Category :

Sedekah Harga Diri

Ketika menyiapkan perbekalan perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk bersedekah. Beliau mempersyaratkan, yang boleh ikut perang hanyalah orang yang memiliki kendaraan. Di saat itu, datang beberapa sahabat yang fakir dan tidak memiliki binatang tunggangan datang meminta izin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pulang sambil menangis, karena tidak ada yang bisa mereka sumbangkan untuk agama.

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

Dan tiada berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. (QS. At-Taubah: 92).

Diatara meraka ada yang benama Ulbah bin Zaid al-Haritsi radhiyallahu ‘anhu. Beliau datang tanpa membawa apapun, karena tidak ada yang bisa disedekahkan. Beliau menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengatakan,

مَا عِنْدِي إِلاَّ عِرْضِي ، فَإِنِّي أُشْهِدُكَ يَا رَسُولَ اللهِ ، إِنِّي قَدْ تَصَدَّقْتُ بِعِرْضِي عَلَى مَنْ ظَلَمَنِي

”Saya tidak memiliki apapun kecuali harga diriku. Aku bersaksi di hadapanmu ya Rasulullah, bahwa aku telah mensedekahkan harga diriku kepada setiap orang yang pernah mendzalimiku.” (HR. Al-Bazzar dalam Musnadnya 3387).

Said al-Jumhi, Gubernur yang Miskin

Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu menugaskan Said bin Amir al-Jumhi untuk menjadi gubernur daerah Homs. Suatu ketika datang para pejabat daerah Homs (selain Said al-Jumhi) menghadap Umar. Sang khalifahpun meminta,

أكتبوا لي فقراءكم

“Tulis daftar orang miskin di daerah kalian.”

Merekapun menulisnya. Ternyata diantara nama daftar orang miskin itu, tertulis Said bin Amir al-Jumhi. Umarpun balik tanya, “Siapa Said bin Amir ini?”

“Beliau gubernur kami.” Jawab mereka.

“Gubernur kalian orang fakir?” Umar keheranan.

“Benar. Demi Allah, selama beberapa hari, belum pernah ada nyala api di rumahnya.” Jelas mereka.

Umarpun menangis, hingga jenggotnya basah. Beliau langsung memberikan beberapa onggok dinar untuk Said. Setelah diterima Said, beliau keheranan dan beristirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi rajiun). Kamudian beliau bagikan kepada orang miskin.

(Shuwar min Hayat Sahabat, hlm. 67).

Jaga Shalat, Semahal Apapun Harga Pangan, Allah Menjamin Rizkimu

Allah berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Perintahkahlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah dalam menjaga shalat. Aku tidak meminta rizki darimu, Aku yang akan memberikan rizki kepadamu. Akibat baik untuk orang yang bertaqwa.” (QS. Thaha: 132)

Di masa silam, terjadi kenaikan harga pangan sangat tinggi. Merekapun mengadukan kondisi ini kepada salah seorang ulama di masa itu. Kita lihat, bagaimana komentar beliau,

والله لا أبالي ولو أصبحت حبة الشعير بدينار! عليَّ أن أعبده كما أمرني، وعليه أن يرزقني كما وعدني

“Demi Allah, saya tidak peduli dengan kenaikan harga ini, sekalipun 1 biji gandum seharga 1 dinar! Kewajibanku adalah beribadah kepada Allah, sebagaimana yang Dia perintahkan kepadaku, dan Dia akan menanggung rizkiku, sebagaimana yang telah Dia janjikan kepadaku.”

Rakus Harta & Kedudukan, Merusak Agama

Dari Ka’ab bin Malik al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

Kerusakan akibat dua serigala lapar yang dilepas di tengah kerumunan kambing, tidaklah lebih besar dibandingkan kerusakan terhadap agama akibat ketamakan manusia untuk meraih dunia dan kedudukan. (HR. Ahmad 15784, Turmudzi 2376, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan,

فهذا مثلٌ عظيم جدًّا ضربه النبيُّ -صلى الله عليه وسلم- لفسادِ دينِ المسلم بالحرص عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا، وأن فسادَ الدِّين بذلك ليسَ بدونِ فسادِ الغنم بذئبين جائعين ضاريين يأتيا في الغنمِ، وقد غابَ عنها رعاؤها ليلاً

“Ini adalah perumpamaan yang sangat jelas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menggambarkan kerusakan agama seseorang disebabkan ketamakan mereka untuk meraih harta dan kedudukan di dunia. Kerusakan disebabkan ketamakan itu, tidak lebih rendah dibandingkan jumlah kambing yang menjadi korban akibat serangan dua serigala lapar yang sedang mencari makan dan menyerang gerombolan kambing di malam hari, sementara penggembalanya tidak ada.

Beliau melanjutkan,

يشيرُ إِلَى أنّه لا يسلمُ من دينِ المسلم مع حرصِهِ عَلَى المالِ والشَّرفِ في الدُّنْيَا إلا القليل

“Mengisyaratkan bahwa agama seorang muslim tidak akan selamat, kecuali sedikit, selama dia memiliki sifat rakus terhadap harta dan kedudukan di dunia.”

[Majmu Rasail Ibnu Rajab, 1/64].

Sebuah Contoh:

KH. Hasyim Muzadi bercerita – dalam sebuah pertemuan stadium general di UIN SUKA-,

Di Jember para kyai NU pernah mengadakan Bahtsul Masail tentang hukum rokok. pada awalnya kesimpulan fatwa yang mau dikeluarkan merokok adalah makruh tahrim [makruh yang sangat makruh mendekati haram, demikian makna yang biasa dipakai di kalangan Syafiiyyah, beda dengan makna makruh tahrim dalam mazhab Hanafi]. Nah, ternyata salah satu yang hadir di Bahtsul Masail ketika itu adalah seorang pengusaha rokok dengan brand MINNA. sang pengusaha menyampaikan kepada para kyai bahwa jika fatwa hukum merokok adalah makruh tahrim maka gedung NU setempat tidak akan jadi karena beliaulah donaturnya.
menindaklanjuti pernyataan sang pengusaha, para kyai berembuk ulang. pada akhirnya disepakati bahwa hukum merokok adalah makruh tahrim kecuali rokok dengan merk MINNA.

demikian riwayat bilmakna untuk cerita KH Hasyim Muzadi yang langsung saya dengan sendiri.
Ibrah:

Demikianlah godaan dunia di hadapan orang-orang yang berilmu. suatu godaan yang bisa dialami oleh siapa pun.

Nasalullaha al ‘afiyah was salamah.

Ibarat Menggenggam Bara Api

Dari Anas bin Malik radhiyallallahu ‘anhu dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasllam beliau bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

Akan datang suatu masa,orang yang sabar pada masa itu bagaikan orang yang sedang menggenggam bara.” [HR. Ahmad 9073, At-Tirmidzi 2260, dan dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth].

Merekalah orang yang istiqamah di tengah keterasingan. Karena itulah, Allah memberikan pahala besar.

Dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ. قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

“Sesungguhnya setelah kalian akan datang hari-hari kesabaran, orang yang sabar pada hari itu bagaikan orang yang menggenggam bara, orang yang beramal tatkala itu memperoleh pahala lima puluh orang yang beramal seperti amalannya,”

Sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, lima puluh orang diantara mereka ?,”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :”Tidak, tapi lima puluh dari kalangan kalian.”

(HR. Abu Daud no. 3778, At-Tirmizi no. 2984, dan Ibnu Majah no. 4004)

Allahu akbar…! pahala 50 orang di kalangan sahabat.

Ibnul Qayyim rahumahullah dalam kitab Madarijus Salikin 3/199 menjelaskan,
“Pahala yang besar ini karena keterasingannya di antara manusia dan karena dia berpegang teguhnya dengan Sunnah diantara kegelapan hawa dan akal pikiran.”

Karena Ilmu, Beda Status Halal Haram

Sesungguhnya Allah menjadikan buruan yang ditangkap oleh anjing yang bodoh sebagai bangkai yang haram dimakan, sebaliknya Allah menghalalkan buruan yang ditangkap oleh anjing yang berilmu. Ini menunjukkan betapa mulianya ilmu. Allah berfirman,

أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ

Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan hasil buruan yang ditangkap oleh binatang buas yang telah kamu ajari dengan melatihnya untuk berburu; menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu waktu melepaskannya. (QS. al-Maidah: 4)

Ibnul Qoyim mengatakan,

ولو لا مزية العلم والتعليم وشرفهما كان صيد الكلب المعلم والجاهل سواء

“Seandainya bukan karena kemuliaan ilmu dan mengajarkan ilmu, niscaya buruan hasil anjing bodoh dan hasil anjing pintar statusnya sama.”

[Miftah Dar Sa’adah, Ibnu Qayyim, 1/236]

Mereka Beribadah dengan Ilmu

Abu Darda :

مذاكرة العلم ساعة خير من قيام ليلة

“Mengkaji ilmu sesaat lebih baik dari pada shalat malam”

Abu Hurairah:

لأن أفقه ساعة أحب إلي من أن أحيي ليلة أصليها حتى أصبح

“Saya belajar sesaat lebih saya cintai dari pada saya habiskan waktu malam untuk shalat sampai subuh.”

Abu Hurairah:

لأن أعلم باباً من العلم في أمر أو نهي أحب إلي من سبعين غزوة في سبيل الله عز وجل

“Saya memahami satu masalah ilmu, baik terkait perintah, ataupun larangan, lebih aku cintai dari pada 70 kali perang di jalan Allah.”

Ibnu Abbas :

تذاكر العلم بعض ليلة أحب إلي من إحيائها

“Belajar beberapa saat di malam hari, lebih aku sukai dari pada menghabiskan seluruh malam untuk shalat.”

Abu Musa al-Asy’ari:

لمجلس أجلسه مع عبد الله بن مسعود أوثق في نفسي من عمل سنة

“Aku duduk belajar bersama Ibnu Mas’ud, itu lebih menenangkan hatiku dari pada beramal satu tahun.”

Hasan al-Bashri :

لأن أتعلم باباً من العلم فأعلمه مسلماً أحب إلي من أن تكون لي الدنيا كلها أجعلها في سبيل الله عز وجل

“Aku memahami satu masalah, kemudian aku ajarkan ke muslim yang lain, lebih aku sukai dari pada aku memiliki dunia seisinya yan aku jadikan untuk infak fi sabilillah.”

Hasan al-Bashri:

مداد العلماء ودم الشهداء مجرى واحد

Usaha ulama dan darah syuhada, statusnya sama

Ibnu Syihab az-Zuhri

تعلم سنة أفضل من عبادة مائتي سنة

Belajar sunah lebih utama dibandingkan ibadah 200 tahun

Sufyan at-Tsauri dan Abu Hanifah:

ليس بعد الفرائض أفضل من طلب العلم

“Tidak ada amal setelah yang wajib, yang lebih utama dibanding belajar agama.”

Sufyan At-Tsauri :

لا نعلم شيئاً من الأعمال أفضل من طلب العلم والحديث لمن حسنت فيه نيته

“Saya tidak mengetahui ada amal yang lebih afdhal dari pada belajar ilmu dan hadis.”

Suatu hari Imam Malik melihat temannya menulis ilmu, kmd dia meninggalkannya dan shalat sunah. Beliau langsung berkomentar:

عجباً لك ! ما الذي قمت إليه بأفضل من الذي تركته

“Kamu sungguh mengherankan! Apa yang kamu lakukan tidak lebih afdhal dibandingkan apa yang kamu tinggalkan (mencatat ilmu).”

[Majmu’ Rasail Ibnu Rajab, 1/36].

Mereka merasa mendapat pahala besar ketika belajar dan mengajar ilmu agama. Apakah kita juga demikian?

Sabar Ketika Menuntut Ilmu

Imam Ahmad menceritakan pengalamannya,

مكثت في الحيض تسع سنين حتى أتقنت مسائله وأحكامه

“Aku terus mempelajari permasalahan darah haidh selama sembilan tahun sehingga aku memahaminya”.[Thabaqat Hanabilah Ibnu Abi Ya’la 1/268.]

Perangilah penyakit malas bila menghampirimu dan latihlah dirimu agar terbiasa dalam ilmu. Ikrimah berkata:

كان ابن عباس يجعل في رجلي الكبل ويعلمني القرآن والسنن

“Ibnu Abbas mengikat kakiku dalam mempelajari Al-Qur’an dan hadits”. [Siyar A’lam Nubala adz-Dzahabi 5/14.]

3 Ciri Orang Bodoh

Abu Darda’ radhiyallahu anhu mengatakan,

علامة الجاهل ثلاثٌ: العجب، وكثرة المنطق فيما لا يعنيه، وأن ينهى عن شيء ويأتيه

“Tanda orang bodoh itu ada 3 (tiga), yaitu:

  1. Bangga diri.
  2. Banyak bicara dalam hal yg tidak bermanfaat.
  3. Melarang orang lain dari suatu perbuatan, namun ia sendiri melakukannya.” (Lihat ‘Uyuunu Al-Akhbaar, karya Ibnu Qutaibah II/39)

Sebab Terbesar Meningkatkan Taqwa

Allah berfirman,

فَكَيْفَ تَتَّقُونَ إِنْ كَفَرْتُمْ يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا

Bagaimana mungkin kalian bisa bertaqwa sementara kalian tetap kafir kepada hari kiamat yang menjadikan anak-anak beruban. (QS. Al-Muzammil: 17)

Inilah rahasia, mengapa iman kepada Allah sering digandengkan dengan iman kepada hari akhir, dalam banyak ayat al-Quran.

Allahu a’lam