Category :

Tidak Mudah Berfatwa

Imam Syafi’i rahimahullah pernah ditanya permasalahan, namun beliau hanya diam saja. Maka dikatakan padanya, “Sampai kapan engkau menjawabnya wahai Imam?”

Maka beliaupun berkata,

حتى أدري الفضل في سكوتي، أو في الجواب

“Sampai aku mengetahui lebih utama mana diamku atau jawabanku. (Ibnu Shalah,  adabul mufti wal mustafti, 74)

Sungguh betapa berhati-hatinya beliau dalam berfatwa, karena fatwa itu sangat berat yang menyangkut hajat umat islam.

Maka diantara nasehat yang disampaikan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah kepada penuntut ilmu, dalam syarah hilyah thalibil ilmi, beliau mengatakan, “Pikirkanlah sebelum engkau ucapkan, apakah ucapan itu mempunyai faedah atau tidak. Sebagai mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرًا أو ليصمت

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berbicaralah dengan baik atau diam.. (HR. Bukhari dan Muslim)

Akhukum Minanurrohman

Sumber bacaan: https://www.alukah.net/sharia/0/88086/

Ada kejadian yang membuat orang terheran, beberapa orang mempunyai keluhan dan sakit sama setelah berobat ia dikasih dosis sama. Tapi setelah itu, hanya 1 orang yang sembuh, sisanya mencari alternatif obat lain.

Lantas kita akan berpikir, kenapa bisa seperti itu?

Teringatlah kita dengan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al-Baqarah: 286)

Allah memberikan sesuatu kepada hambanya sesuai dengan kapasitas hamba tersebut, sama halnya dengan sakit, setiap orang berbeda tingkatan dalam sakitnya. Walaupun ada sepuluh orang di diagnosis berpenyakit sama, namun tiap orang punya level sakit berbeda dan cara sembuhpun juga berbeda-beda.

Nabi  tegaskan dalam sabdanya,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أَصَابَ الدَّوَاءُ الدَّاءَ، بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Setiap penyakit pasti ada obatnya. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Muslim)

Disinilah letak rahasia agar kita selalu berhusnudzon kepada Allah, penyakit itu pasti ada obatnya dengan izin Allah ta’ala. Hanya saja jika kita belum sembuh-sembuh. Terus cari, dan jangan berputus asa.

إِنَّ اللهَ لَمْ يَنْزِلْ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ

“Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan sebuah penyakit melainkan menurunkan pula obatnya. Obat itu diketahui oleh orang yang bisa mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak bisa mengetahuinya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim)

=Akhukum Minanurrohman=