3 Rukun Syukur yang Wajib Ka3 Rukun Syukur yang Wajib Kamu Tahu dan Amalkan – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlamamu Tahu dan Amalkan – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama

3 Rukun Syukur yang Wajib Kamu Tahu dan Amalkan – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama

الشُّكْرُ يَا عِبَادَ اللهِ لَيْسَ هُوَ بِاللِّسَانِ فَقَطْ الشُّكْرُ لَهُ أَرْكَانٌ ثَلَاثَةٌ لَا بُدَّ أَنْ تَتَحَقَّقَ جَمِيعًا

Wahai hamba Allah, syukur itu tidak sekedar dengan lisan saja, syukur memiliki 3 rukun yang harus dilakukan semuanya,

فَإِذَا فُقِدَ…فُقِدَ وَاحِدٌ مِنْهَا لَمْ يَحْصُلِ الشُّكْرُ

sehingga apabila tidak ada atau hilang salah satunya maka syukur tidak bisa terwujud.

الْأَرْكَانُ الثَّلَاثَةُ الْأَوَّلُ التَّحَدُّثُ بِاللِّسَانِ التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ بِاللِّسَانِ وَذِكْرُ النِّعْمَةِ

Tiga rukun syukur itu.
PERTAMA:
Mengucapkan dengan lisan, mengabarkan nikmat Allah dengan lisannya, menyebut-nyebut nikmat tersebut

لِأَجْلِ الْقِيَامِ بِشُكْرِهَا قَالَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا لِنَبِيِّهِ
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
الضُّحَى الْآيَةُ 11

dengan niat untuk mengungkapkan syukur atas nikmat tersebut. Allah jalla wa ‘ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu nyatakan (dengan bersyukur)” (QS. Ad-Duha: 11)

لَمَّا ذَكَرَ عَدَّدَ نِعَمَهُ عَلَيْهِ

Ketika Allah memberi tahu dan menyebutkan nikmat-nikmat-Nya kepada Nabi-Nya,

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى

“Bukankah Allah mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. …

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
الضُّحَى الْآيَةُ 6 – 11

Maka terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu nyatakan (dengan bersyukur)” (QS. Ad-Duha: 6-11)

اذْكُرْ نِعْمَةَ اللهِ

Sebut-sebutlah nikmat Allah!

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ
الْبَقَرَةُ – الْآيَةُ 40

“Hai Bani Israil, sebutlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu. …” (QS. Al-Baqarah: 40)

فَلَا تُضِفِ النِّعْمَةَ إِلَى غَيْرِ اللهِ لَا تُضِفْهَا إِلَى نَفْسِكَ وَلَا إِلَى أَحَدٍ بَلِ اللهُ هُوَ الْمُتَفَرِّدُ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ الَّتِي وَصَلَتْ إِلَيْكَ فَاشْكُرْهَا

Jangan sandarkan kenikmatan kepada selain Allah, jangan menyandarkannya kepada diri Anda sendiri, jangan pula kepada siapapun! Namun hanya Allah saja yang memberikan semua kenikmatan yang telah sampai kepada Anda, maka syukurilah!

أَوَّلًا يَتَحَدَّثُ بِهَا بِلِسَانِهِ وَاذْكُرْهَا بِاللِّسَانِ وَلَا تَقُلْ هَذِهِ مِنْ فُلَانٍ وَعَلَّانٍ بَلْ قُلْ هِيَ مِنَ اللهِ

Pertama, hendaknya seseorang mengabarkannya dengan lisannya, sebutlah dengan lisan Anda! Dan jangan mengatakan bahwa nikmat ini adalah adalah dari si A atau si B tapi katakan bahwa ini dari Allah.

الرُّكْنُ الثَّانِي الْاِعْتِرَافُ بِهَا بَاطِنًا فِي قَلْبِهِ

KEDUA:
Rukun syukur yang kedua adalah mengakui nikmat tersebut secara batin, dari dalam hatinya.

لِأَنَّ هُنَاكَ مَنْ يَذْكُرُ النِّعْمَةَ وَيَحْمَدُ اللهَ بِلسَانِهِ لَكِنَّهُ لَا يَعْتَرِفُ أَنَّهَا مِنَ اللهِ بَلْ يَرَى أَنَّهَا بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ وَجُهْدِهِ وَكَدِّهِ وَعَمَلِهِ وَحِذْقِهِ

Karena ada orang yang menyebut-nyebut nikmat Allah dan memuji Allah dengan lisannya akan tetapi dia tidak mengakui bahwa nikmat itu dari Allah bahkan dia menganggap bahwa itu karena usahanya, kekuatannya, ketekunannya, kesungguhannya, pekerjaannya dan kecerdasannya.

كَمَا قَالَ قَارُونُ لَمَّا ذَكَّرَهُ قَوْمُهُ قَارُونُ آتَاهُ اللهُ آتَاهُ اللهُ مِنَ الْخَزَائِنِ وَالْأَمْوَالِ الشَّيْءَ الْعَظِيمَ الشَّيْءَ الْعَظِيمَ

Sebagaimana perkataan Qarun ketika kaumnya menegurnya, Qarun telah dikaruniai Allah, diberi oleh Allah perbendaharaan berupa harta yang banyak jumlahnya, banyak sekali.

وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ
الْقَصَصُ – الْآيَةُ 76

“Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.” (QS. Al-Qasash: 76)

الْجَمَاعَةُ مَا يَحْمِلُونَ الْمَفَاتِيحَ مَفَاتِيحَ الْخَزَائِنِ مِنْ كَثْرَتِهَا

Sekumpulan orang tidak mampu membawa kunci-kuncinya, karena banyaknya kunci perbendaraannya.

إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ
الْقَصَصُ – الْآيَةُ 76
يَعْنِي فَرَحَ الْأَشَرِ وَالْبَطَرِ التَّكَبُّرُ

Ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga, …” (Al-Qasash: 76)
Maksudnya bangga karena sombong, congkak dan takabur.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
الْقَصَصُ – الْآيَةُ 76

“… Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (Al-Qasash: 76)

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…”

وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
الْقَصَصُ – الْآيَةُ 77

“… dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasash: 77)

مَاذَا كَانَ جَوَابُ هَذَا الْمِسْكِينِ ؟

Apa jawaban orang bodoh (Qarun) ini?

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي
الْقَصَصُ – الْآيَةُ 78

Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qasash: 78)

لَيْسَ لِلهِ فَضْلٌ فِي ذَلِكَ أَنَا حَصَّلْتُهُ بِكَدِّي وَكَسْبِي وَخِبْرَتِي لِلصَّنَائِعِ وَخِبْرَتِي لِلتِّجَارَةِ مَا قَالَ هَذَا مِنَ اللهِ

Allah tidak punya andil dalam hal itu, aku mendapatkannya karena kerja kerasku, pekerjaanku, pengalamanku dalam membuat barang, pengalamanku dalam berdagang, dan Qarun tidak berkata bahwa ini adalah dari Allah.

قَالَ هَذَا أَوْ أَنَا مُسْتَحِقٌّ لَهُ عِنْدَ اللهِ مَا هُوَ فَضْلٌ مِنَ اللهِ أَنَا مُسْتَحِقٌّ عَلَى اللهِ هَذَا هَذَا حَقِّي

Qarun berkata, “Aku pantas mendapatkannya di sisi Allah dan ini bukan karena karunia dari Allah, aku berhak mendapatkannya, bukan karena Allah, ini adalah hakku.”

كَمَا يَقُولُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ هَذِهِ حُقُوقُنَا وَهَذَا حَقُّنَا مَا يَقُولُ هَذَا فَضْلٌ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَنٌّ مِنَ اللهِ

Sebagaimana ucapan banyak orang, “Ini adalah hak kami, kami berhak mendapatkanya.” Mereka tidak berkata, “Ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala, ini adalah pemberian dari Allah.”

فَيَحْمَدُ اللهَ عَلَى ذَلِكَ وَيَنْظُرُ إِلَى مَنْ حَوْلَهُ مِنَ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ

Semestinya dia memuji Allah atas karunia tersebut dan memperhatikan fakir miskin di sekitarnya.

بَلْ يَنْسِبُ هَذَا إِلَى كَدِّهِ وَكَسْبِهِ وَحِيَلِهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ وَظِيفَتِهِ خِبْرَتِهِ شَهَادَاتِهِ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ لَا هَذَا مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Namun dia justru menganggap nikmat ini karena kerja kerasnya, upayanya, usahanya dan lain sebagainya, pekerjaannya, pengalamannya, ijazah-ijazahnya dan seterusnya. Tidak! Ini semua dari Allah ‘azza wa jalla.

وَإِلَّا غَيْرُكَ قَدْ يَكُونُ غَيْرُكَ أَحْذَقَ مِنْكَ وَأَعْرَفَ مِنْكَ

Karena selain Andapun, selain Anda ada yang lebih pandai dari Anda, lebih pintar dari Anda,

وَلَكِنَّ اللهَ اِبْتَلَاكَ اِمْتَحَنَكَ بِهَذَا الْمَالِ وَهَذِهِ النِّعْمَةِ فَاشْكُرِ اللهَ عَلَيْهَا

namun Allah hanya ingin menguji Anda dengan harta dan kenikmatan ini, maka bersyukurlah kepada Allah atas nikmat ini!

الْأَمْرُ الثَّالِثُ وَهُوَ الرُّكْنُ الثَّالِثُ مِنْ أَرْكَانِ الشُّكْرِ صَرْفُهَا فِي طَاعَةِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا

KETIGA:
Rukun syukur yang ketiga adalah menggunakan nikmat pemberian Allah dalam ketaatan kepada Allah jalla wa ‘ala,

فِي طَاعَةِ الْمُنْعِمِ لَا تَصْرِفْهَا فِي الْمُحَرَّمَاتِ فِي الْإِشْرَافِ فِي التَّبْذِيرِ فِي الْأَسْفَارِ إِلَى الْبِلَادِ الْكَافِرَةِ لِلشَّهْوَاتِ الْمُحَرَّمَةِ

dalam ketaatan kepada Allah yang memberi nikmat. Jangan Anda gunakan nikmat tersebut untuk hal-hal yang haram, berfoya-foya, boros, pergi ke negara-negara kafir, untuk memuaskan syahwat yang terlarang.

اصْرِفْهَا فِي طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا تَصْرِفْهَا فِي فَتْحِ الْمَحَلَّاتِ الَّتِي
الْمَحَلَّاتِ الَّتِي تُنْتِجُ الشُّرُورَ تُنْتِجُ الْمَعَازِفَ وَالْمَزَامِيرَ وَتُنْتِجُ الأَغَانِي وَتُنْتِجُ الْآثَامَ

Manfaatkan untuk ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, jangan gunakan untuk membuka tempat-tempat yang menciptakan keburukan, memunculkan alat-alat musik dan seruling, memunculkan nyanyian-nyanyian dan menimbulkan berbagai dosa.

وَالْمَحَلَّاتِ الَّتِي لَا تُنْتِجُ إِلَّا الشَّرُّ تَفْتَحُ عَلَى النَّاسِ بَابَ الشَّرِّ تَنْشُرُ الشَّرَّ بِمَصَانِعِكَ وَمَحَلَّاتِكَ

Dan tempat-tempat yang tidak menghasilkan apapun kecuali kejelekan, membuka pintu keburukan kepada manusia, menyebarkan keburukan dengan perbuatan dan tempat-tempat yang Anda buat.

هَذَا مِنْ كُفْرِ النِّعْمَةِ كُفْرٌ بِالْعَمَلِ

Ini adalah bentuk kufur nikmat, kufur dalam perbuatan.

اللهُ جَلَّ وَعَلَا قَالَ لِنَبِيِّهِ سُلَيمَانَ لَمَّا عَلَّمَهُ مَا عَلَّمَهُ وَأَعْطَاهُ مِنَ الْمُلْكِ مَا أَعْطَاهُ

Allah jalla wa ‘ala berfirman kepada Nabi Sulaiman ketika Allah telah ajarkan kepadanya ilmu yang tidak diajarkan kepada yang lainnya, dan ketika Allah berikan kepadanya kerajaan yang tidak Allah berikan kepada yang lainnya. Allah berfirman kepada Nabi Sulaiman:

قَالَ لَهُ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا
سَبَإ – الْآيَةُ 13

“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).”
(QS. Saba’: 13)

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
سَبَإ – الْآيَةُ 13

“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba’: 13)

يَعْنِي لَمَّا… لَمَّا أَعْطَى دَاوُودَ عَلَيْهِ السَّلَامُ دَاوُودَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَعْطَاهُ اللهُ أَنَّهُ عَلَّمَهُ صِنَاعَةَ الدُّرُوعِ

Yakni ketika Allah memberi karunia kepada Nabi Daud ‘alaihissalaam, Nabi Daud ‘alaihissalaam diajari oleh Allah kemampuan dalam membuat baju besi.

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا ۖ يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ ۖ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya, …

أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ
سَبَإ الْآيَةُ 10 – 11
وَهِيَ الدُّرُوعُ

“… buatlah zirah yang besar-besar, …” (QS. Saba’: 10-11)
Yaitu baju besi.

وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ ۖ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
سَبَإ – الْآيَةُ 11

“…dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Saba’: 11)

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ ۖ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ ۖ وَمِنَ الْجِنِّ مَن يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَمَن يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ
سَبَإ الْآيَةُ 12

“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Rabnya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.” (QS. Saba’: 12)

…يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya …”

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِن مَّحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَّاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
سَبَإ – الْآيَةُ 13

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba’: 13)

فَسَمَّى الْعَمَلَ الصَّالِحَ بِالْمَالِ الصَّالِحِ سَمَّاهُ شُكْرًا لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ

Allah menyebut pekerjaan yang baik dari harta yang baik dengan sebutan syukur kepada Allah ‘azza wa jalla.

وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْعَمَلَ السَّيِّءَ مِنَ الْمَالِ فَتْحُ الْمَحَلَّاتِ الْفَاسِدَةِ الْمُنْتَجَاتِ الْفَاسِدَةِ الْأَسْفَارُ الْمُحَرَّمَةُ الشَّهْوَاتُ الْمُحَرَّمَةُ الَّتِي يُنْفِقُ الْأَمْوَالَ فِيهَا هَذَا كُفْرٌ كُفْرٌ لِنِعْمَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Dan hal ini menunjukkan bahwa perbuatan buruk dalam menggunakan harta; membuka tempat-tempat yang buruk dan menghasilkan hal-hal yang merusak, berpergian untuk perkara yang haram, melampiaskan syahwat yang terlarang, yang mana seseorang mengeluarkan hartanya untuk hal-hal tersebut, ini merupakan bentuk tidak bersyukur terhadap nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala.

20 Keutamaan Shalat Malam yang Menakjubkan – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

20 Keutamaan Shalat Malam yang Menakjubkan – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

وَمِنْ هَذِهِ الْأَعْمَالِ قِيَامُ اللَّيْلِ وَهُوَ عِمَارَةُ مَا بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ بِالصَّلَاةِ عَلَى مَا تَيَسَّرَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ أَوْ مِنْ وَسَطِهِ أَوْ مِنْ آخِرِهِ وآخِرُهُ أَفْضَلُ

Dan diantara amalan ini adalah salat malam, yaitu menghidupkan malam setelah salat isya’ sampai sebelum terbitnya fajar dengan melakukan salat sesuai dengan kemampuannya, baik di awal, pertengahan atau akhir malam. Akhir malam adalah waktu yang paling utama.

قِيَامُ اللَّيْلِ مِنْ أَعْظَمِ الطَّاعَاتِ وَأَجَلِّ الْعِبَادَاتِ رَاحَةُ الْقُلُوبِ وَجَلَاءُ الْهُمُومِ وَمُخَاطَبَةُ عَلَّامِ الْغُيُوبِ وَهُوَ يَسْمَعُكَ فِي الظُّلُومَاتِ وَأَنْتَ تُنَادِيهِ

(SATU)
Salat malam adalah salah satu ketaatan yang paling agung dan ibadah yang paling mulia, menjadi penenang hati, penghapus kesedihan dan media untuk berkomunikasi dengan Allah yang Maha Mengetahui segala perkara gaib. Allah mendengar ketika Anda menyeru-Nya dalam kegelapan.

تَسْعَدُ النُّفُوسُ بِقِيَامِ اللَّيْلِ وَيَحْصُلُ الْقُرْبُ مِنَ الرَّبِّ لِأَنَّهُ يَدْنُو فِي الثُّلُثِ الْآخِرِ مِنَ اللَّيْلِ قِيَامُ اللَّيْلِ دَأْبُ الصَّالِحِيْنِ وَشِعَارُ الْمُؤْمِنِينَ

(DUA)
Dengan salat malam maka jiwa akan bahagia, kedekatan dengan Allah akan terwujud karena Dia turun pada sepertiga malam yang terakhir. Salat malam adalah kebiasaan orang-orang saleh dan ciri khas orang beriman.

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
السَّجْدَةُ – الْآيَةُ 16

“Lambung mereka jauh dari tempat tidur. Mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan rezeki yang Kami berikan.” (QS. As-Sajdah: 16)

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

(TIGA)
Salat malam adalah sebaik-baik salat setelah salat wajib sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim)

أَرْشَدَ اللهُ نَبِيَّهُ إِلَيْهِ وَكَلَّفَهُ بِهِ مَعَ حَمْلِ أَعْبَاءِ الدَّعْوَةِ

Allah mengajarkan Nabi-Nya untuk salat malam dan mewajibkannya atas beliau di saat beliau harus mengemban beratnya beban dakwah.

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا نِّصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
الْمُزَمِّلُ الْآيَةُ 1 – 5

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit saja, (yaitu) seperduanya atau kurangilah sedikit dari seperdua itu atau tambahlah dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Quran itu dengan tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” (QS. Al-Muzammil: 1-5)

إِذَنْ قِيَامُ اللَّيْلِ يُعِينُهُ عَلَى تَحَمُّلِ الْاَعْبَاءِ فِي تَبْلِيغِ النَّاسِ دِيْنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

(EMPAT)
Jadi, salat malam itu membantu meringankan beban ketika menyampaikan dakwah islam kepada manusia.

وَهَذَا مِنَ الْإِعْدَادِ وَاللهُ يُعِدُّ نَبِيَّهُ بِأَفْضَلِ الطَّاعَاتِ

Dan ini adalah bentuk persiapan. Allah mempersiapkan Nabi-Nya dengan sebaik-baik ketaatan.

قِيَامُ اللَّيْلِ سِيمَةُ عِبَادِ الرَّحْمَنِ
يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
الْفُرْقَانُ – الْآيَةُ 64

(LIMA)
Salat malam adalah salah satu ciri hamba Allah yang saleh.
“… Mereka melalui malam dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (QS. Al-Furqan: 64)

شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ لَا يُحْرَمُ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ إِلَّا مَحْرُومٌ

(ENAM)
Kemuliaan seorang mukmin terletak pada salat malamnya. Tidaklah seseorang terhalang dari salat malam kecuali dia terhalang dari kebaikan.

كَمَا قَالَ الْفُضَيْلُ إِذَا لَمْ تَقْدِرْ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ وَالصِّيَامِ النَّهَارِ فَاعْلَمْ أَنَّكَ مَحْرُومٌ كَبَلَتْكَ خَطِيئَتُكَ

Sebagaimana perkataan Fudhail, “Jika Anda tidak mampu salat di malam hari dan tidak pula puasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa Anda terhalang dari kebaikan karena Anda terbelenggu dengan dosa-dosa Anda.”

لَا يَتْرُكُهُ إِلَّا غَافِلٌ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ
رَوَاهُ أَبُو دَاوُودَ

Tidaklah seseorang meninggalkan salat malam kecuali dia adalah orang yang lalai.
(TUJUH)
Sungguh Nabi ‘alaihish shalatu was salaam bersabda, “Barang siapa berdiri salat malam membaca sepuluh ayat, dia tidak akan ditulis sebagai orang yang lalai.” (HR. Abu Dawud)

مَنْ قَامَ اللَّيْلَ كُتِبَ مِنَ الذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيرًا مَنِ اسْتَيْقَظَ مِنَ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ
رَوَاهُ أَبُو دَاوُودَ

(DELAPAN)
Barang siapa mengerjakan salat malam, dia tercatat sebagai orang yang banyak berzikir kepada Allah. “Barang siapa bangun malam dan dia membangunkan istrinya, kemudian mereka salat malam dua rakaat berjamaah, mereka akan tercatat sebagai laki-laki dan wanita yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Abu Dawud)

صَاحِبُهُ يَسْتَحِقُّ الثَّنَاءَ نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

(SEMBILAN)
Orang yang merutinkan salat malam berhak mendapat pujian. “Sebaik-baik orang adalah Abdullah jika dia mau salat pada sebagian waktu malam.” (HR. Bukhari)

وَطَهَارَةٌ مِنَ النِّفَاقِ كَانَ يُقَالُ مَا قَامَ اللَّيْلَ مُنَافِقٌ

(SEPULUH)
Salat malam adalah pembersih dari sifat munafik sebagaimana pernah dikatakan bahwa orang yang tidak salat malam adalah orang munafik.

وَيَحْصُلُ بِهِ الْقُرْبُ مِنَ اللهِ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ الْآخِرِ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

(SEBELAS)
Salat malam mendatangkan kedekatan kepada Allah. “Sedekat-dekatnya Allah dengan hamba-Nya adalah pada tengah malam yang terakhir.” (HR. Tirmizi)

الْقَائِمُ بِاللَّيْلِ مِنَ الثَّلَاثِ الَّذِينَ يُحِبُّهُمُ اللهُ وَيَضْحَكُ إِلَيْهِمْ وَيَسْتَبْشِرُ

(DUA BELAS)
Orang yang salat malam adalah salah satu dari tiga orang yang Allah cintai, Allah tertawa dan bahagia karena mereka.

وَالَّذِينَ… وَالَّذِي لَهُ امْرَأَةٌ حَسَنَةٌ وَفِرَاشٌ لَيِّنٌ حَسَنٌ فَيَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَقُولُ يَذَرُ شَهْوَتَهُ وَيَذْكُرُنِي وَلَوْ شَاءَ رَقَدَ
رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَغَيْرُهُ

“… Dan orang yang memiliki istri yang cantik dan ranjang yang nyaman dan bagus namun dia tetap melaksanakan salat malam, Allah berfirman, “Dia meninggalkan syahwatnya dan mengingat Aku padahal apabila mau dia akan tidur.” (HR. Al-Hakim dan yang lainnya)

وَبِقِيَامِ اللَّيْلِ تُلَبِّي هَذَا الْمَطْلَبَ الشَّرْعِيَّ وَ تُقْضَى حَاجَتُكَ وَتُلَّبَى فِي الْمُقَابِلِ

(TIGA BELAS)
Salat malam adalah bentuk memenuhi tuntutan syariat dan sebagai gantinya hajat Anda akan dikabulkan dan dipenuhi oleh Allah.

إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا مِنَ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

“Sungguh pada sebagian malam terdapat waktu yang apabila seorang muslim bisa tepat berada pada waktu itu kemudian memohon kebaikan kepada Allah untuk perkara dunia dan akhirat, niscaya apa yang dia minta akan Allah berikan. Dan waktu itu ada pada setiap malam.” (HR. Muslim)

مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Barang siapa terbangun di malam hari kemudian dia mengucapkan
LAA ILAAHA IL-LALLAAH WAHDAHUU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMD WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI-ING QODIIR

الْحَمْدُ لِلهِ وَسُبْحَانَ اللهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ واللهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي أَوْ دَعَا اُسْتُجِيبَ لَهُ

ALHAMDULILLAAH WA SUBHAANALLAAH WA LAA ILAAHA ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BIL-LAAH

Kemudian dia berdoa: ALLAAHUMMAGH FIRLII
Atau dia berdoa (dengan doa bebas) niscaya akan dikabulkan doanya.

فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Apabila dia berwudu kemudian salat, niscaya salatnya diterima oleh Allah.” (HR. Bukhari)

فَهَذَا الَّذِي يَقُومُ بِهَذَا الصَّوْتِ يَقُومُ عَلَى ذِكْرِ رَبِّهِ يَتَقَلَّبُ يَنْتَبِهُ فَيَذْكُرُ رَبَّهُ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ

Seseorang yang bangun malam dengan berzikir; yaitu ketika terbangun dia membolak-balikkan badannya, lantas tersadar kemudian berzikir kepada Allah.

بِقِيَامِ اللَّيْلِ تُغْفَرُ الذُّنُوبُ وَتُكَفَّرُ السَّيِّئَاتُ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا قَامَ يُصَلِّي أُتِيَ بِذُنُوبِهِ فَجُعِلَتْ عَلَى رَأْسِهِ وعَاتِقَيْهِ فَكُلَّمَا رَكَعَ أَوْ سَجَدَ تَسَاقَطَتْ عَنْهُ
رَوَاهُ الذّهَبِيُّ وَغَيْرُهُ

(EMPAT BELAS)
Dengan salat malam dosa-dosa akan diampuni dan kesalahan-kesalahan akan dihapuskan. “Sungguh seorang hamba apabila dia bangun dan salat malam, dosa-dosanya akan didatangkan dan diletakkan di atas kepala dan pundaknya sehingga setiap kali dia rukuk dan sujud berguguranlah dosa-dosa tersebut.” (HR. Az-Zahabi dan selainnya)

يُهَوَّنُ عَلَيْهِ الْمَوْقِفُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ الأَوْزَاعِيُّ مَنْ أَطَالَ قِيَامَ اللَّيْلِ هَوَّنَ اللهُ عَلَيْهِ الْوُقُوفَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

(LIMA BELAS)
Diringankan urusan seseorang di hari Kiamat. Al-Auza’i berkata, “Barang siapa memperpanjang salat malamnya niscaya Allah akan mempermudah dia ketika berdiri di hari Kiamat.”

سَبَبُ دُخُولِ الْجَنَّةِ أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوْا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ حَدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

(ENAM BELAS)
Salat malam adalah sebab masuk surga. “Wahai manusia, sebarkan salam, berilah makan dan salatlah di malam hari ketika orang-orang terlelap tidur, kamu akan masuk surga dengan selamat.” (Hadis sahih riwayat Tirmizi)

وَأَعَدَّ اللهُ لِهَؤُلَاءِ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ كَمَا قَالَ تَعَالَى

Dan Allah telah menyiapkan bagi mereka sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terbersit dalam hati manusia, sebagaimana Allah ta’ala berfirman

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan rezeki yang Kami berikan.”

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
السَّجْدَةُ الْآيَةُ 16-17

“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.”
(QS. As-Sajdah: 16-17)

مِنَ الْخَيْرِ الْكَثِيرِ وَالنَّعِيمِ الْغَزِيرِ وَالْفَرَحِ وَالسُّرُورِ وَاللَّذَّةِ وَالْحُبُورِ فِي الْجَنَّةِ غُرْفَةٌ يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا لِمَنْ؟ لِمَنْ؟ لِمَنْ؟

(TUJUH BELAS)
Ada kebaikan yang banyak, nikmat yang melimpah ruah, kesenangan, kebahagiaan, kelezatan dan suka cita. Di dalam surga terdapat ruangan yang nampak bagian luarnya dari dalam dan terlihat bagian dalamnya dari luar, untuk siapa? Untuk siapa? Untuk siapa?

لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَبَاتَ قَائِمًا وَالنَّاسُ نِيَامٌ
رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

Sahabat Nabi bertanya, “Untuk siapa semua itu, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Untuk mereka yang baik perkataannya, memberikan makanan dan melewati malamnya dengan salat ketika orang-orang tertidur.” (HR. Tirmizi)

يُكْسَى قَائِمُ اللَّيْلِ نُوْرًا مَنْ قَامَ بِاللَّيْلِ حَسُنَ وَجْهُهُ بِالنَّهَارِ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ

(DELAPAN BELAS)
Orang yang terbiasa salat malam akan diberi pakaian dari cahaya. Barang siapa yang salat malam niscaya akan bagus wajahnya di siang hari. Nabi ‘alaihish shalatu was salaam bersabda, “Salat malamlah kalian, karena salat malam adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian.

وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللهِ ومَنْهَاةٌ عَنِ الْإِثْمِ وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَطَرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الْجَسَدِ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

… Sungguh salat malam adalah sebab kedekatan dengan Allah, penghenti dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan dan pengusir penyakit dari dalam tubuh.” (HR. Tirmizi)

الْقِيَامُ اللَّيْلِ هَذَا مَنِ اعْتَادَهُ لَا بُدَّ أَنْ يَتْرُكَ الْكَبَائِرَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ لَمَّا قِيلَ لَهُ إِنَّ فُلَانًا يُصَلِّي بِاللَّيْلِ فَإِذَا أَصْبَحَ سَرَقَ

(SEMBILAS BELAS)
Orang yang terbiasa mengerjakan salat malam pasti akan menjauhi dosa-dosa besar. Nabi ‘alaihish shalaatu was salam bersabda ketika ada yang mengabarkan kepada beliau bahwa ada seseorang yang melakukan salat malam tapi mencuri di pagi hari.

قَالَ إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا تَقُولُ رَوَاهُ أَحْمَدُ وَحَدِيثٌ صَحِيحٌ

Beliau bersabda, “Sungguh salat malamnya akan mencegah dia dari perbuatan yang kau kabarkan.” Hadis riwayat Ahmad dan hadis ini sahih.

يُنَشِّطُ النَّفْسَ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ عَلَى مُؤَخِّرَةِ الرَّأْسِ

(DUA PULUH)
Salat malam membuat jiwa semangat. Nabi ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Setan akan mengikat di atas tengkuk salah seorang dari kalian ketika tidur dengan tiga ikatan. …” yaitu di pangkal kepala.

يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ

“… Setan mengencangkan setiap ikatan itu (sambil berkata) ‘Malammu masih panjang, tidurlah dulu!’ Dan apabila seseorang terbangun dan berzikir kepada Allah, satu ikatan akan terlepas. Dan apabila dia berwudu akan terlepas ikatan yang lain. Dan apabila dia salat terlepaslah ikatan terakhir…

فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

… Sehingga dia bangun dalam keadaan semangat dan bugar badannya. Namun apabila sebaliknya, dia akan bangun kehilangan kebugaran dan bermalas-malasan.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

حَسْبُ الرَّجُلِ مِنَ الْخَيْبَةِ وَالشَّرِّ أَنْ يَنَامَ حَتَّى يُصْبِحَ وَقَدْ بَالَ الشَّيْطَانُ فِي أُذُنِهِ

Cukuplah seseorang dikatakan gagal dan buruk apabila dia tidur hingga pagi tiba. Sungguh setan telah mengencingi telinganya.

وَقَدْ أَحْرَزَ السَّلَفُ قَصَبَ السَّبْقِ…قَصَبَ السَّبْقِ فِي هَذَا الْمِضْمَارِ وَكَانُوا يَبْكُونَ عِنْدَ الْاِحْتِضَارِ عَلَى فِرَاقِ قِيَامِ اللَّيْلِ

Sungguh orang saleh terdahulu (salafus saleh) telah menang dalam perlombaan di arena ini. Mereka menangis ketika hendak berpisah dengan salat malam.

كَانُوا يَجْتَهِدُونَ فِي اللَّيْلِ قُرْآنًا وَبُكَاءً وَخُشُوعًا وَمَوَاضِعُ سُجُودِهِمْ رَطْبَةً مِنَ الدُّمُوعِ الَّتِي تَسِيلُ

Mereka bersungguh-sungguh menghidupkan malam dengan membaca al-Quran, tangisan dan khusyuk, sehingga tempat sujud mereka basah karena tetesan air mata.

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ
الزُّمَرُ – الْآيَةُ 9

“Adakah yang lebih baik daripada orang yang beribadah di waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut dengan (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?” (QS. Az-Zumar: 9)

 

 

Tips Sukses Belajar: 3 dari Pancaindra Ini Harus Fokus Ketika Belajar – Syaikh Shalih al-Ushoimi

Tips Sukses Belajar: 3 dari Pancaindra ini Harus Fokus Ketika Belajar – Syaikh Shalih al-Ushoimi

ثُمَّ بَيَّنَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَوَارِدَ الْعِلْمِ
Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan sumber-sumber ilmu
وَالْقُوَّةِ الْمَوْصِلَةِ إِلَيْهِ
dan indra yang dapat mengantarkan kepada ilmu,

وَهِي السَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْفُؤَادُ
yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati

هَذِهِ الْقُوَّةُ الثَّلَاثُ هِي الَّتِي تُدْرِكُ بِهَا الْعِلْمَ
Tiga indra inilah yang menjadi jalan untuk mendapatkan ilmu

فَيَنْبَغِي أَنْ تَجْمَعَ فِي الدَّرْسِ
Maka ketika sedang belajar, kamu harus memfokuskan…

بَصَرَكَ وَسَمْعَكَ وَفُؤَادَكَ
penglihatan, pendengaran, dan hatimu.

حَتَّى يَسْتَقِرَّ مَا يُلْقَى إِلَيْكَ مِنَ الْعِلْمِ فِي نَفْسِكَ
Agar ilmu yang disampaikan kepadamu dapat menetap dalam dirimu

فَحِيْنَئِذٍ عَنْدَمَا يَحْضُرُ الطَّالِبُ
Maka ketika ada murid yang menghadiri pelajaran,

وَيُبَدِّدُ بَصَرَهُ
namun memalingkan penglihatannya kesana kemari

فَتَارَةً يُقَلِّبُ صَفَحَاتِ الْكِتَابِ وَيَنْظُرُ الْأَحَادِيثَ الْمُسْتَقْبَلَةَ
Terkadang membolak-balikkan kitab dan melihat hadits-hadits yang akan dipelajari

وَتَارَةً يَنْظُرُ عَنْ يَمِينِهِ وَيَنْظُرُ عَنْ شِمَالِهِ
Dan terkadang melihat ke kanan dan ke kiri

وَيُعَدِّدُ تَارَةً الْأَنْوَارَ الْمُنْطَفِئَةَ فِي شَرَائِطِ الْمَسْجِدِ فِي سَقْفِ الْمَسْجِدِ
Terkadang menghitung lampu yang mati, yang ada di atap masjid

فَمِثْلُ هَذَا قَدْ أَضْعَفَ قُوَّتَهُ الْبَصَرِيَّةَ
Maka yang seperti ini telah melemahkan kemampuan indra penglihatannya

فَهُوَ أَشْبَهُ بِمَنْ يُرِيدُ أَنْ يَتَبَرَّدَ بِالْهَوَاءِ
Hal ini seperti orang yang ingin mencari angin karena kepanasan

وَيَفْتَحُ نَافِذَةً تَارَةً وَيُغْلِقُهَا تَارَةً أُخْرَى
Namun dia terus membuka dan menutup jendela berulang kali

فَيَحْصُلُ لَهُ ضَعْفٌ مِنْ جِهَةِ الْبَصَرِ
Pada akhirnya dia menjadi lemah dari sisi penglihatan

بِخِلَافِ مَنْ يَجْمَعُ بَصَرَهُ
Berbeda dengan orang yang memfokuskan pandangannya…

عَلَى الْأَحَادِيثِ إِذَا قُرِئَتْ وَالتَّرْجَمَةِ إِذَا ذُكِرَ
Pada hadits-hadits yang dibaca dan pada biografi yang disebutkan

وَمِثْلُهُ كَذَلِكَ إِذَا بَدَّدَ سَمْعَهُ وَفَرَّقَهُ
Demikian pula dengan orang yang tidak memfokuskan pendengarannya

فَإِنَّهُ يَحْصُلُ لَهُ ضَعْفٌ فِي الْإِدْرَاكِ
Maka ia juga akan lemah dalam menangkap ilmu,

بِحَسَبِ مَا يَفُوتُهُ مِنَ السَّمْعِ
sesuai dengan tingkat fokus pendengarannya

وَمِنْ أَعْظَمِ مُثُلِهِ فِي الْأَزْمِنَةِ الْمُتَأَخِّرَةِ هَذِهِ الْهَوَاتِفُ الْجَوَّالَةُ
Dan contoh yang paling jelas di zaman sekarang ini adalah handphone

فَعَنْدَمَا يَرُنُّ الْجَوَّالُ
Ketika handphone itu berdering…

يُسَبِّبُ تَشْوِيشًا عَلَى صَاحِبِهِ وَعَلَى الآخَرِيْنَ فِي أسْمَاعِهِمْ
maka akan mengganggu pemiliknya dan orang lain dalam memfokuskan pendengaran

وَيَشُقُّ غَالِبًا أَنْ تَجْتَذِبَ سَمْعَكَ مِنَ الرُّكُوْنِ وَالْإِصْغَاءِ إِلَيْهِ
Dan biasanya sangat sulit bagimu untuk memalingkan pendengaran dari suara handphone itu

وَمِنْهُ وَهُوَ أَشَدُّ
Dan yang lebih parah dari itu,

أَنْ يُهَاتِفَ بِالْجَوَّالِ فَيَسْمَعُ مَا يُقَالُ إِلَيْهِ
jika dia menelpon dan mendengar apa yang dikatakan padanya.

وَمِنْ هَذَا الْجِنْسِ الرَّسَائِلُ الصَّوْتِيَّةُ
Termasuk dalam jenis ini juga, pesan suara.

فَتَجِدُ بَعْضَ الطَّلَبَةِ فِي الدَّرْسِ
Terkadang ada murid ketika dalam pelajaran,

وَلَا يُجِيبُ عَلَى الْجَوَّالِ حَقِيقَةً وَيُجِيبُ عَلَيْهِ حُكْمًا
dia seperti tidak menjawab panggilan telepon, namun pada hakikatnya dia menjawabnya…

يُشَغِّلُ الرِّسَالَةَ الصَّوْتِيَّةَ ثُمَّ يُمْسِكُ هَاتِفَهُ بِهَذَا الشَّكْلِ
dia membuka pesan suara, kemudian memegang handphone-nya seperti ini.

أَنْتَ الْخَاسِرُ الْأكْبَرُ
Kamulah orang yang paling merugi

فَإِنَّهُ يَفُوتُكَ مِنَ الْعِلْمِ بِقَدْرِ مَا يَفُوتُكَ مِنَ السَّمْعِ
Karena ilmu yang kamu lewatkan, tergantung dengan pendengaran yang tidak kamu fokuskan

وَأَشَدُّهُ فَوْتًا مَجَالِسُ السَّمَاعِ فِي الْحَديثِ النَّبَوِيِّ أَوْ غَيْرِهِ مِنَ الْكُتُبِ
Terlebih lagi adalah yang terlewatkan di majelis periwayatan hadits Nabi atau periwayatan kitab

فَإِنَّ قُوَّةَ السَّمْعِ وَاحدَةٌ
Sebab pendengaran hanya mampu fokus pada satu hal,

فَإِمَّا أَنْ تَسْتَمِعَ وَتَسْمَعَ مَا يُقْرَأُ وَيُلْقَى
Antara kamu mendengar apa yang dibaca dan disampaikan

وَإِمَّا أَنْ تَسْمَعَ غَيْرَهُ
Atau mendengar selain itu.

فَمَثَلًا الَّذِي يَجْلِسُ فِي سَمَاعٍ لِلْبُخَارِيِّ أَوْ لِكِتَابِ التَّوْحِيدِ
Sebagai contoh, orang yang hadir di majelis periwayatan Shahih al-Bukhari atau Kitab at-Tauhid

ثُمَّ يُتَّصَلُ بِهِ فَيَرُدُّ وَيُكَلِّمُ شَيْئًا قَلِيلَا
Kemudian ada yang menelepon dan dia mengangkatnya, lalu dia berbicara sebentar

كَدَقِيْقَةٍ أَوْ دَقيقَتَيْنِ وَثَلَاثٍ وَأَرْبَعٍ أَوْ خَمْسٍ ثُمَّ يُغْلِقُهُ
Satu, dua, tiga, empat, atau lima menit; kemudian dia menutup teleponnya

هَذَا حَصَلَ لَهُ السَّمَاعُ كَامِلًا أَمْ عَلَيْهِ فَوْتٌ ؟
Apakah dia mendengar periwayatan itu seluruhnya atau ada yang terlewat?

عَلَيْهِ الْفَوْتُ لِأَنَّهُ هَذِهِ الْمُدَّةُ كَانَ سَمْعُهُ مَشْغُولًا بِغَيْرِ مَا يُقْرَأُ
Ada yang terlewat, karena ketika itu pendengarannya sibuk dengan selain apa yang dibacakan

فَحِيْنَئِذٍ يَكُونُ قَدْ فَاتَهُ
Dengan demikian, ada yang terlewat darinya.

وَأهْلُ الْعِلْمِ كَانُوا يَتَوَقَّوْنَ فِي الْوَاوِ وَالْفَاءِ فِي فَوْتِهَا فِي السَّمَاعِ
Padahal dahulu para ulama takut terlewat darinya huruf Wawu dan Fa’ saat mendengar riwayat

وَالْآنَ تَجِدُ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَسْتَجِيزُ
Namun sekarang ada sebagian orang meminta ijazah,..

أَنَّهُ يَفُوتُهُ أَشْيَاءٌ كَثِيرَةٌ
dan telah terlewat darinya banyak hal

ثُمَّ يَكْتُبُ لَهُ سَمِعَ كَامِلًا
Akan tetapi ditulis baginya, ‘telah mendengarkan sepenuhnya’.

فَفِي أَحَدِ الْمَجَالِسِ
Pada salah satu majelis,

اِغْتَنَمَ أحَدُهُمْ وَجُودَ فَرَاغٍ فِي آخِرِ الْمَسْجِدِ
Salah satu dari mereka memanfaatkan tempat kosong di belakang masjid

ثُمَّ ذَهَبَ فَنَامَ نَوْمَةً يَسِيرَةً تَبْلُغُ سَاعَةً
Dia datang ke sana dan tidur sejenak, sekitar satu jam

ثُمَّ رَجَعَ لِيَجْلِسَ فِي الْمَجْلِسِ
Lalu dia kembali untuk mengikuti majelis itu

وَيَأْخُذُ وَرَقَةً مَكْتُوبٌ فِيهَا
dan mengambil kertas yang telah tertulis padanya

سَمِعَ كِتَابَ كَذَا وَكَذَا كَامِلًا فُلَانٌ بْن فُلَانٍ
‘Telah mendengar kitab ini dan ini seluruhnya: Fulan bin Fulan’.

وَتَارَةً يَخْرُجُونَ مُدَّةً طَوِيلَةً
Terkadang mereka juga keluar majelis dalam waktu lama

وَيَحْصُلُ لَهُمْ فَوْتٌ فِي السَّمَاعِ
sehingga ada riwayat yang tidak mereka dengarkan

وَتَارَةً يَسْمَعُونَ بِهَذِهِ الْهَوَاتِفِ الْجَوَّالَةِ وَبِغَيْرِهَا
Terkadang mereka mendengar riwayat melalui handphone dan lainnya,

وَيَكُونُ السَّمَاعُ غَيْرَ وَاضِحٍ
dan dia tidak dapat mendengar dengan jelas

وَمَعَ ذَلِكَ يُكْتَبُ السَّمَاعُ الْكَامِلُ
Namun tetap saja ditulis baginya, ‘Telah mendengarnya seluruhnya’

وَهَذَا إِذَا خَفِيَ عَلَى النَّاسِ
Meskipun hal ini tidak diketahui manusia,

لَا يَخْفَى عَلَى رَبِّ النَّاسِ
namun tidak dapat tersembunyi dari Tuhan seluruh manusia.

وَلَا يَرُوجُ فِي صَنْعَةِ الْعِلْمِ إِلَّا الصِّدْقُ
Tidak ada yang mempermudah perolehan ilmu kecuali kejujuran

قَالَ وَكِيعٌ لَا يَرْتَفِعُ فِي هَذِهِ الصَّنْعَةِ إِلَّا صَادِقٌ
Imam Waki’ berkata, “Tidak ada yang dapat unggul dalam hal ini (menuntut ilmu) kecuali orang jujur.”

الْعِلْمُ الرَّافِعُ الْخَافِضُ فِيهِ هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Yang meninggikan dan merendahkan seseorang dalam ilmu adalah Allah -Subhanahu wa Ta’ala-

وَعِنْدَ مُسْلِمٍ مِنْ حَديثِ عُمَرَ بْن الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari hadits Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu-

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
Bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْقُرْآنِ أَقْوَامًا
“Sesungguhnya dengan al-Qur’an ini Allah meninggikan beberapa kaum,

وَيَخْفِضُ بِهِ آخَرِيْنَ
dan dengannya merendahkan yang lain.”

فَالَّذِي بِيدِهِ الرَّفْعُ وَالْخَفْضُ فِي الْعِلْمِ
Yang berkuasa untuk meninggikan dan merendahkan dalam ilmu

هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
adalah Allah -Subhanahu wa Ta’ala-

وَإِذَا غَشَّ الْإِنْسَانُ فِيهِ وَضَعَ مِنْ نَفْسِهِ
Jika seseorang berbuat curang dalam mendapat ilmu, maka Allah akan merendahkannya

وَلَحِقَهُ السُّوءُ فِيمَا يَسْتَقْبِلُ مِنْ أيَّامِهِ
dan mendatangkan keburukan padanya di masa depan

وَمِنْ هَذَا الْجِنْسِ تَبْدِيدُ قُوَّةِ السَّمَاعِ
Termasuk hal ini juga, mencerai-berai fokus indra pendengaran

عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ
seperti yang telah kita jelaskan

فَيَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ قُوَّةُ السَّمْعِ حَاضِرَةً
Maka indra pendengaran harus fokus saat pelajaran

وَكَذَلِكَ يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ قُوَّةُ الْقَلْبِ حَاضِرَةً
Begitu pula dengan hati yang juga harus ikut fokus saat pelajaran

فَيَجْمَعُ قَلْبَهُ بِالْكُلِّيَّةِ
Yaitu dengan memfokuskan pikiran sepenuhnya

عَلَى الْكَلَامِ الَّذِي يُلْقَى إِلَيْهِ
pada ucapan yang disampaikan kepadanya

فَلَا يُرْسِلُ بَصَرَهُ وَيُقْبِلُ بِأُذُنِهِ
Bukan dengan memfokuskan penglihatan dan pendengarannya…

وَالْقَلْبُ مِنْهُ فِي كُلِّ وَادٍ شَعْبَةٍ
namun hatinya pergi entah kemana,

فَهَذَا لَا يَنْفَعُ
Karena ini tidak akan berguna

فَالْقُوَّةُ هُنَا تَكُونُ ضَعِيفَةٌ
Sebab saat itu kemampuan indra akan melemah

وَأَشَدُّ الْقُوَّةِ مَضَرَّةً إِذَا فُقِدَتْ هِي قُوَّةُ الْقَلْبِ
Dan indra yang paling berpengaruh ketika tidak fokus adalah hati

فَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ يَحْضُرُ مَجْلِسَ الدَّرْسِ وَيَسْمَعُ وَيُبْصِرُ الشَّيْخَ وَلَا يَلْتَفِتُ
Jika seseorang hadir di majelis pelajaran dengan mendengar dan melihat syeikh tanpa menoleh

وَلَكِنَّهُ يُفَكِّرُ الْآنَ بِقَلْبِهِ
Namun saat itu dia memikirkan dalam hatinya,

بَعْدَ هَذَا الدَّرْسِ إِذَا خَرَجْنَا كَيْفَ أُرَتِّبُ؟
Saat kita keluar setelah pelajaran ini, apa yang harus aku lakukan?

أَيْنَ سَنَذْهَبُ؟
Kemana kita akan pergi?

هَلْ مِنَ الْمُنَاسِبِ أَنْ يَكُونَ وَقْتٌ فَنَذْهَبُ وَنَجْلِسُ وَنَتَقَهْوَى؟
Bagus tidak jika kita menyisihkan waktu untuk pergi nongkrong dan minum kopi?

ثُمَّ أَيْنَ نَتَقَهْوَى؟
Dimana kita akan minum kopi?

هَلْ مِنَ الْمُنَاسِبِ لِلْمَكَانِ الْفُلَاَنِيِّ؟
Cocok tidak di tempat yang itu?

هَلْ تَكُونُ قَهْوَةً فَقَطْ أَمْ يَكُونُ مَعَ الْقَهْوَةِ عَشَاءٌ؟
Apakah cukup kopi saja atau dengan makan malam juga?

وَسَرْحَانُ فِي الدَّرْسِ عَلَى هَذِهِ الْأَفْكَارِ أَوْ غَيْرِهَا مِنَ الْأَفْكَارِ
Dan terus melayang-layang dengan pikiran-pikiran itu dan lainnya pada saat pelajaran

فَمِثْلُ هَذَا قُوَّتُهُ الْقَلْبِيَّةُ غَيْرُ مُجْتَمِعَةٍ
Dalam keadaan seperti itu, hatinya tidak akan fokus

فَعِنْدَ ذَلِكَ يَضْعُفُ إِدْرَاكُهُ
Sehingga kemampuannya dalam menangkap ilmu akan melemah

فَلَا بُدَّ مِنْ وُجُودِ الْقُوَّةِ الْمُدْرِكَةِ لِلْعِلْمِ
Maka selain harus adanya indra untuk menangkap ilmu,

حَاضِرَةً فِي مَجْلِسِ الدَّرْسِ
indra itu juga harus fokus saat berada di majelis ilmu.

Siapa Nama Asli Istri Abu Lahab? Mengapa Namanya Tidak Disebut Dalam al-Quran?

Siapa Nama Asli Istri Abu Lahab? Mengapa Namanya Tidak Disebut Dalam al-Quran?

قَوْلُهُ وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ
Firman Allah (وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ) “Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar”

هِيَ أَمُّ جَمِيْلٍ الَّتِي كَانَتْ تَحْمِلُ أَغْصَانَ الشَّجَرِ الْكَبِيْرَةَ ذَاتِ الشَّوْقِ
Dia adalah Ummu Jamil yang membawa ranting pohon yang besar dan berduri

فَتُلْقِيْهَا فِي طَرِيْقِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذِيَةً لَهُ
Untuk dia letakkan di jalan yang biasa dilalui Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- agar dapat menyakiti beliau

ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ تَفْسِيْرَ قَوْلِهِ تَعَالَى
Penulis -waffaqahullah- menyebutkan tafsir firman Allah Ta’ala:

وَامْرَأَتُهُ قَائِلاً هِيَ أُمُّ جَمِيْلٍ
(وَامْرَأَتُهُ) “Dan istrinya”, yakni Ummu jamil

طَيِّبٌ لِمَاذَا مَا ذَكَرَهَا اللهُ مِثْلَ مَا ذَكَرَ زَوْجَهَا؟ مَا الْجَوَابُ؟
Baik, mengapa Allah tidak menyebutkan namanya secara langsung seperti disebutkannya nama suaminya? Apa jawabannya?

إِيْش؟
Apa?

طَيِّبٌ أَحْسَنْتَ
Bagus, benar

وَوَقَعَ ذَلِكَ لِأُمُوْرٍ ثَلَاثَةٍ لِأُمُوْرٍ ثَلَاثَةٍ
Hal ini dapat kita jawab melalui tiga kemungkinan

أَحَدُهَا أَنَّ اسْمَهَا لَا يُنَاسِبُ ذِكْرَ الْعَذَابِ لِمَا فِيْهِ مِنَ اْلمَلَاحَةِ
Pertama, namanya tidak sesuai dengan penyebutan azab, karena namanya adalah nama yang bagus

فَهِيَ كَانَتْ تُسَمَّى أُمُّ جَمِيْلٍ
Dia dipanggil dengan nama Ummu Jamil (ibu dari sesuatu yang indah)

وَهِيَ وَسْمٌ صُوْرَتُهُ الْكُنْيَةُ
Dan ini adalah nama yang berbentuk kun-yah

أَنَّ اسْمَهَا لَا يُنَاسِبُ ذِكْرَ الْعَذَابِ لِمَا فِيْهِ مِنَ اْلمَلَاحَةِ
Jadi, namanya tidak sesuai dengan penyebutan azab, karena namanya adalah nama yang bagus

فَإِذَا قُلْتَ أُمُّ جَمِيْلٍ تُعَذَّبُ لَمْ يَكُنْ مُنَاسِباً لِلْعَذَابِ الْمَذْكُوْرِ
Sehingga jika kamu berkata, “Ummu Jamil sedang diazab” maka nama itu tidak serasi dengan penyebutan azab

وَثَانِيْهَا أَنَّ عَادَةَ الْعَرَبِ طَيُّ أَسْمَاءِ النِّسَاءِ لَا ذِكْرُهَا
Kedua, karena salah satu adat orang arab adalah menyembunyikan nama wanita, bukan menyebutkan namanya

أَنَّ عَادَةَ الْعَرَبِ طَيُّ أَسْمَاءِ النِّسَاءِ لَا ذِكْرُهَا
karena salah satu adat orang arab adalah menyembunyikan nama wanita, bukan menyebutkan namanya

وَلَمْ يَقَعْ فِي الْقُرْآنِ اسْمُ امْرَأَةٍ إِلَّا سِوَى مَرْيَمُ
dan dalam al-Qur’an tidak disebutkan nama wanita kecuali nama Maryam

وَلَمْ يَقَعْ فِي الْقُرْآنِ اسْمُ امْرَأَةٍ سِوَى مَرْيَمُ
dalam al-Qur’an tidak disebutkan nama wanita kecuali nama Maryam

طَيِّبٌ لِمَاذَا هَذِهِ عَادَةُ الْعَرَبِ؟ يَحْتَقِرُوْنَ الْمَرْأَةَ؟
mengapa adat orang arab seperti itu? Karena mereka merendahkan wanita?

أَحْسَنْتَ لِمَا فِيْهِ مِنَ الْمُبَالَغَةِ فِي صِيَانَتِهَا
Benar, karena itu menunjukkan penjagaan mereka yang sangat tinggi bagi wanita

لِمَا فِيْهِ مِنَ الْمُبَالَغَةِ فِي صِيَانَتِهَا
karena itu menunjukkan penjagaan mereka yang sangat tinggi bagi wanita

فَإِذَا دَعَتِ الْحَاجَةَ إِلَى ذِكْرِ اسْمِهَا ذُكِرَتْ
namun jika ada kebutuhan untuk disebutkan namanya, maka namanya akan disebutkan

وَأَمَّا إِذَا لَمْ تَدْعُو الْحَاجَةَ لِذِكْرِ اسْمِهَا فَهِيَ لَا تُذْكَرُ
Adapun jika tidak ada kebutuhan untuk itu, maka namanya tidak akan disebutkan

وَلِذَلِكَ بَعْضُ النَّاسِ يَعِيْبُوْنَ عَلَيْنَا
Oleh sebab itu, sebagian orang mencela kita

يَقُوْلُوْنَ هَذِهِ الْبِلَادُ وَغَيْرُهَا مِنْ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ أَيْضاً الَّذِيْ عِنْدَهُمْ هَذَا يَقُوْلُوْنَ عِنْدَهُمْ ثَقَافَةُ الْعَيْبِ
Mereka berkata, “Penduduk negeri ini dan negeri-negeri muslim lainnya memiliki kebiasaan ‘aib’…

مَا يَذْكُرُ الْوَاحِدُ اسْمَ أُمِّهِ وَلَا اسْمَ زَوْجَتِهِ
mereka tidak mau menyebutkan nama ibu atau nama istri mereka”

نَعَمْ هَذِهِ هِيَ عَادَةُ الْعَرَبِ وَلِلْإِبَاءِ وَالشِّيَمِ
benar, ini adalah kebiasaan orang arab untuk menjaga kehormatan

لِأَنَّهُمْ يَصُوْنُوْنَ نِسَائَهُمْ وَيَحْفَظُوْنَهَا
karena mereka benar-benar melindungi dan menjaga kaum wanita mereka

لَا عَلَى أَنَّهَا امْتِهَانٌ لِلْمَرْأَةِ وَانْتِقَاصٌ لَهُ
bukan untuk menghinakan atau merendahkan kaum wanita

وَإِنَّمَا هَذَا كَمَا جَرَتْ بِهِ عَادَةُ الْعَرَبِ وَوَقَعَ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ
dan ini merupakan adat yang berlaku pada orang arab dan juga berlaku dalam al-Qur’an dan as-Sunnah

هَذَا هُوَ الْوَاقِعُ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ
demikianlah yang ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah

وَلِذَلِكَ مَا يَقَعُ عَلَى خِلَافِ هَذَا هُوَ لِأَجْلِ الْحَاجَةِ
Oleh sebab itu, jika ada sesuatu yang menyelisihi hal ini, maka itu adalah karena kebutuhan untuk menyebutkan namanya

فَمَثَلاً النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ عَمْرٌو بْنُ الْعَاصِ
sebagaimana dalam kisah Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- ketika ditanya ‘Amr bin al-‘Ash

مَنْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ
“Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling engkau cintai?”

قَالَ عَائِشَةَ
Beliau menjawab, “Aisyah”

قَالَ فَمِنَ الرِّجَالِ
‘Amr bertanya lagi, “Kalau dari kalangan laki-laki?”

قَالَ أَبُوْهَا
Beliau menjawab, “Ayah ‘Aisyah”

يَجِيْئُكَ وَاحِدٌ يَقُوْلُ شُفِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَائِشّةَ
Lalu jika ada yang datang dan berkata, “Lihatlah Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menyebutkan nama ‘Aisyah”

النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى قَالَهُ؟ لَمَّا وَقَعَ السُّؤَالُ
Kapan Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menyebutkannya? Ketika beliau ditanya tentang itu

فَهَذَا فِي الْقُرْآنِ وَقَعَ عَلَى عَادَةِ الْعَرَبِ
Dan yang ada dalam al-Qur’an selaras dengan yang berlaku pada adat orang arab

لِأَنَّهُمْ يَصُوْنُوْنَ نِسَاؤَهُمْ حَتَّى فِي طَيِّ أَسْمَائِهِنَّ
Karena mereka menjaga kehormatan kaum wanita mereka, bahkan dengan menyembunyikan nama-nama mereka

تَعْظِيْماً لَهُنَّ وَصِيَانَةً لِجَنَابِهِنَّ
sebagai bentuk penghormatan dan perlindungan bagi mereka

وَثَالِثُهَا أَنَّ الْمَرْأَةَ تَابِعَةُ فَي الشَّرْعِ وَاللُّغَةِ وَالْعُرْفِ لِزَوْجِهَا
Ketiga, karena secara syariat, bahasa, dan adat; wanita akan mengikuti suaminya

أَنَّ الْمَرْأَةَ تَابِعَةُ فَي الشَّرْعِ وّاللِّسَانِ يَعْنِي اللُّغَةِ وَالْعُرْفِ لِزَوْجِهَا
karena secara syariat, bahasa, dan adat; wanita akan mengikuti suaminya

فَقَوْلُهُ وَامْرَأَتُهُ يَعْنِي ذَكَرَهَا عَلَى وَجْهِ التَّبَعِ
sehingga firman Allah (وَامْرَأَتُهُ) yakni disebutkan dalam bentuk pengikutan istri kepada suaminya

وَالْمَقْصُوْدُ بِكَوْنِهَا تَابِعَةً لَهُ
dan yang dimaksud dengan mengikuti suaminya adalah

أَنَّهُ مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِذِمَّتِهِ صِيَانَتِهَا وَالْقِيَامِ عَلَيْهَا
sudah menjadi tanggungan suaminya untuk menjaga dan mengurus istrinya

فَهَذَا مُتَعَلِّقٌ بِذِمَّتِهِ شَرْعاً وَلِسَاناً يَعْنِي فِي لُغَةِ الْعَرَبِ الَّذِيْنِ هُمُ الْعَرَبُ وَكَذَلِكَ فِي الْعُرْفِ الْمُسْتَقِيْمِ فِي الْعُرْفِ الْمُسْتَقِيْمِ
Sehingga istri adalah pengikut suami secara syariat, bahasa arab, dan adat yang benar

الْآنَ يَعِيْبُوْنَ عَلَى النَّاسِ مِثْلَ هَذِهِ الْمَعَانِي وَيَمْدَحُوْنَ الْغَرْبَ
Dan sekarang orang-orang mencela perbuatan seperti ini, kemudian memuji orang-orang barat

وَالْغَرْبُ إِذَا تَزَوَّجَتِ الْمَرْأَةُ صَارَتْ اسْمُ عَائِلَتِهَا أَيشْ؟ عَائِلَةُ زَوْجِهَا
Padahal jika seorang wanita di barat menikah, maka namanya mengikuti siapa? Mengikuti nama keluarga suami

حَتَّى فِي الْاِسْمِ يُجَرِّدُوْنَهَا مِنَ الْاِسْمِ
Sehingga dalam perkara nama pun, mereka mencabutnya dari seorang wanita

أَمَّا الْعَرَبُ تَبْقَى عَلَى اسْمِهَا حَتَّى تَمُوْتَ مَا يَأْخُذُهَا زَوْجُهَا وَيَحُطُّهَا بِاسْمِهَا
Adapun orang arab, maka wanita mereka akan tetap memakai namanya hingga meninggal dunia; tanpa dicabut dan diganti namanya oleh suaminya

لَكِنَّ الشَّرْعَ وَاللُّغَةَ الْعَرَبِيَّةَ وَالْعُرْفَ الْمُسْتَقِيْمَ أَوْجَبَ عَلَى الرَّجُلِ أَشْيَاءَ لِلْمَرْأَةِ قِيَاماً بِحَقِّهَا وَأَدَاءً لَهَا
Dan secara syariat, bahasa, dan adat, seorang suami wajib melakukan berbagai hal demi menunaikan hak-hak istrinya

Sebab Hilangnya Keberkahan Ilmu – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Sebab Hilangnya Keberkahan Ilmu – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

الْأَمْرُ الْخَامِسُ وَهُوَ مَسْأَلَةٌ أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَعَدَمِ تَحْصِيلِهِ أَنْ لَا يَعْمَلَ الْمَرْءُ بِهِ

Masalah yang kelima: di antara perkara terbesar yang menjadi penghalang ilmu adalah ketika seseorang tidak mengamalkannya.

فَإِذَا لَمْ يَعْمَلِ الْمَرْءُ بِالْعِلْمِ الَّذِي تَعَلَّمَهُ فَإِنَّهُ يَكُونُ سَبَبًا لِعَدَمِ الْبَرَكَةِ فِيهِ
Ketika seseorang tidak mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari, sungguh yang demikian itu menjadi sebab tidak berkah ilmunya.

يَقُولُ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُِّ حَدَّثَنَا الَّذِينَ كَانُوا يُقْرِئُونَنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ

Abu Abdurrahman as-Sulami berkata, “Orang-orang yang dahulu belajar dari para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan kepada kami…

أَنَّهُمْ كَانُوا لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ حَتَّى يَحْفَظُوهَا وَيَعْلَمُوا مَا فِيهَا مِنَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ وَيَعْمَلُوا بِهَا يَعْمَلُوا بِهَا

… bahwa mereka tidak akan menambah lebih dari 10 ayat sampai mereka menghafalnya, memahami isinya tentang halal dan haram, kemudian mengamalkannya.” Mengamalkan kandungannya.

الْمَرْءُ إِذَا عَمِلَ بِعِلْمِهِ فَهُوَ الْمُوَفَّقُ وَلِذَلِكَ جَاءَ مِنْ… مِنْ حَدِيثِ مُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَرُوِيَ مَرْفُوعًا عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ وَغَيْرِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

Orang yang mengamalkan ilmunya adalah orang mendapat taufik, oleh sebab itu terdapat sebuah hadis dari Mutharrif dari Ibnu Abbas, diriwayatkan secara marfu’ dari Ibnu Mas’ud dan selain beliau bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

إِنَّمَا الْعِلْمُ الْخَشْيَةُ رَوَاهُ أَحْمَدُ خَشْيَةٌ الْخَشْيَةُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Ilmu itu adalah rasa takut.” (HR. Ahmad) Khasyyah, yaitu rasa takut kepada Allah azza wa jalla.

فَمَنْ عَرَفَ أَنَّ هَذِهِ الصُّورَةَ صُورَةٌ مِنَ الرِّبَا أَوْ أَنَّ هَذَا التَّعَامُلَ تَعَامُلٌ مِنَ الرِّشَا الرِّشْوَةِ فَتَرَكَهُ بَعْدَ عِلْمِهِ فَهَذَا الَّذِي يُبَارَكُ لَهُ فِي عِلْمِهِ

Barang siapa yang mengetahui bahwa suatu transaksi adalah transaksi ribawi atau mengerti bahwa muamalah tertentu adalah bentuk suap kemudian ia meninggalkannya setelah dia mengilmuinya, orang inilah yang diberkahi ilmunya.

هَذَا الَّذِي يُبَارَكُ لَهُ فِي عِلْمِهِ لِأَنَّهُ عَلِمَ فَتَرَكَ عَلِمَ فَعَمِلَ

Orang inilah yang diberkahi ilmunya karena dia tahu kemudian meninggalkan suatu perbuatan atau dia tahu kemudian mengamalkannya.

يَقُولُ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَنْبَغِي لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ أَنْ يُعْرَفَ بِلَيْلِهِ إِذَا النَّاسُ نَائِمُونَ وَيُعْرَفَ بِصَوْمِهِ إِذَا النَّاسُ مُفْطِرُونَ وَيُعْرَفَ بِسُكُوتِهِ إِذَا النَّاسُ خَائِضُونَ

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seorang ahli al-Quran selayaknya dikenal menghidupkan malamnya ketika orang-orang tertidur, berpuasa ketika orang-orang tidak berpuasa, diam ketika manusia membicarakan hal yang sia-sia.”

صَاحِبُ الْعِلْمِ يَجِبُ أَنْ يُعْرَفَ يَجِبُ أَنْ يَظْهَرَ عَلَى آثَارِهِ إِذَا لَمْ يَظْهَرْ عَلَى آثَارِهِ فَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُرَاجِعَ نَفْسَهُ

Orang yang berilmu harus terlihat pengaruh ilmu dalam dirinya. Apabila tidak nampak pengaruh ilmu pada dirinya maka dia harus menginstrospeksi diri.

بِمَعْنَى أَنَّ الْعِلْمَ الَّذِي تَعَلَّمْتَهُ فِيهِ مُشْكِلَةٌ
Artinya, sungguh ada masalah pada ilmu yang telah Anda pelajari.

قِيلَ لِمُزَاحِمٍ إِنِّي دَخَلْتُ بَلَدًا فَمَنْ أَعْلَمُ أَهْلِ الْبَلَدِ ؟ قَالَ أَتْقَاهُمْ

Muzahim pernah ditanya, “Aku memasuki sebuah negeri, siapa penduduk negeri ini yang paling berilmu?” Beliau menjawab, “Yang paling bertakwa di antara mereka.”

كُلَّمَا كَانَ الْمَرْءُ تَقِيًّا لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَعْنِي بِالتَّقِيِّ مَنْ يَعْمَلْ بِعَمَلِهِ فَهُوَ الْعَالِمُ هُوَ الْعَالِمُ حَقِيقَةً

Semakin seseorang bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla, dan maksud bertakwa adalah mengamalkan ilmunya, maka dialah orang yang alim, orang berilmu yang sesungguhnya.

وَأَمَّا قَوْلُ بَعْضِهِمْ خُذْ عِلْمِي وَلَا يَضُرُّكَ تَقْصِيرِي هَذَا هَذَا هَذَا مِنْ بَابِ التَّوَاضُعِ مِنْهُمْ

Adapun perkataan sebagian ulama, “Ambil ilmu dariku… adapun maksiatku tidak akan membahayakanmu.” Ini hanyalah bentuk tawadhu mereka.

وَلَكِنْ يَجِبُ عَلَى الْعَالِمِ أَنْ يَتَّقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَطَالِبِ الْعِلْمِ عُمُومًا أَنْ يَتَّقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ

Akan tetapi orang yang berilmu wajib bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan secara umum para penuntut ilmu, mereka harus bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla.

وَلِيَعْلَمَ أَنَّ الشَّأْنَ عَلَيْهِ أَعْظَمُ مِنَ الشَّأْنِ مِنْ غَيْرِهِ

Dia hendaknya menyadari bahwa tanggung jawabnya lebih besar daripada tanggung jawab orang lain,

النَّاسُ يَنْظُرُونَ لِصَلَاتِكَ إِذَا كُنْتَ إِمَامًا وَيَنْظُرُونَ لِمُحَافَظَتِكَ عَلَى السُّنَّةِ إِنْ كُنْتَ مَنْسُوبًا لِلْعِلْمِ وَطَلَبِهِ

karena orang-orang pasti memperhatikan shalat Anda ketika Anda menjadi imam, mereka akan melihat bagaimana Anda menjaga sunah ketika Anda menisbatkan diri kepada ilmu.

فَالْمَقْصُودُ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمَرْءِ أَنْ يُعْنَى بِالْعَمَلِ بِالْعِلْمِ لِكَيْ يَثْبُتَ وَأَنْ لَا يَنْقُصَ وَتَذْهَبَ بَرَكَتُهُ

Kesimpulannya, seseorang harus mengamalkan ilmunya agar ilmu itu mengakar kuat dan tidak berkurang atau bahkan hilang keberkahannya.

Pelaku Dosa Besar Jadi Ulama, Apa Bisa? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Pelaku Dosa Besar Jadi Ulama, Apa Bisa? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

يَقُولُ هَلْ مِنَ الْمُمْكِنِ أَنْ يَكُونَ عَالِماً رَبَّانِيًّا مَنْ كَانَ يَرْتَكِبُ الْكَبَائِرَ إِذَا تَابَ؟

Pertanyaan: Apakah mungkin seorang menjadi ulama alim rabbani padahal dulu dia pelaku dosa besar, jika ia bertaubat?

الْجَوَابُ قَدْ صَارَ عَالِمًا رَبَّانِيًّا مَنْ كَانَ فِي الْكُفْرِ وَهُمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Jawabnya: Telah ada orang-orang yang menjadi alim rabbani padahal dahulu mereka terjatuh dalam kekafiran, yaitu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

قَالَ الْبُخَارِيُّ وَتَعَلَّمَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كِبَارًا

Imam Bukhari berkata, “Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru belajar ketika mereka sudah tua.”

فَإِذَا صَحَّتِ التَّوْبَةُ وَصَدَقَ الْعَبْدُ وَاجْتَهَدَ فِي… وَاجْتَهَدَ فِي طِلَابِ الْكَمَالَاتِ هَدَاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَيْهَا

Apabila taubat seorang hamba telah sah, dia jujur, lalu dia bersungguh-sungguh dalam mencari kesempurnaan imannya, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan memberinya hidayah.

وَمِنْ هُنَا قَالَ ابْنُ تَيمِيَّةَ الْحَفِيدُ الْعِبْرَةُ بِكَمَالِ النِّهَايَةِ لَا بِنَقْصِ الْبِدَايَةِ

Oleh sebab itu, Ibnu Taimiyah al-Hafid berkata, “Yang dinilai itu adalah kesempurnaan di akhir dan bukan pada kekurangan di awal.”

فَمَا مِنَّا أَحَدٌ إِلَّا جَاءَ نَاقِصًا قَالَ تَعَالَى

Karena tidak ada seorangpun dari kita kecuali datang dengan serba kekurangan, Allah ta’ala berfirman:

وَاللهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا
النَّحْلُ – الْآيَةُ 78

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan kamu tidak mengetahui sesuatupun.” (QS. an-Nahl: 78)

Nabi Yusuf yang Menginspirasi: Kami Melihatmu Termasuk Orang Baik – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Nabi Yusuf yang Menginspirasi: Kami Melihatmu Termasuk Orang Baik – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

هَذَا الْفَصْلُ فِي رُؤْيَا الْفَتَيَيْنِ
Bab ini membahas tentang mimpi dua pemuda.

لَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ السِّجْنَ
Ketika Nabi Yusuf ‘alaihis salam masuk penjara.

دَخَلَ مَعَهُ السِّجْنَ فَتَيَانِ
Masuk pula bersama beliau dua pemuda.

وَهَذَانِ الْفَتَيَانِ رَأَى فِي يُوْسُفَ عَلَيْهِ السَّلَامُ
Dua pemuda ini melihat pada diri Nabi Yusuf ‘alaihis salam

صِفَاتٍ جَمِيلَةً جِدًّا جَذَبَتْهُمَا إِلَيْهِ
Sifat-sifat yang sangat mulia yang menarik mereka,

وَأَحْدَثَتْ فِي نَفْسَيْهِمَا طُمَأْنِينَةً مِنْ جِهَتِهِ
dan menghadirkan ketenangan dalam diri mereka.

لِمَا رَأَيَا فِيهِ مِنْ لُطْفٍ وَإحْسَانٍ
Karena mereka berdua menyaksikan kelembutan dan kebaikan dari Nabi Yusuf.

حَتَّى إِنَّهُمَا بَيْنَ يَدَيْ سُؤَالِهِ
Sehingga sebelum mereka meminta kepada beliau

أَنْ يُعَبِّرَ لَهُمَا الرُّؤْيَ الَّتِي رَأَيَاهَا
untuk mentakwil mimpi yang mereka lihat,

قَالَ لَهُ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
mereka terlebih dahulu berkata padanya, “Kami melihatmu termasuk orang baik.”

فَهَكَذَا كَانَ
Demikianlah yang terjadi ketika itu…

وَانْتَبِهْ لِهَذِهِ الْكَلِمَةِ
Dan perhatikan baik-baik kalimat ini,

إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
“Kami melihatmu termasuk orang baik.”

عَنْدَمَا تَقْرَأُ قِصَّةَ يُوْسُفَ
Saat kamu membaca kisah Nabi Yusuf,

قِيلَتْ لَهُ مَرَّتَيْنِ
kalimat ini dikatakan kepadanya dua kali.

قِيلَتْ لَهُ مَرَّتَيْنِ هَذِهِ الْمَرَّةُ إِنَا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Dikatakan kepadanya dua kali; ini yang pertama, “Kami melihatmu termasuk orang baik.”

الْمَرَّةُ الثَّانِيَةُ أَيْنَ ؟
Dan di mana yang kedua?

هَا ؟ لَمَّا جَاءَ إِخْوَتُهُ وَهُوَ أَيْنَ ؟
Ketika saudara-suadaranya datang. Di mana beliau ketika itu?

هَذِهِ الْآنَ وَهُوَ فِي السِّجْنِ
Yang pertama ini ketika beliau dalam penjara,

الْمَرَّةُ الثَّانِيَةُ أَيْنَ كَانَ؟
sedangkan yang kedua, saat beliau di mana?

عِنْدَمَا كَانَ فِي الْقَصْرِ
Saat beliau berada di dalam istana.

قَالُوا لَهُ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Mereka berkata kepada beliau, “Kami melihatmu termasuk orang baik.”

فِي السِّجْنِ قَالُوا لَهُ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Ketika di dalam penjara mereka berkata, “Kami melihatmu termasuk orang baik.”

وَفِي الْقَصْرِ أَيْضًا قَالُوا لَهُ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Dan ketika di dalam istana, mereka juga berkata, “Kami melihatmu termasuk orang baik.”

إِذًا التَّغَيُّرَاتُ الَّتِي مَرَّ بِهَا مَا غَيَّرَتِ الْإِحْسَانَ
Jadi, perubahan keadaan yang beliau lalui sama sekali tidak merubah kebaikannya (dulunya baik, sekarang juga tetap baik)

التَغَيُّرَاتُ الَّتِي مَرَّ بِهَا مَا غَيَّرَتْ الْإِحْسَانَ
Perubahan keadaan yang beliau lalui tidak mengubah beliau.

الْإِحْسَانُ سَجِيَّةٌ مَهْمَا كَانَتِ الْمُتَغَيِّرَاتُ
Kebaikan tetap menjadi tabiatnya, sebesar apapun perubahan yang terjadi…

مَهْمَا كَانَتِ الْأَحْوَالُ الَّتِي يَمُرُّ بِهَا
Sesulit apapun keadaan yang dialami…

بَعْضُ النَّاسِ يَعْنِي بَعْضُ الْمَوَاقِفِ يَنْشَطُ وَيَكُونُ مُحْسِنًا
Namun sebagian orang; di beberapa keadaan ia bersemangat dan bersikap baik,

وَبَعْضُ الْمَوَاقِفِ يَضْعُفُ
namun di keadaan lain semangat dan kebaikannya melemah,

يَضْعُفُ خَاصَّةً الصَّدْمَاتُ الشَّدَائِدُ يَضْعُفُ جَانِبَ الْإحْسَانِ فِيهِ
terlebih ketika ia tertimpa musibah besar, sifat baiknya menjadi lemah.

لَكِنْ يُوْسُفُ هَذِهِ فَائِدَةٌ عَظِيمَةٌ
Namun Nabi Yusuf… ini adalah pelajaran besar…

يُوْسُفُ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَعَ كُلِّ هَذِهِ الْمُتَغَيِّرَاتِ هُوَ عَلَى هَذَا الْوَصْفِ
Beliau ‘alaihis salam dalam keadaan apapun, tetap berada dalam sifat (baik) itu…

قِيلَتْ لَهُ فِي السِّجْنِ وَقِيلَتْ لَهُ وَهُوَ مَلِكٌ فِي الْقَصْرِ
Dikatakan kepada beliau saat di penjara dan saat beliau di dalam istana sebagai penguasa,

إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
“Kami melihatmu termasuk orang baik.”

فَرَأَوْا فِيهِ لُطْفًا
Mereka melihat kelembutan pada diri Nabi Yusuf

فَتَلَطَّفُوا لِيُوْسُفَ
sehingga mereka meminta Nabi Yusuf

أَنْ يُبَلِّغَهُمَا بِتَأْوِيْلِ رُؤْيَاهُمَا
untuk mengabarkan takwil mimpi mereka berdua,

لِمَا شَاهَدُوا مِنْ إحْسَانِهِ لِلْأَشْيَاءِ
karena mereka melihat kebaikan beliau dalam melakukan segala sesuatu,

وَإحْسَانِهِ إِلَى الْخَلْقِ
dan kebaikan beliau kepada sesama makhluk

وَلِهَذَا قَالُوا لَهُ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Oleh sebab itu mereka berkata kepada beliau, “Kami melihatmu termasuk orang baik…”

هَذَا يُسْتَفَادُ مِنْهُ فَائِدَةٌ حَقِيقَةً جِدًّا مُهِمَّةٌ فِي بَابِ الدَّعْوَةِ
Dapat diambil pelajaran penting sekali dari hal ini dalam urusan dakwah:

أَنَّ الْإحْسَانَ الَّذِي يَكُونُ عَلَيْهِ الدَّاعِيْ
Bahwa kebaikan yang ada dalam diri seorang da’i

الَّذِي هُوَ اللُّطْفُ الرِّفْقُ حُسْنُ التَّعَامُلِ
yang berupa kelembutan, kesantunan, dan interaksi yang baik,

هُوَ بِحَدِّ ذَاتِهِ هُوَ بَابُ الدَّعْوَةِ
pada hakikatnya semua itu menjadi pintu untuk berdakwah

وَالْمَنْفَذُ إِلَى قُلُوبِ النَّاسِ لِقَبُولٍ مَا يَدْعُو إِلَيْهِ
dan jalan untuk meraih hati orang-orang agar dapat menerima dakwahnya.

وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

Cara Paling Jitu Menguatkan Hafalan al-Quran – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily

Cara Paling Jitu Menguatkan Hafalan al-Quran – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily

وَلَمْ نَعْلَمْ بِحَسَبِ التَّجْرِبَةِ أَقْوَى فِي تَثْبِيتِ الْحِفْظِ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ

Berdasarkan pengalaman, kami tidak mengetahui ada hal yang lebih efektif untuk menguatkan hafalan al-Quran selain salat malam.

لَوْ جَعَلْتَ مُرَاجَعَتَكَ لِمَا تَحْفَظُ فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ لَكَانَتْ هَذِهِ أَحْسَنَ مُرَاجَعَةٍ

Jika Anda memurajaah (mengulang-ulang) hafalan al-Quran Anda di salat malam, tentu ini adalah cara murajaah yang terbaik.

سَوَاءً كُنْتَ تُصَلِّي فِي أَوَّلِ اللَّيْلِ بَعْدَ الْعِشَاءِ مُبَاشَرَةً أَوْ فِي آخِرِ اللَّيْلِ

Baik Anda melakukan salat malam langsung setelah salat Isya’ atau di akhir malam.

لَكِنْ اِجْعَلْ مُرَاجَعَتَكَ مَثَلًا لَوْ أَنَّكَ جَعَلْتَ لِنَفْسِكَ مُرَاجِعَةً لِنِصْفِ جُزْءٍ يَوْمِيًّا

Namun, hendaknya murajaah Anda; misalkan Anda memiliki target pribadi murajaah setengah juz setiap harinya,

هَذَا النِّصْفُ اقْرَأْهُ وَأَنْتَ تُصَلِّي هَذَا أَقْوَى فِي الْحِفْظِ لِمَاذَا؟

maka target setengah juz ini hendaklah Anda baca dalam salat, hal ini akan memperkuat hafalan, kenapa?

لِأَنَّ الْإِنْسَانَ وَهُوَ يُصَلِّي يَسْتَنْفِرُ جَمِيعَ طَاقَاتِهِ لَيْسَ مَعَهُ الْمُصْحَفُ الْمُصْحَفُ بَعِيدٌ عَنْهُ

Karena seseorang ketika dia sedang salat akan mengerahkan seluruh kemampuannya karena dia tidak memegang mushaf, mushafnya jauh darinya.

فَيَسْتَنْفِرُ جَمِيعَ طَاقَاتِهِ فَتَكُوْنُ ذَاكِرَتُهُ أَقْوَى وَيَثْبُتُ الْحِفْظُ

Dia akan memaksimalkan segala kemampuannya sehingga ingatannya lebih kuat dan hafalannya semakin kokoh.

وَإِنْ شِئْتُمْ دَلِيلًا فَالدَّلِيلُ سَهْلٌ تَجِدُ أَنَّ الْإِمَامَ الَّذِي يُصَلِّي بِالنَّاسِ أَحْفَظُ لِلْآيَاتِ الَّتِي يُكَرِّرُهَا عَادَةً فِي الصَّلَاةِ

Jika kalian menginginkan bukti, buktinya gampang! Kalian akan dapati bahwa orang yang jadi imam salat akan lebih hafal ayat yang sering dia ulang-ulang dalam salatnya.

حَتَّى لَوْ كَانَ حَافِظًا لِلْقُرْآنِ كُلِّهِ تَجِدُ أَنَّ حِفْظَهُ لِلْآيَاتِ الَّتِي يُكَرِّرُهَا بِالصَّلَاةِ أَقْوَى مِنْ حِفْظِهِ لِبَقِيَّةِ الْآيَاتِ وَهَذَا أَمْرٌ مَعْلُومٌ

Bahkan walaupun dia telah menghafal 30 juz al-Quran, tetap saja ayat yang sering dia ulang-ulang dalam salat lebih kuat dalam ingatannya daripada ayat-ayat lainnya. Dan hal ini sudah kita ketahui bersama.

Berjanjilah pada Dirimu Sendiri untuk Selalu Beramal Shalih – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Berjanjilah pada Dirimu Sendiri untuk Selalu Beramal Shalih – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

أَيْضًا فِي هَذَا الْمَقَامِ مُجَاهَدَةُ النَّفْسِ عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ

Pembahasan kali ini adalah tentang bersungguh-sungguh beramal shalih.

الْأَعْمَالُ الصَّالِحَةُ ضَرُورِيَّةٌ جِدًّا فِي تَحْقِيقِ الْإِيمَانِ وَتَنْمِيَتِهِ

Amal shalih ini sangat penting dalam merealisasikan dan menambah iman seseorang.

فَكَمَا أَنَّ الْأَعْمَالَ الصَّالِحَةَ مِنْ جِهَةٍ هِيَ مِنَ الْإِيمَانِ وَخِصَالِهِ وَشُعَبِهِ فَإِنَّ مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى تُحَقِّقَ الْإِيمَانَ

Amal shalih pada satu sisinya adalah bagian dari iman itu sendiri, turunannya dan cabangnya. Dan pada sisi lainnya, amal shalih itu adalah praktek nyata dari iman seseorang.

وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الْعَبْدُ إِلَى تَعَاهُدِ نَفْسِهِ دَائِمًا بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ الْمُقَرِّبِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Oleh karena itulah seorang hamba perlu untuk ‘berjanji’ kepada dirinya sendiri untuk selalu konsisten di atas amal shalih yang mendekatkan dia kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

فَإِنَّ الْمُحَافَظَةَ عَلَى هَذِهِ الْأَعْمَالِ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَكُونُ مَعُونَةً عَلَى تَقْوِيَةِ الْإِيمَانِ وَبَقَائِهِ وَحِفْظِهِ

Menjaga amal shalih ini merupakan salah satu hal terpenting yang bisa membantu seseorang menguatkan, mempertahankan dan menjaga imannya agar tidak hilang.

خُذْ مِثَالًا عَلَى ذَلِكَ الصَّلَاةَ وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
الْعَنْكَبُوتُ – الْآيَةُ 45

Contohnya, shalat, Allah ta’ala telah berfirman, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. al-Ankabut: 45)

كَمْ فِي الصَّلَاةِ مِنْ تَجْدِيدِ الْإِيمَانِ كَمْ فِيهَا مِنْ صِلَةٍ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Betapa shalat itu mampu memperbaharui iman seseorang dan menjadi penghubung antara dia dengan Allah subhanahu wa ta’ala.

انْظُرْ فِي نَفْسِكَ عِنْدَمَا تَكُونُ مُحَافِظًا عَلَى هَذِهِ الصَّلَاةِ مُعَظِّمًا لَهَا مُعْتَنِيًا بِهَا كَمْ لَهَا مِنَ الْأَثَرِ عَلَى قَلْبِكَ فِي تَحْقِيقِ الْإِيمَانِ

Lihat diri Anda! Ketika Anda mampu menjaga shalat ini; yaitu ketika Anda mengagungkan shalat dan meminta pertolongan Allah dengan mendirikan shalat, betapa ini memiliki pengaruh besar terhadap iman dalam hati Anda.

وَانْظُرْ حَالَ مَنِ ابْتَعَدَ عَنْ هَذِهِ الصَّلَاةِ كَيْفَ أَنَّ بُعْدَهُ عَنْهَا تَوَلَّدَ عَنْهُ ضَعْفَ إِيمَانٍ فِي قَلْبِهِ أَوْ ضَعْفَ الْإِيمَانِ فِي قَلْبِهِ

Dan lihatlah keadaan orang yang jauh dari shalat! Perhatikan bagaimana jauhnya ia dari shalat membuat lemah iman dalam hatinya.

وَلِهَذَا قَالَ السَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ

Oleh sebab itulah ulama salaf -rahimahumullah- berkata bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

فَالطَّاعَةُ تَزِيدُ الْإِيمَانَ وَتُقَوِّي الْإِيمَانَ كُلَّمَا ازْدَدْتَ طَاعَةً وَعِبَادَةً وَتَقَرُّبًا لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كَانَ ذَلِكَ مِنَ الْأَسْبَابِ وَالْوَسَائِلِ الْمُعِينَةِ عَلَى تَقْوِيَةِ الْإِيمَانِ وَتَمْتِينِهِ

Taat itu akan menambah dan menguatkan iman; semakin Anda taat dan rajin ibadah maka itu akan menjadi sebab dan wasilah yang akan menguatkan iman Anda.

Belajar Fiqih yang Tepat: Apakah Dengan Metode Fiqih Mazhab atau Qoul ar-Rajih?

Belajar Fiqih yang Tepat: Apakah Dengan Metode Fiqih Mazhab atau Qoul ar-Rajih?

 

يَقُوْلُ هَذَا الْأَخُ يَقُوْلُ أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكَ
Saudara kita ini bertanya -semoga Allah memberimu kebaikan-:

أَيُّهُمَا أَفْضَلُ دِرَاسَةُ الْمَذْهَبِ أَمِ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ؟
Mana yang lebih baik, mempelajari fiqih dari madzhab atau dari pendapat yang rajih (lebih kuat)?

وَأَيْش الْقَوْلُ الرَّاجِحُ؟
Apa itu pendapat yang rajih?

مَا هُوَ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ؟
Apa itu pendapat yang rajih?

هَذِهِ يَا إِخْوَانُ مِنَ الْغَلَطِ فِي أَخْذِ الْعِلْمِ
Wahai para saudaraku, ini merupakan cara yang tidak benar dalam menuntut ilmu

الْقَوْلُ الرَّاجِحُ هُوَ الْاِخْتِيَارُ الَّذِيْ يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ مُجْتَهِدٌ مُقَيَّدٌ أَوْ مُطْلَقٌ هَذَا الْقَوْلُ الرَّاجِحُ
Pendapat rajih adalah pendapat yang dipilih oleh seorang mujtahid mutlaq atau muqayyad, inilah pendapat rajih

هُوَ الاِجْتِهَادُ الَّذِيْ يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ قَوْلُ مُجْتَهِدٍ مُقَيَّدٍ أَوْ مُطْلَقٍ
Pendapat rajih adalah ijtihad yang dihasilkan oleh seorang mujtahid muqayyad atau mutlaq

فَهُوَ قَوْلُ مُجْتَهِدٍ مُقَيَّدٍ فِي مَسْأَلَةٍ
Yaitu pendapat mujtahid yang ijtihadnya masih terikat dalam suatu permasalahan

أَوْ عِنْدَهُ قُدْرَةٌ عَلَى الْاِجْتِهَادِ كُلِّهِ
atau mujtahid yang telah memiliki kemampuan untuk berijtihad dalam setiap permasalahan

فَهُوَ رَاجِحٌ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهِ
itulah pendapat yang lebih kuat menurut mujtahid tersebut

فَأَنْتَ إِذَا أَرَدْتَ الْآنَ أَنْ تَدْرُسَ الْفِقْهَ بِالرَّاجِحِ
maka jika kamu hendak belajar fiqih dari pendapat yang rajih…

هَلِ الرَّاجِحُ تَقْصُدُ مَا هُوَ الرَّاجِحُ عِنْدَ الشَّيْخِ عَبْدِ الْعَزِيْزِ بْنِ بَازٍ؟
Apakah yang dimaksud itu rajih menurut as-Syeikh Abdul Aziz bin Baz?

أَوِ الرَّاجِحُ لِلشَّيْخِ مُحَمَّدٍ بْنِ عُثَيْمِيْنَ
Atau rajih menurut as-Syeikh Muhammad bin ‘Utsaimin?

أَوِ الرَّاجِحُ عِنْدَ الشَّيْخِ صَالِحِ الْفَوْزَانِ
Atau rajih menurut as-Syeikh Shalih al-Fauzan?

أَوْ غَيْرُهُمْ مِمَّنْ دَرَسَ الْفِقْهَ فِي قَطْرِنَا فِي هَذِهِ السَّنَوَاتِ الْأَخِيْرَةِ وَلَهُ فِي ذَلِكَ اخْتِيَارَاتٌ
Atau ulama lainnya yang mengajarkan fiqih di negeri kita pada tahun-tahun terakhir ini yang telah memiliki pilihan pendapat dalam berbagai masalah?

فَالرَّاجِحُ شَيْءٌ مُقَيَّدٌ بِالنِّسْبِةِ لِمُجْتَهِدٍ
Maka pendapat rajih adalah hal yang terikat dengan siapa yang berijtihad

وَلَا يُمْكِنُ أَنْ تَدْرُسَ الْفِقْهَ عَلَى هَذَا النَّحْوِ
Dan kamu tidak mungkin dapat mempelajari ilmu fiqih dengan metode seperti itu

فَاجْتِهَادُ فُلَانٍ يَخْتَلِفُ عَنِ اجْتِهَادِ فُلَانٍ يَخْتَلِفُ عَنِ اجْتِهَادِ فُلَانٍ
Karena ijtihad seseorang berbeda dengan ijtihad orang lain

هَذَا شَيْءٌ
Ini adalah satu hal yang harus diperhatikan

وَالشَّيْءُ الْآخَرُ مَنْ ذَا الَّذِيْ عِنْدَهُ مُكْنَةٌ فِي الْاِجْتِهَادِ فِي الْفِقْهِ
Dan hal lainnya, siapa yang memiliki kemampuan untuk berijtihad dalam perkara fiqih?

فَإِنَّ الاِجْتِهَادِ فِي الْفِقْهِ لَيْسَ هُوَ تَبْحَثُ الْمَسْأَلَةَ
Karena ijtihad dalam perkara fiqih bukan sekedar kamu mendalami suatu masalah…

ثُمَّ تَقُوْلُ وَالرَّاجِحُ كَذَا وَهُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ
Kemudian kamu dapat mengatakan pendapat ini rajih (lebih kuat) yang merupakan pendapat Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah

فَإِنَّ الرَّاجِحَ عِنْدَ الْمُتَأّخِّرِيْنَ عَامَّتِهِمْ هُوَ قَوْلُ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ
Dan pendapat yang rajih menurut mayoritas ulama kontemporer adalah pendapat yang dipilih Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah

فَصَارَ هَذَا هُوَ الرَّاجِحُ عِنْدَ النَّاسِ
Sehingga itulah yang menjadi pendapat yang rajih menurut orang banyak

فَيَكُوْنُ هَذَا رَاجِحاً بِالنِّسْبَةِ لِأَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ
itu adalah pendapat yang menurut Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah sebagai pendapat yang lebih kuat

أَمَّا أَنْتَ أَيُّهَا النَّاقِلُ لِاخْتِيَارِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ فَإِنَّكَ مُقَلِّدٌ
Sedangkan hai orang yang menganut pilihan Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah; kamu hanyalah muqallid (pengikut suatu pendapat) …

وَلَسْتَ مُجْتَهِداً
dan kamu bukan seorang mujtahid

وَالدَّلِيْلُ أَنَّكَ إِذَا أَوْرَدْتَ عَلَيْهِ مَا يَقَعُ مِنَ الْإيْرَادَاتِ الَّتِي تُعْرَفُ فِي عِلْمِ الْخِلَافِ فِي إِبْطَالِ دَلِيْلِهِ أَوْ إِبْطَالِ وَجْهِ اسْتِدْلَالِهِ
Buktinya, jika kamu bertanya kepadanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membantah dalil dari pendapat tersebut

لَا تَجِدُ لَهُ مُكْنَةً فِي الْمُنَاقَشَةِ فِي ذَلِكَ
Maka kamu akan mendapatinya tidak memiliki kemampuan untuk menjawab bantahan tersebut

فَهُوَ مُقَلَّدٌ لِاجْتِهَادِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةَ
Karena dia hanya mengikuti ijtihad dari Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah

وَهَذَا هُوَ الْغَالِبُ فِي اجْتِهَادَاتِ الْمُتَأّخِّرِيْنِ
Dan inilah mayoritas ijtihad ulama-ulama kontemporer

فَحِيْنَئِذٍ يَكُوْنُ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ الَّذِيْ تَدْرُسُهُ فِي كُلِّيَّةِ الشَّرِيْعَةِ
Sehingga pendapat rajih yang kamu pelajari di kuliah syariah…

كُلٌّ يَقُوْلُ الرَّاجِحُ الرَّاجِحُ فُلَانٌ قَالَ كَذَا وَالرَّاجِحُ كَذَا وَالرَّاجِحُ كَذَا
semuanya mengatakan ini pendapat rajih; Si Fulan berpendapat seperti ini, dan yang rajih adalah ini dan ini

هُوَ فِي الْحَقِيْقَةِ مَآلُهُ إِلَى اخْتِيَارَاتِ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ تَيْمِيَةِ الُحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى
Padahal sesungguhnya semua itu merujuk pada pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala-

فَحِيْنَئِذٍ أَيْنَ هَذَا الْفِقْهُ؟
Kalau begitu, yang mana ilmu fiqih itu?

إذاً لَا يُقَابِلُ هَذَا إِلَّا أَنْ تَدْرُسَ اخْتِيَارَاتِ أَبِي الْعَبَّاسِ بْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى
Jika demikian, maka kalian tidak dapat mempelajari fiqih kecuali dengan mempelajari pendapat-pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala-

وَاخْتِيَارَاتِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ لَا تَشْمَلُ الْفِقْةَ كُلَّهُ فَإِنَّهَا لَمْ تَحْفَظْ لَنَا
Sedangkan pendapat-pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah tidak mencakup seluruh ilmu fiqih, karena tidak sampai kepada kita semuanya

وَهُوَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي كُتُبِهِ الْمَوْجُوْدَةِ فِي أَيْدِيْنَا لَهُ قَوْلٌ فِي مَسْأَلَةٍ وَلَهُ قَوْلٌ فِي الْمَسْأَلَةِ قَوْلٌ آخَرُ
Dan dalam kitab-kitab beliau -rahimahullah Ta’ala- yang sampai kepada kita, terkadang memiliki lebih dari satu pendapat dalam suatu permasalahan

لِأَنَّ بَعْضَهَا قَدِيْمُ التَّصْنِيْفِ كَشَرْحِ الْعُمْدَةِ وَبَعْضَهَا مُتَأَخِّرٌ
Karena sebagian kitab-kitab itu telah ditulis sejak lama, seperti kitab Syarh al-‘Umdah; dan sebagian lainnya ditulis lebih akhir

وَلِذَلِكَ يُعَوَّلُ عَلَى تَلَامِيْذِهِ وَلَا سِيَّمَا ابْنُ مُفْلِحٍ فِي مَعْرِفَةِ اخْتِيَارِهِ
Sehingga untuk mengetahui pendapat yang beliau pilih, harus bersandar pada para muridnya, terutama Ibnu Muflih

فَاخْتِيَارُ ابْنِ تَيْمِيَةِ الَّذِي اسْتَقَرَّ عَلَيْهِ فِي مَسْأَلَةٍ إِذَا وَجَدْتَ فِيْهِ اخْتِلَافاً
Dan jika kamu mendapati perbedaan pada pendapat yang ditetapkan sebagai pendapat yang dipilih Ibnu Taimiyah dalam suatu permasalahan,

مَرَدُّهُ إِلَى مَا قَرَّرَهُ تِلْمِيْذُهُ ابْنُ مُفْلِحٍ فِي كِتَابِ الْفُرُوْعِ
Maka rujukannya adalah pada pendapat yang ditetapkan muridnya, Ibnu Muflih dalam kitab al-Furu’

أَوْ فِي كِتَابِ الْآدَابِ الشَّرْعِيَّةِ
Atau kitab al-Adab asy-Syar’iyyah

وَقَدْ كَانَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى يَرْجِعُ إِلَيْهِ فِي مَعْرِفَةِ اخْتِيَارِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ
Dan Ibnu al-Qayyim -rahimahullah- juga merujuk kepada Ibnu Muflih dalam mengetahui pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah

فِي مَسَائِلِ الْأَحْكَامِ وَالْفِقْهِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى جَمِيْعاً
Dalam berbagai permasalahan hukum dan fiqih -rahimahumullah-

فَحِيْنَئِذٍ الْقَوْلُ الرَّاجِحُ مُتَوَهِّمٌ لَا وُجُوْدَ لَهُ
Maka dari itu, pendapat yang rajih hanyalah anggapan semata dan hakikatnya tidak ada

وَالْمَذَاهِبُ الْمَتْبُوْعَةُ مَوْجُوْدَةٌ مُسْتَقِرَّةٌ مُنْذُ مِئَاتِ السِّنِيْنَ
Sedangkan madzhab-madzhab yang disepakati, telah ada sejak ratusan tahun yang lalu

فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَقْرَأَ الْفِقْهَ فَلَا بُدَّ أَنْ يَقْرَأَهُ بِدِرَاسَةٍ فِي مَذْهَبٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْمَتْبُوْعَةِ
Maka jika ada yang hendak mempelajari ilmu fiqih, maka dia harus mempelajarinya dari salah satu madzhab yang boleh diikuti

وَدِرَاسَتِهِ عَلَى مَذْهَبٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْمَتْبُوْعَةِ
Dan tujuan dari mempelajarinya dari salah satu madzhab adalah

الْمَقْصُوْدُ بِهَا الْاِسْتِعَانَةُ عَلَى تَصَوُّرِ مَسَائِلِهِ
untuk membantunya mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada di dalamnya

كَمَا ذَكَرَهُ الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ ابْنُ عَبْدِ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ فِي تِيْسِيْرِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ
sebagaimana yang disebutkan as-Syeikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, dalam kitab Taisir al-Aziz al-Hamid

فِي بَابِ مَنْ أَطَاعَ الْعُلَمَاءَ وَالْأُمَرَاءَ فِي تَحْلِيْلِ مَا أَحَلَّ اللهُ وَتَحْرِيْمِ مَا حَرَّمَ اللهُ
dalam bab orang yang mentaati ulama dan umara dalam menghalalkan yang Allah halalkan dan mengharamkan yang Allah haramkan

فَإِنَّهُ ذَكَرَ هَذَا الْمَعْنَى وَبَيَّنَ أَنَّ دِرَاسَةَ الْفِقْهِ فِي كُتُبِ الْفُرُوْعِ الْمُرَادُ بِهَا الْاِسْتِعَانَةُ عَلَى تَصَوُّرِ الْمَسَائِلِ
beliau menjelaskan bahwa mempelajari fiqih dari kitab-kitab fiqih bertujuan untuk memberi gambaran terhadap berbagai permasalahan yang dibahas di dalamnya

فَأَنْتَ تَتَصَوَّرُ الْمَسَائِلَ شَيْئاً فَشَيْئاً
Dengan begitu kamu dapat memiliki gambaran berbagai pembahasannya sedikit demi sedikit

وَالْفُقَهَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى رَتَّبُوا الْفِقْهَ عَلَى التَّدْرِيْجِ
Dan para ahli fiqih -rahimahumullah Ta’ala- telah Menyusun ilmu fiqih secara bertahap

فَأَلَّفُوا مُخْتَصَرَاتٍ وَجِيْزَةٍ ثُمَّ مَا هُوَ فَوْقَهَا
Pertama mereka menulis rangkuman singkat, kemudian yang lebih luas lagi

ثُمَّ مَا هُوَ فَوْقَهَا ثُمَّ مَا هُوَ فَوْقَهَا
Kemudian lebih luas lagi dan lebih luas lagi

حَتَّى يَتَمَكَّنَ الْإِنْسَانُ مِنْ تَصَوُّرِ الْمَسَائِلِ
Sehingga seseorang dapat memiliki gambaran terhadap berbagai macam pembahasannya

سَوَاءٌ كَانَ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَوْ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ أَوْ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ أَوْ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ
Baik itu dalam madzhab Hanbali, Syafi’i, Malliki, atau Hanafi

فَإِنَّهُ لَا يَنْفَكُّ مَذْهَبٌ مِنْ هَذَا التَّدْرِيْجِ
Setiap madzhab memiliki kitab-kitab yang bertahap

فَعِنْدَمَا تَأْخُذُهُ مُدَرَّجاً تَتَصَوَّرُ الْمَسَائِلَ شَيْئاً فَشَيْئاً
Sehingga ketika kamu mempelajarinya secara bertahap, maka kamu dapat memiliki gambaran pembahasannya sedikit demi sedikit

ثُمَّ تَرْتَقِي بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى اسْتِيْفَاءِ مَسَائِلَ أَكْثَرُ مِنَ الْمَبَادِئِ
Kemudian kamu dapat naik ke tingkat yang lebih luas pembahasannya

ثُمَّ تَسْتَوْعِبُ الْفِقْهَ كُلَّهُ
Kemudian kamu dapat mencakup seluruh pembahasan ilmu fiqih

ثُمَّ تَعْرِفُ دَلِيْلَ الْمَذْهَبِ
Kemudian kamu dapat mengetahui dalil dalam suatu madzhab

ثُمَّ تَعْرِفُ أَقْوَالَ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ
Dan kemudian kamu dapat mengetahui pendapat-pendapat dalam empat madzhab

ثُمَّ إِنْ كَانَ لِشَيْخِكَ الْمُفَقِّهِ لَكَ نَظَرٌ فِي الْفِقْهِ
Dan jika syeikh yang mengajarkanmu fiqih memiliki pendapat dalam suatu permasalahan…

فَحِيْنَئِذٍ أَنْتَ تَقْرَأُ عَلَى مُرَجِّحٍ
maka sesungguhnya kamu sedang belajar kepada seorang murajjih

وَأَمَّا أَنْ يَأْتِي فَيَقُوْلُ لَكَ الرَّاجِحُ كَذَا وَهُوَ اخْتِيَارِ أَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ
Adapun jika ia mengatakan, ‘Pendapat yang lebih kuat adalah ini’, sedangkan itu adalah pendapat yang dipilih Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah

فَهَذَا مُقَلِّدٌ وَلَيْسَ لَهُ اجْتِهَادٌ
maka syeikh itu adalah seorang muqallid, dan bukan syeikh yang mampu berijtihad

لِأَنَّ اْلاِجْتِهَادَ يَقْتَضِي أَنْ يَكُوْنَ عِنْدَهُ عِلًمٌ بِالْأَدِلَّةِ الَّتِي عُلِّقَ بِهَا هَذَا الْاِخْتِيَارُ
Karena ijtihad mengharuskan seseorang untuk memiliki ilmu tentang dalil-dalil yang berhubungan dengan pendapat yang dia pilih…

وَقُدْرَةُ عَلَى الْإِجَابَةِ عَلَيْهَا
Dan kemampuan untuk menjawab tentang dalil-dalil itu

وَلِذَلِكَ إِذَا قُلْتُ لَكُمْ مَثَلاً
Oleh sebab itu, aku dapat menyebutkan salah satu contoh kepada kalian

يُذْكَرُ عِنْدَ الْمُتَأَخِّرِيْنَ عِنْدَ قَوْلِ الْحَنَابِلَةِ
Para ulama kontemporer berkata tentang pendapat yang ada dalam madzhab Hanbali:

وَيُسْتَحَبُّ لَهُ نَثْرُ ذَكَرِهِ ثَلَاثاً
“Dan mengeluarkan sisa air kencing sebanyak tiga kali adalah perbuatan yang mustahab (dianjurkan)”

قَالُوْا وَهُوَ بِدْعَةٌ كَمَا ذَكَرَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدُ
Para ulama kontemporer itu mengatakan itu adalah bid’ah sebagaimana yang disebutkan oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah

وَتِلْمِيْذُهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِي إِغَاثَةِ اللَّهْفَانِ
Dan oleh murid beliau, Ibnu al-Qayyim dalam kitab Ighatsah al-Lahfan

هَذَا الرَّاجِحٌ صَحّ؟
Itulah pendapat yang rajih menurut mereka, benar begitu?

تَعْرِفُوْنَ هَذَا أَنْتُمْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا
Kalian mengetahui hal ini

لَكِنْ إِذَا جِئْنَا إِلَى النَّثْرِ وَنَجِدُ أَئِمَّةَ كِبَارٍ كَالشَّافِعِيِّ يَذْكُرُهُ
Akan tetapi jika kita dalami perkara tentang mengeluarkan sisa air kencing ini menurut para ulama besar seperti asy-Syafi’i

وَيَقُوْلُوْنَ إِنَّ النَّثْرَ حَاصِلُ كَلَامِهِمْ النَّثْرُ لَهُ مَعْنَيَانِ
Maka menurut mereka perkara tentang mengeluarkan sisa air kencing ini memiliki dua maksud

أَحَدُهُمَا مَا لَا يُمْكِنُ الْاِسْتِبْرَاءُ إِلَّا بِهِ
Pertama, membersihkan air kencing yang tidak mungkin dapat dilakukan kecuali dengan cara ini

وَهُوَ أَنْ يُحَرِّكَ ذَكَرَهُ بِدَفْعِ الْبَوْلِ فِيْهِ
Yaitu dengan mengejan untuk mengeluarkan sisa air kencing

حَتَّى يَخْرُجَ مِنْهُ الْبَوْلُ وَلَا يَبْقَى مِنْهُ شَيْءٌ فِي ذَكَرِهِ
Sehingga tidak tersisa lagi di dalamnya

وَهَذَا قَدْرٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ إِجْمَاعَا
Dan ini adalah hal yang harus dilakukan, dan disepakati secara ijma’

وَلَا يُمْكِنُ الْقَوْلُ بِأَنَّهُ بِدْعَةٌ
Sehingga tidak mungkin dikatakan itu adalah perbuatan bid’ah

لِأَنَّ الْاِسْتِبْرَاءَ الْمَأْمُوْرَ بِهِ شَرْعاً لَا يَقَعُ إِلَّا بِهِ
Karena pembersihan najis yang diperintahkan syariat tidak mungkin tercapai kecuali dengan melakukan itu

وَالثَّانِيْ قَدْرٌ زَائِدٌ عَنْ ذَلِكَ وَهُوَ اسْتِعْمَالُ آلَةِ يَدٍ فِيْهِ
Kedua, perbuatan yang lebih dari hal itu, yaitu mengeluarkan sisa air kencing dengan bantuan tangan

فَالْفُقَهَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى ذَكَرُوا النَّثْرَ مُطْلَقاً
Para ahli fiqih -rahimahumullah Ta’ala- menyebutkan perbuatan mengeluarkan sisa air kencing secara mutlak

ثُمَّ خَصَّصَهُ الْمُتَأَخِّرُوْنَ بِإِرَادَةِ النَّثْرِ بِالْيَدِ
Namun kemudian para ulama kontemporer memaksudkannya dengan mengeluarkan sisa air kencing menggunakan tangan

وَهَذَا لَيْسَ كُلَّ مَعْنَاهُ بَلْ هُوَ بَعْضُ مَعْنَاهُ
Padahal itu bukanlah yang dimaksud secara tepat, namun hanya sebagian dari maksudnya saja

وَحِيْنَئِذٍ فَالرَّاجِحُ أَنَّ النَّثْرَ الَّذِيْ يَرْجِعُ إِلَى أَصْلِ اسْتِبْرَاءِ مَأْمُوْرٌ بِهِ بَلْ هُوَ وَاجِبٌ
Sehingga pendapat yang rajih dalam perkara mengeluarkan sisa air kencing dengan mengejan untuk membersihkan sisa najis merupakan perkara yang diperintahkan bahkan wajib dilakukan

وَأَمَّا النَّثْرُ الَّذِيْ يَكُوْنُ بِاسْتِعْمَالِ آلَةِ الْيَدِ فَهُوَ الَّذِيْ يَأْتِيْ عَلَيْهِ كَلَامُ أَبِيْ الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى
Adapun membersihkan sisa kencing dengan bantuan tangan, maka inilah yang dimaksud pada pendapat Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala-

وَقِسْ عَلَى هَذَا فِي مَسَائِلِ عِدَّةٍ سَوَاءً عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَوْ غَيْرِهِمْ
Dan demikian pula dalam berbagai permasalahan lainnya, baik itu yang ada dalam madzhab Hanbali atau madzhab lainnya

وَلِذَلِكَ إَذَا أَرَدْتَ أَنْ تَسْتَفِيْدَ فِيْ قِرَاءَةِ الْفِقْهِ
Oleh sebab itu, jika kamu ingin mendapat manfaat dari belajar fiqih

فَالْزَمْ قِرَاءَتَهُ عَلَى تَدْرِيْجٍ مُرَتَّبٍ فِي مَذْهَبٍ مِنَ الْمَذَاهِبِ الْمُعْتَمَدَةِ
Maka pelajarilah secara bertahap dan teratur melalui salah satu madzhab yang diakui

وَلَا أَقُوْلُ لَكَ الْزَمْ قَوْلَ الْمَذْهَبِ
Aku tidak berkata, “Berpeganglah selalu pada pendapat yang ada dalam madzhab”

بَلْ أَقُوْلُ لَكَ الْزَمْ قِرَاءَتَهُ كَذَلِكَ
Namun aku katakan, “Senantiasalah mempelajarinya dari madzhab”

فَإِنْ كَانَ لَكَ اخْتِيَارٌ أَوْ شَيْخُكَ لَهُ اخْتِيَارٌ
Dan jika kamu memilih suatu pendapat, atau syeikhmu memilih suatu pendapat

أَوْ تَرَى أَنَّ قَلْبَكَ يَمِيْلُ إِلَى مَا ذَكَرَهُ أَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدُ
Atau hatimu lebih condong kepada pendapat yang dipilih oleh Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah,

فَتُقَلِّدَهُ بِذَلِكَ فَهَذَا شَأْنُكَ
Kemudian kamu mengikutinya; maka itu adalah urusanmu

لَكِنْ تَصَوُّرُكَ لِلْمَسَائِلَ لَا يَمْكِنُ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ عَلَى هَذَا النَّحْوِ
Akan tetapi kamu tidak akan menguasai pembahasan-pembahasan ilmu fiqih kecuali dengan metode seperti ini

وَأَمَّا طَلَبُ الْفِقْهِ عَلَى وَجْهِ الْفَوْضَى فَهَذَا لَا يَنْفَعُ
Adapun orang yang belajar ilmu fiqih secara asal-asalan, maka itu tidak akan mendatangkan manfaat

وَيُخْرِجُ لَنَا أُنَاساً لَا يَتَصَوَّرُوْنَ الْفِقْهَ كَمَا يَنْبَغِيْ
Dan hanya menghasilkan orang-orang yang tidak menguasai ilmu fiqih dengan baik

وَقَدْ رَأّيْتُ لِأَحَدِهِمْ مَقَالَةً فِي عِدَّةِ وَرَقَاتٍ مُذَكِّرَةً
Dan aku pernah membaca makalah salah satu dari mereka yang ditulis beberapa lembar

اجْتَزَأَ فِيْهَا كَلَاماً لِأَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ
Di dalamnya terdapat potongan kutipan-kutipan dari pendapat Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah

خَرَجَ بِهِ هَذَا الرَّجُلَ فِي إِبَاحَةِ الْغِنَاءِ
Dari kutipan-kutipan itu, orang tersebut menyimpulkan dibolehkannya lagu,

وَجَوَازِ سَمَاعِهِ مِنَ النِّسَاءِ
Dan dibolehkannya mendengarkan lagu dari suara wanita,

وَإِلَى آخِرِ قَائِمَةٍ طَوِيْلَةٍ
Serta perkara-perkara lainnya yang masih banyak lagi

لِأَنَّهُ لَا يَفْهَمُ حَقِيْقَةَ كَلَامِ أَبِي الْعَبَّاسِ لِابْنِ تَيْمِيَةِ الْحَفِيْدِ فِيْهَا
Hal ini karena dia tidak memahami hakikat perkataan Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah dalam perkara tersebut

وَلَمْ يَفْهَمِ الْفِقْهَ حَقِيْقَةً
Dan dia tidak memahami fiqih dengan sebenar-benarnya

فَهَؤُلَاءِ يَأْتُوْنَ وَلَيْسَ لَهُمْ تَصَوُّرٌ فِي الْفِقْهِ
Mereka tidak memiliki gambaran yang benar dalam ilmu fiqih

ثُمَّ يُرِيْدُوْنَ أَنْ يَفْهَمُوا كَلَامَ الْفُقَهَاءِ الْمُحَقِّقِيْنَ كَأَبِي الْعَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ الَحَفِيْدِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى
Kemudian mereka hendak memahami para ahli fiqih seperti Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah -rahimahullah Ta’ala-

وَمِنْ هُنَا دَخَلَ الْخَلَلُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ بِأَخَرَةِ
Dan dari sinilah masuk banyak masalah kepada kaum muslimin akhir-akhir ini

فَصَارَتِ الْأَقْوَالُ الضَّعِيْفَةُ فِي الْمَذَاهِبِ دِيْنًا
Sehingga sekarang pendapat-pendapat yang dhaif (lemah) menjadi tuntunan agama

وَالْفُقَهَاءُ مُجْمِعُوْنَ عَلَى حُرْمَةِ الْإِفْتَاءِ بِالضَّعِيْفِ
Padahal para ahli fiqih bersepakat tentang haramnya memberi fatwa menggunakan pendapat yang dhaif

وَأَنَّهُ لَا يَجُوْزُ الْإِفْتَاءُ بِالضَّعِيْفِ
Tidak boleh memberi fatwa dengan pendapat yang lemah,

وَإِنَّمَا ذَكَرُوْا الْإِفْتَاءِ بِالْمَرْجُوْحِ
Mereka masih membolehkan fatwa dengan pendapat yang marjuh (di bawah tingkat rajih)

وَالْمَرْجُوْحُ لَهُ وَجْهُ قُوَّةٍ لَكِنَّهُ مَرْجُوْحٌ
Karena pendapat marjuh masih memiliki tingkat kekuatan, hanya saja masih ada yang lebih kuat

أَمَّا الضَّعِيْفُ وَهُوَ مَا كَانَ مُتَوَهَّماً لَا حَقِيْقَةَ لَهُ فَإِنَّهُ لَا يَجُوْزُ الْإِفْتَاءُ بِهِ
Sedangkan pendapat dhaif adalah mendapat yang tidak benar, sehingga tidak boleh digunakan untuk berfatwa…

وَالْيَوْمَ يَأْتِيْ مَنْ لَا يَفْهَمُ فِي صِنْعَةِ الْفِقْهِ فَيَأْخُذُ هَذِهِ الْأَقْوَالَ الضَّعِيْفَةَ
Kemudian sekarang orang yang tidak memahami fiqih bersandar pada pendapat-pendapat yang lemah ini

وَيَجْعَلُهَا دِيْناً يَتَدَيَّنُ النَّاسُ بِهِ
Dan menjadikannya sebagai tuntunan agama bagi orang banyak

وَلِذَلِكَ صَارَ مَا كَانَ حَرَاماً بِالْأَمْسِ حَلَالَا بِالْيَوْمِ
Oleh sebab itu, yang dulunya haram, sekarang menjadi halal

لِأَنَّهُ تَكَلَّمَ فِي الْفِقْهِ مَنْ لَيْسَ بِأَهْلِهِ
Akibat orang yang berbicara dalam masalah fiqih tidak memiliki keahlian

وَإِذَا تَكَلَّمَ فِي الدِّيْنَ مَنْ لَيْسَ مِنْ أَهْلِهِ
Dan jika orang yang tidak memiliki keahlian telah berbicara dalam perkara agama…

جَاءَ بِمِثْلِ هَذِهِ الطَّامَّاتِ وَالْبَوَاقِعِ الَّتِي عَمَّتِ الْأُمَّةَ
maka dia akan mendatangkan berbagai musibah bagi umat

وَإِنَّمَا حَصَلَ النَّقْصُ بِقِلَّةِ الْغِيْرَةِ عَلَى دِيْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْمُتَعَلِّمِيْنَ وَالْمُعَلِّمِيْنَ
Dan kekurangan yang terjadi ini adalah karena lemahnya ghirah terhadap agama Allah Azza wa Jalla yang dimiliki oleh para menuntut ilmu dan para pengajarnya

وَعَدَمُ لُزُوْمِ جَادَّةِ مَنْ سَبَقَ فِي أَخْذِ الْعِلْمِ
Dan karena tidak teguh di atas jalan para salaf dalam menuntut ilmu

وَلَا تَغُرَّكُمُ الطُّبُوْلِيَّاتُ وَالشُّهْرَةُ فَإِنَّ الْأَيَّامَ صِرَامٌ
Dan janganlah sekali-kali kalian terlena oleh ketenaran; karena waktu akan terus berganti dan berubah

وَالْإِسْلَامُ لَا تُغَيِّرُهُ الْأَيَّامُ
Sedangkan agama Islam tidak akan berubah oleh waktu

وَكَمْ مِنْ وَقْتٍ أَزْبَدَ النَّاسُ فِيْهِ وَأَرْعَدُوا لِأَمْرٍ ضَجُّوا فِيْهِ
Dan betapa seringnya orang-orang digemparkan oleh suatu perkara…

فَمَا هِيَ إِلَّا سَنَوَاتٌ حَتَّى يَكُوْنَ زَبَداً يَذْهَبُ
namun selang beberapa tahun kemudian perkara itu lenyap dan hilang

وَيَبْقَى مَا يَنْفَعُ النَّاسَ
Dan yang tetap ada adalah yang bermanfaat bagi manusia

وَاعْتَبِرْ هَذَا فِي أَحْوَالٍ قَرِيْبَةٍ
Dan cermatilah hal ini pada keadaan-keadaan yang terjadi belum lama ini

فَكَمْ مِنْ بَاقِعَةٍ وَفِتْنَةِ أَلَمَّتْ بِالْمُسْلِمِيْنَ
Betapa banyak fitnah dan cobaan yang menimpa kaum muslimin

ثُمَّ جَرَفَتْ مِمَّنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الدِّيْنِ وَالشَّرِيْعَةِ قَوْماً
Kemudian fitnah itu menyeret beberapa orang yang dikenal sebagai orang yang memahami agama

كَانَ لَهُمْ فِيْهَا شَارَةٌ وَرِئَاسَةٌ
Pada awalnya mereka memiliki kedudukan dan derajat

فَمَا هِيَ إِلَّا سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ وَإِذَا بِهِمْ كَأَنْ لَمْ يَكُوْنُوْا
Namun selang beberapa tahun yang penuh tipudaya itu, ternyata mereka menjadi seakan-akan tidak pernah ada

وَانْظُرْ إِلَى فَتْرَةِ الْقَوْمِيَّةِ أَوْ فَتْرَةِ الشُّيُوْعِيَّةِ وَمَنْ تَكَلَّمَ فِيْهَا مِمَّنْ أًلَّفَ الْإِسْلَامَ الْاِشْتِرَاكِيَّ
Dan lihatlah masa kejayaan nasionalisme dan komunisme, dan orang yang menggaungkan islam sosialis

وَأَبُو ذَرٍّ إِمَامُ الْاِشْتِرَاكِيَّةِ وَلَهُ فَتَاوَى فِي الْاِشْتِرَاكِيَّةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ
Dan lihatlah Abu Dzar, pemimpin kaum sosialis yang memiliki banyak fatwa tentang sosialisme dan lainnya

ثُمَّ إِذَا بِهِمْ زَبَدٌ جُفَاءٌ قَدْ أَزَالَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ
Namun pada akhirnya mereka lenyap, disingkirkan oleh Allah Azza wa Jalla

وَبَقِيَ دِيْنُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Dan yang tetap ada adalah agama Allah Subhanahu wa Ta’ala

فَلَيْسَ الْخَوْفُ عَلَى الدِّيْنِ وَلَكِنِ الْخَوْفُ عَلَيْكَ أَنْتَ
Maka kekhawatiran ini bukan terhadap agama, namun terhadap dirimu

أَنْ تَغْلَطَ فِي فَهْمِ دِيْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Khawatir kamu akan salah dalam memahami agama Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَمِمَّا يَعْصِمُكَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ تَعْرِفَ طَرِيْقَ أَخْذِ دِيْنِكَ
Dan salah satu yang dapat melindungimu -biidznillah- adalah dengan mengetahui jalan yang benar dalam mempelajari agama,

وَأَنْ تَتَمَسَّكَ بِجَادَةِ مَنْ سَبَقَ
dan berpegang teguh kepada jalan para salaf

وَأَنْ تَلْزَمَ وَصِيَّتَهُمْ عَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ وَالْاِتِّبَاعِ
dan berpegang pada wasiat mereka, ‘Kalian harus berpegang pada perkara yang pertama dan ikutilah ia…

وَإِيَّاكُمْ وَآرَاءَ الرِّجَالِ وَإِنْ زَخْرَفُوْهَا لَكُمْ بِالْقَوْلِ
dan jangan kalian mengikuti pendapat-pendapat orang, meskipun mereka menghiasinya dengan kalimat yang indah’

فَإِنَّ الزُّخْرُفَ يَزُوْلُ وَالْحَقُّ يَبْقَى
karena hiasan itu akan lenyap, sedangkan kebenaran akan tetap ada

وَدَوْلَةُ البَّاطِلِ سَاعَةٌ وَدَوْلَةُ الْحَقِّ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ
Hal yang batil hanya bertahan sekejap, sedangkan hal yang benar akan bertahan hingga akhir zaman

وَمَا قَرَّرَهُ الْأَئِمَّةَ الْعُظَمَاءَ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَالْمُحَدِّثِيْنَ وَالْمُفَسِّرِيْنَ
Dan jalan yang telah ditetapkan oleh para ulama ahli fiqih, ahli hadits, dan ahli tafsir

لَا يُمْكِنُ أَنْ تُزِيْلَهُ بُنِيَّاتُ الطَّرِيْقِ
Tidak akan dapat dilenyapkan oleh jalan-jalan kecil

أَبَداً فَهُوَ بَاقٍ بَاقٍ شَاءَ مَنْ شَاءَ وَأَبَى مَنْ أَبَى
Tidak akan! Karena mau tidak mau, jalan itu akan tetap ada

وَقَدْ كَانَ فِيْمَا مَضَى قَوْمٌ يَأْنَفُوْنَ مِنْ زَادِ الْمُسْتَقْنِعِ
Dahulu banyak orang yang meremehkan kitab Zad al-Mustaqni’

وَيَسْخَرُوْنَ بِهِ وَيَسْتَهْزِئُوْنَ بِمَنْ يَقْرَأُهُ وَيُقْرِئُهُ وَيَحْفَظَهُ
Mereka mencelanya dan menghina orang yang belajar dan mengajarkannya serta menghafalnya

فَمَا هِيَ إِلَّا سَنَوَاتٌ وَإِذَا بِبَعْضِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ يَرْجِعُوْنَ إِلَى عُقُوْلِهِمْ
Namun selang beberapa tahun kemudian, orang-orang itu akhirnya menyadari

وَيَرَوْنَ أَنَّهُ لَا سَبِيْلَ يَتَفَقَّهُ إِلَّا بِمِثْلِ هَذِهِ الْكُتُبِ
Bahwa tidak ada jalan untuk mempelajari fiqih kecuali melalui kitab-kitab seperti ini

الَّتِيْ يَنْعَتُوْنَهَا بِالصَّفْرَاءِ أَوِ بِالتَّقْلِيْدِيَّةِ أَوْ بِالرَّتْكَارِيَّةِ وَمَعَ ذَلِكَ أَوِ الرَّجْعِيَّةِ
Kitab-kitab yang mereka sebut sebagai kitab kuning, kitab klasik, atau kitab kuno

وَهِيَ سَتَبْقَى سَتَبْقَى لِأَنَّ دِيْنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَاقٍ
Akan tetapi kitab-kitab itu akan tetap ada, karena agama Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tetap ada

قَالَ اللهُ تَعَالَى وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ
Allah Ta’ala berfirman “Dan Nabi Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya” [QS. Az-Zukhruf: 28].

فَمَا بَقِيَ عَقِبُ إِبْرَاهِيْمَ فَإِنَّ كَلِمَةَ التَّوْحِيْدِ وَدِيْنَ الْإِسْلَامِ بَاقٍ
Maka selama keturunan Nabi Ibrahim masih ada, maka kalimat tauhid dan agama Islam akan tetap ada

وَأَنْتُمْ تَحْفَظُوْنَ أَحَادِيْثَ الطَّائِفَةِ الْمَنْصُوْرَةِ وَالْفِرْقَةِ النَّاجِيَةِ
Kalianpun telah hafal hadits-hadits tentang tha’ifah manshurah dan firqah najiyah

وَالْمَقْصُوْدُ أَنْ تَحْذَرَ
Dan yang saya maksud di sini adalah agar kamu berhati-hati

مِنْ كُلِّ هَيْئَةٍ يَخْرُجُ إِلَيْهَا النَّاسُ وَتَمْتَدُّ إِلَيْهَا أَعْنَاقُهُمْ
Terhadap setiap kelompok yang disambut dan mendapat perhatian banyak orang

فَلَا تَغْتَرَّ بِهَا
Janganlah kamu mudah tertipu dengan kelompok tersebut

حَتَّى مَا أَقُوْلُ لَكَ أَنَا لَا تّغْتَرَّ بِهِ
Bahkan jangan mudah tertipu oleh apa yang aku katakan kepadamu

اُنْظُرْ هَلْ عَلَيْهِ مَنْ سَبَقَ أَوْ لَا؟
Hingga kamu melihatnya, apakah sesuai dengan jalan para salaf atau tidak?

إِذَا كَانَ عَلَيْهِ مَنْ سَبَقَ تَمَسَّكْ بِهِ
Jika sesuai dengan jalan para salaf, maka berpegang teguhlah padanya

وَإِذَا كَانَ مِنْ فَلَتَاتِ كَلَامِ صَالِحٍ أَلْقِهِ وَرَاءَ الْجِدَارِ
Namun jika itu hanya omong kosong dari orang shalih (yang tidak berilmu), maka lempar perkataan itu ke dinding

فَإِنَّهُ لَا يَنْفَعُكَ
Karena perkataan itu tidak akan mendatangkan manfaat bagimu

وَالسَّلَامَةُ أَنْ تَكُوْنَ عَلَى طَرِيْقَةِ مَنْ سَبَقَ
Dan kamu akan meraih keselamatan dengan menempuh jalan para salaf

فَهَذَا أَسْلَمُ لَكَ فِي دِيْنِكَ عِنْدَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Ini lebih selamat bagimu dalam agamamu di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala

فَأَنْ تَلْقَى اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَحُجَّتُكَ فِي دِيْنِكَ الْأَئِمَّةُ الْعُظَمَاءُ
Karena jika kamu menghadap kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan hujjahmu adalah para ulama besar

مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ
Dari kalangan para sahabat, tabi’in

وَأَئِمَّةِ الْهُدَى كَأَحْمَدَ وَالشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَالْبُخَارِيِّ وَالدَّارِمِيِّ
Dan ulama-ulama besar seperti Imam Ahmad, asy-Syafi’i, Malik, al-Bukhari, ad-Darimi,

وَمَنْ بَعْدَهُمْ كَأَبُو العَبَّاسِ ابْنِ تَيْمِيَةِ وَتِلْمِيْذِهِ ابْنِ الْقَيِّمِ وَابْنِ مُفْلِحٍ وَابْنِ رَجَبٍ
Dan ulama setelah mereka seperti Abu al-Abbas Ibnu Taimiyah, dan muridnya, Ibnu al-Qayyim, Ibnu Muflih, dan Ibnu Rajab

خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَلْقَى اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حُجَّتُكَ فُلَانٌ وَفُلَانٌ مِنْ أَبْنَاءِ الْعَصْرِ
Maka itu lebih baik bagimu; daripada jika kamu menghadap kepada Allah sedangkan hujjahmu adalah Si Fulan dan Si Fulan yang hidup di zaman ini

أَسْأَلُ اللهَ الْعَلِيَّ الْعَظِيْمَ أَنْ يُوَفِّقَ جَمِيْعاً إِلَى مَا رَضِيَهُ
Aku memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung agar memberi kita semua taufik menuju apa yang Dia ridhai

بِهِذِهِ يَنْتَهِي الْإِجَابَةُ عَنْ نَفْسِهِ الثَّلَاثَةِ
Dengan ini selesai sudah jawaban tiga pertanyaan sekaligus

وَفَّقَ اللهُ الْجَمِيْعَ
Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin