4 Cara Tasbih Sesudah Shalat Wajib – Syaikh Samiy Ash-Shuqair #NasehatUlama

4 Cara Tasbih Sesudah Shalat Wajib – Syaikh Samiy Ash-Shuqair #NasehatUlama

Tasbih setelah Salat Wajib. Kebanyakan orang, setelah Salat Wajib, mengucapkan: SUBHANALLAH 33 kali, ALHAMDULILLAH 33 kali, ALLAHU AKBAR 33 kali, kemudian mengucapkan: LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIR.

Padahal sunahnya yang diajarkan oleh Rasulullah ṣallallaāhu ʿalaihi wa sallam, ada bermacam-macam caranya. Hendaklah Anda berusaha mengamalkan semuanya! Saya jelaskan beberapa faedah: Tasbih setelah Salat Wajib yang sesuai sunah, ada empat cara:

CARA PERTAMA:
Membaca SUBHANALLAH (bertasbih) 33 kali, kemudian membaca ALHAMDULILLAH (bertahmid) 33 kali, dan membaca ALLAHU AKBAR (bertakbir) 33 kali. Kemudian menggenapinya menjadi seratus, dengan mengucapkan: LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR

CARA KEDUA:
Membaca SUBHANALLAH (bertasbih) 33 kali, kemudian membaca ALHAMDULILLAH (bertahmid) 33 kali, dan membaca ALLAHU AKBAR (bertakbir) 34 kali. Jadi, totalnya 100. Cara zikir seperti ini, juga merupakan Zikir Sebelum Tidur.

CARA KETIGA:
Mengucapkan SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALAA ILAAHA ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR 25 kali. (Syaikh mengulangi penjelasannya)
SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALAA ILAAHA ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR 25 kali. Jadi, totalnya 100.

CARA KEEMPAT:
Membaca SUBHANALLAH (bertasbih) 10 kali, kemudian membaca ALHAMDULILLAH (bertahmid) 10 kali, dan membaca ALLAHU AKBAR (bertakbir) 10 kali. (Syaikh mengulangi penjelasannya)
Mengucapkan SUBHANALLAH 10 kali, ALHAMDULILLAH 10 kali, ALLAHU AKBAR 10 kali.

======================================================================================================

التَّسْبِيحُ أَدْبَارَ الصَّلَوَاتِ

أَكْثَرُ أَوْ أَغْلَبُ النَّاسِ بَعْدَ الصَّلَاةِ يَقُولُ

سُبْحَانَ اللهِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ

الْحَمْدُ لِلهِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ

اللهُ أَكْبَرُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ

ثُمَّ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

مَعَ أَنَّ السُّنَّةَ وَرَدَتْ عَنِ الرَّسُولِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

عَلَى صِفَاتٍ مُتَنَوِّعَةٍ

فَاحْرِصْ عَلَى أَنْ تَفْعَلَ هَذَا وَهَذَا وَهَذَا

وَسَأُبَيِّنُ بَعْضَ الْفَوَائِدِ

فَالتَّسْبِيحُ الْوَارِدُ بَعْدَ الصَّلَاةِ وَرَدَتْ فِيهِ السُّنَّةُ عَلَى وُجُوهٍ أَرْبَعَةٍ

الْوَجْهُ الْأَوَّلُ أَنْ يُسَبِّحَ اللهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ

وَأَنْ يَحْمَدَهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ

وَأَنْ يُكَبِّرَهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ

وَيَقُولُ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

الصِّفَةُ الثَّانِيَةُ أَنْ يُسَبِّحَ اللهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ

وَأَنْ يَحْمَدَ اللهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ

وَأَنْ يُكَبِّرَ اللهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ

فَالْجَمِيعُ مِائَةٌ

وَهَذَا الذِّكْرُ أَيْضًا هَذَا قَدْ وَرَدَ فِي دُعَاءِ النَّوْمِ

الصِّفَةُ الثَّالِثَةُ أَنْ يَقُولَ

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ

وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

خَمْسًا وَعِشْرِينَ مَرَّةً

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ

وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

خَمْسًا وَعِشْرِينَ مَرَّةً

فَالْجَمِيعُ مِائَةٌ

الصِّفَةُ الرَّابِعَةُ أَنْ يُسَبِّحَ اللهَ عَشْرًا

وَأَنْ يَحْمَدَهُ عَشْرًا

وَأَنْ يُكَبِّرَهُ عَشْرًا

يَقُولُ سُبْحَانَ اللهِ سُبْحَانَ اللهِ عَشْرَ مَرَّاتٍ

الْحَمْدُ لِلهِ الْحَمْدُ لِلهِ عَشْرَ مَرَّاتٍ

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ عَشْرَ مَرَّاتٍ

 

 

Takutlah Seperti Mikail – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Takutlah Seperti Mikail – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Di dalamnya juga ada riwayat darinya, bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Jibril, “Kenapa aku belum pernah melihat Mikail tertawa sama sekali?” Jibril menjawab, “Dia tidak pernah tertawa sejak neraka diciptakan.” (HR. Ahmad) Beliau berkata, “Kenapa aku …” Dia berkata, “Di dalamnya …” maksudnya dalam al-Musnad, bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bertanya bertanya Jibril, “Kenapa aku belum pernah melihat Mikail tertawa sama sekali?” Mikail, menurut pendapat sebagian ulama, diberi tugas mengurusi hujan, mengurusi awan dan hujan.

Beliau bertanya, “Kenapa aku belum pernah melihat Mikail tertawa sama sekali?” Jibril menjawab, “Dia tidak pernah tertawa sejak neraka diciptakan.” (HR. Ahmad) “Dia tidak pernah tertawa sejak neraka diciptakan.” (HR. Ahmad) Hadis ini menetapkan bahwa malaikat tertawa. Ini menetapkan bahwa malaikat tertawa. Ini juga menetapkan rasa takut malaikat, takut yang sangat. Hadis ini juga menunjukkan bahwa Mikail diciptakan sebelum neraka diciptakan, bahwa Mikail diciptakan sebelum neraka diciptakan. Jibril berkata, “Dia tidak pernah tertawa sejak neraka diciptakan.” (HR. Ahmad) yakni karena takut.

Rasa takut ini berguna bagi seorang hamba, yang merupakan salah satu bagian dari keimanan. “Dan adapun orang yang takut dengan kedudukan Tuhannya, …” (QS. An-Nazi’at: 40) Rasa takut ini sangat penting bagi kehidupan seorang hamba, tapi seseorang yang terlanjur merasa nikmat dengan maksiat dan terus melakukannya, tidak akan pernah memperhatikan rasa takut ini. Namun, ia hanya melihat besar dan luasnya ampunan, dan ia tidak memperhatikan rasa takut, sehingga terus-menerus melakukan maksiatnya. Dengan begitu, keadaannya adalah seperti apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim—semoga Allah merahmatinya— yakni seperti pembangkang, ini bukan sangkaan baik kepada Allah. Ya.

================================================================================

وَفِيهِ أَيْضًا عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

قَالَ لِجِبْرِيلَ

مَا لِي لَمْ أَرَ مِيكَائِيلَ ضَاحِكًا قَطُّ؟

قَالَ: مَا ضَحِكَ مُنْذُ خُلِقَتِ النَّارُ

قَالَ: مَا لِي… قَالَ

قَالَ: وَفِيهِ أَيْ الْمُسْنَدُ

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ قَالَ لِجِبْرِيلَ

مَا لِي لَمْ أَرَ مِيكَائِيلَ ضَاحِكًا قَطُّ؟

وَمِيكَائِيلُ فِي قَوْلِ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ

هُوَ الْمَوْكُولُ بِالْقَطْرِ

مَوْكُولٌ بِالسَّحَابِ بِالْمَطَرِ

فَقَالَ: مَا لِي لَمْ أَرَ مِيكَائِيلَ ضَاحِكًا قَطُّ؟

قَالَ: مَا ضَحِكَ مُنْذُ خُلِقَتِ النَّارُ

مَا ضَحِكَ مُنْذُ خُلِقَتِ النَّارُ

وَهَذَا فِيهِ إِثْبَاتُ الضَّحِكِ لِلْمَلَائِكَةِ

فِيهِ إِثْبَاتُ الضَّحِكِ لِلْمَلَائِكَةِ

وَفِيهِ إِثْبَابُ الْخَوْفِ أَيْضًا

الْخَوْفُ الْعَظِيمُ

وَفِيهِ أَيْضًا أَنَّ مِيكَائِيلَ خُلِقَ قَبْلَ خَلْقِ النَّارِ

أَنَّ مِيكَائِيلَ خُلِقَ قَبْلَ خَلْقِ النَّارِ

قَالَ: مَا ضَحِكَ مُنْذُ خُلِقَتِ النَّارُ

أَيْ خَوْفًا

فَهَذَا الْخَوْفُ نَافِعٌ لِلْعَبْدِ

وَهُوَ جُزْءٌ مِنَ الْإِيمَانِ

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ

هَذَا الْخَوْفُ مُهِمٌّ جِدًّا فِي حَيَاةِ الْعَبْدِ

لَكِنَّ الْإِنْسَانَ الَّذِي اسْتَمْرَأَ الْمَعَاصِيَ

وَأَقَامَ عَلَيْهَا لَا يَلْتَفِتُ إِلَى الْخَوْفِ

وَيَنْظُرُ إِلَى عُمُومِ الْمَغْفِرَةِ وَسَعَةِ الْمَغْفِرَةِ

وَلَا يَلْتَفِتُ إِلَى الْخَوْفِ

فَيَبْقَى عَلَى الْمَعَاصِي مُصِرًّا عَلَيْهَا

فَتَكُونُ حَالُهُ مِثْلَ مَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ

كَالْمُعَانِدِ لَيْسَ هَذَا هُوَ حُسْنُ الظَّنِّ بِاللهِ

نَعَمْ

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5 Adab Berdoa agar Doa Mustajab – Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

5 Adab Berdoa agar Doa Mustajab – Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Di antara adab ketika berdoa: PERTAMA: adalah seseorang mengawali doanya dengan memuji dan menyanjung Allah, KEDUA:
lalu berselawat kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, KETIGA:
kemudian bertawasul kepada Allah ʿAzza wa Jalla dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang agung, bertawasul kepada-Nya ‘Azza wa Jalla dengan nama-Nya yang sesuai dengan permohonannya.

Jika dia meminta ampunan, hendaknya berkata: “Wahai Yang Maha Pengampun, ampuni aku.” atau ucapkan: “Wahai Tuhanku, ampuni dan rahmati aku, sungguh Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pemberi Rahmat.” Jika dia meminta rezeki, hendaknya berkata: “Wahai Yang Maha Pemberi Rezeki, berilah aku rezeki.”

Demikianlah, hendaknya bertawasul kepada Allah Subẖānahu wa Ta’ālā dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya, dan berselawat kepada Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman, “Allah memiliki Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya.” (QS. Al-A’raf: 180)

Hendaknya seseorang bersungguh-sungguh dalam doanya, dan merendahkan diri di hadapan Allah Subẖānahu wa Ta’ālā dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Suatu ketika Rasulullah Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang berdoa dalam salatnya, akan tetapi tanpa memuji Allah Ta’ālā dan tidak berselawat atas Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, beliau bersabda, “Orang ini terburu-buru.” Lalu beliau memanggilnya dan berkata, “Apabila salah seorang dari kalian berdoa hendaklah memulainya dengan memuji dan menyanjung Allah Ta’ālā, lalu berselawat atas Nabi-Nya Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, kemudian berdoa sekehendaknya.” (HR. Tirmizi)

Jadi, apabila seseorang berdoa, hendaklah memulai doanya dengan memuji Allah: “Ya Allah, sungguh aku memuji-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan menyanjung-Mu, aku haturkan selawat dan salam atas hamba dan utusan-Mu, Muhammad. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan bertawasul dengan kesaksianku bahwa Engkau adalah Allah, Yang tidak ada sesembahan Yang berhak disembah selain Engkau, Yang Maha Esa, yang semua makhluk bergantung pada-Nya, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan Yang tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya, …” (HR. Abu Dawud) bertawasul dengan kalimat-kalimat pembuka yang agung ini, yang akan menjadi salah satu sebab dikabulkannya doa seorang hamba.

Yang paling utama, penting, dan dibutuhkan KEEMPAT:adalah keyakinannya kepada Allah ʿAzza wa Jalla KELIMA:
dan menghadirkan hatinya. Sebagaimana firman Allah ʿAzza wa Jalla,“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara lembut.” (QS. Al-A’raf: 55)

======================================================================================================

وَمِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ

أَنْ يَسْتَفْتِحَ الْإِنْسَانُ دُعَاءَهُ

بِحَمْدِ اللهِ تَعَالَى وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ

وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَيَتَوَسَّلُ… إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

بِأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلَا

وَيَتَوَسَّلُ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْاِسْمِ الَّذِي يُوَافِقُ حَاجَتَهُ

فَإِنْ طَلَبَ مَغْفِرَةً

قَالَ: يَا غَفُورُ اغْفِرْ لِي

أَوْ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي

إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

وَإِنْ طَلَبَ رِزْقًا

قَالَ: يَا رَزَّاقُ ارْزُقْنِي

وَهَكَذَا فَيَتَوَسَّلُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

بِحَمْدِهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ

وَالصَّلَاةِ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

قَالَ تَعَالَى: وَلِلهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى

فَادْعُوْهُ بِهَا

فَيَجْتَهِدُ الْإِنْسَانُ فِي دُعَائِهِ

وَيَتَضَرَّعُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ

وَقَدْ سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا

يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ تَعَالَى

وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَقَالَ: عَجِلَ هَذَا

ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ

بِحَمْدِ اللهِ تَعَالَى وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ

وَالصَّلَاةِ عَلَى نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

ثُمَّ لِيَدْعُوَ بِمَا شَاءَ

فَإِذَا دَعَا الْإِنْسَانُ لِيَسْتَفْتِحَ دَعْوَتَهُ بِحَمْدِ اللهِ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَحْمَدُكَ وَأَشْكُرُكَ وَأُثْنِي عَلَيْكَ

وَأُصَلِّي وَأَسَلِّمُ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ

أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

مِنْ هَذِهِ الْمُقَدِّمَاتِ الْعَظِيمَةِ

الَّتِي تَكُونُ سَبَبًا فِي إِجَابَةِ دَعْوَةِ الْعَبْدِ

وَأَعْظَمُ ذَلِكَ وَأَحْضُرُهُ وَأَهَمُّهُ

ثِقَتُهُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَحُضُورُ قَلْبِهِ كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً

 

Jangan Letakkan Dunia di Hatimu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Jangan Letakkan Dunia di Hatimu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Meraih puncak peribadatan adalah perkara yang agung, tidak seperti yang kita sangka. Kita salat, berzikir kepada Allah, dan puasa, tapi mungkin tidak merasakan khusyuk dalam hati kita. Kita memohon keselamatan dan kebaikan kepada Allah Ta’ālā.

Renungkan, bagaimana pikiran seperti ini terlintas dalam salat, tentang emas, bagaimana bisa mengganggu hati Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, hingga beliau cepat-cepat keluar dan terburu-buru untuk segera melepaskan diri darinya, lalu beliau bersabda, “Aku tidak suka emas itu menahan diriku.” (HR. Muslim) “menahan diriku” yaitu menahan hati dari khusyuk menghadap Allah. Mahasuci Allah!

Inilah sebabnya, salah seorang sahabat Nabi—semoga Allah meridai mereka—berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari terpecahnya fokus atau kacaunya hati.” Mereka bertanya, “Bagaimana itu?” Dia berkata, “Ketika kamu sudah punya harta di setiap lembah.” artinya, ketika seseorang sudah memiliki banyak harta dunia hingga kacau hatinya karena memikirkannya, dia sibuk memikirkan bangunannya, pertaniannya, dan perniagaannya berpikir dan terus berpikir, tak pernah selesai, sampai saat berdiri dalam salatnya pun masih memikirkannya. Hal itu mengganggunya, karena beginilah tabiat manusia.

Wahai Saudaraku, hati manusia disebut “qalbu” karena ‘taqallub’ (berbolak-balik), dan setan menjadikannya jalan untuk memasukkan was-was. Namun, ini hanya terjadi pada hati yang sudah mencintai dunia dan terkait dengannya. Adapun orang mukmin yang mengetahui hakikat dunia dan kerendahannya, yang tidak bernilai, terbatas hari-harinya, dan semua yang ada padanya pasti sirna. “Semua yang ada padanya akan binasa, dan wajah Tuhanmu yang memiliki keagungan dan kemuliaan yang kekal.” (QS. Ar-Rahman: 26 – 27)

Berapa pun banyak dan melimpah harta benda dan perniagaan seseorang, akan tetapi hatinya tidak terikat dengan dunia. Abu Bakar—semoga Allah meridainya—adalah pedagang. Utsman—semoga Allah meridainya—juga pedagang. Tidak masalah! Masalahnya adalah jika hati sudah terkait. Dunia tidak ada di hati para sahabat Nabi—semoga Allah meridai mereka— tapi dunia hanya ada di tangan mereka, bukanlah di hati. Namun, hari ini, keadaannya terbalik.

======================================================================================================

هَذِهِ الْعُبُودِيَّةُ تَحْقِيقُهَا أَمْرٌ عَظِيمٌ

لَيْسَ كَمَا… نَظُنُّ نَحْنُ

نَحْنُ نُصَلِّي وَنَذْكُرُ اللهَ وَنَصُومُ

وَرُبَّمَا مَا نَشْعُرُ بِالْخُشُوعِ فِي قُلُوبِنَا

نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ

تَأَمَّلْ كَيْفَ أَنَّ مِثْلَ هَذَا الْفِكْرِ الَّذِي يَصِيرُ فِي الصَّلَاةِ

فِي الذَّهَبِ كَيْفَ كَدَّرَ قَلْبَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَخَرَجَ فَزِعًا مُسْرِعًا بَعْدَ الصَّلَاةِ لِيَتَخَلَّصَ مِنْهُ

وَقَالَ: كَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِي

يَحْبِسَنِي- يَحْبِسُ قَلْبِي عَلَى الْإِقْبَالِ عَلَى اللهِ

سُبْحَانَ اللهِ

وَلِهَذَا كَانَ بَعْضُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ يَقُولُ

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ تَفْرِقَةِ الْهَمِّ أَوْ تَفْرِقَةِ الْقَلْبِ

قَالُوا: وَكَيْفَ ذَلِكَ؟

قَالَ: أَنْ يَكُونَ لَكَ فِي كُلِّ وَادٍ مَالٌ

يَعْنِي رُبَّمَا يَكْثُرُ مَتَاعُ الدُّنْيَا عَلَى الْإِنْسَانِ

فَيَتَفَرَّقُ قَلْبُهُ فِيهِ

يُفَكِّرُ فِي بِنَايَتِهِ فِي مَزْرَعَتِهِ وَيُفَكِّرُ فِي تِجَارَتِهِ

يُفَكِّرُ يُفَكِّرُ مَا يَنْتَهِي التَّفْكِيرُ

حَتَّى إِذَا قَامَ فِي صِلَاتِهِ يُفَكِّرُ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ

تَهْجُمُ عَلَيْهِ وَهَذَا مِنْ طَبْعِ الْإِنْسَانِ

الْإِنْسَانُ يَا إِخْوَةُ قَلْبُهُ مَا سُمِّيَ قَلْبًا إِلَّا مِنْ تَقَلُّبِهِ

وَالشَّيْطَانُ جُعِلَ لَهُ السَّبِيلُ فِي الْوَسْوَسَةِ

لَكِن هَذَا إِنَّمَا يَكُونُ فِي الْقَلْبِ

إِذَا أَحَبَّ الدُّنْيَا وَتَعَلَّقَ بِهَا

أَمَّا الْمُؤْمِنُ الَّذِي عَرَفَ حَقِيقَاتِ الدُّنْيَا وَحَقَارَتَهَا

وَأَنَّهَا لَا شَيْءَ أَيَّامٌ مَعْدُودَةٌ وَكُلُّ مَا فِيهَا يَذْهَبُ

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

وَيَبْقَى ٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

فَمَهْمَا كَثُرَ مَالُهُ وَكَثُرَ مَتَاعُهُ وَكَثُرَتْ تِجَارَتُهُ

لَا يَتَعَلَّقُ الْقَلْبُ بِهَا

أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ تَاجِرًا

عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ تَاجِرًا

مَا يَمْنَعُ لَكِن الْمُشْكِلَةُ فِي تَعَلُّقِ الْقُلُوبِ

الدُّنْيَا مَا كَانَتْ فِي قُلُوبِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ

كَانَتْ فِي أَيْدِيِهِمْ لَيْسَتْ فِي قُلُوبِهِمْ

لَكِنَّ الْيَوْمَ انْعَكَسَتِ الْمَسْأَلَةُ

 

 

Dua Darah yang Tidak Membatalkan Wudhu – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Dua Darah yang Tidak Membatalkan Wudhu – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Pendapat dari banyak sahabat Nabi—semoga Allah meridai mereka— bahwa darah membatalkan wudu, namun ada dua macam darah yang tidak membatalkan wudu, keduanya dimaafkan dan tidak menjadi pembatal.

Pertama, apa yang oleh penulis dikeluarkan dari kategori darah yang banyak, artinya bahwa darah yang sedikit tidak jadi pembatal. Dalilnya bahwa para Sahabat, misalnya Ibnu Umar yang memandang darah membatalkan wudu, pernah salat dan menggaruk bisul di tangannya hingga keluar darah darinya padahal dia sedang salat, namun tidak membatalkan salatnya. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa darah yang sedikit tidak membatalkan wudu. Ini adalah jenis pertama, pembatal wudu, tetapi dimaafkan.

Jenis kedua adalah darah yang terus menerus. Ada riwayat sahih bahwa para sahabat Nabi—semoga Allah meridai mereka—salat dengan luka-luka mereka. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga memberi keringanan bagi orang yang berhadas terus-menerus, seperti orang yang lukanya terus mengeluarkan darah, atau juga wanita Mustahadhah, seperti Hamnah—semoga Allah meridainya— yang tetap salat dan meletakkan semacam wadah di bawahnya, lalu terlihat di dalamnya bercak berwarna kehitaman, kekuningan dan kemerahan, Ini menunjukkan adanya hadas yang terus menerus, akan tetapi hukumnya dimaafkan sehingga tidak menjadi pembatal. Namun hendaknya dia berwudu untuk setiap kali akan salat lima waktu.

Jika Anda sudah pahami hal ini, maka tidak ada hadis yang bisa dimaknai bahwa darah tidak membatalkan wudu. Semua keterangan yang ada, mungkin karena kadarnya yang sedikit, atau terus menerus keluarnya. Adapun yang selain itu maka hukum asalnya menurut fatwa dan ketetapan para sahabat Nabi bahwa darah adalah pembatal wudu.

======================================================================================================

فَقَوْلُ كَثِيرٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ

أَنَّ الدَّمَ يَكُونُ نَاقِضًا لِلْوُضُوءِ

لَكِنْ لَا يَنْقُضُ مِنَ الْوُضُوءِ… مِنَ الدَّمِ نَوْعَانِ

لَيْسَا بِنَاقِضَيْنِ عُفِيَ عَنْهُمَا

الْأَوَّلُ مَا احْتَرَزَ مِنْهُ الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ الدَّمُ الْكَثِيرُ

فَإِنَّ الدَّمَ الْقَلِيلَ لَا يَنْقُضُ

بِالدَّلِيلِ أَنَّ الصَّحَابَةَ كَابْنِ عُمَرَ الَّذِي يَرَى نَقْضَ الْوُضُوءِ

صَلَّى وَفِي يَدِهِ بَثْرَةٌ فَحَكَّهَا

فَخَرَجَ مِنْهَا دَمٌ وَهُوَ فِي صِلَاتِهِ

وَلَمْ يَنْفَتِلْ مِنْ صَلَاتِهِ

فَدَلَّنَا عَلَى أَنَّ الدَّمَ الْقَلِيلَ لَا يَنْقُضُ الْوُضُوءَ

هَذَا الْأَمْرُ الْأَوَّلُ الَّذِي عُفِيَ عَنْهُ فِي نَقْضِ الْوُضُوءِ

الْأَمْرُ الثَّانِي الدَّمُ الْمُسْتَمِرُّ

فَإِنَّهُ قَدْ ثَبَتَ أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ

كَانُوا يُصَلُّونَ فِي جِرَاحَاتِهِمْ

وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَفَّفَ عَلَى مَنْ كَانَ حَدَثُهُ دَائِمًا

كَمَنْ جُرْحُهُ يَثْعُبُ

أَوْ مِثْلُ مُسْتَحَاضَةٍ حَمْنَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا

حِيْنَمَا كَانَتْ تُصَلِّي وَتَجْعَلُ تَحْتَهَا طُسْتًا

وَيُرَى فِيهِ أَثَرُ الْكُدْرَةِ وَالصُّفْرَةِ وَالْحُمْرَةِ

فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الْحَدَثَ الدَّائِمَ

وَالْحَدَثُ الدَّائِمُ عُفِيَ فِيهِ فَلَا يَكُونُ نَاقِضًا

وَإِنَّمَا يَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلَاةٍ مِنْ مَفْرُوضَاتِ الْخَمْسِ

إِذَا عَرَفْتَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَسْتَقِيمَ حَدِيثٌ

عَلَى أَنَّ الدَّمَ لَيْسَ بِنَاقِضٍ

فَكُلُّ مَا جَاءَ إِمَّا لِكَونِهِ يَسِيرًا

أَوْ لِكَوْنِهِ دَائِمًا وَمَا عَدَا ذَلِكَ

فَإِنَّهُ عَلَى الْأَصْلِ مِنْ قَضَاءِ الصَّحَابَةِ وَإِفْتَاءِهِمْ

أَنَّهُ يَكُونُ نَاقِضًا

 

Jasad Mereka Tidak Dimakan Bumi – Syaikh Sa’ad al-Khotslan #NasehatUlama

Jasad Mereka Tidak Dimakan Bumi – Syaikh Sa’ad al-Khotslan #NasehatUlama

Siapa saja yang jasad mereka tidak akan dimakan oleh bumi dari keempat golongan ini? Ya? Silakan. Para nabi, ini disepakati para ulama dan telah disebutkan dalam nas, yaitu sabda Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (HR. Abu Daud)

Baiklah. Siapa lagi? Ya. Ya, para ulama berbeda pendapat tentang para ṣiddīqīn dan syuhada. Namun, pendapat yang lebih kuat bahwa seharusnya dikatakan, “Orang-orang yang Allah kehendaki dari kalangan ṣiddīqīn dan syuhada.”

Sehingga tidak semuanya, hanya mereka yang Allah kehendaki. Orang-orang yang Allah kehendaki dari kalangan ṣiddīqīn dan syuhada. Hal ini dikuatkan dengan fakta yang ada, terkadang kita dapati, ketika kuburan orang baik dan saleh dibongkar, jasadnya ditemukan utuh sebagaimana ketika dikuburkan, meskipun telah berlalu masa yang lama.

Kisah-kisah tentang hal ini banyak dan terkenal. Namun, tidak semuanya demikian. Mungkin saja seseorang terbunuh di medan perang dan syahid di jalan Allah, kemudian bumi memakan jasadnya. Ini tidak berarti bahwa dia tidak mati syahid, karena para ṣiddīqīn itu bertingkat-tingkat, begitu juga para syuhada. Jadi, pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini bahwa bumi tidak akan memakan jasad orang-orang yang Allah kehendaki dari kalangan ṣiddīqīn dan syuhada. Bumi tidak akan memakan jasad mereka, sebagai penghormatan bagi mereka.

Adapun orang beriman lainnya dan yang tidak beriman juga akan dimakan oleh bumi. Manusia selainnya, golongan selain mereka, jasad mereka akan dimakan bumi, dan tidak akan menyisakan apa pun, kecuali tulang ekor. Tulang ekor adalah ujung dari tulang belakang, yang disebut al-ʿUṣʿuṣ, yang merupakan benda yang teramat kecil, yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, yang darinya manusia akan disusun kembali pada hari Kiamat.

======================================================================================================

مَنِ الَّذِينَ لَا تَأْكُلُ الْأَرْضُ أَجْسَادَهُمْ

مِنْ هَؤُلَاءِ الْأَقْسَامِ الْأَرْبَعَةِ؟

نَعَمْ

الْأَنْبِيَاءُ هَذَا بِالْإِجْمَاعِ

وَقَدْ وَرَدَ فِيهِ النَّصُّ وَهُوَ قَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

طَيِّبٌ وَأَيْضًا ؟ نَعَمْ

نَعَمْ اخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

وَالْقَوْلُ الرَّاجِحُ أَنْ يُقَالَ

مَنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

وَلَيْسَ جَمِيعُهُمْ وَإِنَّمَا مَنْ شَاءَ اللهُ مِنْهُمْ

مَنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

وَيُؤَيِّدُ هَذَا الْوَاقِعُ

إِذْ نَجِدُ أَحْيَانًا عِنْدَمَا يُنْبَشُ قَبْرُ أَحَدِ أَهْلِ الْخَيْرِ وَالصَّلَاحِ

يُوجَدُ جَسَدُهُ كَمَا دُفِنَ

رَغْمَ مُضِيِّ مُدَّةٍ طَوِيلَةٍ عَلَيْهِ

الْقَصَصُ فِي هَذَا مَشْهُورَةٌ وَمُتَوَاتِرَةٌ

لَكِنَّ هَذَا لَيْسَ لِلْجَمِيعِ

فَقَدْ يُقْتَلُ الْإِنْسَانُ فِي مَعْرَكَةٍ شَهِيدًا فِي سَبِيلِ اللهِ

ثُمَّ تَأْكُلُ الْأَرْضُ جَسَدَهُ

وَلَيْسَ مَعْنَى ذَلِكَ أَنَّهُ لَمْ يَنَلِ الشَّهَادَةَ

لِأَنَّ الصِّدِّيقِيْنَ دَرَجَاتٌ وَالشُّهَادَاءَ أَيْضًا دَرَجَاتٌ

الْقَوْلُ الرَّاجِحُ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ الْأَرْضَ لَا تَأْكُلُ

مَنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

لَا تَأْكُلُ الْأَرْضُ أَجْسَادَهُمْ إِكْرَامًا لَهُمْ

وَبَقِيَّةُ الْمُؤْمِنِيْنِ تَأْكُلُ وَغَيْرُ الْمُؤْمِنِينَ أَيْضًا

بَقِيَّةُ الْبَشَرِ تَأْكُلُ الْأَرْضُ أَجْسَادَهُمْ

وَلَا يَبْقَى مِنْهَا إِلَّا عَجَبُ الذَّنَبِ

وَعَجَبُ الذَّنَبِ هُوَ آخِرُ الْعَمُودِ الْفَقْرِيِّ

الْمُسَمَّى بِالْعُصْعُصِ

وَهُوَ مَادَّةٌ يَعْنِي صَغِيرَةٌ جِدًّا

لَا تُرَى بِالْعَيْنِ الْمُجَرَّدَةِ

وَمِنْهَا يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

 

Manfaat Ibadah Sepenuh Hati – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Manfaat Ibadah Sepenuh Hati – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Sungguh seseorang yang menyibukkan dirinya dengan zikir kepada Allah ʿAzza wa Jalla dan fokus beribadah kepada-Nya Subẖānahu wa Ta’ālā, hingga hatinya tergantung kepada-Nya Jalla wa ʿAlā secara total, bukan sekedar lisan dan badannya yang beribadah, namun disertai ibadah hati, sungguh dia akan melupakan dunia seluruhnya.

Yang lebih mengherankan lagi, ada salah satu ulama yang ketika itu dia sedang duduk dalam salatnya kemudian seekor lebah menghinggapinya, lalu menyengatnya sekali, dua kali, sampai tiga kali, tapi dia tidak bergerak dari tempatnya, dia tidak merasa, tidak merasakannya.

Oleh sebab itu, Abu Nu’aim al-Aṣbahāni menulis sebuah kitab yang diberi judul “Riyāḍatu al-Abdān” yang sebagiannya masih ada dan sebagian besarnya telah hilang, dalam kitab ini dan kitab-kitab lainnya karya ahli ibadah dan orang-orang zuhud dari kalangan Ahlu Sunah, mereka menjelaskan bahwa jika seseorang fokus beribadah kepada Allah ʿAzza wa Jalla, seperti berzikir kepada Allah, salat atau yang lain sebagainya, dia akan tersibukkan dengan Allah dan melupakan hal-hal lain. Dia akan tersibukkan.

Oleh sebab itu, syekh Taqiyyuddin, sebagaimana dikisahkan oleh muridnya, Ibnul Qayyim, bahwa dia senantiasa bersungguh-sungguh menjaga zikir kepada-Nya ʿAzza wa Jalla di pagi dan petang hari. Ketika ditanya tentang alasannya, dia menjawab, “Demikianlah aku mengawali hariku.

Jika aku tidak mengawali hari dengan zikir-zikir ini, aku dapati jiwa dalam badanku ini melemah.” “Aku dapati melemah.” maksudnya dia merasakan kelemahan dalam dirinya jika tidak membaca zikir-zikir tersebut, tapi maksudnya bukan zikir ini yang menjaganya dari keburukan, tapi maksudnya bahwa dengannya Allah ʿAzza wa Jalla telah mencukupi dan menguatkannya. Oleh sebab itu—Mahasuci Allah yang Mahaagung—ini bisa dilihat ketika seseorang sibuk dalam ketaatan kepada Allah, fokus dengan-Nya secara total, dan hatinya terkait dengannya, sungguh dia akan tercukupi, sebagaimana Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang menjadi makhluk yang paling sempurna.

======================================================================================================

فَإِنَّ مَنْ يَنْشَغِلُ بِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَيَنْشَغِلُ بِعِبَادَتِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَيَتَعَلَّقُ قَلْبُهُ بِهِ جَلَّ وَعَلَا تَعَلُّقًا كُلِّيًّا

لَا عِبَادَةَ لِسَانٍ وَلَا عِبَادَةَ بَدَنٍ

وَإِنَّمَا عِبَادَةُ قَلْبٍ مَعَهَا

فَإِنَّهُ يَنْسَى الدُّنْيَا كَامِلَةً

وَلَأَعْجَبُ مِنْ ذَلِكَ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ

حِيْنَمَا يَكُونُ جَالِسًا فِي صِلَاتِهِ فَيَأْتِيهِ… النَّحْلُ

فَيَلْدَغُهُ مَرَّةً وَثَانِيَةً وَثَالِثَةً وَلَا يَتَحَرَّكُ مِنْ مَكَانِهِ

مَا يَحِسُّ مَا يَحِسُّ

وَلِذَلِكَ أَلَّفَ أَبُو نُعَيْمٍ الْأَصْبَهَانِيُّ كِتَابًا سَمَّاهُ رِيَاضَةَ الْأَبْدَانِ

وُجِدَ بَعْضُهُ وَفُقِدَ أَكْثَرُهُ

فِي هَذَا الْكِتَابِ وَفِي غَيْرِهِ مِنَ الْكُتُبِ

عِنْدَ الْمُتَعَبِّدِينَ وَالزُّهَّادِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ

يُبَيِّنُونَ أَنَّ الشَّخْصَ إِذَا انْقَطَعَ فِي عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

مِنْ ذِكْرٍ وَغَيْرِهِ ذِكْرِ اللهِ أَوْ فِي صَلَاةٍ أَوْ فِي غَيْرِهَا

يَنْشَغِلُ بِاللهِ عَمَّا سِوَاهُ

يَنْشَغِلُ

وَلِذَلِكَ الشَّيْخُ تَقِيُِّ الدِّينِ لَمَّا… كَمَا قَالَ عَنْهُ تِلْمِيذُهُ ابْنُ الْقَيِّمِ

أَنَّهُ كَانَ يَحْرِصُ عَلَى ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ دَائِمًا فِي الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ

فَلَمَّا قِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ قَالَ: إِنَّ هَذِهِ غُدْوَتِي

وَإِذَا لَمْ أَتَغَدَّ هَذَا الذِّكْرَ أَرَى مِنْ نَفْسِيْ مِنْ بَدَنِي ضَعْفًا

أَرَى الضَّعْفَ يَلْحَظُ فِي نَفْسِهِ الضَّعْفَ

إِذَا مَا قَالَ هَذِهِ الْأَذْكَارَ

فَهُوَ لَيْسَ أَنَّهُ مِنْ بَابٍ أَنَّهَا وَقَتْهُ مِنَ الشَّرِّ

وَإِنَّمَا هِيَ أَنَّ… أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدَ أَغْنَاهُ بِهَا وَقَوَّاهُ

وَلِذَلِكَ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ هَذَا مُلَاحَظٌ

أَنَّ الْمَرْءَ إِذَا انْشَغَلَ بِطَاعَةِ اللهِ وَأَقْبَلَ عَلَيْهَا بِكُلِّيَّتِهِ

وَتَعَلَّقَ بِهَا قَلْبُهُ أَنَّهُ يَغْتَنِي

مِثْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ أَكْمَلُ الْخَلْقِ

 

Inilah Nyawa & Kehidupan Hatimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Inilah Nyawa & Kehidupan Hatimu – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Kita perlu untuk kembali kepada al-Quran dan merenungkan maknanya, Saudara-saudara. Jika Anda sudah rutin membaca Kitab Allah atau telah menghafal sebagiannya, maka pelajari juga tafsirnya. Rutinkan juga untuk membaca tafsirnya, pelajari, renungkan, baca dan tadaburi, hingga Anda merasakan nikmatnya al-Quran ini di hati Anda.

Sungguh Allah Ta’ālā telah mensifati wahyu ini bahwa ia adalah roh. “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu roh dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau—wahai Muhammad—tidaklah mengetahui…” “… Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apa itu Kitab dan iman. Namun Kami jadikan al-Quran itu cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk kepada siapa pun yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy-Syura: 52)

Nabi Muhammad saja, sebelum mendapatkan al-Quran, tidak tahu apa itu Kitab dan iman, maksudnya, belum tahu tentang iman secara terperinci, meskipun beliau ‘alaihi ṣalātu was salām adalah orang beriman, tidak perlu diragukan.

Namun, tentang rincian-rincian syariat, beliau belum mengetahuinya. Begitupun dengan kita, tanpa al-Quran kita berada di puncak kebingungan dan kebodohan.

Hanya Allah yang bisa menolong. Kenapa Allah menyebutnya “roh”, wahai para pemuda? Mengapa? Jika tubuh hidup dengan adanya roh.  Maka, hati?  Bagaimana? Ya, maka hati hidup dengan al-Quran dan berkembang dengannya, Saudara-saudara.

“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya, karena itu tidaklah pantas baginya. Itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang jelas.” “Untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup.” (QS. Yasin: 69 – 70) Inilah kehidupan! Kehidupan yang hakiki, Saudara-saudara, hidupnya hati. Adapun kehidupan badan, jika aku mati, karena manusia pasti akan mati, walaupun berlalu hari-hari dan panjang umurnya. Demikian.

================================================================================

فَنَحْنُ بِحَاجَةٍ إِلَى الرُّجُوعِ إِلَى الْقُرْآنِ

وَالنَّظَرِ فِي مَعَانِيهِ يَا إِخْوَانُ

إِذَا كَانَ لَكَ مِنْ كِتَابِ اللهِ وِرْدٌ

وَكَانَ لَكَ مِنْهُ حِفْظٌ فَارْجِعْ إِلَى التَّفْسِيرِ أَيْضًا

وَاجْعَلْ لَكَ الْوِرْدَ فِي التَّفْسِيرِ وَانْظُرْ وَتَأَمَّلْ

وَاقْرَأْ وَتَدَبَّرْ

حَتَّى تَجِدَ لَذَّةَ هَذَا الْقُرْآنِ فِي قَلْبِكَ

فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى وَصَفَ الْوَحْيَ بِأَنَّهُ رُوْحٌ فَقَالَ

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًۭا مِّنْ أَمْرِنَا

مَا كُنتَ تَدْرِى – يَا مُحَمَّدُ

مَا كُنتَ تَدْرِى مَا ٱلْكِتَٰبُ وَلَا ٱلْإِيمَٰنُ

وَلَٰكِن جَعَلْنَٰهُ نُورًۭا نَّهْدِى بِهِ

مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا

فَكَانَ مُحَمَّدٌ قَبْلَ الْقُرْآنِ لَا يَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ

يَعْنِي مَا يَدْرِي عَنْ تَفَاصِيلِ الْإِيمَانِ

وَإِلَّا كَانَ مُؤْمِنًا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَا شَكَّ

لَكِنْ تَفَاصِيلُ الشَّرَائِعِ مَا كَانَ يَعْلَمُ عَنْهَا شَيْئًا

فَنَحْنُ أَيْضًا دُونَ الْقُرْآنِ فِي غَايَةِ الْبُذْلِ وَالْجَهْلِ

وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

وَسَمَّاهُ اللهُ الرُّوْحَ لِأَيشْ يَا شَبَابُ؟ لِمَاذَا؟

إِذَا كَانَتِ الْأَبدَانُ تَعِيشُ بِالرُّوْحِ

فَالْقُلُوبُ؟ نَعَمْ؟

نَعَمْ تَعِيشُ بِالْقُرْآنِ تَحْيَى بِالْقُرْآنِ يَا إِخْوَانُ

وَمَا عَلَّمْنَٰهُ ٱلشِّعْرَ وَمَا يَنۢبَغِى لَهُۥٓ

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌۭ وَقُرْءَانٌۭ مُّبِينٌۭ

لِّيُنذِرَ مَن كَانَ حَيًّۭا

حَيَاةٌ… هَذِهِ الْحَيَاةُ الْحَقِيقِيَّةُ يَا إِخْوَانُ حَيَاةُ الْقُلُوبِ

وَأَمَّا حَيَاةُ الْأَبدَانِ… فَإِنْ مِتُّ

فَالْإِنْسَانُ لَا بُدَّ مَيِّتٌ

وَإِنْ طَالَتِ الْأَيَّامُ وَاتَّصَلَ الْعُمْرُ نَعَمْ

 

Sebab Penting Doa Terkabul – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Sebab Penting Doa Terkabul – Syaikh Muhammad al-Ma’yuf #NasehatUlama

Seseorang berdoa secara rahasia, sehingga tidak seorang pun yang melihatnya atau mendengarnya. Hal ini lebih layak dilakukan ketika berdoa, karena doa yang tersembunyi sangat menunjukkan keikhlasan doanya, yang merupakan syarat yang sangat penting dikabulkannya doa dan diterimanya semua amalan.

Para ulama juga mengatakan bahwa jika seseorang dikaruniai kemampuan untuk berdoa itu adalah nikmat yang Allah Ta’ālā anugerahkan kepadanya. Jadi, wahai hamba Allah, jika Anda dapati dalam diri Anda ada kemauan yang kuat dan semangat dalam berdoa, maka ketahuilah bahwa ada sesuatu di balik itu dan bahwa doa itu pasti dikabulkan.

Para ulama berkata bahwa hendaknya dia sembunyikan doanya, agar tidak ada orang yang hasad dengan kenikmatan yang ada padanya ini. Doa bukan sekadar seseorang mengangkat tangannya, lalu mengucapkan permintaannya sedangkan hatinya lalai dan tidak serius, sebagaimana itu keadaan kebanyakan kita di banyak kesempatan.

Namun, doa adalah ketika seseorang mengangkat tangannya dengan menghadirkan hatinya, penuh kekhusyukan, dan mengemis kepada Tuhannya agar doanya dikabulkan.

Jika doanya terwujud, maka itulah yang diharapkan. Namun jika tidak, hendaknya dia pahami bahwa Allah Subẖānahu wa Ta’ālā Mahabijaksana, yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat. Bisa jadi, yang lebih baik untuk seorang hamba adalah dengan dikabulkan doanya.

Bisa jadi juga, yang lebih baik untuknya adalah ditundanya permintaannya. “Boleh jadi kalian tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 216)

================================================================================

وَيَدْعُو خُفْيَةً بِحَيْثُ لَا يَرَاهُ أَحَدٌ

وَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ هَذَا الْأَوْلَى فِي الدُّعَاءِ

لِأَنَّ الدُّعَاءَ خُفْيَةً أَدَلُّ عَلَى إِخْلَاصِ الدُّعَاءِ

وَهُوَ شَرْطٌ مُهِمٌّ جِدًّا فِي إِجَابَةِ الدُّعَاءِ

وَفِي قَبُولِ كُلِّ عَمَلٍ

قَالَ الْعُلَمَاءُ أَيْضًا وَلِأَنَّ الدُّعَاءَ إِذَا فُتِحَ عَلَى الْإِنْسَانِ

فَهِيَ نِعْمَةٌ فَتَحَهَا اللهُ تَعَلَى عَلَيْهِ

وَإِذَا رَأَيْتَ يَا عَبْدَ اللهِ مِنْ نَفْسِكَ

رَغْبَةً فِي الدُّعَاءِ وَحِرْصًا عَلَيْهِ

فَاعْلَمْ أَنَّ وَرَاءَ هَذَا الْأَمْرِ شَيْءٌ

وَأَنَّ الْإِجَابَةَ حَاصِلَةٌ وَلَا بُدَّ

قَالُوا: فَيُخْفِي دُعَاءَهُ

حَتَّى لَا يُحْسَدَ عَلَى هَذِهِ النِّعْمَةِ

وَلَيْسَ الدُّعَاءُ بِأَنْ يَرْفَعَ الْإِنْسَانُ كَفَّيهِ

وَيَقُولُ كَلِمَاتٍ بِلِسَانِهِ وَقَلْبُهُ غَافِلٌ لَاهِنٌ

كَمَا هُوَ حَالُنَا فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَحْيَانِ

وَلَكِنَّ الدُّعَاءَ إِذَا رَفَعَ كَفَّيهِ

أَنْ يُحْضِرَ قَلْبَهُ وَيَتَضَرَّعَ

وَيُلِحَّ عَلَى رَبِّهِ فِي إِجَابَةِ دَعْوَتِهِ

فَإِنْ حَصَلَ مَقْصُودُهُ فَذَاكَ

وَإِلَّا… فَلْيَعْلَمْ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حَكِيمٌ

يَضَعُ كُلَّ شَيْءٍ فِي مَوضِعِهِ الْمُنَاسِبِ لَهُ

فَقَدْ يَكُونُ مِنَ الْخَيْرِ لِلْعَبْدِ أَنْ تُسْتَجَابَ دَعْوَتُهُ

وَقَدْ يَكُونُ مِنَ الْخَيْرِ أَنْ تُؤَجَّلَ دَعْوَتُهُ

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ

وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ

 

Berjuanglah untuk Shalatmu! – Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Berjuanglah untuk Shalatmu! – Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Ma’yuf #NasehatUlama

Kita ini sedang sakit, Saudara-saudara. Kita sedang menderita, Saudara-saudara. Dengan kebingungan dan ketidakhadiran hati, terlebih lagi tentang kekhusyukan dalam salat.

Hanya Allah yang bisa menolong. Setan pun punya andil dalam hal ini. Oleh karena itu, jangan berikan celah-celah bagi setan! Jangan biarkan setan mengambil bagian dari salat Anda. Usman bin Abi al-ʿĀs berkata kepada Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh setan telah menghalangi aku dari salatku, dia mengacaukannya.” Beliau bersabda, “Itu adalah setan yang bernama Khinzab. Jika kamu merasakan gangguannya, meludahlah ke sisi kirimu tiga kali dan mintalah perlindungan kepada Allah darinya.”
Usman bin Abi al-ʿĀs berkata, “Aku pun melakukannya lalu Allah pun mengusirnya dariku.” (HR. Muslim)

Wahai Saudara-saudara, berusahalah maksimal untuk salat Anda! Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Sungguh salat adalah urusan yang besar dan perkara yang agung. “Sungguh ada seseorang yang selesai dari salatnya, tetapi tidak ditulis pahalanya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelepannya, …” hingga akhir hadis. (HR. Abu Daud) Ini adalah cacat dalam salat yang terjadi karena kekurangan dan kelalaian, di antaranya adalah kekurangan dalam masalah tata saf. Saudara-saudaraku, seorang Muslim harus berusaha menyempurnakan salatnya, menghadirkan hati dalam salatnya, dan berupaya agar ketika dia selesai dari salatnya, telah ditulis baginya pahala salatnya secara keseluruhan. Ya Allah, sayangi kami dengan rahmat-Mu, sungguh Engkaulah Zat yang paling penyayang di antara para penyayang.

Saudara-saudara, mari kita cari kekurangan salat kita dan memeriksa amalan-amalan kita, apa yang telah ditulis bagi setiap orang dari salat-salatnya? Kita berbaik sangka kepada Allah, tapi memang kelalaian lebih mendominasi diri kita. Hanya Allah yang bisa menolong. Namun, jika seseorang memelihara salatnya, baik itu syaratnya, rukunnya, wajibnya, sunahnya, dan hal-hal yang menyempurnakannya, maka tidak diragukan bahwa ini adalah hal-hal yang akan membantunya dalam menyempurnakan salatnya.

======================================================================================================

وَنَحْنُ نُعَانِي يَا إِخْوَانُ

وَنُعَانِي يَا إِخْوَانُ

الذُّهُولُ وَعَدَمُ الْحُضُورِ الْقَلْبِ

فَضْلًا عَنِ الْخُشُوعِ فِي الصَّلَاةِ

فَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

وَالشَّيْطَانُ فِي ذَلِكَ يَا إِخْوَانُ نَصِيبٌ

فَلَا تَذَرُوا فُرَجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ

وَلَا تَجْعَلُوا لِلشَّيْطَانِ مِنْ صَلَاتِكُمْ نَصِيبًا

قَالَ عُثْمَانُ بْنُ أَبِي الْعَاصِ

لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَنَّ الشَّيْطَانَ حَالَ بَيْنِي وَبَيْنَ صَلَاتِي يُلَبِّسُهَا عَلَيَّ

قَالَ: ذَلِكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خِنْزَبُ

فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَانْفُثْ عَنْ يَسَارِكَ ثَلَاثًا

فَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْهُ

قَالَ: فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللهُ عَنِّي

فَاحْرِصُوا يَا إِخْوَانُ جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا عَلَى صَلَاتِكُمْ

فَإِنَّ الصَّلَاةَ شَأْنُهَا كَبِيرٌ وَأَمْرُهَا عَظِيمٌ

وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ مِنْ صَلَاتِهِ

وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشُرُهَا

إِلَّا تُسُعُهَا إِلَّا ثُمُنُهَا… إِلَى آخِرِ الْحَدِيثِ

وَإِنَّمَا هَذَا النَّقْصُ بِسَبَبِ مَا يَحْصُلُ فِيهَا مِنَ الْخَلَلِ وَالتَّقْصِيرِ

وَمِنْ ذَلِكَ التَّقْصِيرُ فِي مَسْأَلَةِ الْمُصَافَّةِ

فَلْيَحْرِصِ الْمُسْلِمُ يَا إِخْوَانِي عَلَى إِتْمَامِ صَلَاتِهِ

وَأَنْ يَحْضُرَ إِلَيْهَا بِقَلْبِهِ

وَأَنْ يَحْرِصَ أَنْ يَخْرُجَ مِنْ صَلَاتِهِ

وَقَدْ كُتِبَتْ لَهُ صَلَاتُهُ كُلُّهَا

اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِرَحْمَتِكَ

وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

نَتَفَقَّدُ يَا إِخْوَانُ صَلَاتَنَا

نَتَفَقَّدُ… نَتَفَقَّدُ أَعْمَالَنَا

مَاذَا كُتِبَ لِلْإِنْسَانِ مِنْ صَلَاتِهِ

نُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّنَا

وَلَكِنِ التَّقْصِيرُ غَالِبٌ عَلَيْنَا

وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ لَكِنْ مُرَاعَاةُ الْإِنْسَانِ لِصَلَاتِهِ

شُرُوطِهَا وَأَرْكَانِهَا وَوَاجِبَاتِهَا

وَسُنَنِهَا وَمُكَمِّلَاتِهَا

لَا شَكَّ هَذَا مِنَ الْأُمُورِ الَّتِي تُعِينُهُ عَلَى إِتْمَامِ صَلَاتِهِ