Category :

Naungan di Padang Masyhar

كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ – أَوْ قَالَ: يُحْكَمَ بَيْنَ النَّاسِ

Nabi bersabda, “Setiap orang itu akan berada di bawah naungan sedekahnya selama di padang mahsyar sampai ada keputusan untuk manusia, masuk surga atau neraka.” (HR Ahmad)

Yazid bin Abu Habib, salah satu perawi hadits mengatakan bahwa gurunya Abu Khoir setiap hari bersedekah baik dengan kue, bawang atau lainnya.

Ketika manusia dibangkitkan dari alam kubur dan kumpul di padang masyar, matahari demikian dekat dengan kepala manusia.

Manusia demikian menderita karenanya.

Tidak ada orang yang merasakan kenyamanan pada hari itu kecuali orang yang memiliki amal yang menyebabkan dia mendapatkan naungan di hari yang demikian terik.

Amal penting yang menjadi naungan bagi pelakunya adalah sedekah.

Semakin hebat kualitas dan kuantitas sedekah naungan tersebut akan semakin nyaman.

Sedekah hebat adalah sedekah yang dilakukan sekali namun pahalanya mengalir tiada henti. Itulah wakaf, baik wakaf tanah ataupun wakaf bangunan.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Sebab Datangnya Musibah

Abu Bakar Ash-Shiddiq mengatakan,

والبلاء مؤكل بالمنطق

“Seringkali bencana itu gara-gara omongan.” (Al-Ansab hlm 38).

“Lisan itu sungguh bahaya.”

“Mulutmu harimaumu.”

Sering kali lisan itu jadi sumber petaka:

Terjadi perceraian gara-gara perang mulut.

Bermasalah dengan orang karena keceplosan dan salah omong.

Anak mendapatkan musibah karena doa jelek yang keluar dari lisan ortu.

Terjadi musibah karena pernah mengolok-olok orang lain.

Dapat petaka karena meremehkan wabah, adzab dan murka Allah dll

Semoga Allah selamatkan kita dari segala marabahaya, wabah, petaka dan bencana.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Untuk Surga, Lelahkan Dirimu

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Orang yang kurang jauh pikirannya hanya akan melihat beratnya suatu amal. Ketika hendak berhaji misalnya ia melihatnya melelahkan dan berat.. sehingga ia malas untuk pergi dan kurang keinginannya.” (At-Tafsir Al-Qayyim hal. 119)

Maka janganlah sebatas melihat beratnya sebuah amal..

Tapi lihatlah manfaatnya dan pahalanya yang besar untuk kehidupan hati..

Untuk meraih kenikmatan dunia pun kita harus lelah..

Apalagi untuk meraih kenikmatan surga-Nya..

Penulis: Ustadz Badrusalam, Lc.

Peluang Emas Pahala Syahid

Seburuk apapun kondisi saat ini, seorang mukmin akan tetap berlapang dada dan berbesar hati. Sebab dia memiliki panduan hidup dari Rabbul alamin. Hanya orang yang tidak punya pegangan, yang akan terjangkiti kepanikan.

Aisyah radhiyallahu ‘anha bertutur,

“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tha’un (wabah)”.

Beliau menjawab,

أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ.

“Sesungguhnya wabah adalah azab yang ditimpakan Allah kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Namun Dia menjadikan wabah sebagai rahmat untuk kaum mukminin.

Saat terjadi wabah, siapapun yang berdiam di rumahnya. Dengan penuh kesabaran dan berharap pahala. Sambil meyakini bahwa dia tidak akan terkena sesuatu, kecuali yang telah ditakdirkan Allah. Orang yang seperti itu, pasti akan mendapatkan pahala orang yang syahid”. (HR. Ahmad dan sanad nya dinilai sahih oleh al-Arna’uth)

Hadits di atas menjelaskan empat kriteria yang bila dipenuhi, maka seseorang akan mendapat pahala syahid.

Pertama: Berdiam di rumah. Sebagai salah satu upaya agar tidak tertular wabah atau menulari orang lain. Ini tentu sangat selaras dengan himbauan pemerintah supaya kita melakukan social distancing.

Kedua: Sabar dan ridha. Tidak banyak mengeluh. Sebab ini adalah ujian dari Allah.

Ketiga: Berharap pahala. Pahala menjalankan perintah Allah dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Pahala berdiam di rumah, walaupun terasa jenuh dan bosan.

Keempat: Beriman dengan takdir. Bahwa apapun yang terjadi, itu adalah dengan kehendak Allah. Sehingga bila Allah menakdirkan tidak kena wabah, maka tidak mungkin kena. Namun bila terkena, maka itulah yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.

Siapapun yang memenuhi empat kriteria di atas, dia akan mendapatkan pahala orang yang syahid. Walaupun ia tidak terjangkiti wabah. Apalagi bila terjangkit dan meninggal. Atau terjangkiti dan bisa sembuh. Semuanya dijanjikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pahala syahid. Demikian keterangan yang dibawakan Imam Ibn Hajar rahimahullah dalam kitab beliau Fath al-Bariy (X/204).

Wajarlah bila Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa wabah adalah rahmat bagi kaum mukminin.

Namun tentu tetap harus dihadapi dengan upaya lahiriah maksimal dan tawakal total kepada Allah Ta’ala.

Pesantren Tunas Ilmu, Kedungwuluh, Purbalingga

Ustadz Abdullah Zaen, Lc., M.A.

Akankah Kamu Selamat dari Kematian?

Suatu ketika Al-Hasan Al-Bashri menjenguk temannya yang sakit dan menanyakan keadaannya.

Temannya berkata, “Aku ingin makan tapi tak mampu menelan. Dan ingin minum tapi tak mampu menelannya juga.”

Al-Hasan menangis dan berkata:

على الاسقام والأمراض أسست هذه الدار وهبك تصح من الأسقام وتبرأ من الأمراض هل تقدر أن تنجو من الموت؟

“Dunia ini memang dibangun di atas kesakitan dan penyakit. Kalaupun kamu selamat dan sehat dari penyakit, akankah kamu selamat dari kematian?”

Mendengar itu orang-orangpun menangis… (Az-Zuhd karya Ibnu Abidunya hal. 257)

Maka janganlah merasa tenang dari kematian..
Karena semua kita pasti akan meninggal..
Dan kembali kepada Allah..
Lantas dimanakah amalmu?

Penulis: Ustadz Badrusalam, Lc.

Kita Semua Akan Ditolong Selama Kita Kembali Kepada Allah

Renungan di tengah wabah Covid-19

Yakinlah bahwa kita semua akan ditolong dan dikuatkan Allah dalam menghadapi musibah ini, selama kita kembali kepada Allah dan mentaati-Nya

LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH

“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Tentunya dengan tetap melakukan usaha lahir dan batin yang kita mampu.

Ingatlah firman Allah Ta’ala:

فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِين

“Mengapa penduduk suatu negeri tidak BERIMAN, sehingga imannya bisa memberikan manfaat kepada mereka. Lihatlah kaumnya Nabi Yunus, ketika mereka BERIMAN, Kami hilangkan dari mereka AZAB DUNIA yang menghinakan, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Yunus: 98)

Ingat juga perkataan Syeikhul Islam rahimahullah:

“Banyak orang yang sakit bisa sembuh tanpa pengobatan, mereka sembuh dengan doa yg mustajab, ruqyah yang manjur, kekuatan hati, dan tawakkal yang baik.” (Al-Fatawa 21/563)

Penulis: Ustadz Dr. Musyaffa Addariny