7 Amalan Agar Anda Didoakan Malaikat – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Marilah, kita tunjukkan beberapa amalan yang pelakunya akan dimohonkan ampun oleh para malaikat.
Terdapat dalam nash (al-Quran dan Hadis) beberapa amalan yang mana para malaikat memohonkan ampun untuk orang yang mengamalkannya. Misalnya, menunggu salat berjamaah di masjid.
Sesungguhnya para malaikat berselawat untuk salah seorang di antara kalian selama masih berada di tempat duduknya, mereka berkata, ‘Ya Allah ampunilah dia dan rahmatilah dia selagi dia belum berhadas dan salah seorang di antara kalian dianggap dalam salat selama masih menunggu salat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika seseorang menunggu salat, para malaikat mendoakan kebaikan untuknya dan selepas salat apabila dia tetap duduk di tempatnya tanpa berhadas maka malaikat juga mendoakan dia. Dia duduk seperempat jam, setengah jam, satu jam, dua jam atau sampai tiba salat berikutnya, selama itu malaikat mendoakan kebaikan untuknya. Baiklah, orang yang salat di saf pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat kepada yang berada di saf-saf pertama.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i dan hadis ini sahih)

Dan dalam riwayat lain, “Berselawat untuk orang yang berada di saf terdepan.”

Ketiga, menuntut ilmu.

Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka karena ridha kepada penuntut ilmu. Dan sungguh orang yang berilmu akan dimohonkan ampun oleh mereka yang berada di langit dan yang di bumi sampai ikan paus di dalam laut. Dan keutamaan orang yang berilmu dari pada ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan dibandingkan seluruh bintang.” (HR. Abu Daud dan Tirmizi)

Empat, mengajari kebaikan pada manusia.

Orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia, berbahagialah dia! Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi sampai seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus binatang dan makhluk yang paling besar dan yang paling kecil. sampai seekor semut dalam sarangnya dan sampai ikan paus Dan tentu juga semua binatang selain kedua binatang ini, semua binatang lainnya dan makhluk lain, Allah hanya menyebutkan kepada kita yang terkecil dan yang terbesar, namun keseluruhan binatang di alam semesta, semua binatang yang berjalan di alam ini, -Wahai para jamaah- semua binatang melata, seluruh binatang yang berjalan di alam ini. “Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit  penduduk langit adalah para malaikat, bidadari-bidadari bermata jeli, anak-anak muda yang kekal kepemudaan mereka, mereka itu adalah penduduk langit.  Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit…” Dan tentu di langit ada arwah para nabi, syuhada dan orang-orang mulia lainnya.

“Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi sampai seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus…”

Kenapa? Kenapa?
“Sungguh mereka berselawat …”

Mereka mendoakan kebaikan untuk siapa? Untuk siapa? Jumlah yang besar ini seluruhnya, ini jumlah yang besar, jumlah yang banyak.

“Sungguh mereka berselawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia.”

(HR. Tirmizi dan hadis ini sahih)

Tentu, para jamaah, ini adalah sesuatu yang memotivasi kita semua, Anda para laki-laki dan wanita, dia, saya dan kita semua untuk bersungguh-sungguh dalam mengajarkan kebaikan kepada manusia. Demi Allah, ini membahagiakan sekali, ajarkan al-Fatihah, ajarkan makna al-Qur’an, ajarkan surat-surat pendek, ajarkan hadis Arba’in Nawawiyah, makna-makna hadis dan lain sebagainya. Ajarkan kepada manusia hukum-hukum fikih, halal dan haram, tafsir surat al-Fatihah, Ajari orang-orang adab dan akhlak, sirah nabawi, ajari orang-orang kebaikan, ajarkan kebaikan. Demi Allah, apabila kita menyibukkan diri dalam mengajarkan kebaikan niscaya akan lenyap banyak sekali kebodohan dan akan hilang banyak bid’ah, dan demikian pula kemungkaran dan kemaksiatan akan berubah, berganti menjadi ketaatan, ilmu, cahaya, iman dan hidayah di tengah manusia.
Berilah pengajaran di masjid, mengajarlah di mimbar, mengajarlah dengan media pengumuman, mengajarlah di media sosial Facebook, mengajarlah melalui pesan-pesan WhatsApp, mengajarlah melalui surat elektronik (e-mail) dan pesan singkat di ponsel, mengajarlah dengan telepon, mengajarlah di sekolah rumah, mengajarlah di kantor-kantor, mengajarlah di pertemuan-pertemuan warga, berilah pengajaran ketika komunitas Anda berkumpul bersama Anda, ketika Anda berkumpul dengan komunitas Anda, dengan sahabat-sahabat Anda, berilah pengajaran ketika ada pertemuan keluarga, mengajarlah saat perkumpulan hari raya besok, mengajarlah!

Di semua tempat yang mungkin bagi Anda untuk menyampaikan pengajaran, maka ajarkanlah! Ajarilah, wahai jamaah, ajarilah kebaikan, ajarkan tauhid, ajarkan sunah, ajarkan sifat-sifat Allah, ajarkan makna asmaul husna yang agung, Ajarkan kepada mereka keadaan surga, neraka dan hari akhir serta segala sesuatu yang ada padanya dan apa yang akan mereka hadapi di sana. Ajari mereka tafsir surat al-Fatihah dan surat-surat pendek, ajari mereka hadis-hadis dan penjelasannya dan hukum-hukumnya, Ajari mereka adab dan akhlak, ajari mereka hal-hal yang meningkatkan iman dan melembutkan hati, ajarkan sirah Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ajarkan sunah Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajarkan kehidupan Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ajarkan kebaikan! Ajarkan kebaikan! Kebaikan, apapun yang merupakan kebaikan, sesuatu yang bermanfaat untuk manusia bagi dunia ataupun akhirat mereka.Ajarkanlah kebaikan, bagaimana caranya sehingga mereka bisa menghindari hal-hal yang merupakan ancaman dalam badan mereka, yaitu pengajaran yang berhubungan dengan kesehatan. Ajarkan bagaimana cara untuk menghindari ancaman di dalam rumah dan di dalam kehidupan, yakni perkara-perkara yang berhubungan dengan ilmu pertahanan sipil dan protokol keselamatan dan pencegahan.

Apapun yang merupakan kebaikan dan pokok kebaikan adalah agama, maka ajarkanlah al-Qur’an dan sunah, ilmu al-Qur’an dan sunah, Cukup apabila seseorang membayangkan bahwa sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi dan bahkan seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus dalam lautan, semua binatang melata, semuanya berselawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia, maka lakukanlah dengan niat yang ikhlas karena Allah. Dan bayangkan saja, bagaimana pahalanya? Yakni, pada hari kiamat nanti, Anda tidak memiliki apa-apa kecuali lembaran-lembaran amal yang terbuka, yang di dalamnya terdapat doa-doa malaikat yang penuh bakti dan makhluk-makhluk Allah lain yang sangat banyak jumlahnya. Yang lain, amalan yang malaikat berselawat kepada orang yang mengamalkannya.

Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Al-Albani)

Makan sahur, tidakkah membantu dalam ibadah? Tidakkah menjauhkan Anda dari perihnya rasa lapar, amarah dan rasa tidak nyaman? Dan menguatkan Anda dalam beribadah? Padanya terdapat berkah? Dan menyelisihi Ahli Kitab? Yang lain, “Tidaklah seseorang berselawat untukku kecuali para malaikat berselawat untuknya selama dia masih berselawat untukku.” Lihat! Perhatikan ini! Perhatikan! “… kecuali para malaikat berselawat untuknya selama dia masih berselawat untukku.”

“Maka silakan seorang hamba memperbanyak selawat atau menyedikitkannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al-Albani)

Anda berkata, “Ya Allah, haturkan selawat untuk Nabi Muhamad.” sepuluh kali, seratus kali atau seribu kali. Maka setiap kali Anda duduk, berselawatlah untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya merekapun (para malaikat) berselawat untuk Anda, mereka mendoakan kebaikan untuk Anda, para malaikat berselawat untuk Anda.

Yang lainnya, “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain pada waktu antara fajar hingga matahari terbit,  maksudnya di pagi hari, “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain pada waktu antara fajar hingga matahari terbit, Anda menjenguk ke rumah sakit atau seseorang sakit dan Anda menjenguk dia di rumahnya. “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain yang sedang sakit di pagi hari, kecuali ada tujuh puluh ribu malaikat berselawat untuk dia.”

Tujuh puluh ribu, nolnya empat, tujuh puluh ribu malaikat, tujuh puluh ribu malaikat!  “(Mereka berselawat) hingga sore hari.” Yakni dari pagi hari sampai sore hari. Jika sore hari dimulai pada waktu salat Ashar, yakni jam empat, dan Anda berangkat menjenguk pada jam delapan pagi, sehingga dari jam delapan pagi hingga jam empat sore, delapan jam, para malaikat berselawat untuk Anda. “Dan apabila dia menjenguk pada waktu sore, maka tujuh puluh ribu malaikat berselawat untuknya sampai pagi hari. Dan dia mendapatkan kharif di surga.”

Kharif adalah panenan di surga, hasil panenan buah-buahan, buah-buahan ketika sudah dipanen, ini yang disebut dengan kharif di surga. Anda panen! Panen! Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmizi dan Ibnu Majah. Inilah beberapa amalan, beberapa amalan saja, belum seluruhnya, beberapa amalan yang membuat malaikat berselawat untuk orang yang mengamalkannya.

Nanti, bayangkan! Malaikat ini, doanya mustajab, tidak bermaksiat kepada Allah, yang mendoakan Anda ini bukan pelaku maksiat dan tidak pernah lalai dengan kewajiban, yang mendoakan Anda adalah mereka yang tidak pernah membangkang apa yang Allah perintahkan dan selalu melakukan apa yang diperintahkan pada mereka.

Mungkin sebagian dari Anda berkata, “Mungkinkah bila Anda mengulang lagi kepada kami amalan-amalan yang tadi telah Anda sebutkan sehingga kami bisa ingat dan bersungguh-sungguh mengamalkannya?” Perhatikan saya sekali lagi! Pertama, menunggu salat jamaah dan duduk setelah salat di masjid, dan yang lebih besar pahalanya adalah menunggu salat berikutnya setelah salat.

Kedua, berada di saf pertama (salat berjamaah).

Ketiga, menuntut ilmu, dengan media apapun.

melalui kanal dakwah, situs internet, membaca buku, majelis ilmu dan kajian, mengundang ahli ilmu atau apapun caranya.

Keempat, mengajarkan kebaikan pada manusia.

Kelima, makan sahur.

Keenam, berselawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketujuh, menjenguk orang sakit, inilah ketujuh amalan tersebut.

Ada tujuh, -Wahai jamaah-, siapa yang bisa mengulanginya untuk kita? Siapa yang bisa menyebutkan lagi untuk kita? Ada tujuh, menjenguk orang sakit, betapa banyaknya orang sakit, berselawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, makan sahur, mengajarkan kebaikan pada manusia, menuntut ilmu, berada di saf pertama dan menunggu salat. Tujuh amalan. Ya Allah, berikanlah kami taufik pada hal-hal yang membuat-Mu ridha, ya Allah berikanlah kami taufik pada perkara-perkara yang Engkau cintai dan jadikanlah amalan kami ikhlas hanya mengharap Wajah-Mu.

=====================

 

تَعَالَوْا نَسْتَعْرِضُ بَعْضَ الْأَعْمَالِ الَّتِي تَسْتَغْفِرُ الْمَلَاَئِكَةُ لِصَاحِبِهَا

وَرَدَ فِي النُّصُوصِ أَعْمَالٌ تَسْتَغْفِرُ الْمَلَاَئِكَةُ لِصَاحِبِهَا

مِثَالٌ اِنْتِظَارُ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ

إِنَّ المَلَائِكَةَ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ

وَأَحَدُكُمْ فِي صَلاةٍ مَا كَانَتْ تَحْبِسُهُ الصَّلَاةُ
رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

لَمَّا يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ الْمَلَائِكَةُ تَدْعُو تَدْعُو لَهُ وَ بَعْدَ الصَّلَاةِ إِذَا جَلَسَ فِي مَجْلِسِهِ بِدُونِ أَنْ يُحْدِثَ فِيهِ الْمَلَاَئِكَةُ تَدْعُو لَهُ

جَلَسَ رُبُعَ سَاعَةٍ نِصْفَ سَاعَةٍ سَاعَةً سَاعَتَيْنِ إِلَى الصَّلَاةِ الَّتِي تَلِيهَا الْمَلَائِكَةُ تَدْعُو لَهُ

طَيِّبٌ أَهْلُ الصَّفِّ الْأَوَّلِ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهَ يُصَلُّونَ عَلَى صُفُوفِ الْأُوَلِ
رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَحَدِيثٌ صَحِيحٌ

وَفِي رِوَايَةٍ
يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ

ثَلَاثَةٌ طَلَبُ الْعِلْمِ

إنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أجْنِحَتَهَا رِضاً لِطَالِبِ الْعِلْمِ

وَإنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَ مَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الحِيتَانُ فِي الْمَاءِ

وفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ

أَرْبَعَةٌ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ

مُعَلِّمُ النَّاسِ الْخَيْرَ هَنِيئًا لَهُ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ

إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ

أَكْبَرُ وَاحِدٍ أصْغَرُ وَاحِدٍ فِي الْحَيَوَانَاتِ وَ الْكَائِنَاتِ

حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ

طَبْعًا وَكُلُّ مَا بَيْنَهُمَا كُلُّ الْحَيَوَانَاتِ الْأُخْرَى وَ الْمَخْلُوقَاتِ بَسْ هُوَ يَعْنِي أَعْطَانَا الصَّغِيرَ وَ الْكَبِيرَ

لَكِنَّ شَامِلَ كُلَّ حَيَوَانٍ فِي الْعَالَمِ كُلَّ دَابَّةٍ فِي الْعَالَمِ كُلَّ دَابَّةٍ يَا جَمَاعَةٌ كُلَّ دَابَّةٍ فِي الْعَالَمِ

إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ

أَهْلَ السَّمَاوَاتِ اَلْمَلَائِكَةَ اَلْحُوْرَ الْعِيْنِ الْوِلْدَانَ الْمُخَلَّدُونَ أَهْلُ السَّمَاوَاتِ

إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وأَهْلَ السَّمَاوَاتِ
طَبْعًا السَّمَاوَاتُ فِيهَا أَرْوَاحُ أَنْبِيَاءٍ وَشُهَدَاءٍ وَ صَعَدَتْ

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرَضِيْنَ حتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ

أَيْ؟ أَيْ؟
لَيُصَلُّونَ عَلَى

يَدْعُوْنَ لِمَنْ؟ مَنْ؟ كُلَّ الْعَدَدِ الْهَائِلِ الْهَائِلِ هَذَا الْعَدَدِ الْهَائِلِ

لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ

رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَدِيثٌ صَحِيْحٌ

بَلَى يَا جَمَاعَةٌ هَذَا مَا هُوَ دَافِعٌ لَنَا جَمِيعًا لَكَ لَكِ لَهُ لِي لَنَا أَنْ نَجْتَهِدَ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

وَاللهِ سَعِيدٌ عَلِّمِ الْفَاتِحَةَ عَلِّمْ مَعَانِيَ الْقُرْآنِ عَلِّمْ قِصَارَ السُّوَرِ عَلِّمِ الْأَحَادِيثَ الْأَرْبَعِيْنَ النَّوَوِيَّةَ غَيْرَهَا مَعَانِيَ الْأَحَادِيثِ

عَلِّمِ النَّاسَ أَحْكَامَ الْفِقْهِ الْحَلَالَ الْحَرَامَ تَفْسِيرَ سُوْرِةِ الْفَاتِحَةِ

عَلِّمِ النَّاسَ الْآدَابَ وَالْأخْلَاقَ وَالسِّيْرَةَ النَّبَوِيَّةَ عَلِّمِ النَّاسَ الْخَيْرَ عَلِّمِ الْخَيْرَ

لَوِ اشْتَغَلْنَا وَاللهِ فِي تَعْلِيمِ الْخَيْرِ لَانْمَحىَ جَهْلٌ كَثِيرٌ وَزَالَتْ بِدَعٌ كَثِيرَةٌ وَكَذَلِكَ تَغَيَّرَتْ مُنْكَرَاتٌ وَمَعَاصٍ

وَصَارَتْ بَدَلًا مِنْهَا الطَاعَاتُ وَالْعِلْمُ وَالنُّورُ وَ الْإِيمَانُ وَالْهِدَايَةُ عِنْدَ النَّاسِ

عَلِّمْ فِي الْمَسْجِدِ عَلِّمْ فِي الْمِنْبَرِ عَلِّمْ فِي الْإِعْلَامِ عَلِّمْ فِي مَوَاقِعِ التَّوَاصُلِ فِيسْ بُوْك عَلِّمْ فِي رَسَائِلِ وَاتْسَاب

عَلِّمْ فِي الْبَريدِ الْإِلِكْتُرُوْنِيِّ وَرَسَائِلِ الْجَوَّالِ عَلِّمْ بِالْاِتِّصَالِ عَلِّمْ بِدُرُوسِ بَيْتِيَّةِ عَلِّمْ فِي الدِّيوَانِيَّاتِ عَلِّمْ فِي مُلْتَقَى الْحَارَّةِ

عَلِّمْ لَمَّا تُجْتَمِعُ الشِّلَّةُ مَعَكَ تَجْتَمِعُ مَعَهَا مَعَ أَصْحَابِكَ عَلِّمْ فِي اِجْتِمَاعِ الْأَقَارِبِ عَلِّمْ فِي اِجْتِمَاعِ الْعِيدِ الْقَادِمِ عَلِّمْ كُلَّ مَكَانٍ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصِلَ إِلَيْهِ التَّعَالِيمَ عَلِّمْ

عَلِّمْ يَا جَمَاعَةٌ عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا التَّوْحِيدَ عَلِّمُوا السُّنَّةَ عَلِّمُوا صِفَاتِ اللهِ عَلِّمُوهُمْ مَعَانِي أَسْمَاءِ اللهِ الْعَظِيمَةِ الْحُسْنَى

عَلِّمُوهُمْ صِفَةَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَ مَاذَا يُوْجَدُ فِيهِ وَمَا هُمْ مُقْبِلُونَ عَلَيْهِ فِي الْآخِرَةِ

عَلِّمْهُمْ تَفْسِيرَ سُورَةِ الْفَاتِحَةِ وَقِصَارِ السُّوَرِ عَلِّمْهُمْ عَلِّمْهُمْ الْأحَادِيثَ الشُّرُوحَ الْأَحَادِيثِ وَ الْأَحْكَامَ

عَلِّمُوا الْآدَابَ عَلِّمُوا الْأَخْلَاقَ عَلِّمُوا الْإِيمَانِيَّاتِ الرَّقَائِقَ عَلِّمُوا سِيْرَةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

عَلِّمُوا سُنَّةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمُوا حَيَاةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا الْخَيْرَ خَيْرًا أَيَّ شَيْءٍ اِسْمُهُ خَيْرٌ شَيْءٌ يَنْفَعُ النَّاسَ فِي دِينِهِمْ وَ دُنْيَاهُمْ

عَلِّمُوا الْخَيْرَ كَيْفَ حَتَّى يَتَوَقَّى أَشْيَاءً يَعْنِي مِنَ الآفَاتِ الَّتِي فِي الْجَسَدِ شَيْءٌ يَتَعَلَّقُ بِالطِّبِّ

عَلِّمُوا كَيْفَ يَتَوَقَّى آفَاتَ فِي الْبَيْتِ فِي الْحَيَاةِ يَعْنِي أَشْيَاءٌ مِنْ عُلُومٍ مِنْ عُلُومِ الدِّفَاعِ الْمَدَنِيِّ السَّلَاَمَةِ إِجْرَاءَاتِ السَّلَاَمَةِ وَالْوِقَايَةِ

أَيُّ شَيْءٍ خَيْرٍ وَرَأْسُ الْخَيْرِ الدِّيْنُ عَلِّمُوا الدِّينَ الْكِتَابَ وَالسُّنَةَ عُلُومَ الْكِتَابِ وَالسُّنَةِ

يَعْنِي وَاحِدٌ لَوْ بَسْ كَذَا يَتَخَيَّلُ يَعْنِي
إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ فِي الْبَحْرِ

كُلُّ الدَّوَابِّ كُلٌّ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ وَخَلِّهَا بِنِّيَّةٍ خَالِصَةٍ لِلهِ

وَشُفْ الْأَجْرَ كَيْفَ؟
يَعْنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا لَكَ إِلَّا صُحُفًا مُنَشَّرَةً

فِيهَا أَدْعِيَةُ الْبَرَرَةِ وَمَخْلُوقَاتِ اللهِ الْكَثِيرَةِ الْمُتَكَاثِرَةِ

غَيْرُهُ أَعْمَالٌ الْمَلَاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَصْحَابِهَا

إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
رَوَاهُ ابْنُ حِبَّان وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ

سُحُورٌ أَلَيْسَ يُعِيْنُ عَلَى الْعِبَادَةِ ؟ أَلَيْسَ جَعَلَكَ أَبْعَدَ عَنْ أَلَمِ الْجُوعِ وَالْعَصَبِيَّةِ وَالنَّرْفَزَةِ؟

وَيُقَوِّيْكَ عَلَى الْعِبَادَةِ؟ فِيهِ بَرَكَةٌ؟ يُخَالِفُ أهْلَ الْكِتَابِ؟

غَيْرُهُ
مَا صَلَّى عَلَيَّ أحَدٌ صَلَاةً إِلَّا صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ يُصَلِّي عَلَيَّ

شُفْ لَاحِظْ هَذَا لَاحِظْ
إِلَّا صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ يُصَلِّي عَلَيَّ

فَلْيُقِلَّ العَبْدُ مِنْ ذَلِكَ أوْ لِيُكْثِرَ
رَوَاهُ الْإمَامُ أَحَمْدُ وَابْنُ مَاجَه وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ

تَقُولُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَشَرَ مرَّاتٍ مِائِةَ مَرَّةٍ ألْفَ مَرَّةٍ أَنْتَ وَمَا كُلَّمَا أَنْتَ جَالِسٌ صَلِّ عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَهِيَ تُصَلِّي عَلَيْكَ تَدْعُو لَكَ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْكَ

غَيْرُهُ
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً

يَعْنِيْ صَبَاحًا
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً

تُرَاحِلُ فِي المُسْتَشْفَى مَرِيْضٌ تَمُرُّ عَلَيْهِ فِي الْبَيْتِ

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ

سَبْعُونَ أَلْفَ أَرْبَعَ أَصْفَارٍ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ

حَتَّى يُمْسِي
يَعْنِي مِنَ الصَّبَاحِ إِلَى الْمَسَاءِ

إِذَا كَانَ الْمَسَاءُ يُبْدَأُ الْعَصْرُ يَعْنِيْ السَّاعَةَ الأَرْبَعَةَ

وَأَنْتَ رَحَلْتَ فِي السَّاعَةِ الثَّمَانِيَّةِ الصَّبَاحَ

مِنَ السَّاعَةِ الثَّمَانِيَّةِ إِلَى السَّاعَةِ الأَرْبَعَةِ ثَمَانِيَ سَاعَاتٍ الْمَلَائِكَةُ شَغَلَ صَلَاةً صَلَاةً عَلَيْكَ

وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبحَ

وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ

الْخَرِيْفُ خُرَافَةُ الْجَنَّةِ مُجْتَنَى الثِّمَارِ الثِّمَارُ إِذَا اجْتُنِيَتْ هَذَا خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ

عِنْدَكَ مَحْصُولٌ مَحْصُولٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَه

هَذِهِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ مَا كُلُّ الْأَعْمَالِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ الَّتِي تُصَلِّي الْمَلَائِكَةُ عَلَى أَصْحَابِهَا

بَعْدٍ شُفْ مَلَكٌ هَذَا يَعْنِي مُجَابُ الدَّعْوَةِ مَا عَصَى اللهَ الَّذِينَ يَدْعُونَ لَكَ مَا هُمْ عُصَاةٌ مُقَصِّرُونَ

الَّذِينَ يَدْعُونَ لَكَ لَا يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

يُمْكِنُ بَعْضُكُمْ يَقُولُ مُمْكِنُ تُعِيدُ لَنَا هَذِهِ الْأَشْيَاءَ الَّتِي ذَكَرْتَهَا حَتَّى نُثَبِّتَهَا وَنَجْتَهِدَ فِيهَا؟

خُذْ مَعِي مَرَّةً ثَانِيَةً وَاحِدٌ انْتِظَارُ صَلَاَةِ الْجَمَاعَةِ وَالْجُلُوسُ بَعْدَ الصَّلَاةِ فِي الْمَسْجِدِ

وَأَعْظَمُ مِنْهُ اِنْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ

اِثْنَينِ الصَّفُّ الْأَوَّلُ

ثَلَاثَةٌ طَلَبُ الْعِلْمِ أَيُّ وَسِيلَةٍ

عَنْ طَرِيقِ قَنَاةٍ مَوْقِعٍ كِتَابٍ حَلْقَةِ الذِّكْرِ حَلْقَةِ الْعِلْمِ دَعْوِ الْعَالِمِ أَيُّ وَسِيلَةٍ

أَرْبَعَةٌ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ

خَمْسَةٌ السُّحُورُ

سِتَّةٌ الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

سَبْعَةٌ عِيَادَةُ الْمَرِيضِ هَذِهِ سَبْعَةُ أَعْمَالٍ

سَبْعَةٌ يَا جَمَاعَةٌ مَنْ يَعُدُّهَا لَنَا ؟ مَنْ يَعُدُّهَا لَنَا؟

سَبْعَةٌ عِيَادَةُ الْمَرِيضِ مَا أَكْثَرَ الْمَرْضَى

الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السُّحُورُ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ طَلَبُ الْعِلْمِ الصَّفُّ الْأَوَّلُ اِنْتِظَارُ الصَّلَاةِ

سَبْعَةٌ

يَا اللهُ وَفِّقْنَا لِمَا يُرْضِيكَ يَا اللهُ وَفِّقْنَا لِمَا تُحِبُّ وَاجْعَلْ عَمَلَنَا خَالِصًا لِوَجْهِكَ

 

Indikator Mencintai Allah

Seorang ahli ibadah yang biasa disebut Dzun Nun mendapatkan pertanyaan, “Kapan aku dinilai mencintai Tuhanku? “. 

Jawaban beliau:

 إِذَا كَانَ مَا يُبْغِضُهُ عِنْدَكَ أَمَرُّ مِنَ الصَّبِرِ

“Jika hal-hal yang Allah benci  (baca: maksiat) menurut perasaanmu lebih pahit dibandingkan brotowali (tanaman super pahit)” (Tafsir Ibnu Rajab al-Hanbali 1/503)

Penggemar maksiat adalah orang yang menyakini jeleknya maksiat namun merasa maksiat itu suatu yang nikmat. 

Oleh karena itu meski berkeyakinan zina itu buruk namun zina tetap dilakukan. 

Meski yakin ghibah itu tercela, ghibah tidak juga ditinggalkan karena ada rasa nikmat di dalamnya. 

Lain halnya dengan orang yang benar-benar mencintai Allahﷻ. 

Ada dua hal yang terdapat dalam diri orang yang sungguh-sungguh cinta kepada Allahﷻ:

  1. Yakin sepenuh hati bahwa maksiat itu jelek, buruk, tercela dan dilarang serta dibenci oleh Allahﷻ 
  2. Ada perasaan jijik, muak, tidak ada enaknya, tidak ada nikmatnya dan heran mengapa ada orang yang beranggapan bahwa maksiat itu nikmat.

Orang yang betul-betul cinta Allahﷻ tidak memiliki hasrat, minat, antusias dan semangat untuk melakukan maksiat. 

Mari kita periksa hati kita, apakah kita sudah berada pada level mencintai Allahﷻ ataukah baru pada level mengaku cinta kepada Allahﷻ

Moga Allahﷻ berikan taufik kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk bisa jijik dan muak dengan semua varian maksiat. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Ini Dia Perhiasan Seorang Muslim 

Imam Asy-Syafi’i mengatakan:

 

عَلَيْكَ بِالزُّهْدِ فَالزُّهْدُ عَلَى الزَّاهِدِ أَحْسَنُ مِنَ الْحُلِيِّ عَلَى النَّاهِدِ

 

“Miliki sifat zuhud karena zuhud itu lebih indah dibandingkan perhiasan emas perak bagi gadis cantik.” (Bustanul Arifin karya Imam an-Nawawi hlm 137)

Yang memperindah seorang muslim adalah akhlak mulia. Diantara akhlak mulia adalah zuhud. 

Zuhud tidak berarti miskin papa tanpa harta. Zuhud adalah akhlak mulia yang levelnya di atas wara’. Wara’ adalah meninggalkan semua yang berbahaya di akhirat. 

Ucapan, perbuatan, hobi, pekerjaan, uang, postingan medsos, chat, komentar, tertawa dll yang berbuah dosa di akhirat akan ditinggalkan oleh orang yang wara’.

Sedangkan zuhud adalah meninggalkan semua yang tidak bermanfaat di akherat Semua ucapan, perbuatan, kebiasaan, hobi, pekerjaan, uang, postingan medsos chat, komentar, tertawa dll yang tidak bisa diniatkan pahala di akherat akan ditinggalkan oleh pemilik sifat zuhud.

Betapa indahnya seorang muslim yang memiliki sifat zuhud. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Istri Sholihah Bukan Bagian dari Dunia

قال أبو سليمان الداراني رحمه الله: الزوجة الصالحة ليست من الدنيا فإنها تفرغك للآخرة وإنما تفريغها بتدبير المنزل وبقضاء الشهوة جميعاً.

Abu Sulaiman ad-Darani mengatakan, “Isteri sholihah itu bukan bagian dari dunia yang melalaikan karena isteri sholihah itu membuat Anda wahai suami menjadi fokus. Hal itu karena isteri bertanggung jawab membereskan pekerjaan rumah dan menyebabkan tersalurnya syahwat biologis suami.” (Ihya Ulumuddin 2/35, Darul Fikr)

Wanita sholihah bukanlah bagian dari dunia yang melalaikan dari akherat. 

Wanita sholihah adalah bagian dari akherat karena wanita sholihah mendorong dan mendukung suami untuk bisa menggandeng tangan isteri, bersama menuju surga. 

Ada dua jasa besar isteri yang mengharuskan suami untuk senantiasa berterimakasih kepada isteri:

  1. Terpenuhinya kebutuhan biologis yang halal dan berpahala.
  2. Beresnya pekerjaan rumah.

Dua hal di atas adalah modal penting suami untuk mendapatkan ketenangan jiwa sehingga bisa maksimal berkontribusi bagi Islam dan kaum muslimin.

“Di balik lelaki yang banyak berkontribusi untuk agama dan umat terdapat wanita sholihah yang taat Allah dan rasul-Nya dan berbakti kepada suami”

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Karakter Musibah

ما من شيء إلا يبدو صغيرا ثم يكبر إلا المصيبة فإنها تبدو كبيرة ثم تصغر

Wahab bin Munabbih mengatakan, “Segala sesuatu pada awalnya kecil lantas membesar kecuali musibah. Pada awal terjadinya musibah itu besar. Seiring berjalannya waktu musibah tersebut mengecil.” (Hilyatul Auliya 4/63)

Musibah itu mudah mengecil jika orang yang mengalaminya tidak memikirkannya dan menyibukkan diri dengan aktivitas yang bermanfaat.

Akan tetapi musibah tak kunjung mengecil jika orang yang mengalaminya selalu duduk termenung memikirkannya.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Nasehat Dari Segelas Air

Suatu ketika al-Hasan al-Bashri diberi minuman air putih segar. Tatkala beliau memegang gelas berisi air tersebut tiba-tiba beliau pingsan. Gelas pun jatuh dari tangan beliau. 

Setelah beliau siuman ditanyakan kepada beliau:

“Ada apa wahai Abu Said?”

Jawaban beliau:

ذَكَرْتُ أُمْنِيَّةَ أَهْلِ النَّارِ حِيْنَ يَقُوْلُوْنَ لِأَهْل الْجَنَّةِ

Segelas air itu mengingatkan diriku dengan angan-angan penduduk neraka ketika mereka berkata kepada penduduk surga:

“Berikan kepada kami sedikit air atau rezki yang Allah berikan kepadamu.” (QS al-A’raf: 50)

(Ayyuhal Walad karya Abu Hamid al-Ghazali hlm 48-49, Dar al-Minhaj Jeddah)

Inilah beda orang yang benar-benar shalih dengan orang yang kayaknya shalih. Orang yang benar-benar shalih hatinya lembut, mudah mengambil pelajaran dan berdzikir ingat Allah Ta’ala dengan hal-hal sepele di sekitar dirinya. 

Lain halnya dengan orang yang kayaknya shalih, sulit mengambil pelajaran dan berdzikir ingat Allah Ta’ala dengan sebab hal-hal di sekitarnya. 

Manfaat penting membaca cuplikan kisah hidup orang shalih di masa silam adalah menghancurkan kesombongan dan perasaan sudah shalih. 

Bagi Al-Hasan al-Bashri segelas air minum sudah cukup untuk membuat beliau ingat dengan surga dan neraka, bahkan merasa takut dengan neraka. Akhirnya beliau pingsan karena hal ini. 

Coba bandingkan beliau dengan kita. Nampak sekali seberapa buruk kualitas hati kita. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Orang Yang Patut Dikasihani

Abdullah bin Mas’ud mengatakan:

إِذَا كُنْتَ فِيْ خَلْوَتِكَ لَا تَبْكِي عَلَى خَطِيئَتِكَ وَلَا تَتَأَثَّرُ بِتِلَاوَةِ كِتَابِ رَبِّكَ فَاعْلَمْ أَنَّكَ مِسْكِيْنٌ قَدْ كَلَبَتْكَ خَطِيئَتُكَ

“Jika dirimu ketika sepi sendiri tidak bisa menangisi dosa dan emosimu pun tidak terpengaruh oleh bacaan Al-Quran sadarilah bahwa dirimu adalah orang yang patut dikasihani. Dosa-dosa telah membelenggu dirimu.” (Halu as-Salaf ma’al Qur’an hlm 135 Dar al-Hadharah)

 Menurut Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibnu Mas’ud ada dua ciri orang yang patut dikasihani: 

Pertama:

Orang yang ketika sepi sendiri tidak bisa terkenang dengan dosa-dosanya lantas menangis karenanya.

Kedua:

Orang yang emosinya tidak terpengaruh dengan bacaan al-Quran yang dibaca, tidak bisa gembira ketika al-Quran yang dibaca bercerita tentang surga dan tidak bisa sedih ketika al-Quran yang sedang dibaca bercerita tentang murka dan adzab Allah Ta’ala.

Dua hal terjadi karena belenggu dosa yang demikian kuat mencengkeram hati. 

Banyak dari kita menangis bukan karena terkenang dosa namun malah karena teringat hutang, kehilangan uang, lamaran nikah yang ditolak dll. 

Kita selayaknya menangis karena tidak bisa menangisi dosa-dosa kita. 

Banyak dari kita yang emosinya demikian larut karena novel cinta cinta, sinetron atau film namun tidak bisa larut dengan bacaan al-Quran yang kita baca. 

Sungguh kita adalah orang yang lebih patut dikasihani dibandingkan orang fakir miskin, orang yang kesusahan untuk makan, kesulitan untuk bisa memakai pakaian yang layak dll. 

Mereka ini patut dikasihani karena problem fisik dan dunia sedangkan kita patut dikasihani karena problem hati dan akhirat. 

Hanya kepada Allah Ta’ala kita mengadu. 

Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

 

Puncak Kenikmatan Dunia

اللذات كلها بين حسي وعقلي ؛ فنهاية اللذات الحسية وأعلاها النكاح ، وغاية اللذات العقلية العلم ، فمن حصلت له الغايتان في الدنيا ، فقد نال النهاية

Ibnul Jauzi mengatakan, “Seluruh kenikmatan duniawi itu bisa dibagi menjadi dua kategori; kenikmatan fisik dan kenikmatan akal. Puncak kenikmatan fisik adalah menikah. Sedangkan puncak kenikmatan akal adalah ilmu agama. Siapa yang mendapatkan dua puncak kenikmatan di atas ketika dia hidup dia dunia sungguh dia telah mendapatkan seluruh kenikmatan duniawi.” (Shoidul Khathir hal. 190) 

Sungguh beruntung seorang muslim yang diberi rasa nikmat belajar ilmu agama, hadir di majelis ilmu, membaca buku agama, dll. 

Nikmat ini menjadi sempurna manakala Allah mudahkan untuk menikah dan berketurunan.

Moga Allah jadikan kita orang yang merasakan nikmatnya agama plus diberi kemudahan untuk menikah dan mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahan tersebut.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Seluruhnya Gelap, Kecuali Ini

الدنيا كلها ظلمة إلا مجالس العلماء

Al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Dunia ini seluruhnya adalah gelap gulita kecuali majelis para ulama.” (Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi 1/61)

“Ilmu agama adalah cahaya.”

Di majelis yang mengkaji ilmu agama kita jumpai cahaya penerang kehidupan.

 Cahaya indah ilmu agama itu bukan hanya untuk dipandangi keindahannya namun untuk menerangi langkah-langkah kita dalam menjalani hidup ini. 

Di berbagai aspek kehidupan kita jumpai berbagai permasalahan dan sisi gelap kehidupan. 

“Solusi dan cahaya terang kehidupan akan kita jumpai di majelis ilmu agama.”

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Senilai Pahala Belajar Agama

أَنَّ كُلَّ مَنْ أَعَانَ شَخْصًا فِيْ طَاعَةِ اللَّهِ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ فَإِذَا أَعَنْتَ طَالَبَ عِلْمٍ فِيْ شِرَاءِ الْكُتُبِ لَهُ أَوْ تَأْمِيْنِ السَّكَنِ أَوِ النَّفَقَةِ أَوْ مَا أشْبَهَ ذَلَكَ فَإِنَّ لَكَ أَجْرًا مَثْلَ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئًا

“Sungguh semua orang yang membantu seseorang untuk taat kepada Allah akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang berbuat taat tersebut. Jika anda membantu pelajar agama (baca: santri) untuk membeli buku agama yang dia pelajari atau menyediakan asrama atau biaya konsumsi bulanan nya atau yang lain niscaya akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang belajar agama tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (Syarh Riyadhus Shalihin 2/375, Madar al-Wathan)

Diantara kemurahan Allah adalah kaedah pahala semua orang yang membantu orang yang berbuat taat baginya pahala semisal pahala orang yang berbuat taat tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.

Diantara proyek kebaikan yang perlu didukung oleh seluruh kaum muslimin adalah proyek mencetak calon-calon guru ngaji yang akan menyebarkan kebaikan di tengah-tengah masyarakat

Orang yang mendukung proyek ini tidak hanya mendapatkan pahala semisal pahala santri yang belajar agama namun juga mendapatkan pahala semisal pahala ustadz pengajar ilmu agama. 

Disamping dukungan untuk segera tersedianya gedung asrama adalah bagian dari pahala jariyah. 

Membelikan buku agama yang akan dipelajari santri atau diajarkan oleh seorang ustadz adalah bagian dari pahala jariyah. 

Menanggung kebutuhan makan orang yang belajar agama sehingga bisa beraktivitas berbuah semua aktivitas kebaikan orang tersebut jadi pahala bagi orang yang menanggung kebutuhan konsumsinya. 

Tidaklah diragukan dukungan dalam proyek kebaikan semisal ini adalah bagian dari sumber pahala yang berlimpah

Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar memiliki banyak kran-kran pahala jariyah yang terus mengalir sampai hari Kiamat. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.