Sikap Pertengahan, Mendekati Benar

Sikap Pertengahan, Mendekati Benar

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Allah berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

Demikianlah Kami telah jadikan kamu (umat Islam), umat yang adil, umat pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia (QS. al-Baqarah: 143)

Allah jadikan umat islam sebagai umat pertengahan. Karena pertengahan, dia menjadi umat paling adil dan umat pilihan. Tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri. Karena pertengahan, mereka bisa menilai kesalahan umat-umat lainnya yang ekstrim. Karena pertengahan, mereka menjadi saksi bagi seluruh umat manusia.

Dalam masalah ilmu dan amal, orang yahudi menyimpang karena memahami ilmu tapi tidak mau mengamalkan. Orang nasrani menyimpang karena semangat beramal tanpa landasan ilmu. Umat islam pertengahan, mereka belajar ilmu (al-Quran dan hadis) dan berusaha mengamalkannya.

Dalam masalah bermuamalah dengan para nabi. Orang yahudi bersikap ekstrim dengan merendahkan para nabi, hingga mereka menuduh para nabi dengan kekejian. Orang nasrani ekstrim dalam mengagungkan para nabi hingga memposisikan mereka layaknya tuhan.

Orang islam bersikap pertengahan. Mereka mengagungkan dan menghormati para nabi sebagai utusan Allah, namun mereka tidak mengkultuskan hingga memposisikannya layaknya tuhan. Para nabi adalah hamba yang tidak memiliki sifat ketuhanan, dan mereka utusan Allah yang wajib ditaati secara mutlak.

 

Dalam masalah mengimani taqdir,

Kelompok qadariyah bersikap ekstrim dengan menolak takdir. Perbuatan manusia di luar taqdir Allah. Kebalikannya kelompok jabariyah, mereka menganggap manusia sama sekali tidak punya kehendak, layaknya wayang yang dikendalikan dalang. Sehingga apapun yang mereka lakukan tidak akan dihisab. Takdir menjadi alasan untuk bermaksiat.

Ahlus sunah pertengahan, mereka meyakini manusia punya kehendak dan perbuatannya akan dihisab. Namun kehendak manusia di bawah kehendak Allah.

 

Dalam masalah kehormatan Ali,

Orang khawarij menganggap Ali bin Abi Thalib dan para pengikutnya kafir. Orang syiah mengkultuskan Ali layaknya nabi atau lebih tinggi dari nabi. Meyakini bahwa beliau maksum.

Ahlus sunah pertengahan. Ali adalah sahabat mulia, yang dijamin masuk surga. Namun beliau bukan nabi dan tidak maksum.

 

Dalam berinteraksi dengan orang soleh,

Kaum liberal merendahkan orang soleh dan tidak menghormati mereka. Orang sufi mengaggungkan orang soleh dan mengambil berkah dengan ludahnya.

Ahlus sunah menghormati orang soleh dan tidak mengkultuskannya. Mereka menghormati sesuai batasan syariat, dengan mengikuti pendapatnya yang sesuai kebenaran.

 

Dalam interaksi dengan pemerintah…

Satu kelompok bersikap ekstrim, hingga menganggap thaghut semua jajaran pemerintah. Satu kelompok justru serakah dan berusaha merebutnya dengan segala cara.

Ahlus sunah pertengahan. Mereka tidak mengkafirkan pemerintah tanpa bukti yang jelas, menghormati keputusan pemerintah yang tidak bertentangan dengan ajaran islam. Namun mereka bukan orang yang serakah dengan jabatan.

 

Dalam berinteraksi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Orang liberal menghina dan mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga ada yang meragukan kejujuran beliau sebagai seorang nabi. Orang sufi mengagungkan beliau hingga membuat pujian untuk beliau layaknya tuhan, atas nama shalawat.

Ahlus sunah mengagungkan dan menjunjung tinggi beliau, dan berusaha mengikuti semua sunah beliau. Namun mereka tidak mengkultuskan beliau dengan pujian yang berlebihan.

Hindari sikap ekstrim dalam segala urusan. Sikap ekstrim akan menghalangi manusia untuk bersikap adil.

Allahu a’lam