Memberi Buka Puasa Yang Mengenyangkan

 Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئٌ

“Siapa yang memberi buka puasa untuk orang yang berpuasa baginya pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikitpun.” (HR at-Tirmidzi, dinilai shahih oleh at-Tirmidzi dari Zaid bin Khalid)

 وَالْمُرَادُ بِتَفْطِيْرِهِ أَنْ يُشْبِعَهُ

“Yang dimaksud memberi buka puasa adalah makanan yang mengenyangkannya.”

(al-Akhbar al-Ilmiyyah min al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyyah hlm 161, Dar al-‘Ashimah) 

Hadits di atas menunjukkan kemurahan Allah Ta’ala.

Hanya dengan memberi buka puasa kita bisa mendapatkan pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa. 

Ada dua pendapat ulama tentang pengertian memberi buka puasa:

Pertama:

Memberi menu pembuka berupa beberapa butir korma, satu gelas teh hangat atau yang lain.

Kedua: 

Memberi satu paket lengkap makanan dan minuman yang bisa mengenyangkan orang yang berbuka puasa.

Pendapat yang lebih tepat adalah pendapat kedua.

Makanan yang mengenyangkan dalam hal ini tidak harus berupa makanan siap saji namun boleh juga berupa bahan makanan yang digunakan untuk berbuka puasa. 

Saat ini kesempatan mendapatkan pahala memberi buka orang yang berpuasa masih tetap terbuka lebar.

Semoga Allah menerima amal sedekah yang dilakukan oleh penulis dan semua pembaca tulisan ini. Aamiin.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Sebab Datangnya Musibah

Sebab Datangnya Musibah

Abu Bakar Ash-Shiddiq mengatakan,

والبلاء مؤكل بالمنطق

“Seringkali bencana itu gara-gara omongan.” (Al-Ansab hlm 38).

“Lisan itu sungguh bahaya.”

“Mulutmu harimaumu.”

Sering kali lisan itu jadi sumber petaka:

Terjadi perceraian gara-gara perang mulut.

Bermasalah dengan orang karena keceplosan dan salah omong.

Anak mendapatkan musibah karena doa jelek yang keluar dari lisan ortu.

Terjadi musibah karena pernah mengolok-olok orang lain.

Dapat petaka karena meremehkan wabah, adzab dan murka Allah dll

Semoga Allah selamatkan kita dari segala marabahaya, wabah, petaka dan bencana.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Nasihat Seorang Penggali Kubur

Nasihat Seorang Penggali Kubur

“Saudaraku, perhatikanlah dan renungkanlah. Dunia ini tidak lebih dari sebuah tipu daya yang memperdaya. Orang-orang berebut dan berlomba menumpuk kekayaan sehingga lupa kewajiban. Bahkan boleh jadi ia lupa bahwa suatu saat ia akan dikuburkan. Ketika sudah dikuburkan, semua manusia, baik kaya maupun miskin, sama saja; ia dikubur di atas tanah dan dibungkus dengan kain kafan berwarna putih. Harta yang diusahakannya dengan susah payah, kini menjadi bahan rebutan keluarganya. Isteri yang dicintainya, boleh jadi sebentar lagi akan dinikahi laki-laki lain. Maka, hati-hatilah dengan dunia ini. Jangan sampai kamu terperdaya karenanya.
Apabila kelak kamu mencari harta, jangan lupa kewajiban kepada yang Maha Kuasa. Apabila kelak menjadi seorang pejabat, jangan pernah lupa kepentingan rakyat. Apabila kelak menjadi seorang ulama, jangan lupa orang-orang melarat. Karena yang justru akan menyelamatkan kamu bukan kedudukan, jabatan akan tetapi kebaikan dan kepedulian kepada orang lemah; yang menyelamatkan kamu bukan tabungan yang numpuk di bank, akan tetapi uang recehan yang kamu berikan kepada orang-orang yang membutuhkan”.

[Dari: Ustadz Jafar Shalih Hafidzahullah Ta’ala]

Tidak Mudah Berfatwa

Tidak Mudah Berfatwa

Imam Syafi’i rahimahullah pernah ditanya permasalahan, namun beliau hanya diam saja. Maka dikatakan padanya, “Sampai kapan engkau menjawabnya wahai Imam?”

Maka beliaupun berkata,

حتى أدري الفضل في سكوتي، أو في الجواب

“Sampai aku mengetahui lebih utama mana diamku atau jawabanku. (Ibnu Shalah,  adabul mufti wal mustafti, 74)

Sungguh betapa berhati-hatinya beliau dalam berfatwa, karena fatwa itu sangat berat yang menyangkut hajat umat islam.

Maka diantara nasehat yang disampaikan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah kepada penuntut ilmu, dalam syarah hilyah thalibil ilmi, beliau mengatakan, “Pikirkanlah sebelum engkau ucapkan, apakah ucapan itu mempunyai faedah atau tidak. Sebagai mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرًا أو ليصمت

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berbicaralah dengan baik atau diam.. (HR. Bukhari dan Muslim)

Akhukum Minanurrohman

Sumber bacaan: https://www.alukah.net/sharia/0/88086/

Ada Masa Dimana Engkau Tidak Bisa Menyembunyikan Kebusukan Hatimu

Di dunia ini kita masih dapat menyembunyikan kebusukan hati dan batin, tapi di akhirat nanti tidak lagi… Selagi masih di dunia, bersungguh-sungguhlah untuk memperbaiki batin dan rahasia-rahasia hati, karena esok semuanya akan tersingkap dan dimintai pertanggungjawaban.

Tentang hari kiamat Allah berfirman,

يوم تبلى السرائر

“Pada hari ditampakkan segala rahasia.” (QS. Ath Thariq: 9)

وحصل ما في الصدور

“Dan dilahirkan segala yang ada dalam dada.” (QS. Al ‘Adhiyat: 10)

Pada akhirnya, keselamatan batin menjadi penentu…

يوم لا ينفع مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم

“Pada hari ketika tidak lagi bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy Syu’ara: 88 – 89)

Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc
(Pembina KPMI Korwil Bandung)

Becik ketitik ala ketoro…

Becik ketitik ala ketoro…

Setiap perbuatan akan ada balasannya.. dan bisa jadi Allah tunjukkan ketika di dunia…
Allah sering menyebutkan janji-Nya dalam al-Quran,

وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Akibat baik akan diberikan kepada orang yang bertaqwa.”

Allah juga memberikan ancaman,

قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ

Katakanlah: ‘Tunggulah saatnya, kita sama-sama menunggu‘ (QS. al-An’am: 158)

Bisa jadi saat ini kebenaran itu tenggelam karena kebatilan sedang naik daun… Pasti suatu saat nanti, Allah akan kembalikan kejayaan kebenaran..

*Ustadz Ammi Nur Baits*

Jangan Tuntut Ayah

Suatu kali ayahku mengajak ke pemakaman. Setelah sampai beliau sepertinya mencari-cari sesuatu. Lalu ayahku berkata,

“Nak, lihat nisan dari batu bata kecil itu!! Yang dibawah pohon kamboja… Itu kuburan mbah putrimu.” Tunjuk bapakku

“Suatu saat kuburan itu akan hilang karena kemiskinan, orang-orang kaya akan merusak kuburan dengan membuat batu kijing[1].” tambah bapakku..

Sementara aku cuma diam sambil melihat kuburan-kuburan berserakan didepan.. Aku tak lupa memegang lengan beliau yang kekar karena tiap hari bergulat dengan cangkul.

Sesekali saya melihat jenggot dan matanya yang menatap jauh… jauh jauh.. seakan dia memikirkan apa yang akan terjadi dibalik batu nisan ini.

Tiba-tiba suara bapakku muncul dari mimik bibirnya sembari melihatku,

“Nak… kamu sudah baligh, kamu sudah bertanggung jawab dengan amalmu..”.
“Bapak sudah berusaha mendidik kalian agar menunaikan kewajiban kepada Allah, terutama shalat”
“Jangan sampai suatu saat kalian menjadi penghalang masuk surga orang tua, jika di yaumil hisab ketika kalian di tanya Allah tentang keadaan sholatmu… kalian mengatakan ‘saya belum diajari agama oleh orang tuaku’. Maka Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada orang tua karena dia bertanggung jawab mendidik anaknya..”

“Ingat Bapak sudah berusaha mendidik kalian, dan menyuruh menunaikan kewajiban kepada Allah… jika Bapakmu kelak tiada. Kalian-kalianlah kelak yang mendoakan bapak-ibumu.” [Abu Najmah Minanurrohman]

Keterangan: 

1. Ada hadis larangan membuat kijing pada kuburan. Dari sahabat Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi semen pada kubur, duduk di atas kubur dan membuat bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim no. 970)

Disamping itu secara ekonomi, pemberian kijing syarat pemborosan. Karena area pemakaman umum akan penuh bangunan yang menyulitkan tempat pemakaman bagi orang yg meninggal esok hari.