Category :

Diselamatkan karena Banyak Bertasbih

Allah bercerita tentang Nabi Yunus,

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ . إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ. فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ

”Sesungguhnya Yunus termasuk para rasul Allah. (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, Kemudian dia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. (QS. As-Shaffat: 139 – 141)

فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ . فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ . لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

”Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam Keadaan tercela. Kalau sekiranya dulu dia bukan termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. As-Shaffat: 142 – 144).

Beliau rajin bertasbih sejak dulu, ketika beliau dalam kondisi normal. Kebiasaan baik di waktu lapang, menjadi penolong di waktu susah. Ibnul Qoyim menjelaskan,

فالأعمال تشفع لصاحبها عند الله وتذكر به إذا وقع في الشدائد قال تعالى عن ذي النون فلولا أنه كان من المسبحين للبث فى بطنه إلى يوم يبعثون

Amal soleh bisa memberikan pertolongan kepada pelakunya di sisi Allah dan menjadi sebab dia diperhatikan ketika dalam kondisi kesusahan. Allah ta’ala berfirman tentang Dzun Nun (Nabi Yunus), (yang artinya)’ Kalau sekiranya dulu dia bukan termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, Niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.’ (Madarij as-Salikin, 1/329).

Berdoa tanpa Meminta

Ketika Nabi Yunus ‘alaihis salam berada di puncak kesedihannya, beliau berdoa kepada Allah,

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

”Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya: 87).

Adakah beliau meminta sesuatu dalam doa itu? Tidak.

Namun simak pengaruhnya dalam lanjutan ayat,

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

”Maka Kami ijabahi doanya, dan kami selamatkan dia dari kesedihannya, dan demikian pula kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya: 88).

Nabi Yunus ‘alaihissalaam tidak meminta apapun dalam doa itu. Beliau hanya memuji Allah dengan pujian yang paling dicintai-Nya. Begitu mendengar pujian ini dari dalam perut ikan, di kedalaman lautan, dan di tengah kegelapan malam; Allah langsung mengijabahinya seketika, dan mengeluarkannya dari perut ikan.

Mari kita bandingkan dengan hadis berikut,

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sebaik-baik doa, adalah doa di hari Arafah. Dan sebaik-baik doa yang kupanjatkan dan dipanjatkan oleh para nabi sebelumku adalah

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلىَ كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ

“Tiada ilah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagiNya. MilikNya semua kerajaan, dan bagiNya segala pujian. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (HR. Turmudzi 3585 dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 1536)

Imam Sufyan bin Uyainah -guru besar Imam Syafi’i- pernah ditanya tentang hadis qudsi: ’Allah berfirman, ”Barangsiapa yang menyibukkan dirinya dengan memuji-Ku sehingga tidak sempat mengajukan permohonan kepada-Ku, Aku akan berikan nikmat yang lebih baik dari pada yang diharapkan orang yang meminta.’

Bagaimana dzikir bisa menjadi doa? Maksud pertanyaan orang itu.

Imam Sufyan-pun menjawab dengan menyitir sebait sya’ir yang diucapkan Umayyah bin Abi Shalt saat minta santunan kepada Abdullah bin Jud’an yang terkenal dermawan:

أأذكرُ حاجتي أم قد كفاني حياؤكَ إنَّ شيمتَكَ الحياءُ

إذا أثنى عليك المرءً يوماً كفاهُ من تعرضك الثَّناءُ

كريمٌ لا يُغيرُه صباحٌ عن الخُلُقِ الجميل ولا مساء

Perlukah kusebut hajatku, ataukah rasa malu cukup bagimu, karena engkau memang pemalu?

Bila seseorang menyanjungmu di suatu hari cukuplah itu baginya, daripada harus meminta

Si dermawan yang sifat kedermawannya tidak pernah berubah siang dan sore hari

Begitu mendengar syair tadi, Ibnu Jud’an langsung menyantuninya. Sufyan bin Uyainah berkomentar, “Jikalau manusia saja cukup dipuji agar dia memberi, lantas bagaimana dengan Sang Pencipta yang Maha Mulia tiada tara?” (al-Mujalasah wa Jawahir al-Ilm, no. 49).

Jasa Malaikat kepada Manusia

Para malaikat banyak berdzikir memuji Allah, dan banyak memohon ampunan. Bukan untuk diri mereka sendiri, karena mereka tidak memiliki dosa. Mereka banyak beristighfar dan mohon ampun untuk manusia.

وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ

Para malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. (QS. As-Syura: 5)

Sungguh manusia berhutang budi kepada para Malaikat.

Menolak Kebenaran, Umumnya Karena tidak Paham

Jika seseorang memahami dengan seksama, dia tidak akan menolak kebenaran. Umumnya mereka yang menolak kebenaran, karena tidak memberi ruang sejenak bagi akalnya untuk merenungkan kebenaran itu.

بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna, dan belum datang kepada mereka ancaman. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). (QS. Yunus: 39).

Setelah mereka menyadari diri mereka salah, mereka enggan untuk kembali dan mencabut sikapnya, karena sombong.

Antara Dzikir dan Syukur

Manusia yang paling mudah bersyukur adalah mereka yang paling sering berdzikir.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al-Baqarah: 152).

Sebagian ulama menegaskan, dzikir adalah pintu gerbang syukur.

Ilmu Agama Vs Ilmu Dunia

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ اللهُ الدِّينَ، فَقَدْ أَحَبَّه

”Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada hamba yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Namun Allah tidak memberi (ilmu) agama kecuali kepada orang yang Dia cintai. Karena itu, siapa yang Allah beri (ilmu) agama, berarti Allah mencintainya.” (HR. Ahmad 3672, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 34545)

Lugu, Karakter Orang Mukmin yang Berilmu

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Beri kelonggaran dalam majlis”, maka berilah kelonggaran niscaya Allah akan memberi kelonggaran untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah: 11).

Ketika mereka diminta geser, mereka geser untuk memberi kelonggaran di masjid

Ketika mereka diminta berdiri untuk pindah, mereka tidak berat hati.

Allah sebut mereka sebagai mukmin yang berilmu, ”…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…

Manusia yang Sangat Allah Benci

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ بِالْأَسْوَاقِ جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ حِمَارٍ بِالنَّهَارِ عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا جَاهِلٍ بِأَمْرِ الْآخِرَةِ

Allah sangat membenci orang Ja’dzari, Jawwadz, suka teriak di pasar, bangkai di malam hari, keledai di siang hari, pinter masalah dunia, dan bodoh masalah akhirat. (HR. Ibnu Hibban 72 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

7 Karakter yang Allah benci:

  • Ja’dzari: keras lagi sombong (suka menghina)
  • Jawwadz: rakus lagi pelit
  • Suka teriak di pasar karena rebutan hak
  • Bangkai di malam hari, karena tidur sampai pagi
  • Keledai di siang hari, karena yang dipikirkan hanya makan
  • Pinter masalah dunia
  • Bodoh masalah akhirat.

Kita berlindung kepada Allah dari sifat yang sangat mengerikan ini.

Perlindungan Unik dari Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ، يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا، وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّد

Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah mengalihkan celaan orang kafir quraisy dan ejekan mereka kepadaku. Mereka mencela Mudzammam, dan melaknat Mudzammam, padahal namaku Muhammad. (HR. Bukhari 3533).

Nabi kita bernama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Muhammad secara bahasa artinya manusia yang sangat terpuji. Orang kafir quraisy menyadari hal ini. Karena ini termasuk nama yang mulia. Maka mereka memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Mudzammam, yang secara bahasa artinya manusia sangat tercela.

Dalam perjalanan selanjutnya, ketika mereka mencela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mereka cantumkan adalah nama Mudzammam, celaka Mudzammam, biadab Mudzammam, dst. dan bukan nama Muhammad. Allah menjaga nama baik beliau.

Ketika Ahmad Dahlan mendakwahkan gerakan Muhammadiyah, beberapa musuh dakwah beliau menggelarinya dengan dakwah wahabi.

Ketika salafi melanjutkan dakwah pemurnian islam, menegakkan tauhid dan sunah, anti syirik dan bid’ah, banyak orang menggelarinya wahabi.

Mereka mencela wahabi, bukan Muhammadiyah, mereka mencela wahabi dan bukan salafi. Barangkali ini salah satu penjagaan Allah terhadap nama baik ’Muhammadiyah’ dan salafi…

Dosa, Noda Hitam bagi Hati

Semakin banyak dosa yang kita kerjakan, makin banyak noda yang menempel, akhirnya hati menjadi tertutup, sehingga sulit mendapat cahaya hidayah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

”Ketika seorang hamba melakukan dosa, akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertaubat darinya, hatinya akan dibersihkan. Jika dia kembali melakukan dosa itu, akan ditambahkan titik hitamnya, sehingga menutupi permukaan hati. Itulah ’ar-Ran’ yang telah Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Itu disebabkan karena ar-Ran yang menutupi hati mereka disebabkan dosa yang telah mereka perbuat.” (HR. Turmudzi 3334 dan dihasankan al-Albani).