4 Perkara yang Membantumu Menjauhi Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

4 Perkara yang Membantumu Menjauhi Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Beberapa perkara yang dapat membantu menyelamatkan diri dari berbagai fitnah maksiat, terkhusus lagi perbuatan zina. Saya punya materi khutbah jumat tentang ini. Saya punya materi khutbah jumat tentang ini, yang aku sarikan dari kisah (Nabi Yusuf). Saya kira ada tujuh perkara penting yang dapat membantu pemuda—dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala— agar terbebas dari berbagai fitnah (maksiat) ini.

(PERTAMA: TAUHID & IKHLAS)
Perkara yang paling agung adalah tauhid dan ikhlas kepada Allah, ini yang paling agung. Tauhid adalah jalan keselamatan dari segala keburukan, dengan izin Allah. Ikhlas kepada Zat yang berhak disembah (Allah). “Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24) Dan dalam bacaan lain, “Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.” Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang memurnikan agamanya untuk Allah. Mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam ibadah. Ikhlas dan tauhid adalah jalan keselamatan. Demikian juga iman kepada Allah dan keagungan-Nya, kepada pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu keimanan bahwa Allah Maha Melihat hamba-Nya. Ini semua jalan keselamatan.

(KEDUA: BERUSAHA KERAS MELAWAN HAWA NAFSU)
Melindungi diri dari maksiat dengan melawan hawa nafsu dan menahannya, serta menekannya untuk menghalanginya terjerumus ke dalam perbuatan dosa.

(KETIGA: BERDOA)
Berdoa dan menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

(KEEMPAT: LARI MENJAUHI SUMBER PENYEBAB MAKSIAT)
Salah satu sebab penting lainnya adalah berlari menjauh dari tempat terjadinya fitnah (maksiat), Seseorang janganlah berada di sana dan menghadapkan diri kepada fitnah (maksiat), namun ia harus lari menjauh darinya dan dari tempatnya. Saat istri al-Aziz menggoda Nabi Yusuf, apa yang terjadi pada beliau? Nabi Yusuf segera bergegas menuju pintu. Baru sekedar melihat ada fitnah (maksiat) dan semacamnya, Nabi Yusuf segera bergegas menuju pintu. Pergi berlari ke arah pintu agar dapat lari dari fitnah (maksiat). Istri al-Aziz mengejarnya dan mengoyak bajunya dari belakang, sedangkan Nabi Yusuf bergegas berpaling, melarikan diri dari fitnah (maksiat).

Ini salah satu sebab keselamatan, yaitu melarikan diri dari tempat sumber fitnah. Tidak menghadapkan diri kepada fitnah (maksiat) dan menetap di tempatnya! Namun melarikan diri darinya, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menjerumuskan seorang hamba ke dalam fitnah (maksiat). Dengan perkara-perkara ini, dan adanya dorongan syahwat yang kuat, keimanan yang benar dan keikhlasan yang sempurna menghalanginya dari terjerumus ke dalam perbuatan zina yang terlarang. Juga terlindungi oleh doa dan berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, permohonan perlindungan kepada-Nya, melarikan diri dari fitnah (maksiat), dan sebab-sebab lainnya yang dapat kamu perhatikan dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam.

=========================================================================

الْأُمُورُ الْمُعِيْنَةُ لِلسَّلَامَةِ مِنَ الْفِتَنِ خَاصَّةً فِتْنَةُ الْفَاحِشَةِ

وَلِيْ فِي هَذَا خُطْبَةُ الْجُمْعَةِ

لِي فِي هَذَا خُطْبَةُ الْجُمْعَةِ اِسْتَخْلَصْتُ مِنَ الْقِصَّةِ

أَظُنُّ سَبْعَةَ أُمُوْرٍ مُهِمَّةٌ جِدًّا تُعِيْنُ الشَّابَّ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

عَلَى الْخَلَاصِ مِنْ هَذِهِ الْفِتَنِ

وَأَعْظَمُ ذَلِكَ التَّوْحِيدُ الإِخْلاصُ لِلهِ أَعْظَمُ ذَلِكَ

التَّوْحِيدُ نَجَاةٌ مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِإِذْنِ اللهِ

الْإِخْلَاصُ لِلْمَعْبُودِ

كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلِصِيْنَ هَذِهِ الْقِرَاءَةُ

الْمُخْلِصِيْنَ الَّذِينَ أَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلهِ

وَحَّدُوا اللهَ أَفْرَدَ اللهَ بِالْعِبَادَةِ

فَالْإِخْلَاصُ وَالتَّوْحِيْدُ نَجَاةٌ

أَيْضًا الْإِيْمَانُ بِاللهِ وَعَظَمَةِ اللهِ

وَمُرَاقَبَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَأَنَّه مُطَّلِعٌ عَلَى الْعَبْدِ وَأَنَّه يَرَاهُ هَذَا نَجَاةٌ

لاِسْتِعْصَامٍ بِمُجَاهَدَةِ النَّفْسِ وَمَنْعِهَا

وَالتَّشْدِيدِ عَلَيْهَا فِي الْإِيْبَاءِ وَالِامْتِنَاعِ عَنْ مُوَاقَعَةِ الْأَمْرِ الْمُحَرَّمِ

الدُّعَاءُ اللُّجُوْءُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

مِنَ الْأَسْبَابِ الْمُهِمَّةِ الْفِرَارُ مِنْ مَوْضِعِ الْفِتْنَةِ

مَا يَبْقَى الْإِنْسَانُ مُسْتَشْرِفًا لَهُ بَلْ يَفِرُّ مِنْهَا وَمِنْ مَكَانِهَا

لَمَّا دَعَتْهُ امْرَأَةُ العَزيزِ مَاذَا حَصَلَ مِنْهُ

اِسْتَبَقَ الْبَابَ

مُجَرَّدُ مَا رَأَى الْمَسْأَلَةَ فِيهَا فِتْنَةٌ فِيهَا كَذَا اِسْتَبَقَ الْبَابَ

رَاحَ يَعْنِي يَعْدُو جِهَةَ الْبَابِ فَارًّا مِنَ الْفِتْنَةِ

لَحِقَتْهُ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَهُوَ مُوَلِّيًا

فَارًّا مِنَ الْفِتْنَةِ

هَذَا مِنْ أَسْبَابِ النَّجَاةِ الْفِرَارُ مِنْ مَوْضِعِ الْفِتَنِ

مَا يَسْتَشْرِفُ لَهَا وَيَبْقَى فِي مَكَانِهَا

بَل يَفِرُّ مِنْهَا

وَيَبْتَعِدُ عَنِ الْأَسْبَابِ الَّتِي تُفْضِي بِالْعَبْدِ إِلَى الْفِتَنِ

فَمَعَ هَذِهِ الْأُمُورِ وَمَع قُوَّةِ الشَّهْوَةِ

مَنَعَهُ الْإِيمَانُ الصَّادِقُ وَالْإِخْلَاصُ الْكَامِلُ

مِنْ مُوَاقَعَةِ الْمَحْذُورِ

مَنَعَه أَيْضًا الدُّعَاءُ وَاللُّجُوْءُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الاِسْتِعْصَامُ

الْفِرَارُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي تَرَاهَا

فِي قِصَّتِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ

Ini Contoh Pelit Dalam Berdoa. Jangan Lakukan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ini Contoh Pelit Dalam Berdoa. Jangan Lakukan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Dalam hal memohon kebutuhan dalam perkara agama dan duniawi, janganlah kamu sekali-kali merasa perkara itu terlalu besar, atau merasa itu terlalu banyak bagi dirimu. Sebagian orang, pelit terhadap dirinya sendiri saat berdoa, dan menganggap beberapa perkara terlalu banyak untuk dirinya.

Saya buatkan satu contoh, meskipun banyak sekali contoh dalam hal ini, namun saya cukup buatkan satu contoh yang menjelaskan pelitnya sebagian orang terhadap dirinya sendiri saat berdoa. Karena begitu pelitnya seseorang terhadap dirinya saat berdoa dan merasa kebaikan terlalu banyak dan terlalu besar untuk dirinya, sebagian orang mengucapkan dalam doanya, “Ya Allah, aku memohon kepada Engkau agar memasukkan aku ke dalam surga, meski hanya di depan pintunya.” Ini orang yang pelit terhadap diri sendiri!

Perhatikan doa yang diucapkan orang ini, dan perhatikan tuntunan dari Nabi dalam berdoa. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga al-Firdaus al-A’la, …” “Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga al-Firdaus al-A’la, … karena ia adalah surga yang paling tinggi dan paling tengah. Dan di atasnya terdapat ‘arsy Allah.”

Maka janganlah seseorang merasa permintaannya terlalu besar atau kebutuhannya terlalu besar, namun mintalah kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan sungguh-sungguh dan hati yang yakin dalam meminta kebaikan dunia dan akhirat. Meminta dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam permintaan dan permohonannya. Dan tidak ada yang dianggap besar oleh Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak ada yang susah bagi Allah Jalla wa ‘Ala.

============================================

فَفِي بَابِ طَلَبِ الْحَاجَاتِ الدِّينِيَّةِ وَالدُّنْيَوِيَّةِ

إِيَّاكَ أَنْ تَتَعَاظَمَ أَمْرًا

أَوْ تَتَكَاثَرَ شَيْئًا عَلَى نَفْسِكَ

بَعْضُ النَّاسِ يَبْخَلُ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ

وَيَتَكَاثَرُ أُمُورًا عَلَى نَفْسِهِ

أَضْرِبُ مِثَالًا وَإِنْ كَانَتِ الْأَمْثِلَةُ كَثِيرَةً

لَكِنْ أَضْرِبُ مِثَالًا

يُوَضِّحُ لَنَا بُخْلَ بَعْضِ النَّاسِ

عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ

مِنْ بُخْلِ بَعْضِ النَّاسِ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ

وَتَكَاثُرِ الْخَيْرِ عَلَى نَفْسِهِ وَتَعَاظُمِهِ

بَعْضُهُمْ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تُدْخِلَنِي الْجَنَّةَ وَلَوْ عِنْدَ بَابِهَا

هَذَا بَخِيلٌ عَلَى نَفْسِهِ

اُنْظُرْ مَا يَقُولُ هَذَا

وَانْظُرْ تَوْجِيْهَ النَّبِيِّ

النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوا

الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى

إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوا الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى

فَإِنَّهُ أَعْلَى الْجَنَّةِ وَوَسَطُ الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ

فَلَا يَتَعَاظَمُ الْإِنْسَانَ مَطْلَبٌ

وَلا يَتَعَاظَمُ حَاجَةٌ

بَلْ يَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا بِصِدْقٍ وَقَلْبٍ ثَبْتٍ

مِنْ خَيْرَاتِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

صَادِقًا مُلِحًّا عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

فِي سُؤَالِهِ وَطَلَبِهِ

وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ

وَلَا يُعْجِزُهُ شَيْءٌ جَلَّ وَعَلَا

 

Akhlakul Karimah Perlu Latihan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Akhlakul Karimah Perlu Latihan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Penulis—rahimahullah—berkata, “Dan salah satu sebabnya adalah dengan melatih diri untuk mengamalkan akhlak mulia ini, dan berupaya membiasakan diri pada setiap keadaan yang dapat menjadi jalan untuk mendapatkan akhlak yang mulia ini.” Ini juga merupakan bab yang sangat penting dalam meraih akhlak yang mulia. Berakhlak mulia itu harus dilatih! Terkadang, kamu melihat orang yang lemah badannya, lalu selang beberapa waktu ternyata badannya berubah menjadi kuat dan bergairah. Lalu kamu bertanya kepadanya rahasianya. Dia menjawab, “Aku membiasakan diri berolahraga sehingga badanku menjadi kuat.” Kamu lihat ada orang yang lemah dalam berhitung (matematika), lalu selang beberapa lama ternyata ia menjadi mahir berhitung. Kamu bertanya padanya, dan dia menjawab, “Aku berlatih berhitung, … sehingga aku menjadi mahir.”

Demikian juga dalam akhlak mulia. Akhlak mulia juga perlu dilatih, perlu latihan dan pembiasaan diri. Oleh sebab itu, sebagian orang-orang cerdas dalam perkara seperti ini, jika mendapati suatu keadaan yang tidak ia sukai, maka ia segera menganggap dirinya sedang berada di medan untuk melatih akhlak mulia. Ia menganggap dirinya sedang berada di arena latihan untuk berakhlak mulia. Dan seakan-akan orang yang memancing kemarahannya itu adalah bahan latihan baginya untuk berakhlak mulia, dan objek untuk membiasakan akhlak mulia. Sehingga caranya bersikap menjadi berubah, karena latihan dan pembiasaan diri, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan menjadikan seseorang memiliki akhlak mulia.

Dan ini adalah salah satu bentuk berjihad melawan hawa nafsu. “Dan orang-orang yang berjihad mencari keridhaan Kami, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

==========================

قَالَ رَحِمَهُ اللهُ

وَمِنَ الْأَسْبَابِ رِيَاضَةُ النَّفْسِ وَتَمْرِيْنُهَا

عَلَى هَذِهِ الْأَخْلَاقِ

وَتَوْطِيْنُهَا عَلَى كُلِّ سَبَبٍ

يُدْرِكُ بِهِ هَذَا الْخُلُقَ الْفَاضِلَ

وَهَذَا أَيْضًا بَابٌ مُهِمٌّ جِدًّا فِي كَسْبِ الْأَخْلَاقِ الْفَاضِلَةِ

الْأَخْلَاقُ لاَ بُدَّ فِيهَا مِنْ رِيَاضَةٍ

أَحْيَانًا تَرَى شَخْصًا ضَعِيفَ الْبَدَنِ

ثُمَّ تَرَاهُ بَعْدَ مُدَّةٍ وَإِذَا بِبَدَنِهِ نَشِيْطٌ وَقَوِيٌّ

تَسْأَلُهُ

يَقُولُ مَارَسْتُ الرِّيَاضَةَ فَأَصْبَحَ بَدَنِي قَوِيًّا

تَرَى شَخْصًا ضَعِيفًا فِي الْحِسَابِ وَالْعَدِّ

ثُمَّ تَلْقَاهُ بَعْدَ مُدَّةٍ وَإِذَا بِهِ مَاهِرٌ

فَتَسْأَلُهُ يَقُولُ مَارَسْتُ الرِّيَاضَةَ رِيَاضَةَ الْحِسَابِ

حَتَّى أَصْبَحْتُ مَاهِرًا

وَقُلْ مِثْلَ ذَلِكَ فِي حُسْنِ الْخُلُقِ

الْخُلُقُ يَحْتَاجُ إِلَى رِيَاضَةٍ

إِلَى تَمْرِينٍ تَدْرِيبٍ لِلنَّفْسِ

وَلِهَذَا بَعْضُ الْأَكْيَاسِ الْفَطِنِيْنَ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَقَامِ

إِذَا جَاءَ فِي مَوْقِفٍ

وَكَانَ فِي سُوءِ تَعَامُلٍ مَعَهُ

يَفْتَرِضُ نَفْسَهُ فَوْرًا أَنَّهُ فِي مَيْدَانٍ لِلتَّدَرُّبِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ

يَفْتَرِضُ نَفْسَهُ أَنَّهُ فِي مَيْدَانٍ لِلتَّدَرُّبِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ

وَكَأَنَّ هَذَا الْخَصْمَ الَّذِي أَثَارَهُ

يَتَدَرَّبُ عَلَيْهِ حُسْنُ الْخُلُقِ

وَيَتَمَرَّنُ عَلَيْهِ حُسْنُ الْخُلُقِ

فَتَتَغَيَّرُ طَرِيقَتُهُ فِي التَّعَامُلِ لِأَنَّ التَّمْرِيْنَ وَالتَّدْرِيْبَ لِلنَّفْسِ

بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُكْسِبُ الْإِنْسَانَ حُسْنَ الْخُلُقِ

وَهُوَ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

 

Empat Bahagia & Sengsara di Dunia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Empat Bahagia & Sengsara di Dunia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Bab tentang kebahagiaan. Di antara faktor lahiriyah terbesar yang bisa mendatangkan kebahagiaan, adalah apa yang telah dikabarkan oleh Nabi kita Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Empat perkara yang membahagiakan.”

“Empat perkara yang membahagiakan:

(1) istri yang salihah,

(2) tempat tinggal yang luas,

(3) tetangga yang baik, dan

(4) kendaraan yang nyaman.

Sedangkan empat perkara yang menyengsarakan:

(1) tetangga yang buruk,

(2) istri yang tidak salihah,

(3) tempat tinggal yang sempit, dan

(4) kendaraan yang tidak baik.” (HR. Ibnu Hibban)

Empat hal yang menjadi sebab kebahagiaan seseorang, jika dia mendapatkannya di dunia.

(ISTRI SALIHAH)
Istri salihah atau pasangan yang baik. Letak kebahagiaannya adalah ketika Anda memandangnya, Anda merasa senang. Jika Anda mendengar perkataannya, hati Anda bahagia.Jika Anda pergi meninggalkannya, dia menjaga kehormatan dirinya dan harta Anda. Seperti itulah istri salihah yang merupakan aset kebahagiaan di dunia.

(TEMPAT TINGGAL YANG LAPANG)
Di antara sebab kebahagiaan adalah tempat tinggal yang lapang,
yang lengkap fasilitasnya, sehingga seseorang bisa tenang beristirahat di dalamnya.

(TETANGGA YANG BAIK)
Kemudian, di antara sebab kebahagiaan adalah tetangga yang baik, yang jika melihat kebaikan akan menyebarkannya dan mengajak orang untuk melakukannya, dan jika melihat keburukan, dia menutupinya, dan mengajak orang kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tetangga yang menginginkan kebaikan untuk tetangganya, sebagaimana ia menginginkannya untuk dirinya. Orang yang memuliakan tetangganya lebih berharga daripada harta benda dunia. Sehingga, tetangga yang baik adalah salah satu faktor terbesar kebahagiaan di dunia.

(KENDARAAN YANG NYAMAN)
Kemudian, kendaraan yang nyaman, yang dengannya Anda mendapatkan apa yang Anda butuhkan, dan mengantarkan Anda ke tempat-tempat yang Anda inginkan, dan berkumpul dengan orang lain, dan teman-teman Anda. Barang siapa dikaruniai empat hal ini, sungguh dia telah mendapat faktor-faktor kebahagiaan lahiriyah di dunia. Adapun orang yang tidak mendapatkannya, sehingga diuji dengan istri yang buruk rupa dan perangainya, yang jika dia memandangnya, hanya menambah keruh jiwanya. jika mendengar ucapannya, hanya mendapati kata-kata buruk dan lisan yang tajam. Jika dia meninggalkannya, dia selalu khawatir dengan hartanya dan keburukan istrinya. Kemudian, orang yang diuji dengan tetangga yang buruk, yang menutupi kebaikan dan menyebarkan keburukan, sehingga jika dia tidak menemukan keburukan tetangganya, akan mengada-adakan fitnah dan menambah-nambah keburukan tentangnya. Demi Allah, ini adalah kesengsaraan! Lalu, orang yang diuji dengan tempat tinggal yang sempit, sehingga dia tidak bisa mendapatkan keinginan dalam hidupnya, karena hal itu mempersempit kehidupannya. Selanjutnya, orang yang diuji dengan kendaraan yang buruk, dia tidak bisa mencapai tujuannya, terhambat di tengah jalan, dan terlambat dalam pertemuannya. Semua hal ini akan menyebabkan kesengsaraan baginya di dunia.

===============================================================================

بَابُ السَّعَادَةِ

وَمِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْحِسِّيَّةِ لِلسَّعَادَةِ

مَا أَخْبَرَنَا بِهِ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ قَالَ

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ

الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ

وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ

الْجَارُ السُّوءُ وَالْمَرْأَةُ السُّوءُ وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ

أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ الْعَبْدِ إِذَا وُجِدَتْ فِي دُنْيَاهُ

الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ الزَّوْجَةُ الصَّالِحَةُ

وَسَعَادَتُهَا أَنَّكَ إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ

وَإِذَا سَمِعْتَ كَلَامَهَا طَيَّبَتْ قَلْبَكَ

وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا أَمِنْتَهَا عَلَى نَفْسِهَا أَمِنْتَهَا عَلَى مَالِكَ

فَتِلْكَ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ كَنْزُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا

وَمِنْ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ

كَثِيرُ الْمَرَافِقِ الَّذِي يَرْتَاحُ فِيهِ الْإِنْسَانُ

وَمِنْ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ الْجَارُ الصَّالِحُ

الَّذِي إِذَا رَأَى خَيْرًا نَشَرَهُ وَشَجَّعَ عَلَيْهِ

وَإِذَا رَأَى سُوءًا سَتَرَهُ وَأَمَرَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَى عَنِ الْمُنْكَرِ

جَارٌ يُحِبُّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

جَارٌ إِكْرَامُهُ لِجَارِهِ أَطْيَبُ عِنْدَهُ مِنْ كُنُوزِ الدُّنْيَا

فَالْجَارُ الصَّالِحُ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ سَعَادَةِ الدُّنْيَا

وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ

الَّذِي يُحَقِّقُ لَكَ مَقْصُودَكَ

وَيُوصِلُكَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي تُرِيدُهُ

وَتَكُونُ مَعَ النَّاسِ مَعَ رِفْقَتِكَ

فَمَنْ رُرِقَ هَذَا فَقَدْ رُرِقَ أَسْبَابَ السَّعَادَةِ الْحِسِّيَّةِ فِي الدُّنْيَا

أَمَّا مَنْ حُرِمَ ذَلِكَ فَكَانَتْ لَهُ امْرَأَةُ سَوءٍ وَسُوءٍ

إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا لَمْ يَرَ إِلَّا مَا يُكَدِّرُهُ

وَإِذَا اسْتَمَعَ إِلَيْهَا لَمْ يَسْتَمِعْ إِلَّا لِقَوْلٍ بَغِيضٍ وَلِسَانٍ سَلِيطٍ

وَإِذَا غَابَ عَنْهَا خَافَ عَلَيْهَا مِنْهَا وَخَافَ عَلَى مَالِهِ مِنْهَا

وَمَنِ ابْتُلِيَ بِالْجَارِ السُّوءِ

الَّذِي يَدْفِنُ الْمَحَاسِنَ وَيُظْهِرُ الْمَسَاوِئَ

إِنْ لَمْ يَجِدْ سَيِّئَةً لِجَارِهِ كَذَبَ عَلَى جَارِهِ

وَأَضَافَ إِلَيْهِ السَّيِّئَاتِ فَذَاكَ الشَّقَاءُ وَاللهِ

وَمَنِ ابْتُلِيَ بِمَسْكَنٍ ضَيِّقٍ

لَا يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ لَهُ فِي حَيَاتِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُضَيِّقُ عَلَيْهِ حَيَاتَهُ

وَمَنِ ابْتُلِيَ بِمَرْكَبٍ سُوءٍ

لَا يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ يَقْطَعُ الْإِنْسَانَ فِي الطَّرِيقِ وَيُؤَخِّرُهُ عَنْ رِفْقَتِهِ

فَإِنَّ هَذَا يُسَبِّبُ شَقَائَهُ فِي الدُّنْيَا

 

 

Sabarlah Pada Tiga Hal Ini Maka Kau Bahagia – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Sabarlah Pada Tiga Hal Ini Maka Kau Bahagia – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Kemudian beliau berkata, “Dan bersabarlah dalam menjauhi maksiat, menerima takdir-Nya, dan dalam ketaatan kepada-Nya, agar kamu bahagia.” Dalam bait yang indah ini, beliau menyebutkan tiga jenis kesabaran. Sabar ada tiga jenis:

(1) sabar dalam ketaatan,

(2) sabar dalam menjauhi maksiat, dan

(3) sabar dalam menerima takdir Allah yang menyakitkan. Demikianlah, beliau kumpulkan tiga jenis kesabaran dalam bait ini.

(SABAR MENJAUHI MAKSIAT)
“Bersabarlah dalam menjauhi kemaksiatan,” ini jenis pertama. Maksudnya, “Tahan dan larang dirimu dari berbuat maksiat.” Setiap kali jiwamu ingin berbuat maksiat, larang ia, takut-takuti ia dengan Allah, dan ingatkan ia tentang-Nya dan bahwa Dia mengawasi dan melihatmu. Bersabarlah! Karena barang siapa berusaha bersabar, niscaya Allah akan membuatnya mampu bersabar. Setiap kali dirimu ingin bermaksiat, sabarkan ia! “Wahai jiwa, bersabarlah! Bersabarlah, karena kematian teramat dekat!” Sebagian orang tidak mampu bersabar menjauhi maksiat, hingga dia mati saat bermaksiat kepada Allah. Banyak sekali, orang meninggal dalam keadaan bermaksiat kepada Allah, padahal orang yang berusaha bersabar, pasti Allah akan membuatnya mampu bersabar. Setiap kali jiwa ingin melakukan maksiat, katakan “Bersabarlah, wahai jiwa! Bersabarlah, agar kau mendapat hasil yang terpuji!” “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah.” (QS. Al-Hasyr: 18) Maka, hendaknya seseorang bersabar dalam menjauhi maksiat.

(SABAR MENERIMA TAKDIR ALLAH)
Kemudian beliau berkata, “Bersabarlah menerima hukum-Nya,” yaitu bersabar menerima takdir-Nya. Jadi, ketika seseorang tertimpa musibah, hendaknya ia bersabar. “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rājiʿūn.'” (QS. Al-Baqarah: 155-156)

(SABAR DALAM KETAATAN)
“Dan bersabarlah dalam ketaatan,” dan ini jenis ketiga dari jenis-jenis kesabaran, yaitu sabar dalam menaati Allah. “Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah dalam menunaikannya.” (QS. Taha: 132) Bersabarlah dalam ketaatan, karena taat membutuhkan kesabaran. Orang yang tidak mampu bersabar, akankah dia mengerjakan salat Subuh? Akankan mengerjakan salat-salat lainnya? Akankah berbakti kepada orang tuanya? Sanggupkah berbuat kebaikan? Jika tidak punya kesabaran, pasti tidak mampu berbuat ketaatan, karena taat membutuhkan kesabaran, sehingga orang yang tidak bersabar tidak akan mampu. Sehingga, seorang hamba butuh kesabaran untuk taat kepada Allah, untuk menjauhi maksiat kepada-Nya, dan untuk menghadapi musibah-musibah menyakitkan. Inilah maksud perkataan beliau, “Dan bersabarlah dalam menjauhi kemaksiatan, dalam menerima hukum-Nya, dan dalam ketaatan, agar kamu bahagia.” Dan perkataan beliau—semoga Allah merahmatinya—di penghujung bait ini, “agar kamu bahagia,” di dalamnya ada pesan dari beliau—semoga Allah merahmatinya— bahwasanya kesabaran dengan ketiga jenisnya tersebut merupakan jalan kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat.

=======================================================================

ثُمَّ قَالَ: تَصَبَّرْ عَنِ الْعِصْيَانِ

وَاصْبِرْ لِحُكْمِهِ وَصَابِرْ عَلَى الطَّاعَاتِ

عَلَّكَ تَسْعَدُ

فِي هَذَا الْبَيْتِ الْجَمِيلِ ذَكَرَ أَنْوَاعَ الصَّبْرِ الثَّلَاثَةَ

الصَّبْرُ ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ صَبْرٌ عَلَى الطَّاعَاتِ

وَصَبْرٌ عَنِ الْمَعْصِيَةِ وَصَبْرٌ عَلَى أَقْدَارِ اللهِ الْمُؤْلِمَةِ

وَجَمَعَ رَحِمَهُ اللهُ فِي هَذَا الْبَيْتِ أَنَوَاعَ الصَّبْرِ الثَّلَاثَةَ

تَصَبَّرْ عَنِ الْعِصْيَانِ هَذَا النَّوْعُ الْأَوَّلُ

أَيْ احْرِصْ نَفْسَكَ وَامْنَعْهَا عَنِ الْمَعْصِيَةِ

كُلَّمَا أَرَادَتْ نَفْسُكَ مَعْصِيَةً امْنَعْهَا وَخَوِّفْهَا بِاللهِ

وَذَكِّرْهَا بِهِ وَذَكِّرْهَا بِرُؤْيَةِ اللهِ لَكَ وَاطِّلَاعِهِ عَلَيْكَ

تَصَبَّرْ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ

كُلَّمَا هَمَّتْ نَفْسُكَ بِمَعْصِيَةٍ صَبِّرْهَا

يَا نَفْسُ اصْبِرِي يَا نَفْسُ اصْبِرِي فَإِنَّ الْأَمْرَ قَرِيبٌ

بَعْضُ النَّاسِ لَمْ يَصْبِرْ عَنِ الْمَعْصِيَةِ وَمَاتَ وَهُوَ عَاصٍ لِلهِ

وَهُمْ كَثِيرُونَ مَاتَ وَهُوَ عَاصٍ لِلهِ

لَكِنْ مَنْ يُصَبِّرْ نَفْسَهُ يُصَبِّرْهُ اللهُ

كُلَّمَا أَرَادَتِ النَّفْسُ مَعْصِيَةً مِنَ الْمَعَاصِي قَالَ: يَا نَفْسُ اصْبِرِي

اصْبِرِي لَكِ الْعَاقِبَةُ الْحَمِيدَةُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ

وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

وَاتَّقُوا اللهَ

فَيُصَبِّرُ نَفْسَهُ عَنِ الْعِصْيَانِ

وَقَالَ: وَاصْبِرْ لِحُكْمِهِ وَهَذَا الصَّبْرُ عَلَى أَقْدَارِ اللهِ

إِذَا أُصِيبَ الْمَرْءُ بِمُصِيبَةٍ يَصْبِرُ

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ

قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

وَصَابِرْ عَلَى الطَّاعَاتِ وَهَذَا النَّوعُ الثَّالِثُ مِنْ أَنْوَاعِ الصَّبْرِ

الصَّبْرُ عَلَى طَاعَةِ اللهِ

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْعَلَيْهَا

صَابِرْ عَلَى الطَّاعَاتِ الطَّاعَةُ تَحْتَاجُ إِلَى الصَّبْرِ

مَنْ لَيْسَ عِنْدَهُ الصَّبْرُ هَلْ يُصَلِّي الْفَجْرَ؟

هَلْ يُصَلِّي الصَّلَوَاتِ؟

هَلْ يَبِرُّ وَالِدَيْهِ؟

هَلْ يَقُومُ بِأَعْمَالِ إِحْسَانٍ؟

إِذَا مَا عِنْدَهُ الصَّبْرُ مَا يَعْمَلُ الطَّاعَاتِ

الطَّاعَاتُ تَحْتَاجُ إِلَى صَبْرٍ وَمَنْ لَا صَبْرَ عِنْدَهُ لَا يَتَمَكَّنُ

فَالْعَبْدُ يَحْتَاجُ إِلَى الصَّبْرِ لِيُطِيعَ اللهَ

وَيَحْتَاجُ إِلَى الصَّبْرِ لِيَكُفَّ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ وَيَحْتَاجُ أَيْضًا إِلَى الصَّبْرِ فِي الْمَصَائِبِ الْمُؤْلِمَةِ

هَذَا مَعْنَى قَوْلِهِ تَصَبَّرْ عَنِ الْعِصْيَانِ

وَاصْبِرْ لِحُكْمِهِ وَصَابِرْ عَلَى الطَّاعَاتِ عَلَّكَ تَسْعَدُ

وَقَوْلِهِ رَحِمَهُ اللهُ فِي خَاتِمَةِ هَذَا الْبَيْتِ

عَلَّكَ تَسْعَدُ فِيهِ تَنْبِيهٌ مِنْهُ رَحِمَهُ الله تَعَالَى

إِلَى أَنَّ الصَّبْرَ بِأَنْوَاعِهِ الثَّلَاثَةِ سَبِيلُ السَّعَادَةِ

وَالْفَلَاحِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

 

Tanda Doa Dikabulkan Allah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Tanda Doa Dikabulkan Allah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ada perkataan seorang salaf, saya tidak ingat siapa namanya,bahwa dia berkata kepada beberapa saudara-saudaranya, “Aku tahu doa mana yang akan Allah kabulkan bagiku.” Mereka berkata, “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” Dia berkata, “Aku tahu doa mana yang Allah kabulkan bagiku, aku mengetahuinya.” Mereka bertanya, “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” Dia berkata, “Ketika hatiku khusyuk, seluruh badanku tenang, mataku meneteskan air mata, dan kesungguhanku dalam doa bertambah, aku yakin bahwa doa ini akan dikabulkan.”

Adapun doa yang keluar dari hati yang tidak khusyuk, lalai, dan tidak fokus, bagaimana mungkin akan dikabulkan? Sebagaimana sabda nabi kita ʿalaihiṣ ṣalātu was salām, “Berdoalah kepada Allah dengan meyakini bahwa doamu akan dikabulkan, karena, ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” “… Sungguh Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmizi)

Hati yang lalai, yaitu hati yang berpaling dan tidak menghadap kepada Allah, yang tidak yakin dalam doanya, sebagaimana telah kita bahas dalam atsar dari Ibnu Mas’ud, doa seperti ini, sangat layak untuk tidak dikabulkan! Allah akan mengabulkan doa dari hamba-Nya yang menghadapkan wajahnya kepada-Nya, memfokuskan hati kepada-Nya, jujur terhadap Tuhannya, sungguh-sungguh dalam doanya, khusyuk dalam doanya, dan yakin kepada Tuhannya yang Mahasuci lagi Mahatinggi, doa seperti ini yang sangat layak untuk dikabulkan, doa seperti ini sangat layak untuk dikabulkan.

===========

جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ لَا أَذْكُرُ مَنْ هُوَ الْآنَ

أَنَّهُ قَالَ لِبَعْضِ إِخْوَانِهِ

إِنَّنِيْ أَعْرِفُ الدُّعَاءَ الَّذِي يَسْتَجِيبُهُ اللهُ لِيْ

قَالُوا: وَكَيْفَ تَعْرِفُ ذَلِكَ؟

قَالَ: أَعْرِفُ الدُّعَاءَ الَّذِي اسْتَجَابَهُ اللهُ لِيْ أَعْرِفُهُ

قَالُوا: كَيْفَ تَعْرِفُ ذَلِكَ؟

قَالَ: إِذَا خَشَعَ قَلْبِيْ وَلَانَتْ جَوَارِحِيْ وَدَمَعَتْ عَيْنِيْ

وَعَظُمَ إِلْحَاحِيْ أَيْقَنْتُ أَنَّ هَذَا دُعَاءٌ مُسْتَجَابٌ

أَمَّا الدُّعَاءُ الَّذِي يَصْدُرُ مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ وَمِنْ قَلْبٍ لَاهٍ وَمِنْ قَلْبٍ مُعْرِضٍ

فَهَذَا أَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ؟

كَمَا قَالَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ

فَإِنَّ اللهَ أَوْ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيبُ مِنْ قَلْبٍ لَاهٍ

فَإِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيبُ مِنْ قَلْبٍ لَاهٍ ‏- رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

أَيْ الْقَلْبُ الَّذِي مُنْصَرِفٌ عَنِ الْإِقْبَالِ عَلَى اللهِ

لَيْسَ ثَبْتًا فِي الدُّعَاءِ كَمَا مَرَّ مَعَنَا فِي أَثَرِ ابْنِ مَسْعُودٍ

فَمِثْلُ هَذَا حَرِيٌّ بِأَنْ لَا يُسْتَجَابَ لَهُ

فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَسْتَجِيبُ مِنْ عَبْدِهِ الَّذِي أَقْبَلَ بِوَجْهِهِ

وَأَقْبَلَ بِقَلْبِهِ وَصَدَقَ مَعَ رَبِّهِ وَأَلَحَّ فِي دُعَائِهِ

وَأَقْبَلَ فِي سُؤَالِهِ وَوَاثِقٌ بِرَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

فَمِثْلُ هَذَا حَرِيٌّ أَنْ يُسْتَجَابَ

حَرِيٌّ أَنْ يُسْتَجَابَ

 

 

Perbanyak Doa Ini! Rasakan Hasilnya – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Perbanyak Doa Ini! Rasakan Hasilnya – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Penulis—rahimahullah—berkata, Salah satu hal paling bermanfaat dalam memandang masa depan adalah dengan membaca doa yang senantiasa dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ALLAAHUMMA ASHLIH LII DIINIL LADZI HUWA ‘ISHMATU AMRII WA ASHLIH LII DUNYAAYAL LATII FIIHAA MA’AASYII WA ASHLIH LII AAKHIRATIL LATII ILAIHAA MA’AADII WAJ-‘ALIL HAYAATA ZIYAADATAN LII FII KULLI KHOIR WAL MAUTA ROOHATAN LII MIN KULLI SYARR

Ini adalah doa yang agung sekali dan terdapat dalam kitab Shahih Muslim, dan salah satu doa yang paling banyak manfaatnya dan paling lengkap dalam meminta kebaikan dunia akhirat. Perhatikan kandungan doa ini, berupa permohonan kebaikan sebanyak tiga kali:

(1) perbaiki agamaku,

(2) perbaiki duniaku, dan

(3) perbaiki akhiratku.

Hendaklah seorang muslim banyak membaca doa ini, dengan penuh keyakinan bahwa tidak mungkin urusannya menjadi baik, baik itu urusan agamanya, dunianya, atau akhiratnya, kecuali jika Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memperbaikinya untuknya, karena kebaikan seluruh urusan seseorang berada di tangan Allah, dan tidak ada satupun dari urusan itu yang menjadi baik, kecuali jika Allah yang memperbaikinya. Oleh sebab itu, hendaklah ia terus-menerus meminta kepada Allah dengan doa agung ini:

ALLAAHUMMA ASHLIH LII DIINIL LADZI HUWA ‘ISHMATU AMRII

“Wahai Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang merupakan pelindung urusanku,
WA ASHLIH LII DUNYAAYAL LATII FIIHAA MA’AASYII

… dan perbaikilah bagiku duniaku yang merupakan tempat hidupku, …
WA ASHLIH LII AAKHIRATIL LATII ILAIHAA MA’AADII

… dan perbaikilah bagiku akhiratku yang merupakan tempat kembaliku, …
WAJ-‘ALIL HAYAATA ZIYAADATAN LII FII KULLI KHOIR
WAL MAUTA ROOHATAN LII MIN KULLI SYARR

… serta jadikanlah hidupku menjadi nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan, dan kematianku sebagai kebebasanku dari segala keburukan.”

Jika seseorang memperbanyak membaca doa ini, jika seseorang memperbanyak membaca doa ini, maka demi Allah, ia akan melihat pengaruhnya. Ia akan melihat pengaruhnya pada dirinya, dalam hidupnya, dalam perkara agama, dan juga perkara dunia, karena doa ini mengandung penyerahan diri dan memohon perlindungan kepada Allah, agar Allah memperbaiki bagi hamba-Nya urusan agama, dunia, dan akhiratnya.

Maka jika seseorang rutin dan banyak membaca doa ini, ia akan melihat pengaruhnya padanya-dengan izin Allah-dalam urusan agama dan dunianya. Urusan-urusan dunianya akan menjadi baik, begitu juga dengan urusan-urusan agamanya. Karena segala urusan ada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla. Dan jika ia memiliki itikad yang benar terhadap Allah dalam doanya, dan terus menerus meminta kepada Allah dengan doa ini, maka Allah akan mengabulkan permintaannya, dan menjadikan harapannya menjadi kenyataan. Demikian.

==========================

قَالَ رَحِمَهُ اللهُ

وَمِنْ أَنْفَعِ مَا يَكُونُ فِي مُلَاحَظَةِ مُسْتَقْبِلِ الْأُمُورِ

اسْتِعْمَالُ هَذَا الدُّعَاءِ الَّذِي كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو بِهِ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِيْ دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِيْ

وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي

وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادِي

وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ

وَالْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

هَذَا الدُّعَاءُ عَظِيمٌ جِدًّا وَهُوَ ثَابِتٌ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ

وَهُوَ مِنْ أَنْفَعِ الْأَدْعِيَةِ وَأَجْمَعِهَا لِخَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

وَتَأَمَّلْ مَا فِي هَذَا الدُّعَاءِ مِنْ طَلَبِ الصَّلَاحِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

أَصْلِحْ لِي دِينِي أَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ أَصْلِحْ لِي آخِرَتِي

يَنْبَغِي أَنْ يَقُولَ الْمُسْلِمُ هَذَا الدُّعَاءَ وَيُكْثِرَ مِنْهُ

وَهُوَ مُسْتَيْقِنٌ أَنَّهُ لَنْ يَصْلُحَ لَهُ شَيْءٌ مِنْ دِيْنِهِ

وَلَا دُنْيَاهُ وَلَا آخِرَتِهِ إِلَّا

إِذَا أَصْلَحَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ

فَصَلَاحُ شَأْنِ الْإِنْسَانِ كُلِّهِ بِيَدِ اللهِ

وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَصْلُحَ شَيْءٌ مِنْهُ إِلَّا إِذَا أَصْلَحَهُ اللهُ

وَلِهَذَا يُلِحُّ عَلَى اللهِ بِهَذَا الدُّعَاءِ الْعَظِيمِ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِيْ دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِيْ

وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي

وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادِي

وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَالْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

هَذَا الدُّعَاءُ إِذَا اسْتَكْثَرَ مِنْهُ الْإِنْسَانُ

إِذَا اسْتَكْثَرَ مِنْهُ الْإِنْسَانُ يَرَى وَاللهِ أَثَرَهُ

يَرَى أَثَرَهُ عَلَى نَفْسِهِ فِي حَيَاتِهِ

فِي أُمُورِهِ الدِّينِيَّةِ وَأُمُورِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ

لِأَنَّ هَذَا الدُّعَاءَ فِيهِ تَفْوِيضٌ إِلَى اللهِ وَلُجُوْءٌ إِلَى اللهِ

وَأَنْ يُصْلِحَ اللهُ لِعَبْدِهِ دِينَهُ وَدُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ

فَإِذَا وَاظَبَ عَلَيْهِ وَأَكْثَرَ مِنْهُ سَيَرَى

أَثَرَهُ بِإِذْنِ اللهِ عَلَيْهِ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ

تَصْلُحُ أُمُورُهُ الدُّنْيَا وَتَصْلُحُ أُمُورُهُ الدِّينِيَّةُ

لِأَنَّ الْأَمْرَ بِيَدِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَإِذَا صَدَقَ مَعَ اللهِ فِي دُعَائِهِ

وَأَكْثَرَ مِنَ اللِّحَاحِ عَلَى اللهِ بِهَذَا الدُّعَاءِ

أَعْطَاهُ اللهُ سُؤْلَهُ وَحَقَّقَ لَهُ رَجَاءَهُ

نَعَمْ

Bolehkah Menutup Masjid Apabila Ada Kebutuhan – Syaikh Ibnu Utsaimin #NasehatUlama

Bolehkah Menutup Masjid Apabila Ada Kebutuhan – Syaikh Ibnu Utsaimin #NasehatUlama

Qutaibah bin Sa’id mengabarkan kepada kami, dia berkata, “Laits mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Syihab, dari Salim, dari Ayahnya, bahwa dia berkata, ‘Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam masuk ke Ka’bah dan beliau bersama Usamah bin Zaid, Bilal, dan Uṡman bin Ṭalḥah. Kemudian mereka menutup pintunya. Ketika pintunya sudah dibuka, aku adalah orang pertama yang masuk, lalu aku bertemu Bilal, kemudian bertanya kepadanya, ‘Apakah Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam tadi salat di dalam?’ Dia berkata, ‘Iya, di antara dua tiang Yamani.’’” (HR. Bukhari) Perkataan beliau -semoga Allah merahmatinya-, “Bab: Menutup Ka’bah dan Salat di Dalamnya, di Mana pun Dikehendaki.” Penulis ingin menjelaskan bahwa menutup masjid, Ka’bah, dan lain sebagainya, tidak mengapa, jika memang diperlukan. Dan ini bukanlah bentuk tindakan melarang berzikir menyebut nama Allah di dalam masjid, karena ini demi kebaikan, suatu keperluan, atau terkadang karena perkara darurat. Jadi, tidak mengapa.

===============

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ

دَخَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَيْتَ

هُوَ وَأُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ وَبِلَالٌ وَعُثْمَانُ بْنُ طَلْحَةَ

فَأَغْلَقُوا عَلَيْهِمْ فَلَمَّا فَتَحُوا

كُنْتُ أَوَّلَ مَنْ وَلَجَ

فَلَقِيتُ بِلَالًا فَسَأَلْتُهُ

هَلْ صَلَّى فِيهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟

قَالَ: نَعَمْ بَيْنَ الْعَمُودَيْنِ الْيَمَانِيَيْنِ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

قَوْلُهُ رَحِمَهُ اللهُ بَابُ إِغْلَاقِ الْبَيْتِ
وَيُصَلِّي فِي أَيِّ نَوَاحِي الْبَيْتِ شَاءَ

أَرَادَ الْمُؤَلِّفُ رَحِمَهُ اللهُ أَنْ يُبَيِّنَ أَنَّ إِغْلَاقَ الْمَسَاجِدِ وَالْكَعْبَةِ

وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ لِلْحَاجَةِ لَا بَأْسَ بِهِ

وَلَا يُقَالُ إِنَّ هَذَا مِنْ مَنْعِ مَسَاجِدِ اللهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ

لِأَنَّ هَذَا لِمَصْلَحَةٍ أَوْ لِحَاجَةٍ أَوْ لِضَرُوْرَةٍ أَحْيَانًا

فَلَا حَرَجَ

 

Hadis yang Menakutkan: 4 Perkara Jahiliyah – Syaikh Utsman Al-Khamis #NasehatUlama

Hadis yang Menakutkan: 4 Perkara Jahiliyah – Syaikh Utsman Al-Khamis #NasehatUlama

Beliau berkata, dan diriwayatkan dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada empat perkara pada umatku yang berasal perkara jahiliyah. Mereka tidak akan meninggalkan empat perkara itu:
(1) membanggakan diri dengan kejayaan leluhur,

(2) mencela nasab,

(3) meminta hujan dari bintang-bintang, dan

(4) meratapi orang mati.”
Kemudian beliau bersabda, “Dan wanita yang meratapi mayit, jika tidak bertaubat sebelum meninggal dunia,
maka ia akan dibangkitkan di hari kiamat dengan memakai pakaian dari kuningan yang dilelehkan dan baju kurung dari penyakit kulit.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab ash-Shahihnya. Sungguh hadits yang sangat menakutkan! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Terdapat empat perkara pada umatku yang berasal perkara jahiliyah …” Maksud kata “Umatku”, yakni umat yang telah menerima dakwah beliau, yakni muslimin. Yang beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- maksud, kaum muslimin. “Umatku”, yakni umat yang telah menerima dakwah beliau. Dan mereka adalah yang telah bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad utusan Allah. Mereka melakukan empat perkara itu.

Beliau bersabda, “Mereka tidak akan meninggalkan empat perkara itu.” Bukan berarti seluruh umat ini melakukannya, akan tetapi dari sebagian umat ada yang melakukan ini, ada yang sedikit melakukannya dan ada pula yang banyak. Mungkin di sebagian negeri, empat perkara itu dilakukan, di bagian negeri lain hanya tiga, dan di bagian negeri lain hanya dua, dan di bagian lain hanya satu. Di sebagian negeri terjadi penghinaan nasab, di negeri lain terjadi pembanggaan leluhur, di negeri lainnya terjadi peratapan mayit, dan di negeri lain dilakukan minta hujan kepada bintang-bintang.

Pada intinya, empat perkara ini ada di umat ini secara umum. “Empat perkara pada umatku yang berasal perkara jahiliyah.” Ketika beliau bersabda, “Berasal dari perkara jahiliyah”, maksudnya dari perbuatan dan ciri khas orang-orang jahiliyah. Yakni, mereka menirunya dari orang-orang jahiliyah. Mereka mencontohnya dari orang-orang jahiliyah. Mereka tetap melakukannya dengan cara orang-orang jahiliyah.

Dan seburuk-buruk panutan adalah perkara jahiliyah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan empat perkara ini termasuk perkara jahiliyah, yakni termasuk perbuatan dan ciri khas jahiliyah: (1) membanggakan diri dengan kejayaan leluhur, (2) mencela nasab, (3) meminta hujan kepada bintang-bintang, Dan juga (4) meratapi orang mati. Dan disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala. Dengan berfirman, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka inginkan?” Allah menyatakan segala hukum selain hukum Allah Tabaraka wa Ta’ala adalah hukum jahiliyah.

Dan disebutkan dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala, “Mereka berprasangka kepada Allah yang tidak baik, prasangka jahiliyah.” Yakni prasangka orang-orang jahiliyah. Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kalian bertabarruj jahiliyah.” Allah menjelaskan tabarruj ini sebagai tabarruj jahiliyah, yakni termasuk sifat orang-orang jahiliyah. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan Allah menjadikan dalam hati mereka keangkuhan jahiliyah.” Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,.. “Apakah kalian menyeru seruan jahiliyah, sedangkan aku berada di antara kalian?” Semua yang dinisbatkan pada jahiliyah menunjukkan itu adalah sesuatu yang tercela. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan itu sebagai peringatan darinya, dan pencelaan terhadap perkara itu. Dan tabiat manusia itu sendiri, tidak suka jika disifati dengan kejahilan.

Tidak ada seorangpun yang suka dinisbatkan pada kejahilan. Oleh sebab itu, Ali bin Abi Thalib berkata,“Cukuplah ilmu itu bagimu … sebagai kebanggaan … karena orang yang tidak memilikinya juga ikut mengakuinya. … Dan cukup bagimu kejahilan itu sebagai perkara yang hina … karena orang yang jahil juga ingin menghindarinya.” Yakni orang yang memiliki sifat itu, juga ingin berlepas diri darinya. Jadi perkara jahiliyah.Nabi menyebutkannya dan menisbatkannya pada kejahilan agar orang-orang menjauhinya, dan menjadikan perbuatan ini buruk pada pandangan mereka.

==================================================

قَالَ وَعَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ

لَا يَتْرُكُونَهُنَّ

الْفَخْرُ بِالْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ

وَالِاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُوْمِ وَالنِّيَاحَةُ

ثُمَّ قَالَ وَالنَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا

تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ

وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

أَخْرَجَهُ الْإِمَامُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ

حَدِيثٌ مُخِيفٌ جِدًّا

النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ

أُمَّتِي أَيْ أُمَّةُ الِاسْتِجَابَةِ أَيْ الْمُسْلِمُونَ

يَعْنِي الْمُسْلِمِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أُمَّتِي هِيَ أُمَّةُ الِاسْتِجَابَةِ

وَهُمُ الَّذِينَ شَهِدُوا أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

عِنْدَهُمْ هَذِهِ الْأُمُورُ

قَالَ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ

وَلَا يَعْنِي أَنَّ كُلَّ الْأُمَّةِ تَعْمَلُ هَذِهِ لَكِنْ

فِيهِ مِنَ الْأُمَّةِ مَنْ يَقُومُ بِهَذَا

بَيْن مُسْتَقِلٍّ وَمُسْتَكْثِرٍ

قَدْ تَكُونُ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ الْأَرْبَعُ كُلُّهَا مَوْجُودَةً فِي بَعْضِ الْبِلَادِ ثَلَاثٌ مِنْهَا فِي بَعْضِ الْبِلَادِ

اثْنَتَانِ فِي بَعْضِ الْبِلَادِ وَاحِدَةٌ

فِي بَعْضِ الْبِلَادِ الطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ

فِي أُخْرَى الْفَخْرُ بِالْأَحْسَابِ فِي ثَالِثَةٍ النِّيَاحَةُ فِي رَابِعَةٍ

الِاسْتِسْقَاءُ بِالْأَنْوَاءِ

الْمُهِمُّ أَنَّهَا مَوْجُودَةٌ فِي مَجْمُوعِ الْأُمَّةِ

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ

وَعِنْدَمَا يَقُولُ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ أَيْ

مِنْ أَفْعَالِهِمْ وَخِصَالِهِمْ

يَعْنِي

أَخَذُوهَا مِنْ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ

قَلَّدُوا فِيهَا أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ

اسْتَمَرُّوا فِيهَا عَلَى طَرِيقِ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ

وَبِئْسَتِ الْقُدْوَةُ الْجَاهِلِيَّةُ

وَجَعَلَ هَذِهِ الْأُمُورَ الْأَرْبَعَةَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ

أَيْ مِنْ فِعْلِ الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ خِصَالِ الْجَاهِلِيَّة

الْفَخْرُ بِالْأَحْسَاب الطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ

الِاسْتِسْقَاءُ بِالْأَنْوَاءِ الَّذِي هُوَ النُّجُومُ

ثُمَّ النِّيَاحَةُ

وَقَدْ جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ عَنْ رَبِّ الْعِزَّةِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
..
قَالَ أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ

فَجَعَلَ كُلَّ حُكْمٍ دُونَ حُكْمِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ حُكْمُ جَاهِلِيَّةٍ

وَجَاء كَذَلِكَ فِي قَوْلِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَظُنُّونَ بِاللهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ

أَيْ ظَنَّ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ

وَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيّةِ

فَجَعَلَ هَذَا التَّبَرُّجَ تَبَرُّجَ جَاهِلِيَّةٍ يَعْنِي مِنْ صِفَاتِ أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ

وَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَجَعَلَ فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ

وَكَذَلِكَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَدَعْوَةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟

فَكُلُّ مَا نُسِبَ إِلَى الجَاهِلِيَّةِ دَلَّ عَلَى أَنَّهُ مَذْمُومٌ

وَإِنَّمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ مِنْ بَابِ التَّنْفِيرِ

وَالتَّقْبِيْحِ لِهَذَا الْأَمْرِ

وَالْإِنْسَانُ بِطَبِيعَتِهِ لَا يُحِبُّ أَنْ يُنْسَبَ إِلَى الْجَهْلِ

لَا يُحِبُّ أَيُّ أَحَدٍ أَنْ يُنْسَبَ إِلَى الْجَهْلِ وَلِذَلِكَ يَقُولُ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ

حَسْبُكَ بِالْعِلْمِ

فَخْرًا

أَنَّهُ يَدَّعِيهِ مَنْ لَا يُحْسِنُهُ

وَحَسْبُكَ بِالْجَهْلِ مَذَمَّةً

أَنَّهُ يَنْفِرُ مِنْهُ مَنْ كَانَ مُتَلَبِّسًا بِهِ

يَتَبَرَّأُ مِنْهُ مَنْ كَانَ مُتَلَبِّسًا بِهِ

فَأَمْرُ الْجَاهِلِيَّةِ إِذًا

ذَكَرَ النَّبِيُّ ذَلِكَ وَنَسَبَهُ إِلَى الْجَاهِلِيَّةِ لِيُنَفِّرَ النَّاسَ

وَلِيُقَبِّحَ هَذَا الْفِعْلَ فِي أَعْيُنِهِمْ

 

Rahasia Asmaul Husna “Allah” Dalam Al-Quran – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Rahasia Asmaul Husna “Allah” Dalam Al-Quran – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Kemudian beliau -semoga Allah Ta’ala merahmatinya- menjelaskan salah satu rahasia konteks Al-Quran, bahwa nama Allah “Al-Khabir (Yang Maha Mengetahui)” kebanyakannya dalam konteks amal perbuatan dan balasannya. Sebagaimana firman Allah ta’ala: “Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui (perbuatan mereka).” (QS. Al-‘Adiyat: 11) Penyebutan nama Allah “Al-Khabir” setelah penyebutan amal perbuatan dan balasannya, maksudnya adalah untuk menggugah hati dan mengingatkannya kepada derajat yang semestinya seseorang raih, berupa kesempurnaan amal, memperbagusnya, menyempurnakannya, dan ikhlas.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebarkan Asmaul Husna pada ayat-ayat dalam Al-Quran, yaitu setiap ayat yang ditutup dengan salah satu dari nama-nama Allah (Asmaul Husna) Subhanahu wa Ta’ala, atau dalam ayat tersebut ada perbuatan yang dikaitkan dengan salah satu nama-Nya Subhanahu wa Ta’ala, maka dalam keterkaitan atau penutupan ayat tersebut ada satu makna yang tersirat dari konteksnya, sehingga bila seseorang memperhatikan kaidah dalam konteks-konteks Al-Quran berdasarkan makna-maknanya ini, niscaya dia akan menemukan makna-makna Al-Quran dan pemahaman tentangnya yang tidak bisa dipahami oleh orang lain.

Contoh yang lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya, ketika ada lafal الْحَمْدُ ‘al-hamdu’ (pujian), Allah berfirman, الْحَمْدُ لِلهِ (Segala puji hanya bagi Allah) (QS. Al-Fatihah: 2), tidak dengan menyebut nama yang lain, الْحَمْدُ لِلرَّحْمَنِ (Segala puji hanya bagi Ar-Rahman), dan tidak pula dengan nama-nama-Nya yang lain, namun hanya nama “Allah” saja yang dikaitkan dengan lafal pujian (الْحَمْدُ), karena pujian yang sempurna yang disematkan pada nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pujian yang sempurna sifatnya bagi Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu sifat ketuhanan (uluhiyah), karena sifat ketuhanan ini adalah sifat yang paling sempurna bagi Tuhan kita Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan sifat-sifat lainnya kembali kepadanya, sehingga nama “Allah” ini selalu diikuti oleh Asmaul Husna lainnya, dan nama “Allah” ini tidak pernah mengikuti Asmaul Husna yang lain, bahkan sebaliknya Asmaul Husna yang lain selalu mengikutinya, dan nama “Allah” tidak pernah mengikuti Asmaul Husna yang lainnya, karena hal tersebut lebih kuat dalam menunjukkan kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka lafal pujian (الْحَمْدُ) selalu dikaitkan dengan nama “Allah”.

===============

ثُمَّ بَيَّنَ رَحِمَهُ الله تَعَالَى

مِنْ أَسْرَارِ السِّيَاقِ الْقُرْآنِيِّ أَنَّ هَذَا الِاسْمَ وَهُوَ الْخَبِيرُ

يَأْتِي غَالِبًا فِي سِيَاقِ الْأَعْمَالِ وَجَزَائِهَا

كَمَا قَالَ تَعَالَى: إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ- الْعَادِيَاتُ – الْآيَةُ 11

فَذِكْرُ اسْمِ الْخَبِيرِ بَعْدَ ذِكْرِ الْأَعْمَالِ وَالْجَزَاءِ عَلَيْهَا

الْمُرَادُ بِهِ إِيْقَاظُ الْقُلُوبِ وَتَنْبِيهُهَا إِلَى مَا يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ عَلَيهِ

مِنْ حَالِ الْكَمَالِ وَالْإِحْسَانِ وَالْإِتْقَانِ وَالْإِخْلَاصِ

وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَشَرَ أَسْمَائَهُ الْحُسْنَى فِي آيَاتِ كِتَابِهِ

وَكُلُّ آيَاتٍ خُتِمَتْ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

أَوْ عُلِّقَ فِيهَا فِعْلٌ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

فَإِنَّ لِذَلِكَ التَعَلُّقِ أَوِ الْخَتْمِ مَعْنًى

رُوعِيَ فِي السِّيَاقِ فَإِذَا لَاحَظَ الْإِنْسَانُ هَذِهِ الْقَاعِدَةَ

فِي سِيَاقَاتِ الْقُرْآنِ بِاعْتِبَارِ الْمَعَانِي

فَإِنَّهُ يَطَّلِعُ مِنْ مَعَانِي الْقُرْآنِ وَالْفَهْمِ عَنْهُ

مَا لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ غَيْرُهُ

وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَثَلًا

حَيْثُ جَاءَ ذِكْرُ الْحَمْدِ قَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ – الْفَاتِحَةُ – الْآيَةُ 2

وَلَمْ يَأْتِ غَيْرُهُ الْحَمْدُ لِلرَّحْمَنِ

أَوْ غَيْرُهُ مِنَ الْأَسْمَاءِ وَإِنَّمَا جُعِلَ اسْمُ اللهِ مُتَعَلَّقًا بِالْحَمْدِ

لِأَنَّ الْحَمْدَ الْكَامِلَ الَّذِي وَقَعَ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

هُوَ عَلَى الْوَصْفِ الْكَامِلِ الَّذِي لَهُ عَزَّ وَجَلَّ

وَهُوَ وَصْفُ الْأُلُوْهِيَّةِ فَإِنَّ وَصْفَ الْأُلُوْهِيَّةِ

هُوَ أَكْمَلُ صِفَاتِ رَبِّنَا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَجَمِيعُ الصِّفَاتِ تَرْجِعُ إِلَيْهِ وَلِذَلِكَ جَاءَ هَذَا الِاسْمُ مَتْبُوعًا لِغَيْرِهِ

وَلَمْ يَأْتِ تَابِعًا لِغَيْرِهِ بَلِ الْأَسْماءُ تَتْبَعُهُ

وَهُوَ لَا يَتْبَعُ شَيئًا مِنْهَا

فَلِأَجْلِ كَوْنِهِ أَدَلَّ فِي كَمَالِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

جَاءَ الْحَمْدُ مُعَلَّقًا بِهِ