَا عَلَى مَأْخَذٍ
Namun ia merujuknya kepada sumbernya.

ثُمَّ يُبَيِّنُ أَنَّ السُّنَّةَ هِيَ كَذَا وَكَذَا
Kemudian menjelaskan bahwa sunnahnya adalah seperti ini dan itu.

Dua Dzikir Khusus Setelah 2 Shalat Sunnah (Witir dan Dhuha) – Syaikh Shalih al-Ushoimi

Dua Dzikir Khusus Setelah 2 Shalat Sunnah (Witir dan Dhuha) – Syaikh Shalih al-Ushoimi

أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ
– Ahsanallahu ilaikum-

وَالنَّوْعُ الثَّانِي الْأَذْكَارُ الَّتِي تُقَالُ
Jenis kedua adalah zikir yang dibaca…

دُبُرَ الصَّلَوَاتِ النَّوَافِلِ
setelah shalat-shalat sunnah.

هَذَا هُوَ النَّوْعُ الثَّانِي مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ
Inilah jenis kedua dari zikir yang dibaca setelah shalat,

وَهُوَ الْأَذْكَارُ الَّتِي تُقَالُ دُبُرَ الصَّلَاةِ دُبُرَ الصَّلَوَاتِ النَّوَافِلِ
yaitu zikir yang dibaca setelah shalat-shalat sunnah.

وَالْمُرَادُ بِالدُّبُرِ هُنَا الْإِتْيَانُ بِهَا بَعْدَ السَّلَامِ
Dan yang dimaksud dengan kata “dubur” (الدُّبُرُ) yakni membacanya setelah salam.

لِأَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا سَلَّمَ مِنْ نَافِلَةٍ
Karena seseorang jika telah salam dari shalat sunnah,

جَاءَ بِهَا نَعَمْ
maka hendaklah ia membacanya. Demikian.

وَهُمَا ذِكْرَانِ
Dan terdapat dua zikir pada jenis ini.

ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ
Penulis -waffaqahullah- menyebutkan

أَنَّ هَذِهِ الْأَذْكَارَ الَّتِي تُقَالُ بَعْدَ السَّلَامِ مِنَ الصَّلَاةِ الْمُتَنَفَّلِ بِهَا نَوْعَانِ
bahwa zikir-zikir yang dibaca setelah shalat sunnah ada dua zikir.

وَمَا عَدَاهُمَا فَهُو مَتْرُوْكٌ
Sedangkan selain dua zikir itu, maka tidak dibaca saat itu.

إِمَّا لِعَدَمِ ثُبُوتِهِ رِوَايَةً
Baik itu karena zikir tersebut tidak shahih riwayatnya,

وَإِمَّا لِعَدَمِ ثُبُوتِهِ دِرَايَةً
atau karena zikir itu tidak shahih secara dirayahnya.

كَدُعَاءِ صَلَاةِ الِاسْتِخَارَةِ
Seperti doa Shalat Istikharah…

فَدُعَاءُ صَلَاةِ الِاسْتِخَارَةِ لَمْ يَعُدَّهُ الْمُصَنِّفُ وَتَرَكَهُ
penulis tidak menyebutkan doa istikharah sebagai zikir dalam jenis ini.

لِمَاذَا؟
Mengapa?

أَحْسَنْتَ
Kamu benar!

لِأَنَّهُ مِنَ الصَّلَاةِ نَفْسِهَا
Karena doa Shalat Istikharah masih termasuk zikir dalam shalat,

وَلَيْسَ ذِكْرًا خَارِجًا عَنْهُ
Bukan zikir yang dibaca di luar shalat.

فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ
“Jika seorang dari kalian bertekad terhadap sesuatu…

فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ
maka hendaklah ia shalat dua rakaat…

ثُمَّ لِيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ
kemudian membaca, “Allahumma innii astakhiiruka bi’ilmika…dst.”

فَدُعَاءُ الِاسْتِخَارَةِ مِنْ جُمْلَةِ صَلَاتِهَا
Sehingga doa istikharah termasuk bacaan dalam shalat itu.

فَلَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ
Seandainya seseorang shalat dua rakaat,

وَدَعَا لَمْ يَكُنْ مُسْتَخِيرًا
lalu setelahnya ia membaca doa itu, maka ia tidak dianggap melakukan Shalat Istikharah.

لَمْ يَكُنْ مُسْتَخِيْرًا فَهُوَ لَا يَدْخُلُ فِي هَذَا الْبَابِ . نَعَم
Ia dianggap tidak melakukan Shalat Istikharah, dan tidak termasuk dalam hadits tersebut. Demikian.

أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ
-Ahsanallahu ilaikum-

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ يَقُولُه ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
(Subhaanal malikil qudduus) dibaca sebanyak tiga kali…

وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالثَّالِثَةِ بَعْدَ صَلَاةِ الْوِتْرِ
Dan mengeraskan suara pada bacaan ketiga, setiap selesai Shalat Witir.

هَذَا هُوَ النَّوْعُ الْأَوَّلُ مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ فِي دُبُرِ الصَّلَوَاتِ النَّوَافِلِ
Inilah zikir pertama yang dibaca setelah shalat sunnah,

وَهُوَ مَا يُقَالُ بَعْدَ صَلَاةِ الْوِتْرِ
yaitu zikir yang dibaca setelah Shalat Witir:

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
(Subhaanal malikil qudduus)
dibaca sebanyak tiga kali.

وَتَرْفَعُ صَوْتَكَ بِالثَّالِثَةِ
Dan mengeraskan suara pada bacaan ketiga.

لِمَا رَوَاهُ النَّسَائِيُّ
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan an-Nasa’i…

مِنْ حَدِيثِ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
dari riwayat Ubay bin Ka’ab -radhiyallahu ‘anhu-…

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنْ وِتْرِهِ قَالَ عِنْدَ فَرَاغِهِ
“Bahwa jika Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- selesai Shalat Witir, beliau membaca…

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
(Subhaanal malikil qudduus) sebanyak tiga kali.

يَرْفَعُ صَوْتَهُ فِي الثَّالِثَةِ
Dan mengeraskan suara pada bacaan ketiga.”

وَفِي لَفْظٍ يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ
Dan dalam riwayat lain “Memanjangkan suaranya pada bacaan ketiga.”

وَهُمَا بِمَعْنًى وَاحِدٍ
Namun keduanya memiliki makna yang sama.

فَيَقُولُ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
Yakni mengucapkan seperti ini, “Subhaanal malikil qudduus,…

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
Subhaanal malikil qudduus, Subhaaanal malikil qudduus (bacaan ketiga ini lebih keras).”

وَرَوَى الدَّارُقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُ
Dan Imam ad-Daruquthni dan lainnya meriwayatkan…

زِيَادَةَ رَبُّ الْمَلائِكَةِ وَالرُّوحِ
lafazh tambahan, (Robbul malaa-ikati war ruuh),

وَهِيَ زِيَادَةٌ لَا تَصِحُّ
namun lafazh tambahan ini riwayatnya tidak shahih.

فَالثَّابِتُ الِاخْتِصَارُ عَلَى قَوْلِ
Yang shahih adalah cukup dengan membaca,…

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
(Subhaanal malikil qudduus) sebanyak tiga kali.

إِذَا فَرَغَ مِنْ وِتْرِهِ مُسَلِّمًا جَاءَ بِهَذَا الذِّكْرِ . نَعَمْ
Jika beliau selesai salam pada Shalat Witir, beliau membaca zikir ini. Demikian.

أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ
-Ahsanallahu ilaikum-

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُوْرُ
(Allaahummaghfir lii, wa tub ‘alaiyya innaka antat tawwaabul ghofuur)

يَقُولُهُ مِائَةَ مَرَّةٍ بَعْدَ صَلَاةِ الضُّحَى
Dibaca sebanyak 100 kali setelah Shalat Dhuha.

وَكَتَبَهُ صَالِحُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ حَمَدٍ الْعُصَيْمِيُّ
Risalah ini ditulis oleh Shalih bin Abdullah bin Hamad al-‘Ushaimi.

غَفَرَ اللهُ لَهُ وَلِوَالِدَيْهِ
Semoga Allah mengampuni beliau, orangtua beliau,…

وَلِمَشَايِخِه وَلِلْمُسْلِمِين
para guru beliau, dan seluruh umat muslim.

عَصْرَ الْجُمُعَةِ الرَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ سَنَةَ 1433 هـ
Selesai ditulis pada waktu ashar di hari Jum’at 24 Dzulhijjah 1433 H.

هَذَا هُوَ النَّوْعُ الثَّانِي مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ دُبُرَ الصَّلَوَاتِ النَّوَافِلِ
Ini merupakan zikir kedua yang dapat dibaca setelah shalat sunnah,

وَهُوَ مَا يُقَالُ بَعْدَ صَلَاةِ الضُّحَى
yaitu zikir yang dibaca setelah Shalat Dhuha.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُوْرُ
(Allaahummaghfir lii, wa tub ‘alaiyya innaka antat tawwaabul ghofuur)

يَقُولُهُ مِائَةَ مَرَّةٍ
Dibaca sebanyak 100 kali.

لِمَا رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى
Berdasarkan riwayat Imam an-Nasa’i dalam kitab as-Sunan al-Kubra.

مِنْ حَدِيثِ رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ
Dari riwayat seorang kaum Anshar,

أَنَّهُ مَرَّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي الضُّحَى
bahwa ia pernah berjalan melalui Nabi -shallalahu ‘alaihi wa sallam- saat beliau Shalat Dhuha,

فَسَمِعَهُ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
lalu itu ia mendengar beliau membaca, “Allaahummaghfir lii…

وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُوْرُ
wa tub ‘alaiyya innaka antat tawwabul ghofuur.”

حَتَّى عَدَدْتُ مِئَةَ مَرَّةٍ
Ia berkata, aku menghitung beliau membacanya hingga 100 kali.

وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ
Hadits ini memiliki sanad yang shahih.

وَاخْتُلِفَ فِي لَفْظِهِ وَمَتْنِهِ عَلَى وُجُوْهٍ وَهَذَا أَحْسَنُهَا
Lafazh matan hadits ini berbeda-beda, namun inilah yang paling baik.

وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي
Para ulama berbeda pendapat dalam…

عَدِّهِ ذِكْرًا مِنْ أَذْكَارِ الصَّلَوَاتِ عَلَى قَوْلَيْنِ
menetapkan zikir ini sebagai zikir yang dibaca setelah shalat; menjadi dua pendapat.

اِخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي عَدِّهِ ذِكرًا مِنْ أَذْكَارِ الصَّلَوَاتِ عَلَى قَوْلَيْنِ
Pendapat mereka terbagi menjadi dua dalam menetapkannya sebagai zikir setelah shalat.

أَحَدُهُمَا أَنَّهُ ذِكْرٌ مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ
Pendapat pertama:
Pendapat bahwa ia adalah zikir yang dibaca…

بَعْدَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ
setelah shalat fardhu.

أَنَّه ذِكْرٌ مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَةِ
Zikir ini adalah zikir yang dibaca setelah shalat fardhu.

وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ وَالنَّسَائِيِّ
Dan ini pendapat Ibnu Abi Syaibah dan an-Nasa’i.

وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ وَالنَّسَائِيِّ
Ini adalah pendapat Ibnu Abi Syaibah dan an-Nasa’i.

وَالْآخَرُ
Dan pendapat kedua:…

أَنَّهُ يُقَالُ بَعْدَ صَلَاةِ الضُّحَى
Pendapat bahwa ia merupakan zikir yang dibaca setelah Shalat Dhuha.

أَنَّهُ يُقَالُ بَعْدَ صَلَاةِ الضُّحَى
Zikir ini adalah zikir yang dibaca setelah Shalat Dhuha.

وَهُوَ قَوْلُ أَبِي بَكْرٍ الْبَيْهَقِيِّ
Dan ini pendapat Abu Bakar al-Baihaqi.

وَهُوَ قَوْلُ أَبِي بَكْرٍ الْبَيْهَقِيِّ
Ini adalah pendapat Abu Bakar al-Baihaqi.

وَالْأَظْهَرُ وَاللهُ أَعْلَمُ
Dan pendapat yang lebih kuat adalah, -wallahu a’lam-…

أَنَّ الثَّانِيَ أَرْجَحُ مِنَ الْأَوَّلِ
Pendapat kedua lebih kuat daripada pendapat pertama.

وَأَنَّهُ مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ بَعْدَ صَلَاةِ الضُّحَى
Yakni zikir ini merupakan zikir yang dibaca setelah Shalat Dhuha.

مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ بَعْدَ صَلَاةِ الضُّحَى
Termasuk zikir yang dibaca setelah Shalat Dhuha.

الصَّلَوَاتُ النَّوَافِلُ الَّتِي لَهَا ذِكْرٌ
Shalat sunnah yang memiliki zikir khusus setelahnya…

هُمَا الْوِتْرُ وَالضُّحَى فَقَط
adalah Shalat Witir dan Shalat Dhuha saja.

وَمَا عَدَاهُمَا فَلَا ذِكْرَ لَهُمْ
Sedangkan setelah shalat sunnah lainnya tidak terdapat zikir khusus.

فَإِذَا صَلَّى الْإِنْسَانُ رَاتِبَةَ الْفَجْرِ
Sehingga jika seseorang selesai shalat sunnah rawatib sebelum subuh,..

فَلَا يَقُولُ بَعْدَ ذَلِكَ
maka ia tidak perlu membaca…

أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
“Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah.”

لِمَاذَا؟ لِيش مَا يَقُولُهَا؟
Mengapa? Mengapa tidak perlu membacanya?

أَحْسَنْتَ
Kamu benar!

لِاخْتِصَاصِ هَذَا الذِّكْرِ بِالصَّلَاةِ الْمَفْرُوضَةِ
Karena zikir ini (istighfar 3 kali), khusus dibaca setelah shalat fardhu.

وَلَمْ يُنْقَلْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِهِ
Tidak ada riwayat dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, tidak pula dari salah satu sahabat beliau…

أَنَّهُمْ كَانُوا يَقُولُونَهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ النَّفْلِ
Bahwa mereka membaca zikir ini (istighfar 3 kali), setelah shalat sunnah.