Kiat Istiqomah

Ibnu Qudamah al-Maqdisi mengatakan, 

وَاعْلَمْ أَنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ إِنَّمَا هَلَكُوْا لِخَوْفِ مَذَمَّةِ النَّاسِ وَحُبِّ مَدْحِهِمْ

“Sadarilah bahwa mayoritas orang itu berubah jadi rusak agamanya karena khawatir dengan komentar negatif orang-orang disekelilingnya dan ingin mendapatkan pujian dari kawan-kawannya.” (Mukhtasar Minhaj al-Qashidin hlm 212)

Sering kali orang yang baik agamanya berubah menjadi rusak diawali dari coba-coba melakukan maksiat.

Coba-coba melakukan maksiat itu sering kali karena motivasi agar dipuji kawan atau agar tidak dicela oleh kawan. 

Demikian pula perubahan kualitas agama seringkali terjadi karena khawatir celaan tetangga ataupun kerabat. 

Muslimah berjilbab syar’i berubah menjadi berjilbab mini dan ala kadarnya seringkali terjadi karena tidak kuat dengan celaan rekan kerja, kerabat atau pun tetangga.

Oleh karena itu, kiat penting untuk awet jadi orang baik setelah hidayah dari Allah adalah memiliki mentalitas teguh pendirian.

Orang yang teguh pendirian akan membersamai orang-orang di sekitarnya ketika mereka berbuat kebaikan dan tidak ikut-ikutan berbuat kejelekan ketika mereka berbuat kejelekan. 

Kiat penting agar menjadi orang yang teguh pendirian adalah tidak menjadikan ‘selamat dari komentar miring manusia’ sebagai orientasi hidup. 

Orientasi hidup seorang muslim adalah mendapatkan ridho Allah, bukan ridho manusia.

Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini orang-orang yang istiqomah dalam kebaikan dan ketaatan. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Kiat Praktis Tadabbur Al-Quran

Ali bin Abi Thalib mengatakan:

وَلَا خَيْرَ فِيْ قِرَاءَةٍ لَا تَدَبُّرَ فِيْها

“Tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Quran jika tidak ada tadabbur (usaha untuk memahami) di dalamnya.” (Sunan ad-Darimi no 306)

Tujuan al-Quran diturunkan itu untuk direnungi kandungannya dan diamalkan. 

Membaca al-Quran itu sarana untuk tadabbur (merenungi pesan kandungan al-Quran). 

Membaca tanpa tadabbur adalah melaksanakan sarana tanpa mewujudkan tujuan. 

Kiat praktis agar bisa tadabbur adalah:

Pertama:

Paham bahasa Arab atau

Kedua:

Membaca terjemahannya atau tafsirnya setelah selesai membaca bagian dari al-Quran yang ingin dibaca. 

Meski demikian, membaca al-Qur’an itu tetap berpahala meski orang yang membacanya tidak paham isi yang dibaca.

 Perkataan Ali di atas itu motivasi untuk berusaha membaca Al-Quran dan mengetahui kandungan bacaan, bukan untuk menggembosi orang yang semangat membaca Al-Quran.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Kiat Rajin Ibadah

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh mengatakan, 

إِذَا لَمْ تَقْدِرْ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ وَصِيَامِ النَّهَارِ فَاعْلَمْ أَنَّكَ مَحْرُوْمٌ كَبَلَتْكَ خَطِيئَتُكَ

“Jika anda tidak pernah sholat malam dan puasa sunnah di siang hari sadarilah bahwa anda orang yang merugi karena dosa membelenggu dirimu.” (Siyar A’lam an-Nubala‘ 8/435)

Hukuman maksiat itu tidak harus dalam bentuk hal-hal yang ngeri semisal hampir tersambar halilintar.

Diantara bentuk hukuman maksiat: 

  1. Diberi kemudahan untuk kembali bermaksiat.
  2. Ibadah terasa hambar Hati tetap terasa gersang meski ibadah harian tetap rutin dilakukan. Tidak ada kenikmatan yang terasa saat dan setelah melakukan aktivitas ibadah. Sholat, dzikir dan baca al-Qur’an tidak membuahkan ketenangan hati. 
  3. Sulit untuk melakukan ibadah sunnah. Sholat di akhir malam tidak pernah dilakukan. Puasa sunnah total ditinggalkan. 

Diantara sebab sulit sholat di akhir malam dan puasa sunnah adalah maksiat kepada Allah.

Diantara kiat penting agar bisa kembali rajin sholat di akhir malam ataupun puasa sunnah di siang hari adalah taubat yang serius kepada Allah. 

Moga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini orang-orang yang bisa merasakan nikmatnya sholat, berpuasa, dzikir, baca al-Qur’an dll dan meninggal dunia dalam kondisi beribadah kepadaNya. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Lihatlah Akhirnya

فَلَا يُنْظَرُ إِلَى نَقْصِ الْبِدَايَةِ وَلَكِنْ يُنْظَرُ إِلَى كَمَالِ النِّهَايَةِ

“Jangan pandang kekurangan di awal namun lihatlah kesempurnaan di akhirnya.” (Minhaj As-Sunnah an-Nabawiyyah 2/430)

Ini adalah kaedah penting dalam berbagai hal, diantaranya: 

Pertama:

Akhir Ramadhan. Manfaatkan akhir Ramadhan semaksimal mungkin. Ingat yang jadi tolok ukur adalah akhir yang bagus dan berkualitas. Semangat yang hanya biasa saja di awal Ramadhan itu dimaafkan jika ditutup dengan semangat ibadah yang membara di akhir Ramadhan.

Kedua:

Belajar ilmu. Yang jadi acuan bukanlah semangat membara di awal jika pada akhirnya melempem. Semangat biasa di awal namun tuntas sampai akhir itu yang lebih bagus. Meski yang lebih bagus lagi jika memiliki semangat membara dari awal sampai akhir masa belajar.

Ketiga:

Pendidikan Anak. Jangan terlena dengan hafalan al-Qur’an yang mempesona di usia TK manakala berujung kebosanan di usia remaja dan dewasa. Lebih baik, biasa saja di usia kanak-kanak karena ortu tidak pasang target muluk-muluk kepada anaknya yang masih belia namun rasa cinta dengan agama tetap membara di masa remaja dan dewasa.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Malu di Akhirat

Abu Laits as-Samarqandi mengatakannya, 

وَأَمَرَ بِحَدِّ الزَّانِيَيْنِ فِي الدُّنْيَا فَمَنْ لَمْ يُقَمْ حَدُّهُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّمَا يُضْرَبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِسِيَاطٍ مِنْ نَارٍ عَلَى مَشْهَدِ الْخَلَائِقِ 

“Allah perintahkan agar pelaku zina dihukum di dunia. Pelaku zina yang belum mendapatkan hukuman sesuai syariat di dunia akan dihukum pada hari Kiamat dengan dicambuk menggunakan cambuk dari api neraka dalam keadaan disaksikan oleh seluruh makhluk (di Padang Mahsyar)” (Tanbih al-Ghafilin hlm 336)

Kondisi yang sangat sangat memalukan adalah dipermalukan di Padang Mahsyar, di permalukan di depan semua manusia dan jin.

Tetangga, kerabat, kawan dll yang dulu di dunia tidak tahu menahu jadi tahu. Bahkan semua manusia pun jadi tahu. 

Di Padang Mahsyar memandang ke arah jauh itu sejelas memandang apa yang di depan mata.

Diantara yang dipermalukan di Padang Mahsyar adalah pelaku zina yang belum mendapatkan hukuman sesuai syariat di dunia.

Pelaku zina yang di dunia hanya mendapatkan hukuman penjara, dicopot dari jabatannya atau dipecat dari status ASN masih akan dipermalukan di Padang Mahsyar, dicambuk di hadapan seluruh makhluk. 

Manfaat hukuman sesuai syariat di dunia adalah menghilangkan hukuman di akhirat. 

Semoga Allah tutupi aib dan tidak mempermalukan penulis dan semua pembaca tulisan ini di dunia dan akhirat.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Manisnya Ibadah

Ada seorang yang bertanya kepada Wuhaib bin al-Ward, “Apakah orang yang bermaksiat kepada Allah itu bisa merasakan manisnya ibadah kepada Allah?”.

Jawaban beliau, 

لَا، وَلَا مَنْ هَمَّ بِالْمَعْصِيَةِ

“Orang yang bermaksiat itu tidak bisa merasakan manisnya ibadah. Bahkan orang yang berniat hendak melakukan maksiat itu tidak bisa merasakan manisnya ibadah.” (Syu’abul Iman karya al-Baihaqi no 6756)

Ritual ibadah kepada Allah itu memiliki rasa manis yang tak terbayangkan.

Rasa manis dan nikmat melebihi kenikmatan hidup para raja dan pangeran yang hidup penuh kemewahan dan fasilitas hidup yang serba wah. 

Akan tetapi nikmat ini tidaklah dirasakan oleh semua orang yang nampaknya beribadah. 

Tidak bisa merasakan manis dan nikmatnya berdzikir, bersholawat, membaca Al-Quran, sholat rawatib, sholat Dhuha, sholat Tahajjud, puasa Senin Kamis dll adalah salah satu bentuk hukuman dari Allah.

Itulah bentuk hukuman karena maksiat dan merencanakan maksiat. 

Orang yang rajin bermaksiat bisa saja tetap rutin melakukan sejumlah ritual ibadah namun dia tidak akan bisa merasakan kenikmatannya.

Hukuman maksiat itu tidak harus hal yang ngeri-ngeri. 

Dulu bisa merasakan nikmatnya sholat namun nikmat tersebut sekarang sudah hilang itu sudah cukup sebagai hukuman dan adzab Allah. 

Obat agar bisa kembali merasakan nikmatnya ibadah adalah dengan serius bertaubat dan mengkondisikan hati agar tidak lagi punya keinginan untuk bermaksiat kepada Allah. 

Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini nikmat merasakan manis dan indahnya ibadah kepada Allah. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Manusia Berbahagia

Dikutip oleh asy-Syathibi al-Maliki bahwa Abu Ali al-Hasan bin Ali az-Zaujazani mengatakan, 

مِنْ عَلَامَاتِ السَّعَادَةِ عَلَى الْعَبْدِ تَيْسِيْرُ الطَّاعَةِ عَلَيْهِ وَمُوَافَقَةُ السُّنَّةِ فِيْ أََفْعَالِهِ وَصُحْبَتُهُ لِأَهْلِ الصَّلَاحِ وَحُسْنُ أَخْلَاقِهِ مع الْإِخْوَانِ وَاِهْتِمَامُهُ لِلْمُسْلِمِيْنِ وَمُرَاعَاتُهُ لِأَوْقَاتِهِ

“Diantara orang yang beruntung dan bahagia adalah diberi kemudahan untuk melakukan ketaatan, tindak tanduknya sesuai dengan tuntunan Nabi, berkawan dekat dengan orang-orang shalih, berakhak mulia dengan orang-orang dekatnya, suka berbuat baik kepada semua makhluk, perhatian dengan kondisi kaum muslimin dan tidak suka buang-buang waktu.” (al-I’tisham karya asy-Syathibi hlm 70, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah)

Ada tujuh tanda manusia beruntung dan berbahagia di dunia dan akhirat.

  1. Ringan badan, hati, pikiran, uangnya dll untuk kegiatan ibadah dan ketaatan kepada Allah namun berat badan, hati, pikiran, uangnya dll untuk aktifitas yang tidak bermanfaat apalagi yang bernilai dosa. 
  2. Ibadah dan perbuatannya berdasarkan ilmu agama yang benar sehingga sesuai dengan tuntunan Nabi. Artinya menjadi orang yang bersemangat untuk terus belajar agar amal semakin  berkualitas karena semakin sempurna dalam mencontoh Nabi. 
  3. Berkawan dengan orang-orang shalih di dunia nyata dan dunia maya, hanya subscribe channel YouTube yang bermanfaat, follow akun medsos yang kaya ilmu dan nasehat dst. 
  4. Berakhlak mulia kepada orang-orang di sekelilingnya.

 Akhlak mulia adalah:

  1. Suka menolong dan meringankan beban orang lain
  2. Tidak pernah mengganggu orang lain.
  3. Selalu berwajah ceria penuh senyum manis.
  4. Bersabar menghadapi sikap-sikap yang tidak nyaman dari orang-orang di sekitarnya.
  5. Senang berbuat baik karena berbuat baik kepada semua makhluk hidup baik manusia ataupun hewan adalah perbuatan bernilai pahala. 
  6. Punya peduli, empati dan solidaritas yang tinggi kepada kaum muslimin minimal dengan doa penuh khusyu untuk kebaikan kaum muslimin. 
  7. Pandai memenej waktu dengan berkegiatan yang bermanfaat untuk kehidupan dunia ataupun kehidupan di akhirat nanti. 

Semoga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini manusia-manusia yang berbahagia dan beruntung di dunia dan akhirat. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

 

Manusia Mulia

Ayub as-Sikhtiyani mengatakan, 

لَا يَنْبُلُ الرَّجُلُ حَتَّى يَكُوْنَ فِيْهِ خَصْلَتَانِ الْعِفَّةُ عَمَّا فِيْ أَيْدِي النَّاسِ وَالتَّجَاوُزُ عَمَّا يَكُوْنُ مِنْهُمْ 

“Seorang itu tidak akan menjadi mulia kecuali setelah memiliki dua hal, tidak mengharapkan belas kasihan dari orang lain dan memaafkan gangguan dari orang lai.” (Min Akhbar As-Salaf ash-Shalih hlm 331)

Ada dua ciri manusia mulia karena akhlaknya.

  1. Qana’ah, merasa cukup dengan rezki dan karunia Allah untuk dirinya sehingga tidak berharap belas kasihan orang lain.
  2. Mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Memaafkan itu ada dua level. Level kedua lebih mulia dibandingkan level pertama.

Memaafkan dengan menerima apapun alasan orang tersebut dan tidak bertanya lebih lanjut mengenai alasan tersebut. 

Memaafkan tanpa meminta kepada orang tersebut alasan yang menyebabkannya melakukan hal yang menyakiti dirinya.

Memaafkan memang akhlak mulia. Akan tetapi tidak kalah mulia adalah akhlak mudah meminta maaf. 

Untuk bisa meminta maaf seorang itu harus menyingkirkan ego dan gengsinya. 

Tidak semua orang mudah untuk menyingkirkan ego dan gengsi pribadinya. 

Oleh karena itu, hargailah perjuangan orang yang datang meminta maaf dengan memaafkannya. 

Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk menjadi insan mulia dengan akhlak mulia. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Masuk Surga Karena Dosa

Salah satu ulama Salaf mengatakan,

 إن العبد ليعمل الذنب يدخل به الجنة ويعمل الحسنة يدخل بها النار

“Sungguh ada orang yang melakukan dosa namun malah masuk surga. Sebaliknya ada yang melakukan amal kebaikan malah masuk neraka.” (Ibnul Qayyim dalam al-Wabil ash-Shoyyib hal 13)

“Ketika buah dari amal kebaikan adalah bangga dan sombong maka nerakalah dampaknya.” 

“Sebaliknya jika buah dari maksiat adalah serius bertaubat yang ditandai dengan totalitas beramal sholih maka surgalah kesudahannya karena Allah mencintai orang yang sungguh-sungguh bertaubat.”

Pesan di atas bukanlah motivasi untuk berbuat maksiat karena tidak ada yang menjamin tidak akan mati ketika melakukan maksiat sehingga masih ada kesempatan untuk bertaubat.

Jika Anda tiba-tiba mati sedang melakukan maksiat, gimana?

***

Al-Hasan al-Bashri mengatakan, 

إِنَّ الرَّجُلَ يُذْنِبُ الذَّنْبَ فَلَا يَنْسَاهُ وَمَا يَزَالُ مُتَخَوِّفًا مِنْهُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ 

“Sungguh ada seorang yang melakukan dosa lantas dia senantiasa ingat dosa tersebut dan khawatir dampak buruknya. Akhirnya dia pun masuk surga karenanya.” (az-Zuhd karya Imam Ahmad nomor 338)

Terkadang berbuat dosa itu bisa menjadi ‘sebab’ masuk surga

Hal ini bisa terjadi manakala dosa tersebut  membuahkan inabah.

Inabah adalah kondisi ibadah dan amal sholih setelah berbuat dosa dan bertaubat jauh meningkat drastis dibandingkan kondisi sebelum berbuat dosa. 

Ada perubahan signifikan ke arah yang semakin lebih baik setelah bertaubat, inilah yang disebut inabah.

Kiat penting mencapai inabah adalah senantiasa terngiang-ngiang dosa yang telah dilakukan dan khawatir dampak buruk dosa tersebut. 

Hal ini dijadikan motivasi untuk selalu semangat beribadah dan beramal shalih. 

Rasa takut terhadap dosa itu terpuji jika mendorong semangat beribadah

Namun rasa takut terhadap dosa itu tercela jika menyebabkan putus asa dari ampunan dan kasih sayang Allah.

Semoga Allah wafatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini dalam keadaan bertaubat kepada Allah dari semua dosa. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Membantah Orang Tua Itu Durhaka

Yazid bin Abu Habib mengatakan, 

إِيْجَابُ الْحُجَّةِ عَلَى الْوَالِدِيْنِ عُقُوْقٌ

“Membantah ucapan orang tua itu bentuk durhaka kepada orang tua.” (Birrul Walidain karya Ibnul Jauzi)

Membantah atau menyanggah perkataan orang tua yang menyebabkan ortu tersinggung atau bahkan marah adalah salah satu bentuk durhaka.

Seringkali hal ini kita nilai remeh dan sepele padahal dosanya demikian besar, dosa durhaka kepada orang tua. 

Duhai saudaraku, mari merenung berapa banyak kita bantah dan sanggah ucapan ayah dan ibu kita. 

Hakekat bakti kepada orang tua adalah membahagiakan dan menyenangkan orang tua dalam hal-hal yang tidak bernilai dosa. 

Sedangkan hakekat durhaka orang tua adalah membuat orang tua sedih, jengkel, tersinggung atau marah dikarenakan ucapan atau perbuatan anak yang tidak diwajibkan oleh hukum agama.

Jika ucapan atau perbuatan anak yang membuat jengkel ortu itu hal yang diwajibkan oleh agama maka anak tidak tergolong durhaka.

Misal ortu jengkel bahkan marah karena anak tidak mau pasang sesaji di bawah pohon yang angker atau anak perempuan tidak mau melepas jilbab syar’i ketika keluar rumah. Dalam kasus semisal ini anak tidak tergolong durhaka. 

Semoga Allah memberikan ampunan untuk semua dosa penulis dan semua pembaca tulisan ini. Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak yang berbakti. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.