Category :

Andai Semua Dosa Disegerakan Hukumannya di Dunia

Allah berfirman,

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا

Kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan perbuatannya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun. Akan tetapi, Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu. Maka apabila datang ketetapan waktu untuk mereka, maka Sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. (QS. Fathir: 45).

Betapa besar dosa manusia kepada Sang Pencipta. Andai semua dosa itu diberi hukuman di dunia, barupa bencana alam atau tidak diberi hujan dan tumbuhan, atau fenomena alam yang menakutkan, tentu tidak ada makhuk hidup yang bisa hidup di dunia ini.

Ibnu Mas’ud mengatakan,

كاد الجَعْلُ أن يعذب في جُحْره بذنب ابن آدم

”Hampir saja kumbang di sarangnya mendapatkan hukuman karena dosa manusia.” (Ibnu Katsir, 6/560).

Namun Allah menunda hukuman itu, hingga tiba waktu kiamat. Agar mereka yang tidak berdosa, tidak turut mendapatkan hukuman itu. Sungguh betapa besar kedzaliman manusia terhadap lingkungannya dan betapa sempurna kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya.

Cara Berfikir Terbalik

Barangkali diantara kita ada yang sempat berfikir, mengapa Allah tidak memberikan hukuman kepada Yahudi bani Israil, atau kepada orang syiah yang kejam kepada islam, atau pemerintah amerika yang serakah dengan dunia, atau orang kafir yang jahat secara umum? Bukankah ini akan menyelamatkan kaum muslimin dari kejahatan mereka?

Tidak bisa dibayangkan andaikan harapan ini Allah wujudkan. Tidak bisa dibayangkan jika hukuman untuk mereka Allah wujudkan di dunia dalam bentuk bencana atau tidak diberi hujan. Barangkali kita yang menjadi musuh orang kafir itu, juga turut mendapatkan imbas dari hukuman untuk mereka.

Ahli Ibadah tapi Ahli Neraka

Allah berfirman menceritakan keadaan salah satu ahli neraka,

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ , تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً

“Rajin beramal lagi kepayahan, namun, memasuki api yang sangat panas (neraka).” (QS. Al-Ghasyiyah: 3 – 4).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan satu riwayat dari Abu Imran Al-Jauni, bahwa suatu ketika Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu pernah melewati sebuah kuil, yang ditinggali seorang rahib nasrani.

Umarpun memanggilnya, ‘Hai rahib… hai rahib.’ Rahib itupun menoleh. Ketika itu, Umar terus memandangi sang Rahib. Dia perhatikan ada banyak bekas ibadah di tubuhnya. Kemudian tiba-tiba Umar menangis.

Orang di sekitarnya keheranan, mereka bertanya,

Wahai Amirul Mukminin, apa yang membuat anda menangis?. Mengapa anda menangis ketika melihatnya.’

Jawab Umar,

ذكرت قول الله، عز وجل في كتابه: { عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً } فذاك الذي أبكاني

Aku teringat firman Allah dalam Al-Quran, (yang artinya) ‘Rajin beramal lagi kepayahan, namun, memasuki neraka yang sangat panas’ Itulah yang membuatku menangis.’ (Tafsir Ibn Katsir, 8/385).

Mengapa Mereka di Neraka?

Mereka rajin ibadah, namun semua sia-sia. Ibadahnya justru mengantarkan mereka ke neraka.

Apakah Allah mendzalimi mereka? Tentu tidak, karena Allah tidak akan pernah mendzalimi hamba-Nya. Allah haramkan diri-Nya untuk mendzalimi hamba-Nya.

Lalu apa Sebabnya?

Tentu saja semua itu kembali kepada pelaku perbuatan itu. Sebabnya adalah dia salah dalam beribadah. Dia beribadah, namun salah sasarannya, salah tata caranya, salah niatnya, salah yang disembah, atau salah semuanya. Sehingga bagaimana mungkin Allah akan menerimanya? Dan di saat yang sama, Allah justru memberikan hukuman kepada mereka. Wal ‘iyadzu billah..

Menyadari hal ini, sudah selayaknya kita bersyukur, Allah jadikan kita orang mukmin, padahal kita tidak pernah memintanya. Kita patut bersyukur, kita terlahir dari keluarga muslim, padahal kita tidak pernah memilihnya.

Tinggal saatnya kita berusaha agar amal kita diterima Allah. Caranya: kita berupaya agar amal yang kita kerjakan adalah amal yang benar. Benar sesuai dengan kriteria yang ditetapkan syariat.

Kriteria itu, Allah nyatakan dalam firman-Nya,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“. (QS. Al-Kahfi: 110).

Keterangan ayat,

1. “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya” artinya dia siap bertemu Allah dengan membawa bekal amal yang diterima.

2. “hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, itulah amal yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. “dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, dengan ikhlas karena Allah ketika beribadah.

Itulah salah satu ayat yang menjelaskan kriteria amal yang benar dalam syariat,

Benar niatnya: ikhlas karena mengharap balasan dari Allah

Benar tata caranya: sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allahu a’lam

Kerukunan di atas Kebenaran, Lebih Mahal dari pada Dunia Seisinya

لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ

”Andai engkau infakkan seluruh harta yang ada di bumi, engkau tidak akan mungkin mampu membuat rukun hati mereka.” (QS. Al-Anfal: 63)

Abdah bin Abi Lubabah menceritakan,

Suatu ketika Imam Mujahid menghampiriku dan memegang tanganku, lalu mengatakan,

إذا تراءى المتحابان في الله، فأخذ أحدهما بيد صاحبه، وضحك إليه، تحاتت خطاياهما كما يتحات ورق الشجر

Jika ada dua orang yang saling mencintai karena Allah, kemudian salah satu menjabat tangan temannya, dan dia memberi senyuman untuk temannya, maka dosa keduanya akan berguguran, sebagaimana daun-daun berguguran dari pepohonan.

Akupun keheranan, ”Berarti ini mudah sekali!”

Jawab Imam Mujahid,

لا تقل ذلك؛ فإن الله تعالى يقول: {لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ}

Janganlah berkata begitu, karena Allah berfirman,

Andai engkau infakkan seluruh harta yang ada di bumi, engkau tidak akan mungkin mampu membuat rukun hati mereka” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/85)

Bersyukurlah kepada Allah, tatkala anda bisa mencintai sesama muslim karena agamanya, bukan karena fisiknya, hartanya, atau pangkatnya. Sampaikan salam kepadanya, jabat tangannya, dan nampaknnya wajah ceria kepadanya, dijamin dosa anda akan berguguran.

Andaikan bukan karena petunjuk dari Allah, anda tidak akan mungkin mampu melakukannya, sekalipun harus mengeluarkan modal besar untuk membuat hati ini rukun.

Salam untuk semua, semoga kita bisa saling mencintai karena Allah.

Doanya Para Ulama

Di surat Ali Imran ayat 7, Allah menjelaskan bahwa ada ayat al-Quran yang Muhkamat dan ada yang Mutasyabihat. Lalu Allah menyabutkan sikap ar-Rasikhuna fil Ilmi (orang yang kuat ilmunya), bahwa mereka mengimani semua ayat Allah, dan semuanya datang dari Allah.

Kemudian di ayat 8 dan 9, Allah sebutkan doa mereka yang kokoh ilmunya,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ ( ) رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”. ( ) “Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (QS. Ali Imran: 8 – 9)

Seperti itulah potret ulama yanng ideal. Mereka memahami ayat Allah, sesuai kaidah penafsiran yang benar. Sementara yang tidak mereka pahami, bukan ditolak atau ditakwil, namun dipasrahkan kepada Allah. Mereka tetap mengimaninya, karena semuanya datang dari Allah.

Doa mereka menggambarkan bagaimana kekhawatiran mereka terhadap kelurusan hati mereka. Sehingga mereka memohon agar hatinya tidak dibuat condong kepada kesesatan, yang umumnya bermula dari takwil ayat al-Quran tanpa aturan.

janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan

Mereka juga sadar betul akan pentingnya petunjuk Allah, sehingga mereka memohon agar petunjuk itu tetap bertahan dalam diri mereka.

sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami

Mereka juga memahami bahwa ampunan dan kasih sayang (rahmat) sangat mereka butuhkan. Karena manusia bisa saja salah ketika memahami maksud firman Allah.

karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau

Mereka juga meyakini kebenaran hari pembalasan, ketika semua manusia dikumpulkan. Dan mereka akan mempertanggung jawabkan pemikiran dan sikap mereka kepada Tuhan.

Sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia pada hari yang tiada keraguan di dalamnya.”

Rasa Takut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebelum Turun Hujan

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا رَأَى مَخِيلَةً فِي السَّمَاءِ، أَقْبَلَ وَأَدْبَرَ، وَدَخَلَ وَخَرَجَ، وَتَغَيَّرَ وَجْهُهُ، فَإِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ سُرِّيَ عَنْهُ

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat mendung gelap di langit, beliau keluar masuk rumah, dan wajah beliau berubah. Dan jika turun hujan, beliau merasa gembira.

Ketika ditanya A’isyah, beliau menjawab,

يَا عَائِشَةُ مَا يُؤْمِنِّي أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ؟ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ، وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ العَذَابَ، فَقَالُوا: هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا

Wahai A’isyah, apa yang bisa memberikan jaminan keamanan bagiku kalau di awan itu tidak ada adzab? Kaum Ad dihukum dihukum dengan angin. Kaum itu telah melihat awan adzab, namun mereka mengatakan, “Ini awan yang akan mendatangkan hujan kepada kami.” (HR. Bukhari 4829, Muslim 899, dan yang lainnya).

Melihat fenomena alam yang mencekam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat takut. Karena bisa jadi fenomena alam itu membawa adzab. Ini berbeda dengan orang musyrik, ketika melihat fenomena alam yang demikian, mereka merasa yakin tidak ada adzab apapun, dan optimis, bahwa itu akan menurunkan hujan.

pemuda di zaman ini, ketika melihat fenomena alam, mereka justru mengeluarkan ponsel atau kamera digitalnya. Berlomba mereka mengabadikan situasi itu. Bukannya takut, malah jeprat-jepret.

Allahul musta’an

Lupa Allah, Jadinya Lupa Diri

Allah berfirman,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Hasyr: 19).

Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri” : Allah buat dia lupa terhadap hal yang manfaat baginya, lupa terhadap hal yang manfaat bagi kehidupan akhiratnya. Sehingga dia hanya disibukkan perbuatan yang kurang manfaat, atau bahkan yang merugikan dirinya.

Itulah hukuman untuk orang yang lupa Allah, lupa akan peringatan Allah, dan tidak peduli halal haram.

Karena bahayanya orang ini, Allah melarang kita untuk meniru kebiasaan mereka.

(al-Jawab al-Kafi, Ibnul Qoyim, hlm. 47)

Menjadi Buar Bibir Setelah Meninggal

Pujian orang yang disampaikan langsung di hadapan kita, sarat dengan tendensi dan kepentingan. Pujian orang yang disampaikan ketika kita tiada, itulah pujian yang sebenarnya.

Karena itu, diantara doa Ibrahim yang Allah sebutkan dalam al-Quran, beliau memohon agar menjadi buah bibir setelah beliau meninggal,

وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ

Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian (QS. As-Syu’ara: 84).

Ibrahim memohon kepada Allah, agar dia diberi taufik untuk menjadi sumber kebaikan, sehingga semua orang memuji beliau, hingga hari kiamat.

Karena pujian manusia adalah kesaksaian mereka atas perbuatan dan perilaku kita di dunia.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

Suatu ketika para sahabat melihat seorang jenazah yang diangkat menuju pemakamannya. Merekapun memuji jenazah ini. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وجبَتْ، وجبتْ، وجبت

”Wajib.., wajib.., wajib.”

Tidak berselang lama, lewat jenazah lain. Kemudian para sahabat langsung mencelanya. Seketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وجبَتْ، وجبتْ، وجبت

”Wajib.., wajib.., wajib.”

Umarpun keheranan dan bertanya,

”Apanya yang wajib?”

Jawab sang Nabi,

هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ

”Jenazah pertama kalian puji dengan kebaikan, maka dia berhak mendapat surga. Jenazah kedua kalian cela, maka dia berhak mandapat neraka. Kalian adalah saksi Allah di muka bumi.” (HR. Bukhari 1367 & Muslim 949).

Jadilah manusia yang menebar kebaikan bagi lingkungannya, semoga pujian mereka menjadi saksi atas kebaikan kita.

Bekas Tangisan Ibnu Abbas

Dari Ibnu Abi Malikah,

صحبت ابن عباس من مكة إلى المدينة، فكان يصلي ركعتين، فإذا نزل، قام شطر الليل، ويرتل القرآن حرفا حرفا، ويكثر في ذلك من النشيج والنحيب

Saya mendampingi perjalanan Ibnu Abbas dari Mekah menuju Madinah. Beliau shalat 2 rakaat (qashar). Apabila beliau singgah, beliau bangun di pertengahan malam, membaca al-Quran seayat demi seayat. Beliau banyak terisak dan tangisan.

Dari Syu’aib bin Dirham, bahwa Abu Raja’ menceritakan,

رأيت ابن عباس وأسفل من عينيه مثل الشراك البالي من البكاء

Saya melihat Ibnu Abbas, sementara di bawah kedua mata beliau seperti kalung sandal karena tangisan.

(Siyar A’lam Nibala’, 3/352)

Beliau Menangis Karena Memikirkan Kita

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah di surat Ibrahim,

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Ya Tuhanku, Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, Maka Barangsiapa yang mengikutiku, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golonganku, dan Barangsiapa yang mendurhakai Aku, Maka Sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ibrahim: 36)

Dan beliau membaca firman Allah tentang perkataan Nabi Isa,

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Jika Engkau menyiksa mereka, Maka Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Maidah: 118).

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa,

اللهُمَّ أُمَّتِي أُمَّتِي

“Ya Allah, umatku-umatku…”

Beliaupun menangis. Lalu Allah perintahkan Jibril,

يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ، وَرَبُّكَ أَعْلَمُ، فَسَلْهُ مَا يُبْكِيكَ؟

”Wahai Jibril, datangi Muhammad – Tuhanmu paling tahu – tanyakan kepadanya, apa yang menyebabkan kamu menangis.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan firman Allah yang beliau baca – dan Allah Maha Tahu –. Kemudian Allah berfirman,

يَا جِبْرِيلُ، اذْهَبْ إِلَى مُحَمَّدٍ، فَقُلْ: إِنَّا سَنُرْضِيكَ فِي أُمَّتِكَ، وَلَا نَسُوءُكَ

”Wahai Jibril, datangi Muhammad, sampaikan: Kami akan membuatmu ridha dengan umatmu, dan Kami tidak akan membuatmu sedih.” (HR. Muslim 202)

An-Nawawi menyebutkan beberapa pelajaran dari hadis,

  1. Penjelasan tentang kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya, dan perhatian beliau terhadap kemaslahatan mereka
  2. Anjuran mengangkat tangan dalam berdoa
  3. Kabar gembira untuk umat ini, Allah akan menambahkan kemuliaan sesuai yang Allah janjikan. Ini merupakan hadis yang memberikan harapan sangat besar bagi umat islam
  4. Penjelasan tentang kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi Allah dan kasih sayang Allah kepada beliau.

(Syarh Shahih Muslim, 3/78 – 79)

Mengapa Adzab Orang kafir Kekal?

Bagian dari nama Maha Adil bagi Allah, Dia akan memberikan hukuman kepada hamba yang durhaka, sesuai tingkat maksiat yang dilakukan. Jika orang kafir bermaksiat kepada Allah sepanjang usianya, mengapa adzab yang diberikan kepadanya kekal abadi?

Ada beberapa jawaban,

Pertama, orang yang mati kafir memiliki tabiat menolak kebenaran sepanjang hayat. Sehingga sekalipun mereka diberi hidayah, mereka akan menolaknya, sehingga mereka terus-menerus jadi kafir.

وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ

Kalau sekiranya Allah mengetahui ada kebaikan pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar (hidayah). dan kalaupun Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, dan mereka menolaknya. (QS. Al-Anfal: 23)

Kedua, andaikan orang yang mati kafir itu dikembalikan lagi ke dunia, mereka akan tetap kembali kafir. Karena itu, sepanjang apapun usia yang Allah berikan kepadanya, dia akan terus kafir. Karena terus kafir, maka hukuman yang diberikan sifatnya kekal.

وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka akan berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan kami tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta kami akan menjadi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-An’am: 27).

Harapan mereka ini Allah bantah di ayat lanjutannya,

بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada perbuatan yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka. (QS. Al-An’am; 28).