Category :

Jangan Kamu Remehkan

Abu Bakar Ash-Shiddiq mengatakan,

لا يحقرن أحد أحدا من المسلمين فإن صغير المسلمين عند الله كبير

“Janganlah seorang muslim meremehkan muslim yang lain, karena seorang muslim yang ‘biasa’ itu memiliki kedudukan mulia di sisi Allah.” (Ihya Ulumuddin 4/137)

Muslim yang paling rendah kadar keimanannya sekalipun adalah penghuni surga asalkan imannya tidak batal dengan berbagai pembatal keimanan.

Muslim yang paling rendah kadar imannya, Allah siapkan kenikmatan surga semisal dunia plus sepuluh kali lipatnya.

Kaum muslimin mendapatkan kemenangan karena doa dan kekhusyukan orang-orang miskin.

Boleh jadi seorang muslim yang secara lahiriah kualitas keislamannya biasa saja namun hatinya lebih lembut, doa dan ibadahnya lebih khusyu’, sedekahnya lebih besar dan lebih ikhlas dst.

Oleh karenanya tidak selayaknya kita meremehkan seorang muslim.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

GEMBIRA KARENA DOSA

Ibnu Abbas mengatakan,

وفرحك بالذنب إذا ظفرت به أعظم من الذنب وحزنك على الذنب إذا فاتك أعظم من الذنب

“Rasa gembira karena berhasil berbuat dosa itu lebih besar dosanya dibandingkan perbuatan dosa itu sendiri. Rasa sedih karena gagal berbuat dosa adalah dosa yang lebih besar dibandingkan perbuatan dosa itu sendiri.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah dalam ad-Da’ wad Dawa’ karya Ibnul Qoyyim hlm 57)

“Amal atau perbuatan hati itu lebih besar dampaknya dibandingkan amal lahiriah tanpa bermaksud meremehkan amal dengan anggota badan”

Berbuat maksiat dan merasakan kegembiraan dan kepuasan dengan maksiat, itu dosanya lebih besar dibandingkan dengan bermaksiat tanpa menikmatinya.

Berbuat maksiat tanpa menikmatinya, itu dosanya lebih besar, dibandingkan melakukan maksiat dalam kondisi hati cemas, takut, berdebar-debar dan malu.

Terkadang ada orang berencana untuk melakukan maksiat lantas gagal karena kesempatan tidak mendukung.

Rasa sedih dan kecewa karena gagal bermaksiat itu bernilai dosa.

Bahkan dosanya lebih besar dibandingkan dosa sukses melakukan maksiat yang direncanakan tadi.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Tawadhu Sejati

Al-Hasan al-Bashri ditanya tentang pengertian tawadhu atau rendah hati. Jawaban beliau:

التواضع أن تخرج من منزلك ولا تلقى مسلما إلا رأيت له عليك فضلا

“Tawadhu adalah Anda keluar rumah dan manakala Anda berjumpa dengan seorang muslim Anda berkeyakinan bahwa dia memiliki kelebihan yang tidak Anda miliki.” (Ihya Ulumuddin 3/342)

Memiliki kelebihan dalam hal yang positif itu baik.

Akan tetapi merasa memiliki kelebihan dibandingkan orang lain itu tercela.

Hakekat sombong adalah merasa bangga dengan kelebihan yang dimiliki plus merendahkan orang lain.

Oleh karena itu rendah hati adalah merasa diri tidak memiliki kelebihan dibandingkan orang lain.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Dampak Maksiat

Ibnul Qayyim mengatakan,

وَمِنْ آثَارِ الذُّنُوبِ وَالْمَعَاصِي: أَنَّهَا تُحْدِثُ فِي الْأَرْضِ أَنْوَاعًا مِنَ الْفَسَادِ فِي الْمِيَاهِ وَالْهَوَاءِ، وَالزَّرْعِ، وَالثِّمَارِ، وَالْمَسَاكِنِ

“Diantara dampak dosa dan maksiat adalah menimbulkan berbagai kerusakan di air, udara, tanaman, hasil pertanian dan rumah hunian.” (Ad-Da’ wad Dawa’ hlm 157).

Seorang muslim percaya bahwa dalam musibah dan bencana terdapat dua sebab, sebab lahiriah dan sebab syar’i.

Sebab lahiriah semisal gesekan lempeng bumi itu sebab terjadinya gempa, buang sampah sembarangan itu sebab banjir dll.

Sebab syar’i semua bencana sebagaimana dalam Surat Ar-Rum: 41 adalah kemaksiatan.

Oleh karena itu diantara kewajiban seorang muslim ketika terjadi bencana adalah introspeksi diri dan taubat.

Kewajiban lainnya adalah melakukan usaha lahiriah untuk pencegahan atau penanggulangan sebagaimana arahan para ahli di bidang tersebut.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Puasa yang Paling Afdhol

Ibnul Qoyyim mengatakan:

فَأَفْضَلُ الصَّوَّامِ أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِيْ صَوْمِهِمْ

“Yang paling afdhol atau mulia diantara orang-orang yang berpuasa adalah yang paling banyak mengingat Allah ketika kondisi berpuasa.” (Al-Wabil ash-Shayyib hlm 104, Dar al-Kitab al-Arabi)

Orang yang paling banyak dapat pahala puasa adalah orang yang paling banyak melakukan aktivitas berdzikir mengingat Allah ketika sedang berpuasa, bukan yang paling banyak tidur dengan alasan tidur orang yang berpuasa itu ibadah.

Bahkan diantara bentuk godaan setan adalah memperbanyak tidur agar modal utama seorang muslim untuk beribadah yaitu waktu semakin sedikit.

Semestinya saat berpuasa kita sibukkan diri dengan:

  • Dzikir pagi dan petang.
  • Ngabuburit dengan menyimak kajian live.
  • Membaca artikel dan e-book yang bermanfaat.
  • Membaca al-Quran plus terjemahnya.
  • Menyimak kajian ilmiah di YouTube bukan pengajian yang isinya hanya gelak tawa.
  • Disiplin dzikir harian dari bangun tidur, dzikir saat ke kamar mandi, memakai pakaian dan seterusnya sampai tidur lagi dan aktivitas dzikir lainnya.

Insya Allah dengan demikian nilai kualitas puasa kita semakin meningkat.

Moga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk bisa meraih puasa yang berkualitas.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

  • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
  • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Maksiat di Waktu Mulia

Syaikh Taqiyyuddin mengatakan:

اَلْمَعَاصِي فِي الْأَيَّامِ الْمُعَظَّمَةِ وَالْأَمْكِنَةِ الْمُعَظَّمَةِ تَغْلُظُ مَعْصِيَتُهَا وَعِقاَبُهَا بِقَدْرِ فَضِيْلَةِ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ

“Maksiat yang dilakukan di waktu mulia atau di tempat mulia itu nilai maksiat dan hukumannya lebih besar berbanding lurus dengan kemuliaan waktu dan tempat.” (al-Adab asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih al-Hanbali 4/77, Muassasah ar-Risalah)

Amal sholih di waktu mulia pahalanya dilipatgandakan.

Sebaliknya maksiat di waktu mulia semisal bulan Ramadhan dosanya lebih besar dibandingkan di luar Ramadhan.

Aktivitas pacaran di bulan Ramadhan dosanya lebih besar dibandingkan dosa pacaran di luar bulan Ramadhan tanpa bermaksud meremehkan dosa pacaran di luar bulan Ramadhan.

Bedanya:

Amal sholih di waktu mulia itu pahalanya lebih besar dari sisi kualitas dan kuantitas pahala.

Sedangkan maksiat di waktu mulia dosanya lebih besar dari sisi kualitas tanpa kuantitas.

Artinya satu maksiat tetap dinilai satu maksiat hanya saja kadar dosanya lebih berat.

Kadar berat dosa di waktu mulia bertingkat-tingkat sebagaimana kemuliaan waktu tersebut.

Maksiat di awal Ramadhan dosanya lebih besar dibandingkan maksiat di luar Ramadhan.

Maksiat di sepuluh hari terakhir Ramadhan dosanya lebih besar lagi.

Maksiat saat Lailatul Qadar dosanya lebih besar lagi.

Ketentuan semisal juga berlaku untuk tempat mulia.

Maksiat di masjid dosanya lebih besar dibandingkan jika dilakukan di selain masjid.

Maksiat di Masjid Nabawi dosanya lebih besar lagi.

Maksiat di Masjidil Haram dosanya lebih ngeri lagi.

Semoga Allah ampuni dosa-dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini dengan kasih sayang dan kemurahan-Nya.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Betapa Indahnya, Ibadah Pada Sasat Aku Tidur di Kasurku

Seorang ulama tabiin, Abul Aliyah mengatakan:

الصَّائِمُ فِي عِبَادَةٍ مَا لَمْ يَغْتَبْ أَحَدًا وَإِنْ كَانَ نَائِمًا عَلَى فِرَاشِهِ

“Orang yang sedang berpuasa itu berada dalam ibadah selama tidak menggunjing siapa pun meski dalam kondisi tidur di kasurnya.”

Hafshah binti Sirin mengomentari hal ini dengan mengatakan:

يَا حَبَّذَا عِبَادَة وَأَنَا نَائِمَةٌ عَلَى فِرَاشِيْ

“Betapa indahnya, ibadah pada saat aku tidur di kasurku.” (Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab hlm 168)

Ketika seorang itu dalam kondisi beribadah semua aktivitasnya bernilai ibadah.

Contoh yang lain adalah:

Jihad perang di jalan Allah: Seorang mujahid itu berada dalam ibadah meski dalam kondisi tertidur karena kelelahan.

Contoh lain adalah:

Ihram haji atau umroh: Seorang yang dalam kondisi ihram itu berada dalam ibadah meski sedang tertidur pulas.

Pernyataan Abul Aliyah di atas bukanlah motivasi untuk memperbanyak tidur namun menunjukkan berapa istimewanya ibadah puasa.

Memperbanyak tidur tanpa ada kebutuhan adalah bagian dari godaan setan. Setan ingin mengurangi waktu ibadah seorang muslim.

Ghibah atau menggunjing sesama muslim adalah dosa yang menghapus pahala ibadah puasa.

Terlelap tidur setelah capek dengan aktivitas bermanfaat bagi orang yang berpuasa tetap dinilai ibadah selama pahala ibadah puasanya tidak hilang karena dusta, ghibah dll.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Amalan yang Paling Utama

وأَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ سرورٌ تُدخِلُه على مسلمٍ

Nabi bersabda, “Aktivitas yang paling Allah cintai adalah membuat gembira seorang Muslim.” (HR. Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath dari Ibnu Umar)

“Nabi tegaskan dalam hadits ini bahwa amal yang paling cintai, yang paling besar pahalanya adalah membuat nyaman hati seorang muslim, membuatnya senang, membuatnya bahagia, membuatnya ceria, menghilangkan sedih dan galaunya dll.”

Bentuk praktis hal ini tentu berbeda-beda tergantung situasi dan kondisi.

Diantaranya bentuk praktisnya:

Menyapa hangat peserta baru pengajian.

Menyediakan minuman bagi orang yang kehausan.

Menghibur orang yang sedih.

Mengobati orang yang sakit.

Menolong orang yang sedang repot dan kesusahan.

Menjadi pendengar baik bagi orang yang asyik cerita atau curhat.

Menyimak dengan seksama orang sepuh yang asyik bercerita padahal kita sudah mendengar cerita beliau untuk kesekian kalinya.

Membesuk orang sakit.

Memberi hadiah.

Berkunjung ke rumah kawan.

Ngobrol asyik dengan isteri atau anak dll.

Itu semua berpahala JIKA dengan niat mengamalkan hadits di atas atau hadits yang semakna.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.

    • REKENING DONASI : BNI SYARIAH 0381346658 / BANK SYARIAH MANDIRI 7086882242 a.n. YAYASAN YUFID NETWORK
    • KONFIRMASI DONASI hubungi: 087-738-394-989

Beratnya Menjauhi Dua Maksiat Ini

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

الصبر عن معاصي اللسان والفرج من أصعب أنواع الصبر ؛ لشدة الداعي إليهما وسهولتهما

“Sabar terhadap maksiat lisan dan kemaluan termasuk jenis sabar yang terberat. Karena pendorongnya amat kuat dan mudah untuk dilakukan.” (Uddatushobirin)

Oleh karena itu Nabi mengabarkan bahwa perkara yang banyak memasukkan manusia ke dalam api neraka adalah lisan dan kemaluan.. (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)

Penulis: Ustadz Badrusalam, Lc.

Sehebat Apapun Kamu Pasti Kalah

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Adalah unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak terkalahkan. Lalu ada seorang arab badui datang dengan untanya dan berhasil mengalahkan unta Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Maka para shahabat merasa kecewa hingga diketahui oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Maka beliau bersabda:

حق على الله أن لا يرتفع شيء من الدنيا إلا وضعهُ

“Sudah kepastian dari Allah bahwa tidak ada sesuatupun yang tinggi dari dunia kecuali akan Dia rendahkan.” (HR Al-Bukhari)

Demikianlah dunia..
Sehebat apapun seseorang..
Pasti suatu ketika akan ada yang mengalahkannya..
Karena dunia itu hina..

Penulis: Ustadz Badrusalam, Lc.