Lima Nikah Siri Menurut Tinjauan Islam – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Lima Nikah Siri Menurut Tinjauan Islam – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

 

Nikah Siri. Nikah Siri adalah pernikahan yang disembunyikan dan tidak diumumkan.

Nikah Siri ini memiliki beberapa bentuk:
(NIKAH SIRI BENTUK PERTAMA) Tanpa wali, tanpa saksi, dan tidak diumumkan.

Jadi pernikahannya tanpa wali, tanpa saksi, dan tidak diumumkan.

Seorang lelaki bersanding dengan wanita dan mereka berdua menulis sendiri akta nikahnya.

Kemudian si wanita itu membawa aktanya dan dia simpan dalam sakunya.

Dan si lelaki tersebut juga mengambil aktanya dan dia simpan dalam sakunya.

Dan sangat disayangkan, ini banyak terjadi di kampus-kampus.

Terkadang mereka menyewa apartemen atau rumah, mereka menyewa apartemen.

Kemudian pasangan ini datang dari jam sekian hingga jam sekian.

Dan kemudian ada pasangan berikutnya datang dari jam sekian hingga jam sekian.

Dan Nikah Siri seperti ini TIDAK SAH dengan kesepakatan para ulama.

Nikah Siri seperti ini HARAM dan TIDAK SAH dengan kesepakatan para ulama.

Dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan pernikahan dalam syariat Islam.

(NIKAH SIRI BENTUK KEDUA)
Pernikahan dengan wali dan saksi namun tidak disebarluaskan beritanya.

Pernikahan dengan wali dan saksi namun tidak disebarluaskan beritanya.

Ada wali dan dua saksi, namun mereka bersepakat untuk menyembunyikan kabar pernikahan mereka.

Tidak disebarluaskan dan tidak dikabarkan kepada seorang pun.

Dan nikah ini hukumnya MAKRUH menurut pendapat mayoritas ulama,namun pernikahannya SAH,

namun pernikahannya sah, karena menurut mereka telah terpenuhi semua syarat-syaratnya.

Tapi dalam mazhab Maliki pernikahan seperti ini TIDAK BOLEH dan TIDAK SAH hukumnya.

Karena di antara syarat pernikahan dalam mazhab Maliki adalah diumumkannya kabar pernikahan.

Dan ini juga pendapat imam Ahmad dalam salah satu riwayat dari beliau.

Dan yang lebih tepat, -dan Allah yang lebih mengetahui,- bahwa nikah seperti ini SAH hukumnya.

Namun nikah seperti ini tidak selayaknya dilakukan oleh seorang muslim, karena hukum asal dalam pernikahan adalah diumumkan kabarnya.

(NIKAH SIRI BENTUK KETIGA)
Dan bentuk yang ketiga adalah pernikahan dengan dua saksi namun tanpa wali.

Bentuk yang ketiga adalah pernikahan dengan dua saksi namun tanpa wali.

Seorang wanita mendatangi lelaki, temannya atau rekannya dan berkata, “Mari kita menikah!”

Dan mereka mendatangkan dua saksi dari kalangan teman-teman mereka.

Dan orang ini bersaksi untuk orang itu, orang ini bersaksi untuk orang itu.

Dan orang ini bersaksi untuk orang itu dan banyak orang di pasar bisa disuruh.

Tapi tanpa adanya wali, nikah ini HARAM dan TIDAK SAH menurut mayoritas ulama.

Mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali mengharamkannya dan tidak sah menurut mereka.

Adapun menurut mazhab Hanafi ini boleh.

Namun pendapat yang kuat adalah pendapat mayoritas ulama (bahwa nikahnya HARAM dan TIDAK SAH), karena tidak adanya wali.

Karena adanya wali adalah syarat sahnya pernikahan.

(NIKAH SIRI BENTUK KEEMPAT)
Dan bentuk keempat adalah pernikahan dengan wali tapi tanpa adanya saksi.

Walaupun disebarluaskan kabarnya di suatu tempat dan disembunyikan di tempat yang lain.

Jadi, ada walinya tapi tidak ada saksinya, dan disebarkan beritanya di sebagian tempat dan disembunyikan di tempat lain.

Seseorang pergi dari UEA ke sebuah negara yang jauh.

Dan di sana dia menikah dengan disertai wali tapi tidak ada saksinya, dan disebarkan kabarnya di tengah keluarga, di negara sana.

Bahwa si fulan telah menikahi si fulanah tapi dia tidak menyebarkan beritanya di UEA.

Jadi kabar pernikahannya disebarkan di negara sana namun disembunyikan di negara ini

Tapi perhatikan, aku berkata bahwa penikahannya tanpa saksi.

Pernikahan seperti ini HARAM dan TIDAK SAH menurut pendapat mayoritas ulama.

Nikah seperti ini HARAM dan TIDAK SAH menurut pendapat mayoritas ulama karena tidak adanya saksi.

Tapi sah menurut mazhab Maliki dan imam Ahmad dalam salah satu riwayat dari beliau, karena selama pernikahan sudah diumumkan dan diketahui khalayak maka boleh dan sah.

Walaupun disembunyikan kabarnya di tempat yang lain.

(NIKAH SIRI BENTUK KELIMA)
Adapun jika pernikahannya disertai wali dan para saksi, kemudian disebarkan beritanya di suatu tempat TAPI DISEMBUNYIKAN DI TEMPAT LAIN, maka pernikahan ini SAH dan aku tidak mendapati adanya perselisihan dalam hal ini.

Yakni jika pernikahannya dengan wali, para saksi, dan disebarluaskan kabarnya di suatu tempat, misalkan di negara si istri, kabar ini disebarluaskan sehingga diketahui khalayak, namun disembunyikan di tempat lain karena menurut si suami hal itu ada maslahatnya, maka pernikahan seperti ini BOLEH dan SAH dan aku tidak mendapati ada perbedaan pendapat dalam hal ini.

==========================

نِكَاحُ السِّرِّ وَمَعْنَى نِكَاحِ السِّرِّ النِّكَاحُ الْمَكْتُومُ غَيْرُ الْمُعْلَنِ

وَلَهُ صُوَرٌ الصُّورَةُ الْأُوْلَى أَنْ يَكُونَ بِلَا وَلِيٍّ وَلَا شُهُودٍ وَلَا إِعْلَانٍ

أَنْ يَكُونَ بِلَا وَلِيٍّ وَلَا شُهُودٍ وَلَا إِعْلَانٍ

يَجْلِسُ الشَّابُّ مَعَ الْفَتَاةِ وَيَكْتُبَانِ وَرَقَةً وَرَقَةَ الزَّوَاجِ بَيْنَهُمَا

وَتَأْخُذُ هِيَ الْوَرَقَةَ وَتَضَعُهَا فِي جَيْبِهَا

وَيَأْخُذُ الْوَرَقَةَ وَيَضَعُهَا فِي جَيْبِهِ

وَيَكْثُرُ لِلْأَسَفِ فِي الْجَامِعَاتِ

وَقَدْ يَسْتَأْجِرُونَ شُقَّةً مَجْمُوعَةً يَسْتَأْجِرُونَ شُقَّةً

يَذْهَبُ بَعْضُهُمْ مِنَ السَّاعَةِ كَذَا إِلَى السَّاعَةِ كَذَا

وَالثَّانِي مِنَ السَّاعَةِ كَذَا إِلَى السَّاعَةِ كَذَا

وَهَذَا النِّكَاحُ بَاطِلٌ بِاتِّفَاقِ الْأَئِمَّةِ

هَذَا النِّكَاحُ حَرَامٌ وَبَاطِلٌ بِاتِّفَاقِ الْأَئِمَّةِ

وَلَيْسَ مِنَ النِّكَاحِ الشَّرْعِيِّ فِي شَيْءٍ

وَالصُّورَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يَكُونَ بِوَلِيٍّ وَشُهُودٍ مِنْ غَيْرِ إِعْلَانٍ

أَنْ يَكُونَ بِوَلِيٍّ وَشُهُودٍ مِنْ غَيْرِ إِعْلَانٍ

فَيَكُونُ بِوَلِيٍّ ويَكُونُ بِشَاهِدَينِ لَكِنْ يَتَوَاصَوْنَ بِكِتْمَانِهِ

لَا يُعْلِنُونَهُ وَلَا يُخْبِرُونَ بِهِ أَحَدًا

وَهَذَا النِّكَاحُ مَكْرُوهٌ عِنْدَ الْجُمْهُورِ

وَلَكِنَّهُ نِكَاحٌ صَحِيحٌ

وَلَكِنَّهُ نِكَاحٌ صَحِيحٌ لِاجْتِمَاعِ الشُّرُوطِ عِنْدَهُمْ

وَعِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ لَا يَجُوزُ هَذَا النِّكَاحُ وَهُوَ نِكَاحٌ بَاطِلٌ

لِأَنَّ شَرْطَ النِّكَاحِ عِنْدَهُمْ الْإِعْلَانُ

وَكَذَلِكَ عِنْدَ الْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي رِوَايَةٍ

وَالْأَقْرَبُ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ بَاطِلًا

لَكِنْ لَا يَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يُقْدِمَ عَلَيْهِ

لِأَنَّ الْأَصْلَ فِي النِّكَاحِ الْإِعْلَانُ

وَالصُّورَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ بِشَاهِدَينِ وَبِلَا وَلِيٍّ

الصُّورَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَكُونَ بِشَاهِدَينِ وَبِلَا وَلِيٍّ

تَأْتِي الْفَتَاةُ إِلَى الشَّابِّ إِلَى زَمِيلِهَا إِلَى صَدِيقِهَا وَتَقُولُ: تَعَالَ نَتَزَوَّجُ

وَيَأْتِيَانِ بِشَاهِدَينِ مِنْ زُمَلَائِهِمَا

وَهَذَا يَشْهَدُ لِهَذَا وَهَذَا يَشْهَدُ لِهَذَا

وَهَذَا يَشْهَدُ لِهَذَا وَالسُّوقُ رَائِجَةٌ

وَبِدُونِ وَلِيٍّ وَهَذَا النِّكَاحُ حَرَامٌ وَبَاطِلٌ عِنْدَ الْجُمْهُورِ

الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ هَذَا النِّكَاحُ حَرَامٌ وَبَاطِلٌ عِنْدَهُمْ

وَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ جَائِزٌ

وَالرَّاجِحُ قَوْلُ الْجُمْهُورِ لِعَدَمِ الْوَلِيِّ

وَالْوَلِيُّ شَرْطٌ لِصِحَّةِ النِّكَاحِ

وَالصُّورَةُ الرَّابِعَةُ أَنْ يَكُونَ بِوَلِيٍّ وَمِنْ غَيْرِ شُهُودٍ

وَلَكِنْ يُعْلَنُ فِي مَكَانٍ وَيُكْتَمُ فِي مَكَانٍ

أَنْ يَكُونَ بِوَلِيٍّ وَمِنْ غَيْرِ شُهُودٍ

وَلَكِنْ يُعْلَنُ فِي مَكَانٍ وَيُكْتَمُ فِي مَكَانٍ

وَاحِدٌ سَافَرَ مِنَ الْإِمَارَاتِ إِلَى بَلَدٍ بَعِيدٍ

وَهُنَاكَ تَزَوَّجَ بِوَلِيٍّ لَكِنْ مِنْ غَيْرِ شُهُودٍ

وَأُعْلِنَ فِي الْأُسْرَةِ هُنَاكَ فِي ذَلِكَ الْبَلَدِ

أَنَّ فَلَانًا تَزَوَّجَ فُلَانَةً وَلَكِنَّهُ لَمْ يُعْلِنْهُ فِي الْإِمَارَاتِ

فَهُوَ مُعْلَنٌ فِي ذَلِكَ الْبَلَدِ مَكْتُومٌ فِي هَذَا الْبَلَدِ

لَكِنْ لَاحِظْ أَنَا قُلْتُ: بِدُونِ شُهُودٍ

وَهَذَا النِّكَاحُ حَرَامٌ وَبَاطِلٌ عِنْدَ الْجُمْهُورِ

هَذَا النِّكَاحُ حَرَامٌ وَبَاطِلٌ عِنْدَ الْجُمْهُورِ لِعَدَمِ الشُّهُودِ

وَجَائِزٌ صَحِيحٌ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَالْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي رِوَايَةٍ

مَادَامَ أَنَّهُ وُجِدَ فِيهِ الْإِعْلَانُ وَاشْتُهِرَ فَإِنَّهُ جَائِزٌ صَحِيحٌ

وَإِنْ كُتِمَ فِي بَلَدٍ آخَرَ

أَمَّا إِذَا كَانَ النِّكَاحُ بِوَلِيٍّ وَشُهُودٍ

وَأُعْلِنَ فِي مَكَانٍ وَكُتِمَ فِي مَكَانٍ

فَإِنَّهُ نِكَاحٌ صَحِيحٌ مَا أَعْرِفُ فِيهِ خِلَافًا

يَعْنِي إِذَا كَانَ النِّكَاحُ بِوَلِيٍّ وَشُهُودٍ وَأُعْلِنَ فِي مَكَانٍ

يَعْنِي فِي بَلَدِ مَثَلًا الزَّوْجَةِ أُعْلِنَ وَأَصْبَحَ مَعْرُوفًا

وَكُتِمَ فِي مَكَانٍ آخَرَ لِمَصْلَحَةٍ يَرَاهَا الزَّوْجُ

فَإِنَّهُ نِكَاحٌ صَحِيحٌ جَائِزٌ وَلَا أَعْلَمُ فِي هَذَا يَعْنِي خِلَافًا

Kisah Anak Kecil Membantah Atheis – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Kisah Anak Kecil Membantah Atheis – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ada kisah yang menakjubkan, bagus, dan bermanfaat yang disebutkan oleh Imam at-Taimi rahimahullahu Ta’ala dalam kitabnya “Al-Hujjah”. Beliau menuliskannya dalam kitab “Al-Hujjah” dan menyebutkan bahwa seorang atheis yakni ada orang atheis dan sesat ingin membuat sebagian kaum muslimin menjadi ragu pada agama mereka, dan pada keimanan mereka kepada Tuhan dan Pencipta mereka, serta Pencipta seluruh makhluk.

Maka ia berkata kepada mereka, “Kalian mengklaim bahwa tidak ada Pencipta kecuali Allah? Aku juga mampu menciptakan.” Begitu ia berkata. Ia berkata, “Aku juga mampu menciptakan, dan aku akan tunjukkan kepada kalian makhluk yang aku ciptakan sendiri.” Lalu ia datang dengan membawa hal-hal yang telah busuk seperti
daging atau beberapa makanan dan meletakkannya di dalam botol kaca lalu menutupnya dengan rapat. Lalu meletakkannya di tempat yang panas berhari-hari.

Kemudian dia datang kepada mereka dengan membawa botol itu. Dan ternyata telah penuh dengan belatung. Telah penuh dengan belatung. Dan belatung-belatung itu menyebar dan keluar dari botol itu, menyebar ke kanan dan ke kiri. Dan belatung itu sungguh lebih layak untuk dituangkan ke dalam mulut orang atheis itu dan ditaburkan ke wajahnya. Belatung-belatung ini menyebar dari botol kaca itu ke kanan dan ke kiri. Dia berkata, “Lihatlah! Aku yang menciptakannya.” Dan dalam riwayat kisah ini disebutkan bahwa ada anak kecil. Ada anak kecil di majelis itu. Dan anak itu berkata, “Pencipta pasti mengetahui jumlah dari apa yang ia ciptakan, mengetahui yang jantan dan betina, dan mengetahui ajal dan rezekinya. Jelaskan semua ini kepada kami!” “Apakah ini makhluk ciptaanmu?” “Tidak mungkin ada yang menjadi pencipta kecuali ilmunya meliputi segala yang ia ciptakan, maka berapa jumlah makhluk-makhluk yang kamu klaim telah kamu ciptakan?!” Berapa jumlah semuanya? Ini pertanyaan pertama. Kedua, berapa jumlah yang jantan dan yang betina? Dan pertanyaan ini lebih sulit. Berapa jumlah yang jantan dan yang betina?! Dan pertanyaan ketiga lebih susah lagi. Setiap makhluk itu kapan akan mati?! Dari setiap makhluk yang kamu klaim telah menciptakannya! Setiap makhluk itu apa yang dimakan, bagaimana ia makan, dan dimana ia makan? Apakah kamu mengetahuinya?! Maka orang atheis itu diam terbungkam. Tidak mampu berucap meski hanya satu kata.

“Tidakkah yang menciptakan itu mengetahui?” Kalimat ini dinukil dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Apakah pantas Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui, sedangkan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14) Kisah ini pernah aku ceritakan dalam kunjunganku yang telah lama ke negara-negara republik islam dan dulu di sana atheisme merajalela dan menguasai sekolah-sekolah umat muslim. Maka aku menceritakan kisah ini pada mereka. Lalu ada seorang pelajar yang tercengang, dan takjub seraya berkata, “Subhanallah…! Bagaimana bisa aku tidak terpikir akan hal ini?! Ia berkata, “Ada guru kami yang melakukan itu juga pada kami di kelas dan aku tahu kalau itu salah.” Begitu ia berkata padaku, “Padahal aku tahu atheis itu salah dan batil, namun subhanallah, bagaimana aku tidak terpikir pada bantahan telak seperti ini.”

Ini adalah dalil bantahan yang kuat dan telak. “Apakah pantas Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui, sedangkan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?” Oleh sebab itu, dalam hal ini Allah berfirman, “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit, dan seperti itu pula menciptakan bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kalian mengetahui…agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Thalaq: 12) Jadi, Sang Pencipta makhluk ini -Subhanahu wa Ta’ala- berkuasa atas segalanya, Maha Mengetahui segalanya, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan Dia Tabaraka wa Ta’ala menghitung segala sesuatu satu persatu,serta tidak ada yang tersembunyi dari-Nya Subhanahu wa Ta’ala, baik yang bumi maupun yang di langit.

=====================================

قِصَّةٌ عَجِيبَةٌ جِدًّا وَجَمِيْلَةٌ وَمُفِيْدَةٌ

أَوْرَدَهَا الْإِمَامُ التَّيْمِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى

فِي كِتَابِهِ الْحُجَّةُ

أَوْرَدَهَا فِي كِتَابِهِ الْحُجَّةُ ذَكَرَ

أَنَّ أَحَدَ الْمَلَاحِدَةِ

أَنَّ رَجُلًا مُلْحِدًا زِنْدِيقًا

أَرَادَ فِي وَسَطِ بَعْضِ الْمُسْلِمِينَ أَنْ يُشَكِّكَهُمْ فِي دِينِهِمْ

وَإِيْمَانِهِم بِرَبِّهِمْ وَخَالِقِهِمْ وَمُوْجِدِ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ

فَقَالَ لَهُمْ

تَزْعُمُونَ أَنَّهُ لَا خَالِقَ إِلَّا اللهُ

أَنَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَخْلُقَ يَقُولُ

قَالَ أَنَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَخْلُقَ

وَسَأُرِيْكُمْ خَلْقًا لِي أَنَا الَّذِي خَلَقْتُهُ

ثُمَّ جَاءَ بِأَشْيَاءَ تَالِفَةٍ مِثْلِ

لَحْمٍ أَوْ بَعْضِ الْأَطْعِمَةِ

وَوَضَعَهَا فِي زُجَاجَةٍ وَأَحْكَمَ إِغْلَاقَهَا

وَتَرَكَهَا فِي مَكَانٍ حَارٍّ أَيَّامًا

ثُمَّ جَاءَ بِهَا عِنْدَهُم وَفَتَحَهَا وَإِذَا بِهَا مَلِيئَةُ دُوْدٍ

مَلِيئَةُ دُوْدٍ امْتَلَأَتْ دُودًا

وَالدُّودُ يَتَنَاثَرُ كَثِيْرٌ يَخْرُجُ مِنْ هَذِهِ الزُّجَاجَةِ

وَيَتَنَاثَرُ يَمِينًا وَشِمَالًا

وَهَذَا الدُّودُ جَدِيرٌ أَنْ يُمْلَأَ بِهِ فَمُ هَذَا الْمُلْحِدِ

وَأَنْ يُحْسَى بِهِ وَجْهُهُ

فَهَذَا الدُّودُ يَتَنَاثَرُ مِنْ هَذِهِ الزُّجَاجَةِ يَمِينًا وَشِمَالًا

يَقُولُ انْظُرُوا هَذَا خَلَقْتُهُ

فَكَانَ كَمَا جَاءَ فِي الرِّوَايَةِ شَابٌّ صَغِيرٌ

شَابٌّ صَغِيرٌ فِي الْمَجْلِسِ

قَالَ لَمْ يَكُنْ أَحَدٌ لِيَخْلُقَ

إِلَّا وَيَعْلَمُ عَدَدَ مَا خَلَقَ

وَذُكُوْرَهُمْ مِنْ إِنَاثِهِم وَآجَالَهُمْ وَأَرْزَاقَهُمْ أَبِنْ لَنَا ذَلِكَ كُلَّهُ

هَذِهِ مَخْلُوْقَاتُكَ

مَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ خَالِقًا إِلَّا وَعِلْمُهُ مُحِيطٌ بِمَا خَلَقَ

فَكَمْ عَدَدُ هَذِهِ الْمَخْلُوقَاتِ الَّتِي تَزْعُمُ أَنَّكَ خَلَقْتَهَا

كَمْ عَدَدُهَا؟ هَذِهِ وَاحِدَةٌ

الثَّانِيَةُ كَمِ الذُّكُورُ مِنَ الْإِنَاثِ وَهَذِهِ أَصْعَبُ

كَمِ الذُّكُورُ مِنَ الْإِنَاثِ

وَالثَّالِثَةُ أَصْعَبُ وَأَصْعَبُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مَتَى يَمُوتُ

مِنْ هَذَا الَّذِي تَزْعُمُ أَنَّكَ خَلَقْتَهُ

وَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ مَاذَا يَقْتَاتُ وَكَيْفَ يَقْتَاتُ وَأَيْنَ يَقْتَاتُ

هَلْ تَعْلَمُ ذَلِكَ فَبُهِتَ الْمُلْحِدُ

مَا اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْطِقَ بِحَرْفٍ

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ؟

هَذِهِ مَأْخُوذَةٌ مِنْ قَوْلِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

وَهَذِهِ الْفَائِدَةُ ذَكَرْتُهَا مَرَّةً

فِي زِيَارَةٍ لِي قَدِيمَةٍ لِلْجُمْهُوْرِيَّاتِ الْإِسْلَامِيَّةِ

وَكَانَ هُنَاكَ سَيْطَرَةُ الْإِلْحَادِ وَعَلَى مَدَارِسِ الْمُسْلِمِيْنَ

فَذَكَرْتُ لَهُمْ هَذِهِ الْقِصَّةَ

فَأَحَدُ الطُّلاَّبِ ذُهِلَ

وَدُهِشَ

قَالَ سُبْحَانَ اللهِ

كَيْفَ يَقُولُ كَيْفَ غَفِلْتُ مَا انْتَبَهْتُ لِهَذَا

يَقُولُ الْأُسْتَاذُ فَعَلَهَا عِنْدَنَا فِي الْفَصْلِ

وَيَقُولُ أَنَا أَعْرِفُ أَنَّهُ خَطَأٌ

هَكَذَا يَقُولُ لِي وَأَنَا أَعْرِفُ أَنَّ هَذَا خَطَأٌ وَبَاطِلٌ

لَكِنْ يَقُولُ سُبْحَانَ اللهِ كَيْفَ غَفِلْتُ عَنْ هَذِهِ الْحُجَّةِ الْمُفْحِمَةِ

هَذِه حُجَّةٌ مُفْحِمَةٌ مُسْكِتَةٌ قَاطِعَةٌ

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

وَلِهَذَا هُنَا قَالَ اللهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ

يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا

لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

فَخَالِقُ هَذَا الْخَلْقِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدِيرٌ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ

وَعَلِيْمٌ بِكُلِّ شَيْءٍ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا

وَأَحْصَى تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا

وَلَا تَخْفَى عَلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى خَافِيَةٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

 

Hukum Cincin Tunangan Menurut Islam – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Hukum Cincin Tunangan Menurut Islam – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Hal yang berhubungan dengan lamaran adalah apa yang dinamakan dengan cincin tunangan. Cincin tunangan. Cincin tunangan adalah sebuah cincin yang dipakai di jari kedua pada tangan kanan, jari sebelah jari kelingking. Cincin yang dipakai di jari kedua pada tangan kanan, sebelah jari kelingking; yakni jari manis. Kemudian cincin itu dipindah ketika akad nikah ke jari yang sama yang ada di tangan kiri. Ini disebut dengan cincin tunangan lalu disebut dengan cincin pernikahan.

Cincin tunangan dipakai di tangan kanan Kemudian saat akad nikah cincin itu dipindah ke tangan kiri. Dan cincin ini jika terbuat dari emas maka itu haram dipakai kaum pria secara mutlak. Jika terbuat dari emas; baik itu emas kuning atau emas putih maka itu haram dipakai kaum pria secara mutlak. Karena emas haram dipakai oleh kaum pria. Namun jika cincin itu terbuat dari perak bagi kaum pria atau jika terbuat dari emas atau perak bagi kaum wanita, maka bagaimana hukum memakainya? Apakah boleh memakai cincin tunangan dan cincin pernikahan di jari tangan? Jawabannya bahwa hukum perkara ini telah mendapat keringanan dari beberapa pemberi fatwa dengan mengatakan bahwa itu boleh karena itu termasuk perkara yang telah berlaku di kalangan kaum muslimin sehingga telah menjadi adat bagi mereka.

Sebagian pemberi fatwa berkata, itu boleh. Memakai cincin tunangan dan cincin pernikahan boleh. Apa alasan pembolehannya? Mereka mengatakan, “Karena itu termasuk perkara yang telah berlaku di kalangan kaum muslimin sehingga telah menjadi adat kebiasaan bagi kaum muslimin.” Dan syaikh kami Ibnu Utsaimin mengatakan -rahimahullah-, “Aku berpendapat bahwa memakai cincin (tunangan) paling tidak hukumnya adalah makruh.” “Aku berpendapat bahwa memakai cincin (tunangan) -yakni bagi pria jika itu terbuat dari perak dan bagi wanita jika itu terbuat dari emas atau perak- paling tidak hukumnya adalah makruh.” Dan perkara ini diharamkan oleh sebagian ulama dan ini pendapat yang lebih kuat -wallahu a’lam- perkara ini haram.

Karena perkara ini Bisa jadi merupakan adat kaum Nasrani yang mengandung kepercayaan di dalamnya. Dan adat orang-orang musyrik yang mengandung kepercayaan di dalamnya tidak menjadi perkara yang dibolehkan jika tersebar di kalangan kaum muslimin. Adat orang-orang musyrik, Adat orang-orang non-muslim jika berkaitan dengan kepercayaan mereka maka tidak menjadi perkara yang dibolehkan jika tersebar di kalangan kaum muslimin. Dan adat ini adalah adat orang-orang Nasrani dan berkaitan dengan kepercayaan mereka. Dan ini karena mereka berkata ketika memakai cincin tunangan ini, -Kita berlindung kepada Allah dari yang dikatakan orang-orang zalim- (Orang Nasrani berkata): “Dengan nama Bapa, dan anak, dan Roh Kudus.” Lalu mereka baru memakai cincin itu di jari keempat (jari manis). Dan mereka meyakini bahwa cincin itu dapat menjaga pernikahan mereka dan ia menjadi tanda kelanggengan pernikahan.

Oleh sebab itu, ketika cincin ini dipindah dari jari tangan kanan ke jari tangan kiri mereka berusaha untuk tidak melepaskannya, namun mereka memindahkannya tanpa melepasnya dari jari yakni dengan meletakkan dua (jari) tangan seperti ini (menyatukan kedua ujung jari manis) kemudian cincin itu dipindah dari jari tangan kanan ke jari tangan kiri tanpa terlepas. Kemudian mereka meletakkan alat untuk menguatkan cincin itu di jari yang disebut dengan pengganjal, alat yang mengganjal cincin agar tidak terjatuh karena mereka meyakini bahwa cincin itu melambangkan kelanggengan pernikahan dan juga dapat menjadi sebab kelanggengan pernikahan.

Jadi ini adalah adat kaum Nasrani yang terbangun di atas keyakinan mereka. Dan aku telah menyebutkan apa yang telah ditetapkan oleh para ulama bahwa adat orang-orang non-muslim jika terbangun di atas kepercayaan mereka maka penyebarannya di kalangan kaum muslimin tidak menjadikannya perkara yang diperbolehkan. Dan bisa jadi perkara ini adalah adat orang-orang Yunani kuno, adat yang lama sekali.

Ada yang berpendapat ini adat Yunani kuno, pendapat lain mengatakan adat para Fir’aun. Dan mereka meyakini bahwa memakai cincin dapat menjadi sebab rasa cinta dan kasih sayang karena mereka percaya bahwa syaraf hati melewati jari manis karena syaraf hati melewati jari manis di tangan kiri dan kanan. Sehingga jika cincin itu diletakkan di jari manis maka ia akan menahan syaraf itu dan dapat menjadi sebab rasa cinta dan kasih sayang
antara sepasang suami istri tersebut.
Dan memakai cincin dengan keyakinan seperti ini adalah bentuk syirik kecil karena mereka menjadikan sesuatu yang bukan sebab sebagai sebab. Dan menjadikan sesuatu yang bukan sebab sebagai sebab adalah syirik kecil.
Sedangkan jika meyakini bahwa cincin inilah yang menghadirkan rasa cinta antara sepasang tunangan atau suami istri, maka ini adalah syirik besar. -wal ‘iyadzu billah-

Jadi bagaimana pun, ini adalah adat orang-orang non-muslim yang terbangun di atas kepercayaan mereka, baik itu kita katakan bahwa yang pertama melakukannya adalah kaum Nasrani atau yang pertama melakukannya adalah para Fir’aun (para raja Mesir kuno) atau yang pertama melakukannya adalah kaum Yunani Kuno. Dan adat kebiasaan ini tidak menjadi perkara yang diperbolehkan karena kaum muslimin melakukannya namun tetap pada asal hukumnya, yaitu haram. Dan juga harus diperhatikan dalam masalah ini  bahwa tunangan pria yang memakaikan cincin di tangan tunangan wanita yang masih haram baginya maka ini mengandung perkara-perkara lain yang diharamkan juga.

Tunangan pria memegang tangan tunangan wanita padahal ia masih bukan mahram baginya -sebagaimana yang telah kita jelaskan-. Tidak boleh baginya memegang tangan tunangan wanita dan perkara-perkara lainnya yang diharamkan. Inilah yang menurutku benar dalam masalah ini dan aku telah memaparkan masalah ini bagi kalian berdasarkan tinjauan keilmuannya.

=====================

أَيْضًا مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْخِطْبَةِ

مَا يُسَمَّى

بِدِبْلَةِ الْخُطُوْبَةِ

دِبْلَةُ الْخُطُوْبَةِ

وَدِبْلَةُ الْخُطُوْبَةِ خَاتَمٌ

يُوضَعُ فِي ثَانِي أَصَابِعِ الْيَدِ الْيُمْنَى

بَعْدَ الْخُنْصُرِ

خَاتَمٌ يُوضَعُ فِي ثَانِي أَصَابِعِ الْيَدِ الْيُمْنَى بَعْدَ الْخُنْصُرِ وَهُو الْبُنْصُرُ

ثُمَّ يُنْقَلُ عِنْدَ الْعَقْدِ

إِلَى مَا يُقَابِلُهُ

فِي الْيَدِ الْيُسْرَى

تُسَمَّى دِبْلَةُ الْخُطُوْبَةِ

ثُمَّ دِبْلَةُ النِّكَاحِ

دِبْلَةُ الْخُطُوْبَةِ تَكُونُ فِي الْيَدِ الْيُمْنَى

ثُمَّ عِنْدَ الْعَقْدِ تُنْقَلُ إِلَى الْيَدِ

الْيُسْرَى

وَهَذَا الْخَاتَمُ

إِنْ كَانَ مِنْ ذَهَبٍ

فَهُوَ حَرَامٌ عَلَى الرَّجُلِ مُطْلَقًا

إِنْ كَانَ مِنْ ذَهَبٍ سَوَاءٌ كَانَ الذَّهَبُ أَصْفَرَ أَوْ أَبْيَضَ

فَهُوَ حَرَامٌ مُطْلَقًا

لِأَنَّ الذَّهَبَ حَرَامٌ عَلَى الرِّجَالِ

أَمَّا إِنْ كَانَ الْخَاتَمُ مِنْ فِضَّةٍ

بِالنِّسْبَةِ لِلرَّجُلِ

أَوْ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ بِالنِّسْبَةِ لِلْمَرْأَةِ فَمَا حُكْمُهُ؟

هَلْ يَجُوزُ

وَضْعُ دِبْلَةِ الْخُطُوْبَةِ

وَدِبْلَةِ النِّكَاحِ

فِي الْيَدِ

وَالْجَوَابُ

أَنَّهُ قَدْ رَخَّصَ فِيهِ بَعْضُ الْمُفْتِينَ

وَقَالُوا إِنَّهُ جَائِزٌ

لِأَنَّهُ مِمَّا جَرَى بِهِ الْعَمَلُ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ

فَصَارَ عُرْفًا لَهُمْ

بَعْضُ الْمُفْتِينَ قَالُوا يَجُوزُ يَجُوزُ

دِبْلَةُ الْخُطُوْبَةِ وَدِبْلَةُ النِّكَاحِ جَائِزَةٌ

مَا عِلَّةُ الْجَوَازِ

قَالُوْا لِأَنَّهُ جَرَى بِهِ الْعَمَلُ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ

فَصَارَ عُرْفًا

لِلْمُسْلِمِينَ

وَقَالَ شَيْخُنَا ابْنُ عُثَيْمِينَ

رَحِمَهُ اللهُ

الَّذِي أَرَاهُ

أَنَّ وَضْعَ الدِّبْلَةِ

أَقَلُّ أَحْوَالِهِ الْكَرَاهَةُ

الَّذِي أَرَاهُ أَنَّ وَضْعَ الدِّبْلَةِ يَعْنِي لِلرَّجُلِ إِذَا كَانَ مِنْ فِضَّةٍ

وَلِلْمَرْأَةِ إِذَا كَانَ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ أَقَلُّ أَحْوَالِهِ

الْكَرَاهَةُ

وَحَرَّمَهُ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ

وَهُوَ الْأَظْهَرُ وَاللهُ أَعْلَمُ

أَنَّهُ حَرَامٌ

لِأَنَّ هَذِهِ

إِمَّا أَنَّهَا عَادَةٌ نَصْرَانِيَّةٌ

فِيهَا اعْتِقَادٌ

وَعَادَةُ الْمُشْرِكِيْنَ

الَّتِي فِيهَا اعْتِقَادٌ

لَا تُصْبِحُ جَائِزَةً إِذَا انْتَشَرَتْ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ

عَادَةُ الْمُشْرِكِيْنَ

عَادَةُ غَيْرِ الْمُسْلِمِينَ

إِذَا كَانَ يَتَعَلَّقُ بِهَا اعْتِقَادٌ

لَا تُصْبِحُ جَائِزَةً إِذَا انْتَشَرَتْ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ

وَهَذِه الْعَادَةُ عَادَةٌ عِنْدَ النَّصَارَى

وَيَتَعَلَّقُ بِهَا اعْتِقَادٌ

وَذَلِكَ

أَنَّهُمْ يَقُولُوْنَ عِنْدَ ذَلِكَ

نَعُوذُ بِاللهِ مِمَّا يَقُولُ الظَّالِمُونَ

بِاسْمِ الْأَبِ

وَالِابْنِ

وَالرُّوحُ الْقُدُسُ

ثُمَّ يُوضَعُ الْخَاتَمُ

فِي الْأُصْبِعِ الرَّابِعِ

وَيَعْتَقِدُوْنَ

أَنَّهُ يُحْفَظُ بِهِ الزَّوَاجُ

وَأَنَّه يَدُلُّ عَلَى دَيْمُومَةِ الزَّوَاجِ

وَلِذَلِكَ عِنْد نَقْلِهِ

مِنَ الْيَدِ الْيُمْنَى إِلَى الْيَدِ الْيُسْرَى

يَحْرِصُونَ عَلَى عَدَمِ

نَزْعِهِ

وَإِنَّمَا يُنْقَلُ مِنْ غَيْرِ نَزْعٍ

فَتُوضَعُ الْيَدَانِ هَكَذَا

ثُمَّ يُنْقَلُ الْخَاتَمُ مِنَ الْيَدِ الْيُمْنَى

إِلَى الْيَدِ الْيُسْرَى بِغَيْرِ انْفِصَالٍ

ثُمّ يَزِيْدُوْنَهُ تَثْبِيْتًا بِمَا يُسَمُّونَهُ الْمَحْبَسَ

الَّذِي يَحْبِسُ خَاتَمَ الدِّبْلَةِ فَلَا يَسْقُطُ

لِأَنَّهُمْ يَعْتَقِدُونَ أَنَّ هَذَا يَرْمُزُ إِلَى دَيْمُومَةِ النِّكَاحِ

وَيُسَبِّبُ دَيْمُومَةَ النِّكَاحِ

فَهَذِهِ عَادَةٌ نَصْرَانِيَّةٌ

مَبْنِيَّةٌ عَلَى اعْتِقَادٍ

وَقَدْ ذَكَرْتُ

مَا قَرَّرَهُ الْعُلَمَاءُ

مِنْ أَنَّ الْعَادَةَ عَادَةَ غَيْرِ الْمُسْلِمِينَ

إِذَا كَانَتْ مَبْنِيَّةً عَلَى اعْتِقَادٍ

فَإِنَّ انْتِشَارَهَا بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ

لَا يَجْعَلُهَا مُبَاحَةً

وَإِمَّا أَنَّهَا عَادَةٌ عِنْدَ الْإِغْرِيْقِ

عَادَةٌ قَدِيمَةٌ

قِيْلَ عِنْد الْإِغْرِيْقِ وَقِيلَ عِنْدَ الْفَرَاعِنَةِ

وَهُمْ يَعْتَقِدُوْنَ

أَنَّ وَضْعَ الْخَاتَمِ

سَبَبٌ لِلْمَحَبَّةِ وَالْمَوَدَّةِ

لِأَنَّهُمْ يَعْتَقِدُوْنَ

أَنَّ عِرْقَ الْقَلْبِ

يَمُرُّ بِالْبُنْصُرِ

أَنَّ عِرْقَ الْقَلْبِ يَمُرُّ

بِالْبُنْصُرِ

فِي الْيُسْرَى وَالْيُمْنَى

فَإِذَا وُضِعَ فِي الْبُنْصُرِ أَعْنِي الْخَاتَمَ

فَإِنَّهُ يَحْبِسُ هَذَا الْعِرْقَ

وَيُسَبِّب الْمَوَدَّةَ

وَالْمَحَبَّةَ

بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ

وَفِعْلُ الدِّبْلَةِ بِهَذَا الِاعْتِقَادِ

شِرْكٌ أَصْغَرُ

لِأَنَّهُمْ يَجْعَلُوْنَ مَا لَيْسَ سَبَبًا سَبَبًا

وَجَعْلُ مَا لَيْسَ سَبَبًا سَبَبًا

شِركٌ أَصْغَرُ

أَمَّا إِذَا اعْتَقَدَ

أَنَّ هَذَا الْخَاتَمَ

هُوَ الَّذِي يُوجِدُ الْمَحَبَّةَ

بَيْنَ الْخَطِيْبَيْنِ وَالزَّوْجَيْنِ فَهَذَا شِرْكٌ أَكْبَرُ

وَالْعِيَاذُ بِاللهِ

فَعَلَى كُلِّ حَالٍ هِيَ عَادَةٌ لِغَيْرِ الْمُسْلِمِيْنَ

مَبْنِيَّةٌ عَلَى اعْتِقَادٍ

سَوَاءٌ قُلْنَا إِنَّ أَوَّلَ مَنْ فَعَلَهَا النَّصَارَى

أَوْ قُلْنَا إِنَّ أَوَّلَ مَنْ فَعَلَهَا الْفَرَاعِنَةُ

أَوْ قُلْنَا إِنَّ أَوَّلَ مَنْ فَعَلَهَا الْإِغْرِيْقُ

وَ

هَذِهِ الْعَادَةُ

لَا يَجْعَلُهَا مُبَاحَةً جَرَيَانُ عَمَلِ الْمُسْلِمِينَ بِهَا

بَلْ تَبْقَى عَلَى أَصْلِ حُكْمِهَا وَهُوَ التَّحْرِيمُ

كَمَا يُلَاحَظُ فِي الْمَسْأَلَةِ

أَنَّ وَضْعَ الْخَطِيْبِ

الدِّبْلَةَ فِي يَدِ

زَوْجَتِهِ مَعَ كَوْنِهِ حَرَامًا

فَإِنَّه تَكُونُ فِيهِ أُمُورٌ مُحَرَّمَةٌ أَيْضًا

فَيَلْمَسُ يَدَهَا

وَهُوَ أَجْنَبِيٌّ عَنْهَا كَمَا تَقَدَّمَ مَعَنَا

لَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَمَسَّ يَدَهَا

وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الْمُحَرَّمَةِ

هَذَا الَّذِي يَظْهَرُ لِي فِي الْمَسْأَلَةِ

وَقَدْ عَرَضْتُ لَكُمُ الْمَسْأَلَةَ

كَمَا هُوَ وَاقِعُهَا الْعِلْمِيُّ

 

Bahagia itu Sederhana (Tips Kebahagiaan Sejati) – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Bahagia itu Sederhana (Tips Kebahagiaan Sejati) – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Aku teringat, suatu hari aku pernah bertamu kepada salah seorang ahli ibadah yang saleh. Demikianlah aku menilainya dan hanya Allah yang menilainya dengan benar. Beliau sudah wafat -semoga Allah merahmati beliau-. Jadi, ini adalah cerita lama. Aku mengunjungi beliau dimana beliau terkekang di antara empat tembok rumahnya, sejak empat tahun lalu dan tidak pernah keluar. Katanya beliau ini menderita banyak penyakit. Kemudian saya bertanya tentang keadaannya, “Bagaimana? Bagaimana kabar Anda, wahai Abu Fulan?” Beliau menjawab dengan satu kalimat, “Demi Allah, sungguh aku sangat bahagia, dan menurutku tidak ada orang yang lebih bahagia dariku di negeri ini.” Begitu katanya, begitu ucapan beliau, “Demi Allah, aku sangat bahagia, dan menurutku tidak ada orang yang lebih bahagia dariku di negeri ini.” padahal beliau terkekang di antara empat tembok rumahnya, hanya tidur di atas ranjangnya karena menderita penyakit, bayangkan, adakah keadaan yang lebih kuat dan menakjubkan selain ini!

Imam Ibnu As-Sa’di -semoga Allah merahmati beliau- memiliki sebuah karya tulis yang dengannya Allah memberi banyak manfaat untuk manusia, yang beliau beri judul Al-Wasāil al-Mufīdah li al-ḥāyati as-Sa’īdah (Kiat-Kiat yang Bermanfaat untuk Hidup Bahagia) Bagaimana Anda bisa bahagia? Bagaimana caranya Anda mendapatkan hidup yang bahagia? Kitab ini dari awal hingga akhirnya beliau tulis di atas pembaringan ketika beliau sakit. Ketika beliau menderita sakit yang sangat di bagian kepala beliau. Dan sebagaimana cerita anaknya kepadaku, sampai-sampai dokter ketika itu melarang beliau untuk membaca dan menulis, khawatir kepala beliau tidak mampu menahannya karena parahnya sakit di kepala beliau. Dan meskipun menderita sakit seperti ini, beliau mampu menulis risalah al-Wasāil al-Mufīdah li al-ḥāyati as-Sa’īdah. Seorang ulama memuji dan mengomentari kitab ini, bahwa kitab ini adalah rumah sakit untuk penyakit-penyakit rohani, Benar! Bacalah kitab ini, ini adalah rumah sakit, Dan dengan taufik dari Allah, betapa banyak orang setelah membaca kitab ini dengan penuh penghayatan, hilang dari dalam jiwanya kegundahan, penyakit hati, was-was, dan berbagai prasangka buruk, sehingga terbuka baginya pintu-pintu kebahagiaan.

Kebahagiaan dan ketenangan jiwa hanya terletak pada ketaatan kepada Allah subḥānahu wa ta’alā. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh Kami akan balas mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97) Dan Allah Jalla wa ‘alā juga berfirman, “Dan barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Taha: 123) Yakni bahagia, Allah menjamin siapa saja yang mengikuti petunjuk-Nya pasti akan bahagia, akan terwujud kebahagiaanya, dan akan terhindar dari kesengsaraan. “Kami tidak menurunkan Al-Quran kepadamu agar kamu menjadi susah.” (QS. Taha: 2) Al-Quran adalah kitab kebahagiaan, jika Anda mencari kebahagiaan, carilah dalam Al-Quran! Al-Quran adalah kitab kebahagiaan. “Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9)

Sehingga kelezatan hakiki dan kebahagiaan yang sesungguhnya ada dalam ketaatan kepada Allah subḥānahu wa ta’alā. Adapun lezatnya maksiat adalah kelezatan sementara. Kenikmatan sementara yang diliputi dengan banyak kekurangan. Dan setelah itu akan mendatangkan azab. Kelezatan akan segera sirna dari orang yang menikmatinya dari jalan yang haram, dan hanya akan menyisakan kehinaan dan aib bagi dirinya. Dan menyisakan banyak akibat buruk di kemudian hari.

Tidak ada kebaikan pada kelezatan yang berujung di neraka. Itu hanyalah kelezatan fana yang akan cepat sekali sirna. Dan akibat buruk yang akan menimpa pelakunya di dunia dan di akhirat teramat pedih. Kita memohon kepada Allah agar memperbaiki keadaan kita semua, menunjukkan kepada kita jalan-Nya yang lurus, mengampuni dosa-dosa kita seluruhnya, yang besar dan yang kecil, yang dahulu dan sekarang, yang terang-terangan dan tersembunyi, dan semoga Allah ampuni apa yang telah kita lakukan dan yang akan kita lakukan, baik yang kita lakukan secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan.

Semoga Allah ampuni kita, orang tua kita, semua kaum muslimin dan muslimah, dan kaum mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup ataupun yang telah tiada. Kita memohon kepada Allah Jalla fī ‘Ulāhu agar menerima taubat kita, mensucikan kita dari dosa-dosa, menguatkan hujjah-Nya untuk kita, memberi petunjuk kepada hati kita, dan menghilangkan kedengkian dalam hati kita, Ya Allah berikan ketakwaan ke dalam hati kami, dan sucikanlah hati kami, karena Engkaulah sebaik-baik Zat yang mampu mensucikannya, Engkaulah Pemilik dan Penguasanya.

===========

أَتَذَكَّرُ أَنَّنِي مَرَّةً زُرْتُ أَحَدَ الْعُبَّادِ الصُّلَحَاءِ

أَحْسَبُهُ كَذَلِكَ وَاللهُ حَسِيبُهُ

قَدْ تُوُفِّيَ رَحِمَهُ اللهُ وَهَذَا الْكَلَامُ إِلَّا قَدِيْمٌ

زُرْتُهُ فِي بَيْتِهِ وَهُوَ بَيْنَ أَرْبَعَةِ جُدْرَانٍ

مِنْ أَرْبَعِ سَنَوَاتٍ مَا يَخْرُجُ

 وَيُذْكَرُ عَنْهُ أَنَّهُ يُعَانِي مِنْ أَمْرَاضٍ عَدِيدَةٍ

فَسَأَلْتُهُ عَنْ حَالِهِ أَقُوْلُ: كَيْفَ؟ كَيْفَ أَنْتَ يَا أَبَا فُلَانٍ؟

قَالَ لِي بِالْحَرْفِ الْوَاحِدِ: وَاللهِ

إِنَّنِي فِي سَعَادَةٍ مَا أَظَنُّ أَحَدًا فِي الْمَمْلَكَةِ مِثْلًا

يَقُولُ هَكَذَا هَذَا لَفْظُهُ قَالَ: واللهِ إِنَّنِي فِي سَعَادَةٍ

مَا أَظَنُّ أَحَدًا فِي الْمَمْلَكَةِ مِثْلًا

وَهُوَ بَيْنَ أَرْبَعَةِ جُدْرَانٍ وَعَلَى سَرِيرِ الْمَرَضِ

وَفِي مُعَانَاةٍ مِنَ الْمَرَضِ خُذْ شَاهِدًا أَقْوَى مِنْ هَذَا وَأَعْجَبَ

الْإِمَامُ ابْنُ السَّعْدِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى رِسَالَتُهُ

الَّتِي نَفَعَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهَا خَلْقًا وَالَّتِي أَسْمَاهَا

الْوَسَائِلُ الْمُفِيدَةُ لِلْحَيَاةِ السَّعِيدَةِ

كَيْفَ تَسْعَدُ؟ كَيْفَ تَظْفَرُ بِالْحَيَاةِ السَّعِيدَةِ؟

هَذِهِ الرِّسَالَةُ مِنْ أَوَّلِهَا إِلَى آخِرِهَا كَتَبَهَا عَلَى سَرِيرِ الْمَرَضِ

وَهُوَ فِي الْأَلَمِ الشَّدِيدِ فِي رَأْسِهِ

حَتَّى إِنَّ الطَّبِيبَ كَمَا حَدَّثَنِي ابْنُهُ بِذَلِكَ

كَانَ مَنَعَهُ مِنَ الْقِرَاءَةِ وَالْكِتَابَةِ

لِأَنَّ رَأْسَهُ مَا يَتَحَمَّلُ مِنْ شِدَّةِ الْأَلَمِ

وَمَعَ هَذَا الْأَلَمِ يَكْتُبُ الْوَسَائِلَ الْمُفِيدَةَ لِلْحَيَاةِ السَّعِيدَةِ

وأَحَدُ الْعُلَمَاءِ وَقَدْ أَحْسَنَ يَصِفُ هَذَا الْكِتَابَ

بِأَنَّهُ مُسْتَشْفَى الْأَمْرَاضِ النَّفْسِيَّةِ

فِعْلًا تَقْرَأُ هَذَا الْكِتَابَ هُوَ مُسْتَشْفَى

وَكَثِيرٌ مِمَّنْ وَفَّقَهُ اللهُ وَقَرَأَ الْكِتَابَ بِالطُّمَأْنِينَةِ

زَالَتْ عَنْهُ أَوْهَامٌ وَأَسْقَامٌ وَوَسَاوِسُ وَظُنُونٌ

وَتُفَتَّحَتْ لَهُ أَبْوَابٌ فِي السَّعَادَةِ

السَّعَادَةُ وَقُرَّةُ الْعَيْنِ إِنَّمَا هِيَ إِنَّمَا هِيَ فِي طَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَه وَتَعَالَى
كَمَا قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ – النَّحْلُ: ٩٧

قَالَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ – طه: ١٢٣

أَيْ يَسْعَدُ ضَمِنَ اللهُ لِمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ أَنْ يَسْعَدَ

وَأَنْ تَتَحَقَّقَ سَعَادَتُهُ وَأَنْ لَا يُصِيبَهُ الشَّقَاءُ

مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ – طه: ٢

الْقُرْآنُ كِتَابُ السَّعَادَةِ إِذَا أَرَدْتَ السَّعَادَةَ اطْلُبْهَا فِي الْقُرْآنِ

هُوَ كِتَابُ السَّعَادَةِ

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ – الْإِسْرَاءُ: ٩

فَاللَّذَّةُ الْحَقِيقِيَّةُ وَالسَّعَادَةُ الْحَقِيقِيَّةُ إِنَّمَا هِيَ فِي طَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

أَمَّا لَذَّةُ الْمَعَاصِي فَهِيَ لَذَّةٌ فَانِيَةٌ

لَذَّةٌ فَانِيَةٌ مَحْفُوفَةٌ بِمُنَقِّصَاتٍ

وَمِنْ بَعْدِ ذَلِكَ جَلَّابَةٌ لِلْعُقُوبَاتِ

تَفْنَى اللَّذَاذَةُ مِمَّنْ نَالَ صَفْوَتَهَا مِنَ الْحَرَامِ

وَيَبْقَى الْخِزْيُ وَالْعَارُ

وَتَبْقَى عَوَاقِبُ سُوءٍ مِنْ مَغَبَّتِهَا

لَا خَيْرَ فِي لَذَّةٍ مِنْ بَعْدِهَا النَّارُ

هِيَ لَذَّةٌ فَانِيَةٌ وَسَرِيعًا مَا تَنْقَضِي

وَعَوَاقِبُهَا عَلَى صَاحِبِهَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَدِيدَةٌ

نَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُصْلِحَنَا أَجْمَعِيْنَ

وَأَنْ يَهْدِيَنَا إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

وَأَنْ يَغْفِرَ لَنَا ذَنْبَنَا كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ

أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ عَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ

وَأَنْ يَغْفِرَ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَّرْنَا

وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا

وَأَنْ يَغْفِرَ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ

وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

نَسْأَلُهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ أَنْ يَتَقَبَّلَ تَوْبَتَنَا

وَأَنْ يَغْسِلَ حَوْبَتَنَا وَأَنْ يُثَبِّتَ حُجَّتَنَا وَأَنْ يَهْدِيَ قُلُوبَنَا

وَأَنْ يَسْلُلَ سَخِيمَةَ صُدُورِنَا

اللَّهُمَّ آتِ نُفُوسَنَا تَقْوَاهَا

وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا

أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

 

 

Agar Dunia Mengejarmu – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri #NasehatUlama

Agar Dunia Mengejarmu – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri #NasehatUlama

Selama kamu berniat untuk akhirat, niscaya Allah akan perbaiki duniamu. Jadikanlah akhirat tujuanmu, niscaya dunia akan datang tunduk padamu. Jiwamu akan bahagia, hatimu tentram, optimisme akan menghampirimu, dan rezeki yang halal dan baik akan mendatangimu. Semua yang kamu inginkan di dunia akan mendatangimu. Begitulah, karena dunia ini, bukankah milik Allah? Jika semua orang dari timur dan barat ingin menghalangimu dari sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Apakah mereka mampu? “Ketahuilah! Sungguh seandainya umat manusia bersatu padu untuk memberikan manfaat untukmu,mereka tidak akan mampu memberi manfaat apapun kecuali apa yang telah Allah tetapkan untukmu.

Dan seandainya umat manusia bersatu padu untuk menimpakan mara bahaya kepada Anda, … mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan untukmu.” (HR. At-Tirmidzi) Jadi, urusan segala sesuatu ada di tangan Tuhan Pemilik keagungan dan kemuliaan. Allah jalla wa ‘ala berfirman, “Dan tidak satupun makhluk bergerak di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS. Hud: 6)Tuhan Pemilik keagungan dan kemuliaan berfirman, “Wahai hamba-Ku, selama Engkau berusaha meraih rida-Ku, Aku akan lakukan apa yang membuatmu rida. Dan barang siapa mencari rida Allah walaupun membuat manusia marah niscaya Allah akan meridai dia dan Allah jadikan orang-orang rida kepadanya.”Dan Allah telah berjanji padamu akan memperbaiki keadaanmu sehingga kalian temukan rasa bahagia dalam jiwa kalian “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Dan di antara bentuk mengingat Allah yang paling agung adalah ketika kamu menjadikan Allah seolah-olah ada di depan kedua matamu dalam setiap perbuatanmu. Tidaklah kamu melakukan satu amalan pun kecuali kamu menghadirkan niat bahwa amalan itu hanya untuk Allah. Ketika itulah hatimu akan tenteram. Kamu bisa merasakan bahagia dengan istrimu di rumahmu selama amal perbuatanmu hanya untuk Allah. Karena Anda mempergauli istrimu untuk mendapatkan rida Allah bukan untuk mendapatkan rida istrimu. Dan bukan juga untuk sekedar memenuhi kebutuhan pribadimu. Melainkan untuk membuat rida Tuhan Pemilik keagungan dan kemuliaan. Kamu berbicara dengan istrimu dengan perkataan yang baik karena Allah. Kamu perlakukan dia dengan sebaik-baik perlakuan karena Allah. Kamu penuhi keinginan dan kebutuhannya karena Allah, dengan demikian Allah karuniakan kepadamu kebahagiaan dunia. Bahkan ketika kamu berhubungan badan dengan istrimu, kamu melakukannya karena Allah. Karena Allah ‘azza wa jalla telah memerintahkanmu untuk melampiaskan syahwatmu dengan cara yang halal.

Sehingga kamu mencukupkan diri dengan yang halal karena menaati Allah. Sehingga Allah pun rida kepadamu ketika kamu sedang menyalurkan syahwatmu. Demikian pula ketika kamu merasa bersama Allah dan amalan-amalanmu hanya untuk Allah, niscaya Allah akan jadikan dunia mendatangimu. Kamu berniat untuk akhirat sehingga Allah jadikan harta benda mendatangimu di dunia. Bukankah Allah telah berfirman: “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan jadikan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq: 2) … Dan memberikannya rezeki dari arah yang tidak dia sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Ini janji siapa? Janji siapa ini? Janji Tuhan Pemilik keagungan dan kemuliaan Apakah Dia lemah? Tidak, demi Allah! Apakah Dia miskin? Tidak, demi Allah!Apakah Dia akan mengingkari janji? Tidak, demi Allah! Allah Jalla wa ‘ala tidak pernah berdusta. Dan jika kita melihat kejadian-kejadian yang telah lalu, kita akan dapati bahwa Allah jalla wa ‘ala terkadang memberikan kekurangan kepada sebagian wali-wali-Nya namun hal tersebut akhirnya menjadi kesudahan yang baik baginya di dunia. Allah hanya mengujinya, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, dan kekurangan dalam harta, jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155) Allah ingin melihat, apakah kamu benar-benar beramal untuk Allah atau tidak demikian? Kemudian kesudahan yang baik menjadi milikmu. “Dan kesudahan yang baik adalah untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raf: 128) “Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang Dia sediakan untuk hamba-hamba-Nya dari rezeki yang baik-baik?’ Katakanlah, ‘Semua itu untuk orang-orang beriman di kehidupan dunia dan khusus bagi mereka saja pada hari Kiamat.’” (QS. Al-A’raf: 32)

Kenikmatan tersebut datang kepadamu di dunia, selama kamu berpegang teguh dengan syariat, tapi bersama kenikmatan itu pasti ada kurangnya, sakitnya, dan cobaannya, namun di akhirat semua itu murni, murni hanya kenikmatan saja, Ada seseorang menemuimu dan berkata, “Aku punya toko, aku menjual barang haram ini di tokoku. Untung saja aku menjualnya! Barang haram inilah yang membuat pelanggan berdatangan.” Maha Suci Allah! Bagaimana bisa barang haram memberikan kamu rezeki Yang memberi kami rezeki adalah Tuhan Pemilik keagungan dan kemuliaan Dia berkata, “Pelangganku berkurang.” Maka kita katakan, “Sabar sejenak!”
Dan kalian menyaksikan keadaan manusia, baik dari kalangan Muslim atau non-Muslim. Bagaimana mereka ketika berbuat sesuatu yang menyelisihi syariat? Pasti sebabnya adalah karena alasan ekonomi di dunia ini.

Adapun orang yang beriman, terkadang permulaannya mereka sering diolok-olok. “Fulan orang miskin, dia tidak mengerti, dia tidak melakukan ini dan itu, katanya haram.” Ini adalah para pelontar was-was, yang tidak memperhatikan, tidak mempertimbangkan akibat di hari kemudian. Pasti Anda merasa kesulitan awalnya, tapi “Sungguh bersamaan dengan kesulitan pasti ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5) “Sungguh bersamaan dengan kesulitan pasti ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 6)

===============

مَتَى قَصَدْتَ الْآخِرَةَ أَصْلَحَ اللهُ لَكَ الدُّنْيَا

لِيَكُنْ قَصْدُكَ الْآخِرَةَ سَتَأْتِيكَ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

تَسْعَدُ فِي نَفْسِكَ يَطْمَئِنُّ قَلْبُكَ يَأْتِيكَ الْيَقِينُ يَأْتِيكَ الرِّزْقُ الْحَلَالُ الطَّيِّبُ

يَأْتِيكَ كُلُّ مَا تَطْلُبُهُ فِي الدُّنْيَا

نَعَمْ هَذَا هَذِهِ الدُّنْيَا أَلَيْسَتْ مُلْكًا لِلهِ؟

لَوْ أَرَادَ النَّاسُ كُلُّهُمْ مِنْ مَشْرِقٍ وَمَغْرِبٍ أَنْ يَمْنَعُوا عَنْكَ شَيْئًا مِمَّا يُقَدِّرُهُ اللهُ لَكَ

يَسْتَطِيعُونَ؟

وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ

لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ

وَلَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ

لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

إِذَنْ أَزِمَّةُ الْأُمُورِ بِيَدِ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ

يَقُولُ جَلَّ وَعَلَا: وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا – هود: ٦

رَبُّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ يَقُولُ: مَتَى كُنْتَ يَا عَبْدِي تَسْعَى فِي رِضَايَ

سَعَيْتُ فِي رِضَاكَ وَمَنِ ابْتَغَى رِضَا اللهِ بِسَخَطِ الْخَلْقِ

رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ

وَقَدْ وَعَدَكُمْ بِصَلَاحِ أَحْوَالِكُمْ

فِي نُفُوسِكُمْ تَسْعَدُونَ

أَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ – الرعد: ٢٨

وَمِنْ أَعْظَمِ ذِكْرِ اللهِ أَنْ تَجْعَلَ اللهَ

بَيْنَ عَيْنَيْكَ فِي جَمِيعِ أَعْمَالِكَ

22
00:01:56,220 –> 00:02:03,180
لَا تُقْدِمُ عَلَى عَمَلٍ مِنَ الْأَعْمَالِ إِلَّا وَأَنْتَ تَسْتَشْعِرُ أَنَّ ذَلِكَ الْعَمَلَ لِلهِ

حِينَئِذٍ يَطْمَئِنُّ قَلْبُكَ

تَسْعَدُ مَعَ زَوْجَتِكَ فِي بَيْتِكَ

مَتَى كَانَ عَمَلُكَ لِلهِ

لِأَنَّكَ تُعَامِلُ زَوْجَتَكَ لِإِرْضَاءِ اللهِ لَا لِإِرْضَائِهَا

وَلَا لِتَحْقِيقِ مَقْصُودِكَ الشَّخْصِيِّ

وَإِنَّمَا لِإِرْضَاءِ رَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ

تُخَاطِبُهَا بِالْحُسْنَى لِلهِ

تُعَامِلُهَا بِأَفْضَلِ الْأَخْلَاقِ لِلهِ

تُلَبِّي حَوَائِجَهَا لِلهِ

فَيُوْرِثُكَ اللهُ سَعَادَةَ الدُّنْيَا

حَتَّى إِذَا جَامَعْتَ زَوْجَتَكَ تُجَامِعُهَا لِلهِ

لِأَنَّ اللهَ عَزّ وَجَلَّ قَدْ أَمَرَكَ بِقَضَاءِ الْوَطَرِ بِالْحَلَالِ

فَأَنْتَ تَقْتَصِرُ عَلَى الْحَلَالِ طَاعَةً لِلهِ

فَيَرْضَى اللهُ عَنْكَ عِنْدَمَا تَقْضِي شَهْوَتَكَ

هَكَذَا أَيْضًا إِذَا كُنْتَ مَعَ اللهِ وَكَانَتْ أَعْمَالُكَ لِلهِ

يَجْعَلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الدُّنْيَا تَأْتِيكَ

أَنْتَ قَصَدْتَ الْآخِرَةَ فَجَعَلَ الْأَمْوَالَ تَأْتِيكَ فِي الدُّنْيَا

أَلَمْ يَقُلِ اللهُ: وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا – الطلاق: ٢

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ – اَلطَّلَاقُ ٣

هَذَا وَعْدُ مَنْ ؟ وَعْدُ مَنْ؟ رَبُّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ

هَلْ هُوَ عَاجِزٌ؟ لَا وَاللهِ

هَلْ هُوَ فَقِيرٌ؟ لَا وَاللهِ

هَلْ هُوَ يُخْلِفُ الْمَوْعِدَ؟ لَا وَاللهِ

لَا يَكْذِبُ جَلَّ وَعَلَا

إِذَا نَظَرْنَا فِي شَوَاهِدِ التَّارِيخِ وَجَدْنَا

أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ يُلْحِقُ بَعْضَ النَّقْصِ بِأَوْلِيَائِهِ

لَكِنَّ لَهُمُ الْعَاقِبَةَ الطَّيِّبَةَ فِي الدُّنْيَا

يَخْتَبِرُهُمْ فَقَطْ – وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ

وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ – الْبَقَرَةُ: ١٥٥

يَنْظُرُ هَلْ أَنْتَ حَقِيْقَةً لِلهِ أَوْ لَيْسَ كَذَلِكَ؟

ثُمَّ عَاقِبَةُ الْأَمْرِ تَكُوْنُ لَكَ

وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ – الْأَعْرَافُ: ١٢٨

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ – الْأَعْرَافُ: ٣٢

فِي الدُّنْيَا تَأْتِيكُمُ النِّعَمُ

مَتَى تَمَسَّكْتُمْ بِالشَّرْعِ لَكِنْ قَدْ يَكُونُ مَعَهَا أَقْدَارٌ وَبَلَاءٌ وَبَلْوَى

لَكِنْ فِي الْآخِرَةِ خَالِصَةً نِعَمٌ صَافِيَةٌ

يَأْتِيكَ وَيَقُولُ: أَنَا عِنْدِي مَحَلٌّ أَبِيْعُ فِيهِ هَذَا الْمُحَرَّمَ

لَوْ لَمْ أَبِعْهُ هَذَا الْمُحَرَّمَ هُوَ الَّذِي يَجْلِبُ لِيَ الزَّبَائِنَ

سُبْحَانَ اللهِ كَيْفَ كَانَتِ الْمُحَرَّمَاتُ هِيَ الَّتِي تَرْزُقُكَ

يَرْزُقُكَ رَبُّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ

قَالَ: نَقَصَ عِنْدِي الزَّبَائِنُ

قُلْنَا: انْتَظِرْ قَلِيلًا

وَأَنْتُمْ تُشَاهِدُونَ أَحْوَالَ النَّاسِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَغَيْرِ الْمُسْلِمِينَ

كَيْفَ أَنَّهُمْ إِذَا عَمِلُوا بِأَمْرٍ يُخَالِفُ الشَّرْعَ

جَاءَتْهُمُ الْأَزَمَاتُ الْاِقْتِصَادِيَّةُ فِي الدُّنْيَا

وَأَهْلُ الْإِيمَانِ قَدْ يُسْتَهْزَأُ بِهِمْ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ

فُلَانٌ مِسْكِينٌ مَا يَعْرِفُ تَرَكَ الشَّيْءَ يَقُولُ أَنَّهُ حَرَامٌ

هَذَا مُوَسْوِسٌ وَلَا يَنْظُرُ وَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى عَوَاقِبِ الْأُمُورِ

تَضِيقُ اَوَّلًا لَكِنْ – فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا – الشَّرْحُ: ٥

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا – الشَّرْحُ: ٦

 

Maafkan Dia (Kisah yang Menginspirasi) – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Maafkan Dia (Kisah yang Menginspirasi) – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Di antara contohnya adalah kisah Abu Bakar dan Misṭaḥ. Misṭaḥ berasal dari kalangan Muhajirin, termasuk orang Muhajirin yang fakir. Ia masih termasuk kerabat Abu Bakar As-Siddiq. Abu Bakar menanggung nafkahnya. Abu Bakar memberikan nafkah untuk memenuhi kebutuhannya. Namun, Misṭaḥ ternyata ikut andil dalam menyebarkan Ḥādiṡatul Ifki. Sebuah fitnah dusta yang menimpa ibunda kaum mukminin, Aisyah -semoga Allah meridai beliau-, hingga turun ayat-ayat al-Quran yang menjelaskan tentang kesucian Aisyah dari fitnah ini. Maka ketika kabar ini sampai kepada Abu Bakar -semoga Allah meridai beliau- bahwa Misṭaḥ termasuk orang-orang yang menyebarkan kabar dusta itu, Abu Bakar bersumpah dengan nama Allah bahwa beliau tidak akan menafkahinya lagi.

Ketika turun ayat yang menjelaskan kesucian Aisyah Ibunda kaum mukminin -semoga Allah meridai beliau-, di antara isi dari ayat ini adalah firman Allah subḥānahu wa ta’alā “Dan janganlah orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah, ” “Lā ya’tali” artinya jangan bersumpah! “Dan janganlah orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah, bahwa mereka tidak akan memberi bantuan kepada kerabat mereka, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, maka hendaklah mereka memberi maaf dan ampunan. Bukankah kalian suka jika Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22) Ketika Abu Bakar mendengar hal ini, ketika ayat ini sampai kepada beliau, beliau langsung berkata, “Ya, tentu saja!” Beliau langsung berkata, “Ya, tentu saja!” Kemudian kembali menafkahi Misṭaḥ, langsung! Tanpa berpikir panjang.

Dan ayat ini tidak khusus untuk Abu Bakar -semoga Allah meridai beliau-, sehingga hikmahnya berdasarkan keumuman ayat ini, oleh sebab itulah Allah berfirman; “Dan janganlah orang yang mempunyai kelebihan di antara kamu bersumpah, …”Ini bisa mencakup siapa saja yang tertimpa hal serupa, atau hal yang mirip seperti itu atau semacam itu maka hendaknya dia merenungkan keagungan makna ayat inidan memperhatikan firman Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi; “Bukankah kalian suka jika Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22) Abu Bakar berkata, “Ya, tentu saja! Ya, tentu saja!” dan langsung menafkahinya lagi.

Dan pada kesempatan ini, aku ceritakan pada kalian sebuah kisah yang menakjubkan, sangat bagus, dan sangat menyentuh jiwa. Di masjid ini, di antara jamaah mulia yang pernah datang ke sini, dia pernah duduk berdua bersamaku dan mulai berbincang-bincang denganku tentang salah seorang kerabatnya, dia berkata, “Aku jauhi dia karena Allah dan aku tidak berbicara dengannya.” Dan dia adalah suami saudarinya orang yang berbincang dengan saya ini dahulu adalah orang kaya dan pedagang sukses Dan suami saudarinya itu orang miskin, tidak punya apa-apa. Dia berkata, “Aku adalah pedagang dan punya harta, aku sangat ingin saudariku dan anak-anaknya serta suaminya hidup dengan penghidupan yang baik.”

“Sehingga aku menuliskan sertifikat sebuah bangunan yang terdapat padanya sebuah toko, aku tulis sertifikatnya atas nama lengkapnya.”
Dia berkata, “Ini adalah hadiah dariku untukmu dan tinggallah di sini.”
Dia berkata, “Kemudian, setelah beberapa lama, Allah mentakdirkan bahwa usaha dagang saya bangkrut.”
Hingga aku tidak memiliki apa-apa dan tidak ada yang ada di benakku kecuali ipar saya tadi.
Kemudian aku pergi menemuinya, aku beramah tamah dengannya dan aku berkata bahwa aku sedang membutuhkan tempat yang bisa aku tempati sementara waktu hingga aku bisa mengatur kembali kehidupanku. Dia bercerita, “Dia malah mengusir, mencelaku, dan berkata kasar kepadaku, … bahkan mengingkari pemberianku kepadanya.

Maka kemudian aku menjauhinya dan aku putuskan hubunganku dengannya sejak hari itu.” Dan ketika itu orang ini berbincang kepadaku dengan rasa sakit hati yang sangat Aku berkata kepadanya, “Walaupun dengan semua hal yang telah dilakukan oleh kerabatmu tersebut, …” … apakah mempengaruhi kehormatanmu? Apakah dia merusak kehormatan dan kemuliaanmu dan keluargamu?” Dia jawab, “Tidak sama sekali!”
Aku berkata, “Seandainya dia merusak kehormatanmu, itu masalah yang lebih berat atau lebih ringan?”
Dia berkata, “Tidak, tentu itu lebih berat. Urusan dunia tidak sebanding dengan urusan kehormatan.”
Aku berkata, “Masalah kehormatan lebih berat bagimu?” Dia jawab, “Iya.”
Aku bacakan ayat ini dan aku kisahkan kepadanya kejadian yang menimpa Abu Bakar.
Langsung dia berkata, “Selesai urusan!” Dia berkata, “Masalah selesai!”
Dia berkata, “Selesai sudah, tidak ada apa-apa lagi dalam hatiku!”

Dan sebenarnya, nilai-nilai seperti ini harus bisa kita pahami, sehingga kita mengerti betapa agungnya sifat pemaaf walau apapun yang terjadi, kita tetap meyakini firman Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi
“Bukankah kalian suka jika Allah mengampuni kalian?” (QS. An-Nur: 22)
Hendaknya hal ini selalu ada dalam diri seseorang, jangan sampai hilang!
Karena betapa banyak kejadian antar kerabat saling boikot dan memutus hubungan karena urusan dunia yang sepele namun dibesar-besarkan oleh setan dalam hati mereka, hingga hubungan mereka terputus terus menerus hingga turun kepada anak-anak mereka dan begitu seterusnya. Apa manfaat yang seseorang harapkan dari perbuatan semacam itu? Dan maaf dari Allah dan ampunan-Nya jauh lebih agung. Oleh karena itu, hendaknya seseorang memaafkan agar Allah memaafkannya, dan memberi ampunan agar Allah mengampuninya, dan mengharapkan dari hal tersebut apa yang ada di sisi Allah.

Jangan melihat kepada orang yang menyakitinya atau menyusahkannya bahwa dia pantas untuk dimaafkan atau tidak, jangan lihat hal ini! Lihatlah betapa agungnya apa yang ada di sisi Allah, sehingga dia memaafkan agar Allah memaafkannya, dan memberi ampunan agar Allah subḥānahu wa ta’alā mengampuninya. Demikian.

================================

فَمِنَ الْأَمْثِلَةِ قِصَّةُ أَبِي بَكْرٍ مَعَ مِسْطَحٍ

وَمِسْطَحٌ كَانَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ مِنْ فُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ

وَمِنْ قَرَابَاتِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ

فَتَكَفَّلَ أَبُو بَكْرٍ بِالنَّفَقَةِ عَلَيْهِ

فَكَانَ يُنْفِقُ عَلَيْهِ

لَكِنَّهُ خَاضَ أَعْنِي مِسْطَحٌ فِيْ مَنْ خَاضُوا فِي حَادِثَةِ الْأِفْكِ

الْأَمْرُ الَّذِي أُمِّيَتْ بِهِ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا

وَنَزَلَتْ آيَاتُ التَّبْرِئَةِ تُتْلَى فِي كِتَابِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

فَلَمَّا بَلَغَ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

أَنَّ مِسْطَحًا خَاضَ مَعَ مَنْ خَاضُوا

حَلَفَ بِاللهِ أَنْ لَا يُنْفِقَ عَلَيْهِ

لَمَّا نَزَلَتِ الْآيَاتُ فِي تَبْرِئَةِ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا

جَاءَ فِي ضِمْنِ هَذِهِ الْآيَاتِ قَوْلُ اللهِ سُبْحَانَه وَتَعَالَى

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ – النُّورُ: ٢٢

لَا يَأْتَلِ أَيْ لَا يَحْلِفُ

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ

أَن يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ – النُّورُ: ٢٢

لَمَّا سَمِعَ أَبُو بَكْرٍ وَبَلَغَتْهُ هَذِهِ الْآيَةُ

مُبَاشَرَةً قَالَ بَلَى قَالَ بَلَى مُبَاشَرَةً

وَأَعَادَ النَّفَقَةَ لِمِسْطَحٍ مُبَاشَرَةً بِدُونِ التَّرَدُّدِ

فَهَذِهِ الْآيَةُ لَا تَخُصُّ أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

الْعِبْرَةُ بِعُمُومِهَا وَلِهَذَا اللهُ قَالَ

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنكُمْ

هَذَا يَشْمَلُ كُلَّ إِنْسَانٍ حَصَلَ لَهُ مِثْلُ هَذَا الْمَوْقِفِ

أَوْ قَرِيبٌ مِنْهُ أَوْ نَحْوَهُ

فَعَلَيْهِ أَنْ يَنْتَبِهَ إِلَى هَذَا الْمَعْنَى الْعَظِيمِ

وَأَنْ يَنْتَبِهَ لِقَوْلِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ – النُّورُ: ٢٢

قَالَ بَلَى قَالَ بَلَى وَأَعَادَ لَهُ النَّفَقَةَ

أَرْوِي لَكُمْ هُنَا قِصَّةً عَجِيبَةً جِدًّا

وَجَمِيلَةً وَمُؤَثِّرَةً

فِي هَذَا الْمَسْجِدِ أَحَدُ الزُّوَّارِ الْكِرَامِ

جَلَسَ مَعِي جَلْسَةً خَاصَّةً وَأَخَذَ يُحَدِّثُنِي

عَنْ قَرِيبٍ لَهُ يَقُولُ

هَجَرْتُهُ فِي اللهِ وَلَا أُكَلِّمُهُ وَهُوَ زَوْجٌ لِأُخْتِهِ

هَذَا الَّذِي يُحَدِّثُنِي كَانَ صَاحِبَ مَالٍ وَتِجَارَةٍ

وَكَانَ زَوْجُ أُخْتِهِ فَقِيرًا لَا شَيءَ عِندَهُ

يَقُولُ فَأَحْبَبْتُ وَأَنَا تَاجِرٌ عِنْدِي أَمْوَالٌ أَحْبَبْتُ اَنْ تَعِيشَ أُخْتِي وَأَوْلَادُهَا

مَعَ زَوْجِهَا حَيَاةً كَرِيمَةً

فَكَتَبْتُ عِمَارَةً لِي بِمَحَلَّاتٍ تِجَارِيَّةٍ فِيهَا

كَتَبْتُهَا بِاسْمِهِ كَامِلَةً

قُلْتُ هَذِهِ هَدِيَّةٌ لَكَ فَتَعِيشُونَ هَذِهِ

يَقُولُ ثُمَّ بَعْدَهَا بِفَتْرَةٍ طَوِيلَةٍ قَدَّرَ اللهُ عَلَيَّ فَخَسِرْتُ تِجَارَتِيْ

وَمَا أَصْبَحَ عِنْدِيْ شَيْءٌ مَا فَكَّرْتُ فِي أَحَدٍ إِلَّا زَوْجَ أُخْتِي

فَذَهَبْتُ إِلَيْهِ

وَتَلَطَّفْتُ مَعَهُ وَقُلْتُ أُرِيدُ فَقَطْ شُقَّةً

أَسْكُنُ فِيهَا مُؤَقَّتًا إِلَى أَنْ أُرَتِّبَ نَفْسِيْ مِنْ جَدِيدٍ

وَيَقُوْلُ: فَطَرَدَنِي وَشَتَمَنِي وَأَسْمَعَنِي كَلاَمًا غَلِيظًا

وَجَحَدَ إِحْسَانِي إِلَيْهِ

فَهَجَرْتُهُ وَقَطَعْتُهُ مِنْ ذَلِكَ الْيَوْمِ

وَكَانَ يُكَلِّمُنِي بِأَلَمٍ شَدِيدٍ

قُلْتُ لَهُ: مَعَ هَذِهِ الْأُمُورِ الَّتِي حَصَلَتْ مِنْ قَرِيبِكَ كُلَّهَا

هَلْ وَصَلَ إِلَى عِرْضِكَ وَطَعْنٌ فِي عِرْضِكَ وَشَرَفِكَ وَفِي أَهْلِكَ؟

قَالَ: لَا أَبَدًا

قُلْتُ: لَوْ قُدِّرَ أَنَّهُ طَعَنَ فِي الْعِرْضِ الْأَمْرُ أَشَّدُ عَلَيْكَ وَإِلَّا أَقَلُّ؟

قَالَ: لَا أَشَدُّ الدُّنْيَا مَا تُسَاوِي شَيْئًا يَقُولُ عِنْدَ الْعِرْضِ

قُلْتُ: أَشَدُّ عَلَيْكَ مِنْ هَذَا ؟

قَالَ: نَعَمْ

فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ هَذِهِ الْآيَةَ وَذَكَرْتُ قِصَّةَ أَبِيْ بَكْرٍ

فَقَالَ لِي مُبَاشَرَةً: اِنْتَهَى الْمَوْضُوعُ قَالَ: اِنْتَهَى

مَا بَقِيَ يَقُولُ: اِنْتَهَى مَا بَقِيَ فِي نَفْسِي شَيْءٌ

فَهَذَا لَا بُدَّ فِي حَقِيقَةٍ مِثْلُ هَذِهِ الْمَعَانِي نَحْنُ نَعْرِفُهَا

وَنَعْرِفُ قِيْمَةَ الْعَفْوِ

مَهْمَا كَانَتْ الْأُمُورُ نَقِفُ عِنْدَ قَوْلِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ – النُّورُ: ٢٢

دَائِمًا هَذِهِ تَكُونُ عِنْدَ الْإِنْسَانِ لَا يَقِفُ

يَعْنِي كَمْ حَصَلَتْ بَيْنَ أَقارِبَ هَجْرٌ أَوْ قَطِيعَةٌ

فِي تَوَافِهَ مِنْ تَوَافِهِ الدُّنْيَا عَظَّمَهَا الشَّيْطَانُ فِي نُفُوسِهِمْ

فَبَقِيَتْ قَطِيعَةٌ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ أَوْلاَدِهِمْ وَاسْتَمَرَّتْ

مَا الثَّمَرَةُ الَّتِي يَرْجُوهَا الْإِنْسَانُ مِنْ وَرَاءِ ذَلِكَ

لَكِنْ عَفْوُ اللهِ وَمَغْفِرَتُهُ أَعْظَمُ

فَيَعْفُو لِيَعْفُوَ اللهُ عَنْهُ

وَيَغْفِرُ لِيَغْفِرَ اللهُ لَهُ

وَيَطْلُبُ بِذَلِكَ مَا عِنْدَ اللهِ

لَا يَنْظُرُ إِلَى هَذَا الْإِنْسَانِ الَّذِي آذَاهُ أَوْ … أَوْ أَتْعَبَهُ

أَنَّه مُسْتَحِقٌّ أَنْ نَعْفُوَهُ لَا يَنْظُرُ إِلَى هَذَا

يَنْظُرُ إِلَى شَيْءٍ عِنْدَ اللهِ عَظِيمٌ جِدًّا

فَيَعْفُو لِيَعْفُوَ اللهُ عَنْهُ

وَيَغْفِرُ لِيَغْفِرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ
نَعَمْ

Bacaan Istiftah Penuh dengan Tauhid yang Sebaiknya Kamu Hafal – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr


Bacaan Istiftah Penuh dengan Tauhid yang Sebaiknya Kamu Hafal – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Pembahasan tentang manfaat zikir secara terperinci membutuhkan pembahasan yang panjang lebar,
namun aku akan membahas satu contoh saja. Dengan contoh itu dapat diketahui manfaat dari yang semisalnya dalam bab ini. Yaitu tentang hadits agung dan menyeluruh dalam perkara aqidah.
Bahkan sebatas pengetahuan dan penelaahanku, ini merupakan hadits yang paling menyeluruh dalam perkara-perkara aqidah, pokok-pokok agama, dan asas-asas beragama.
Hadits ini disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim. Dari riwayat Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-
bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- jika berdiri di malam hari untuk bertahajjud, Beliau membaca, yakni membuka shalat malamnya -oleh sebab itu dalam riwayat lain disebutkan, “Setelah bertakbir…”
yakni setelah melakukan takbiratul ihram pada shalat malam”-
Beliau membuka shalatnya dengan membaca (istiftah): “Ya Allah, segala puji hanya bagi Engkau;
Engkau yang mengurusi langit, bumi, dan seisinya.
Segala puji hanya bagi Engkau;
Engkau cahaya bagi langit, bumi, dan seisinya.
Segala puji hanya bagi Engkau;
Engkau Penguasa langit, bumi, dan seisinya.
Segala puji hanya bagi Engkau;
Engkau Maha Benar dan janji-Mu benar.
Pertemuan dengan-Mu benar.
Firman-Mu benar dan pertemuan dengan-Mu benar.
Surga itu benar dan neraka juga benar.
Para nabi benar.
Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam- benar.
Dan hari kiamat adalah benar.
Ya Allah, kepada Engkau aku berserah diri.
Kepada Engkau aku beriman.
Kepada Engkau aku bertawakkal.
Kepada Engkau aku bertaubat.
Kepada Engkau aku memohon petunjuk.
Dan kepada Engkau aku berhukum.
Maka ampunilah aku atas segala yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan,
yang aku rahasiakan dan yang aku tampakkan.
Engkaulah Yang Terdahulu dan Terakhir.
Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Lafadz doa istiftah ini di Shahih Bukhari (dengan sedikit perbedaan lafadz dengan yang disampaikan Syaikh):
(Syaikh al-Albani rahimahullah juga mencantumkan doa istiftah ini di kitab Sifat Shalat Nabi dengan sedikit perbedaan lafadz) Subhanallah, betapa agung doa istiftah ini!
Dan betapa mulia kedudukannya!
Serta betapa menyeluruh kandungannya tentang perkara aqidah dan asas keimanan. Dan ia tergolong matan (bacaan) yang lengkap kandungannya dalam perkara aqidah. Dianjurkan bagi setiap muslim untuk membacanya setiap malam. Dan kamu tidak mungkin dapat mengatakan ini pada matan-matan yang ditulis para ulama, dengan anjuran untuk dibaca setiap malam. Namun matan aqidah yang agung dan menyeluruh ini, yang dibaca Nabi kita -shallallahu ‘alaihi wa sallam- setiap malam untuk membuka shalat malamnya, kamu dapat menganjurkan setiap muslim untuk membacanya setiap malam sebagai pembuka shalat malamnya.
Untuk meneladani Nabi yang mulia -shalawatullahi wasalamuhu ‘alaihi-. Imam al-Ajurriy -rahimahullah-, salah satu ulama salaf memiliki kitab yang diberi nama ‘Tahajjud wa Qiyamu al-Lail’, dan kitab ini telah dicetak. Saat beliau menyebut hadits ini, Beliau berkata, “Ini merupakan hadits yang mulia yang setiap muslim dianjurkan untuk menghafalnya.”
Beliau melanjutkan, “Aku berkata, setiap muslim hendaklah menghafalnya …agar dapat ia baca setiap malam saat melaksanakan shalat malam, jika memang ia terbiasa melaksanakan shalat malam.”
Beliau melanjutkan, “Dan jika ia tidak terbiasa shalat malam, maka aku juga menganjurkannya untuk menghafalkan doa istiftah ini semoga Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menjadikannya penolong baginya agar ia dapat melakukan shalat malam.”
Doa istiftah ini -sebagaimana yang telah aku katakan- menghimpun seluruh perkara aqidah; Menghimpun asas-asas agama, kewajiban-kewajiban agama, dan perkara-perkara aqidah yang menjadi pondasi agama Allah. Doa ini menghimpun semua hal tersebut. Ia adalah matan yang lengkap dalam perkara aqidah. Dan ia adalah salah satu hadits yang paling lengkap dalam menghimpun perkara aqidah dan asas agama.Ia terdiri dari 22 kalimat. Terdiri dari 22 kalimat yang seluruhnya tentang aqidah,peneguhan iman, dan pengokohan asas keimanan dalam hati.

========================

وَالْحَدِيْثُ فِي أَثَرِ الْأَذْكَارِ تَفْصِيلًا
حَدِيْثٌ طَوِيْلٌ
لَكِنَّنِي أَقِفُ مَعَ مِثَالٍ وَاحِدٍ
يُعْرَفُ بِهِ أَثَرُ نَظَائِرِهِ فِي تَحْقِيقِ هَذَا الْمَطْلَبِ
هُوَ حَدِيثٌ عَظِيمٌ جَامِعٌ فِي بَابِ الْاِعْتِقَادِ
بَلْ وَحَسَبَ مَعْرِفَتِي وَفِي حُدُوْدِ اِطِّلَاعِي
أَجْمَعُ حَديثٍ لِأُمُورِ الْاِعْتِقَادِ
وَمُهِمَّاتِ الدِّينِ وَأُصولِ الدِّيَانَةِ
وَهُوَ ثَابِتٌ فِي الصَّحِيحَيْنِ
مِنْ حَديثِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ
قَالَ أَيْ مُسْتَفْتِحًا صَلَاتَهُ مِنَ اللَّيْلِ
وَلِهَذَا جَاءَ فِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ بَعْدَ أَنْ يُكَبِّرَ
أَيْ التَّكْبيرَةَ الْأُوْلَى مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ
يَقُولُ مُسْتَفْتِحًا صَلَاتَهُ
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ
أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَن فِيْهِنَّ
وَلَكَ الْحَمْدُ
أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَن فِيْهِنَّ
وَلَكَ الحَمْدُ
أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَن فِيْهِنَّ
وَلَكَ الحَمْدُ
أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ
وَلِقَاؤُكَ الْحَقٌّ
وَقَوْلُكَ الْحَقٌّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ
وَالجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ
وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ
وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ
وَالسَّاعَةُ حَقٌّ
اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ
وَبِكَ آمَنْتُ
وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ
وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ
وَبِكَ خَاصَمْتُ
وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ
فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ
وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ
أَنْتَ الْمُقَدِّمُ، وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
سُبْحَانَ اللهِ مَا أَعْظَمَ هَذَا الْاِسْتِفْتَاحَ
وَمَا أَجَلَّ شَأْنَهُ
وَمَا أَجْمَعَهُ لِأُمُورِ الْاِعْتِقَادِ وَأُصولِ الْإِيْمَانِ
وَهُوَ يُعَدُّ مَتْنًا جَامِعًا فِي الْعَقِيدَةِ
يُسْتَحَبُّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَقْرَأَهُ كُلَّ لَيْلَةٍ
وَلَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَقُوْلَ
فِي الْمُتُونِ الَّتِي يَكْتُبُهَا أَهْلُ الْعِلْمِ
بِهَذَا الْاِسْتِحْبَابِ قِرَاءَتُهُ كُلَّ لَيْلَةٍ
لَكِنْ هَذَا الْمَتْنُ الْعَقَدِيُّ الْعَظِيمُ الْجَامِعُ
الَّذِي كَانَ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُهُ كُلَّ لَيْلَةٍ
مُسْتَفْتِحًا بِهِ صَلَاتَهُ مِنَ اللَّيْلِ
تَسْتَطِيعُ أَنْ تَنْصَحَ كُلَّ مُسْلِمٍ
أَنْ يَقْرَأَهُ كُلَّ لَيْلَةٍ
مُسْتَفْتِحًا بِهِ صَلَاتَهُ مِنَ اللَّيْلِ
تَأَسِّيًا بِالنَّبِيِّ الْكَرِيمِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ
وَلِهَذَا الْإِمَامُ الْآجُرِّيُّ رَحِمَهُ اللهُ مِنْ أَئِمَّةِ السَّلَفِ
لَهُ كِتَابٌ أَسْمَاهُ التَّهَجُّدُ وَقِيَامُ اللَّيْلِ وَهُوَ مَطْبُوعٌ
لَمَّا أَوْرَدَ هَذَا الْحَديثَ
قَالَ عَنْهُ إِنَّهُ حَدِيثٌ شَرِيفٌ
يُسْتَحَبُّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَحْفَظَهُ
قَالَ وَإِنَّمَا أَقُولُ أَنْ يَحْفَظَهُ
لِيَسْتَعْمِلَهُ كُلَّ لَيْلَةٍ عِنْدَمَا يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ
إِذَا كَانَ لَهُ حَظٌّ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ
قَالَ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَظٌّ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ
فَإِنِّي أَيْضًا أَنْصَحُهُ أَنْ يَحْفَظَ هَذَا الْاِسْتِفْتَاحَ
لَعَلَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَجْعَلَهُ مَعُونَةً لَهُ
لِلْقِيَامِ مِنَ اللَّيْلِ
وَهَذَا الْاِسْتِفْتَاحُ كَمَا أَشَرْتُ يَجْمَعُ أُمُورَ الْاِعْتِقَادِ كُلَّهَا
يَجْمَعُ أُصولَ الدِّينِ وَاجِبَاتِ الدِّيْنِ
أُمُورَ الْمُعْتَقَدِ الَّتِي يَقُومُ عَلَيْهَا دِيْنُ اللهِ
يَجْمَعُهَا كُلَّهَا
فَهُوَ مَتْنٌ جَامِعٌ فِي الْعَقِيدَةِ
وَهُوَ مِنْ أَجْمَعِ الْأَحَادِيثِ
لِأُمُورِ الْاِعْتِقَادِ وَأُصُولِ الدِّيَانَةِ
وَيَتَكَوَّنُ مِنِ اثْنَتَيْنِ وَعِشْرِينَ جُمْلَةً
تَكَوَّنَ مِنِ اثْنَتَيْنِ وَعِشْرِينَ جُمْلَةً جَمِيعُ هَذِهِ الْجُمَلِ فِي الْاِعْتِقَادِ
وَتَثْبِيتِ الْإِيْمَانِ وَتَرْسِيخِ أُصُولِهِ وَالتَّمْكِينِ لَهُ فِي الْقَلْبِ

Bacaan Dzikir Setelah Shalat Apakah Dibaca Keras atau Pelan – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Bacaan Dzikir Setelah Shalat Apakah Dibaca Keras atau Pelan – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

-ahsanallahu ilaikum-
Seorang yang selesai mengerjakan shalat fardhu, ia disunnahkan membaca zikir setelah shalat dengan mengeraskan semua bacaan zikirnya (jahr), kecuali Ayat Kursi yang dibaca dengan suara pelan (sirr).  Penulis -waffaqahullah- menyebutkan bahwa sunnah ketika membaca zikir-zikir tersebut adalah dengan mengeraskan suara (jahr), setiap selesai shalat fardhu. Dan yang dimaksud dengan jahr adalah mengeraskan suara untuk memperdengarkannya pada orang lain, meskipun orang lain tersebut tidak mendengarnya.

Jahr adalah mengeraskan suara untuk memperdengarkannya pada orang lain, meskipun orang lain tersebut tidak mendengarnya. Sedangkan yang dimaksud dengan sirr (israr) adalah memelankan suara tanpa tujuan memperdengarkannya pada orang lain, meskipun orang lain tersebut mendengarnya. Israr/sirr adalah memelankan suara tanpa tujuan memperdengarkannya pada orang lain, meskipun orang itu mendengarnya.

Itulah perbedaan antara keduanya, sebagaimana disebutkan sebelumnya. Dan orang yang membaca zikir setelah shalat, disunnahkan untuk membacanya dengan jahr bacaan zikir-zikirnya, dengan ia mengeraskan suaranya.
Hal ini berdasarkan hadits shahih dari Ibnu ‘Abbas, yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, “Mengeraskan suara saat berzikir setelah shalat adalah amalan yang ada di zaman Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-…”
“Mengeraskan suara saat berzikir setelah shalat, adalah amalan yang ada di zaman Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.”
Orang yang berzikir disunnahkan untuk mengeraskan suaranya saat membaca zikir setelah shalat. Ini adalah pendapat yang dipilih beberapa ulama al-Muhaqqiq; di antaranya Abu Ja’far bin Jarir ath-Thabari, Abu al-‘Abbas Ibnu Taimiyah, Abu Muhammad Ibnu Hazm, dan Abu al-Faraj Ibnu Rajab.
Berbeda dengan pendapat yang masyhur dalam empat madzhab. Pendapat masyhur dalam empat madzhab adalah memelankan bacaan (sirr/israr). Namun pendapat yang lebih kuat adalah disunnahkannya mengeraskan bacaan zikir setelah shalat. Dan inilah pendapat yang dipilih para pemuka dakwah negeri Najd -rahimahumullah- berdasarkan ilmu dan amalan mereka. Mereka berpandangan, sunnahnya zikir setelah shalat adalah dengan mengeraskan bacaan (jahr). Dan bacaan yang dikeraskan meliputi seluruh zikir setelah shalat,

Tidak hanya pada permulaannya saja. Dan bacaan zikir setelah shalat yang dikeraskan meliputi seluruh zikirnya, tidak hanya pada permulaannya saja. Adapun amalan banyak orang yang mengeraskan bacaan di awal zikir, kemudian memelankannya; maka ini adalah pengamalan yang tidak didasari dalil. Sebagaimana yang dikatakan guru dari para guru kami, Sulaiman bin Sihman -rahimahullah-
Maka barangsiapa yang hendak mengamalkan sunnah, maka hendaklah ia mengeraskan bacaan zikir ini semuanya dari awal hingga selesai.
Dan hendaklah seseorang membaca zikir sendiri-sendiri. tanpa membacanya bersama dengan orang lain, yang dikenal dengan zikir berjamaah.
Karena zikir berjamaah itu perkara yang mungkar, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah dan asy-Syathibi dalam kitab al-I’tisham dan lainnya. Dan yang dimaksud dengan zikir berjamaah adalah zikir yang dilakukan bersama-sama, namun jika bacaannya pas kebetulan bersamaan dengan orang lain tanpa disengaja, maka ini tidak mengapa.

Karena orang-orang jika telah selesai shalat, seringkali bacaan zikir mereka dimulai secara bersamaan;Mereka sama-sama membaca, “Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah”…atau “Astaghfirullaha wa atubu ilaih, astaghfirullaha wa atubu ilaih, astaghfirullaha wa atubu ilaih”. Ini bukan hal yang tercela. Namun yang tercela adalah yang sengaja membacanya bersamaan (zikir berjamaah).  Adapun bacaan yang berbarengan tanpa disengaja
maka hal ini tidak termasuk dalam larangan. Dan mengeraskan suara (jahr) yang dimaksud hanya dikhususkan pada lima zikir pertama pada zikir setelah shalat. Adapun zikir keenam yang merupakan bacaan Ayat Kursi, maka para ulama sepakat bahwa ia dibaca dengan suara pelan, bukan dikeraskan. Ayat Kursi dibaca dengan suara pelan (sirr), bukan dikeraskan (jahr). Tidak ada satupun ulama yang berpandangan Ayat Kursi dibaca dengan suara keras (jahr). Demikian…

================

أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ

وَالسُّنَّةُ أَنْ يَجْهَرَ الْمُصَلِّي بِهَذِهِ الْأَذْكَارِ كُلِّهَا

إِلَّا آيَةَ الْكُرْسِيِّ فَيَقْرَأُهَا سِرًّا

ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ

أَنَّ السُّنَّةَ فِيمَا تَقَدَّمَ مِنَ الْأَذْكَارِ

الْجَهْرُ بِهَا بَعْدَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ

وَالْمُرَادُ بِالْجَهْرِ

رَفْعُ الصَّوْتِ مَعَ قَصْدِ إِسْمَاعِ غَيْرِهِ وَلَوْ لَمْ يَسْمَعْ

رَفْعُ الصَّوْتِ مَعَ قَصْدِ إِسْمَاعِ غَيْرِهِ وَلَوْ لَمْ يَسْمَعْ

وَالْإِسْرَارُ هُوَ خَفْضُ الصَّوْتِ

مَعَ عَدَمِ قَصْدِ إِسْمَاعِ غَيْرِهِ وَإِنْ سَمِعَ

خَفْضُ الصَّوْتِ مَعَ عَدَمِ قَصْدِ إِسْمَاعِ غَيْرِهِ

وَلَوْ سَمِعَ

هَذَا هُوَ الْفَرْقُ بَيْنَهُمَا كَمَا تَقَدَّمَ

وَالسُّنَّةُ أَنْ يَجْهَرَ الذَّاكِرُ بَعْدَ الصَّلَاةِ

بِهَذِهِ الْأَذْكَارِ

فَيَرْفَعُ صَوْتَهُ

لِمَا فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ

لِمَا فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ

كَانَ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ بَعْدَ الصَّلَاةِ

عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

كَانَ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ

بَعْدَ الصَّلَاةِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَالسُّنَّةُ أَنْ يَرْفَعَ الذَّاكِرُ صَوْتَهُ

بِالْأَذْكَارِ بَعْدَ الصَّلَاةِ

وَهَذَا اخْتِيَارُ جَمَاعَةٍ مِنَ الْمُحَقِّقِينَ

مِنْهُمْ أَبُو جَعْفَرٍ ابْنُ جَرِيْرٍ الطَّبَرِيُّ

وَأَبُو الْعَبَّاسِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ

وَأَبُو مُحَمَّدٍ ابْنُ حَزْمٍ

وَأَبُو الْفَرَجِ ابْنُ رَجَبٍ

خِلَافًا لِلْمَشْهُورِ فِي الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ

الْمَشْهُورُ فِي الْمَذَاهِبِ الْأَرْبَعَةِ الْإِسْرَارُ بِهَا

لَكِنَّ الظَّاهِرَ أَنَّ السُّنَّةَ هُوَ الْجَهْرُ

وَعَلَيْه أَئِمَّةُ الدَّعْوَةِ النَّجْدِيَّةِ رَحِمَهُمُ اللهُ عِلْمًا وَعَمَلًا

فَإِنَّهُمْ يَرَوْنَ أَنَّ السُّنَّةَ هِيَ الْجَهْرُ

وَالْجَهْرُ يَعُمُّ جَمِيعَ الْأَذْكَارِ

وَلَا يَخْتَصُّ بِأَوَّلِهَا

وَالْجَهْرُ يَعُمُّ جَمِيعَ الْأَذْكَارِ وَلَا يَخْتَصُّ بِأَوَّلِهَا

فَمَا عَلَيْهِ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ مِنَ الْجَهْرِ بِأَوَّلِ الذِّكْرِ ثُمَّ

يُسِرُّونَ فَهَذَا تَحَكُّمٌ لَا دَلِيلَ عَلَيْهِ

أَفَادَهُ شَيْخُ شُيُوخِنَا سُلَيْمَانُ بْنُ سِحْمَانِ رَحِمَهُ اللهُ

فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُوَافِقَ السُّنَّةَ

فَإِنَّهُ يَجْهَرُ بِهَذِه الْأَذْكَارِ جَمِيْعًا

حَتَّى يُتِمَّهَا

وَيَكُونُ ذِكْرُ الْعَبْدِ لِنَفْسِهِ

دُونَ مُوَاطَأَةِ غَيْرِهِ اِتِّفَاقًا

مِمَّا يُسَمَّى بِالذِّكْرِ الجَمَاعِيِّ

فَإِنَّه مُسْتَنْكَرٌ

بَسَطَهُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ

وَالشَّاطِبِيُّ فِي الِاعْتِصَامِ وَغَيْرِهِ

وَالْمُرَادُ بِالذِّكْرِ الجَمَاعِيِّ مَا وَقَعَ عَنِ التِّفَاقِ

أَمَّا مَا وَقَعَ مُصَادَفَةً بِالِاتِّفَاقِ فَلَا يَدْخُلُ فِي هَذَا

فَإِنَّ النَّاسَ إِذَا انْصَرَفُوا مِنَ الصَّلَاةِ

وَقَعَ غَالِبًا اتِّفَاقُهُمْ فِي الِابْتِدَاءِ

أَنَّهُمْ يَقُولُوْنَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ

أَوْ يَقُولُوْنَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

هَذَا لَيْسَ مَحَلًّا لِلذَّمِّ

وَإِنَّمَا الذَّمُّ إِذَا كَانَ عَنْ اِتِّفَاقٍ وَمُوَاطَأَةٍ

وَأَمَّا إِذَا كَانَ مُصَادَفَةً بِلَا اتِّفَاقٍ

فَلَا يَدْخُلُ فِي مَعْنَى الْمَنْعِ

وَالْجَهْرُ الْمَذْكُورُ يَخْتَصُّ

بِالْأَذْكَارِ الْخَمْسَةِ الْأُولَى

أَمَّا الذِّكْرُ السَّادِسُ وَهُوَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ

فَأَهْلُ الْعِلْمِ مُطْبِقُوْنَ عَلَى أَنَّهُ يُسَرُّ بِهَا وَلَا يُجْهَرُ

أَنَّهُ يُسَرُّ بِهَا وَلَا يُجْهَرُ

فَلَمْ يَذْكُرْ أَحدٌ الْجَهْرَ بِقِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ
نَعَمْ

Ayo Pelajari al-Quran – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Ayo Pelajari al-Quran – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Pembahasan ketiga: al-Qur’an

Oh, pembahasan keempat: al-Qur’an, Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dengan sanad yang hasan dari hadits Abdurrahman bin Syibl -radhiyallahu ‘anhu- bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Pelajarilah al-Qur’an.”

Hadits ini diriwayatkan oleh banyak sahabat dengan lafazh yang berbeda-beda, namun intinya adalah perintah untuk mempelajari al-Qur’an. Ia adalah kitab Allah yang Dia turunkan kepada Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Mempelajari al-Qur’an dapat membentengi keselamatan pemahaman, karena al-Qur’an adalah kitab petunjuk.

Ketika kamu membaca dari awal mushaf setelah al-Fatihah, kamu akan membaca, “Alif Lam Mim. Inilah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. Sebagai PETUNJUK bagi orang-orang bertakwa. Al-Qur’an adalah kitab hidayah, dan hidayah ini tidak terbatas pada suatu bidang atau suatu jenis keilmuan atau pengamalan.

Namun ia adalah hidayah menyeluruh yang meliputi segala yang dibutuhkan manusia. Hal ini menumbuhkan pada diri orang-orang yang memahami hakikat al-Qur’an, rasa pencukupan diri dengan al-Qur’an itu. Sehingga mereka menulis kitab tentang pencukupan diri dengan al-Qur’an atau menulis bab khusus tentangnya.

Di antara yang menulis bab tentang ini, imam dalam dakwah (Muhammad bin Abdul Wahhab) dalam kitab ‘Fadhlul Islam’. Dan salah satu yang menulis kitab tentang ini adalah Abu al-Faraj Ibnu Rajab, Beliau menulis kitab yang penuh manfaat tentang mencukupkan diri dengan al-Qur’an. Akan tetapi kitab ini tidak ada saat ini, yang ada hanya ringkasannya, yang salah satunya telah ditahqiq di Jami’ah Islamiyah, yaitu ringkasan yang ditulis Ibnu Abdul Hadi ash-Shaghir, yang dikenal dengan Ibnu al-Mibrad.

Beliau telah menulis kitab yang meringkas kitab Abu al-Faraj Ibnu Rajab. Kitab ini membuat seseorang dapat mencermati hakikat pencukupan diri dengan al-Qur’an; di antaranya adalah dapat mencukupkan diri dengannya dalam menjaga keselamatan pemikiran, karena seorang hamba jika menghadapkan diri pada al-Qur’an, mempelajarinya, dan menjadikannya sebagai kitab hidayah dari Allah, maka hal-hal yang merusak pemikiran tidak akan mendatanginya, karena hidayah yang dia dapat dari al-Qur’an melindunginya dari hal-hal yang merusak itu.

Al-Qur’an bagaikan matahari, sedangkan hal-hal yang merusak itu bagaikan serangga yang berbahaya. Jika cahaya matahari menerpanya, maka serangga itu akan mati. Demikian juga jika matahari petunjuk dari al-Qur’an telah terbit dalam hati, akan mengeluarkannya dari segala yang merusak dan memberinya segala yang dapat menguatkan hatinya.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa al-Qur’an adalah sumber segala ilmu dan kebaikan. Ibnu Abbas pernah bersya’ir:

“Seluruh ilmu ada dalam al-Qur’an, namun pemahaman manusialah yang tidak dapat mencapainya.”

Maka orang yang membaca dan mempelajari al-Qur’an dengan memandangnya sebagai kitab petunjuk, maka ia akan mendapat banyak manfaat dalam berbagai hal. Di antaranya adalah keselamatan pemikiran.

Al-Qur’an akan memberinya perlindungan pemikiran dari kerusakan. Jika ia senantiasa bersama al-Qur’an, maka pemikirannya akan lurus, karena petunjuk dari Allah telah memenuhi hatinya yang berasal dari al-Qur’an al-Karim.

===========

الْمُفْرَدَةُ الثَّالِثَةُ الْقُرْآنُ

وَالْمُفْرَدَةُ الرَّابِعَةُ الْقُرْآنُ

وَقَدْ جَاءَ فِي مُسْنَدِ أَحْمَدَ

بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِبْلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ

وَجَاءَ هَذَا مِنْ حَدِيثِ جَمَاعَةٍ مِنْ الصَّحَابَةِ

مَعَ اخْتِلَافِ سِيَاقِ الْمُتُونِ

لَكِنْ أَصْلُهَا وَمُقَدَّمُهَا الْأَمْرُ بِتَعَلُّمِ الْقُرْآنِ

وَهُوَ كِتَابُ اللهِ الَّذِي أَنْزَلَهُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَتَعَلُّمُ الْقُرْآنِ يُثْمِرُ حِفْظَ الْأَمْنِ الفِكْرِيّ

لِأَنَّ الْقُرْآنَ كِتَابُ هِدَايَةٍ

فَأَنْتَ تَقْرَأُ فِي أَوَّلِ الْمُصْحَفِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ

الٓمٓ ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ

هُدًى لِلْمُتَّقِيْن

فَالْقُرْآنُ كِتَابُ هِدَايَةٍ

وَهَذِهِ الْهِدَايَةُ لَا تَنْحَصِرُ فِي بَابٍ مِنَ الْأَبْوَابِ

أَوْ نَوْعٍ مِنَ الْأَنْوَاعِ الْعِلْمِيَّةِ أَوِ الْعَمَلِيَّةِ

بَلْ هِيَ هِدَايَةٌ عَامَّةٌ

تَسْتَوْعِبُ جَمِيعَ مَا يَحْتَاجُهُ النَّاسُ

وَهَذَا أَنْشَأَ عِنْدَ الْمُدْرِكِيْنَ لِحَقِيقَةِ الْقُرْآنِ

الِاسْتِغْنَاءَ بِه

فَصَنَّفُوْا فِيْهِ الِاسْتِغْنَاءَ بِالْقُرْآنِ

أَوْ بَوَّبُوْا عَلَى ذَلِكَ

وَمِمَّن بَوَّبَ عَلَى ذَلِكَ إِمَامُ الدَّعْوَةِ فِي كِتَابِهِ فَضْلِ الْإِسْلَامِ

وَمِمَّن صَنَّفَ فِيهِ أَبُو الْفَرَجِ ابْنُ رَجَبٍ

فَلَهُ كِتَابٌ نَافِعٌ فِي الِاسْتِغْنَاءِ بِالْقُرْآنِ

لَكِنَّهُ لَا يُوجَدُ الْيَوْمَ

وَإِنَّمَا يُوجَدُ لَهُ مُخْتَصَرَاتٌ

حُقِّقَ أَحَدُهَا فِي الْجَامِعَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ

وَهُوَ مُخْتَصَرٌ لِابْنِ عَبْدِ الْهَادِي الصَّغِيرِ

الْمَعْرُوفُ بِابْنِ الْمِبْرَدِ

فَإِنَّه صَنَّفَ كِتَابًا فِي اخْتِصَارِ كِتَابِ أَبِي الْفَرَجِ ابْنِ رَجَبٍ

يُوقِفُ الْمَرْءَ عَلَى حَقِيقَةِ الِاسْتِغْنَاءِ بِالْقُرْآنِ

وَمِنْ جُمْلَةِ ذَلِكَ حُصُولُ الِاسْتِغْنَاءِ بِهِ

فِي حِفْظِ الْأَمْنِ الفِكْرِيّ

فَالْعَبْدُ إذَا أَقْبَلَ عَلَى الْقُرْآنِ

وَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَجَعَلَ الْقُرْآنَ كِتَابَ هِدَايَةِ اللهِ

لَمْ يُمْكِنْ لِمُفْسِدَاتِ الْعَقْلِ أَنْ تَعْرِضَ لَهُ

لأَِنَّ الْهِدَايَةَ الَّتِي يَسْتَمِدُّهَا مِنَ الْقُرْآنِ

تَدْفَعُ تِلْكَ الْغَوَائِلَ

فَالْقُرْآنُ بِمَنْزِلَةِ الشَّمْسِ

وَتِلْكَ الْغَوَائِلُ بِمَنْزِلَةِ مَا يَضُرُّ مِنَ الْحَشَرَاتِ

وَإِذَا طَلَعَتْ عَلَيْهَا الشَّمْسُ قَتَلَتْهَا

فَكَذَلِكَ إذَا طَلَعَتْ شَمْسُ الْهِدَايَةِ الْقُرْآنِيَّةِ عَلَى الْقَلْبِ

أَخْرَجَتْهُ مِنْ كُلِّ مَا يُفْسِدُهُ

وَأَمَدَّتْهُ بِكُلِّ مَا يُقَوِّيْهِ

وَمِنْ هُنَا

عُلِمَ أَنَّ الْقُرْآنَ هُوَ أَصْلُ الْعِلْمِ وَالْخَيْرِ

وَقَدْ أَنْشَدَ ابْنُ عَبَّاسٍ

جَمِيعُ الْعِلْمِ فِي الْقُرْآنِ لَكِنْ

تَقَاصَرَ عَنْهُ أَفْهَامُ الرِّجَالِ

فَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَعَلَّمُهُ

نَاظِرًا إِلَيْهِ كَوْنَهُ كِتَابَ هِدَايَةٍ

يَنْتَفِعُ بِهِ فِي أَبْوَابٍ كَثِيْرَةٍ

وَمِنْ جُمْلَتِهَا مَا يُسَمَّى بِالْأَمْنِ الفِكْرِيّ

فَيُثْمِرُ الْقُرْآنُ فِيهِ حِفْظَ عَقْلِهِ مِنْ الِاخْتِلَالِ

وَإِذَا أَدْمَنَ الْقُرْآنَ وَلَزِمَهُ صَارَ عَقْلُهُ مُسْتَقِيْمًا

لاِسْتِيلَاءِ الْهِدَايَةِ الرَّبَّانِيَّةِ عَلَى قَلْبِهِ

مِمَّا جَاءَ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ

 

Menutup & Mendiamkan Makanan yang Masih Panas – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid

Menutup & Mendiamkan Makanan yang Masih Panas – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid

Di antara sunah terkait makanan adalah didiamkan hingga hilang panasnya, kemudian baru dimakan.Asma’ -semoga Allah meridainya- dahulu ketika membuat bubur, ketika memasak bubur, beliau menutupnya hingga hilang uapnya, dan dia berkata bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa yang demikian itu lebih banyak berkahnya. (HR. Ibnu Hibban)

Jadi orang-orang, ketika masakannya masih panas dan mengeluarkan uap haruslah didiamkan dahulu hingga hilang panasnya,barulah kemudian berbincang-bincang untuk menikmati makanan tersebut.

==========================

مِنَ السُّنَنِ فِي الطَّعَامِ أَنْ يُتْرَكَ حَتَّى يَذْهَبَ فَوْرُهُ ثُمَّ يُؤْكَلُ

وَكَانَتْ أَسْمَاءُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا إِذَا ثَرَدَتْ

صَنَعَتْ ثَرِيدًا تُغَطِّيهِ حَتَّى يَذْهَبَ بُخَارُهُ

وَتَقُولُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَ

أَنَّهُ أَعْظَمُ بَرَكَةً – رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ

وَبَعْضُ النَّاسِ إِذَا فَارَ مِثْلُ الْبُخَارِ

لَا بُدَّ أَنْ تَتْرُكَهُ حَتَّى تَذْهَبَ فَوْرَتُهُ

ثُمَّ تَتَحَدَّثُ مَعَهُ لِتَسْتَمْتِعَ بِهِ