3 Rukun Syukur yang Wajib Ka3 Rukun Syukur yang Wajib Kamu Tahu dan Amalkan – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlamamu Tahu dan Amalkan – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama

3 Rukun Syukur yang Wajib Kamu Tahu dan Amalkan – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama

الشُّكْرُ يَا عِبَادَ اللهِ لَيْسَ هُوَ بِاللِّسَانِ فَقَطْ الشُّكْرُ لَهُ أَرْكَانٌ ثَلَاثَةٌ لَا بُدَّ أَنْ تَتَحَقَّقَ جَمِيعًا

Wahai hamba Allah, syukur itu tidak sekedar dengan lisan saja, syukur memiliki 3 rukun yang harus dilakukan semuanya,

فَإِذَا فُقِدَ…فُقِدَ وَاحِدٌ مِنْهَا لَمْ يَحْصُلِ الشُّكْرُ

sehingga apabila tidak ada atau hilang salah satunya maka syukur tidak bisa terwujud.

الْأَرْكَانُ الثَّلَاثَةُ الْأَوَّلُ التَّحَدُّثُ بِاللِّسَانِ التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ بِاللِّسَانِ وَذِكْرُ النِّعْمَةِ

Tiga rukun syukur itu.
PERTAMA:
Mengucapkan dengan lisan, mengabarkan nikmat Allah dengan lisannya, menyebut-nyebut nikmat tersebut

لِأَجْلِ الْقِيَامِ بِشُكْرِهَا قَالَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا لِنَبِيِّهِ
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
الضُّحَى الْآيَةُ 11

dengan niat untuk mengungkapkan syukur atas nikmat tersebut. Allah jalla wa ‘ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu nyatakan (dengan bersyukur)” (QS. Ad-Duha: 11)

لَمَّا ذَكَرَ عَدَّدَ نِعَمَهُ عَلَيْهِ

Ketika Allah memberi tahu dan menyebutkan nikmat-nikmat-Nya kepada Nabi-Nya,

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى

“Bukankah Allah mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. …

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
الضُّحَى الْآيَةُ 6 – 11

Maka terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu nyatakan (dengan bersyukur)” (QS. Ad-Duha: 6-11)

اذْكُرْ نِعْمَةَ اللهِ

Sebut-sebutlah nikmat Allah!

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ
الْبَقَرَةُ – الْآيَةُ 40

“Hai Bani Israil, sebutlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu. …” (QS. Al-Baqarah: 40)

فَلَا تُضِفِ النِّعْمَةَ إِلَى غَيْرِ اللهِ لَا تُضِفْهَا إِلَى نَفْسِكَ وَلَا إِلَى أَحَدٍ بَلِ اللهُ هُوَ الْمُتَفَرِّدُ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ الَّتِي وَصَلَتْ إِلَيْكَ فَاشْكُرْهَا

Jangan sandarkan kenikmatan kepada selain Allah, jangan menyandarkannya kepada diri Anda sendiri, jangan pula kepada siapapun! Namun hanya Allah saja yang memberikan semua kenikmatan yang telah sampai kepada Anda, maka syukurilah!

أَوَّلًا يَتَحَدَّثُ بِهَا بِلِسَانِهِ وَاذْكُرْهَا بِاللِّسَانِ وَلَا تَقُلْ هَذِهِ مِنْ فُلَانٍ وَعَلَّانٍ بَلْ قُلْ هِيَ مِنَ اللهِ

Pertama, hendaknya seseorang mengabarkannya dengan lisannya, sebutlah dengan lisan Anda! Dan jangan mengatakan bahwa nikmat ini adalah adalah dari si A atau si B tapi katakan bahwa ini dari Allah.

الرُّكْنُ الثَّانِي الْاِعْتِرَافُ بِهَا بَاطِنًا فِي قَلْبِهِ

KEDUA:
Rukun syukur yang kedua adalah mengakui nikmat tersebut secara batin, dari dalam hatinya.

لِأَنَّ هُنَاكَ مَنْ يَذْكُرُ النِّعْمَةَ وَيَحْمَدُ اللهَ بِلسَانِهِ لَكِنَّهُ لَا يَعْتَرِفُ أَنَّهَا مِنَ اللهِ بَلْ يَرَى أَنَّهَا بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ وَجُهْدِهِ وَكَدِّهِ وَعَمَلِهِ وَحِذْقِهِ

Karena ada orang yang menyebut-nyebut nikmat Allah dan memuji Allah dengan lisannya akan tetapi dia tidak mengakui bahwa nikmat itu dari Allah bahkan dia menganggap bahwa itu karena usahanya, kekuatannya, ketekunannya, kesungguhannya, pekerjaannya dan kecerdasannya.

كَمَا قَالَ قَارُونُ لَمَّا ذَكَّرَهُ قَوْمُهُ قَارُونُ آتَاهُ اللهُ آتَاهُ اللهُ مِنَ الْخَزَائِنِ وَالْأَمْوَالِ الشَّيْءَ الْعَظِيمَ الشَّيْءَ الْعَظِيمَ

Sebagaimana perkataan Qarun ketika kaumnya menegurnya, Qarun telah dikaruniai Allah, diberi oleh Allah perbendaharaan berupa harta yang banyak jumlahnya, banyak sekali.

وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ
الْقَصَصُ – الْآيَةُ 76

“Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.” (QS. Al-Qasash: 76)

الْجَمَاعَةُ مَا يَحْمِلُونَ الْمَفَاتِيحَ مَفَاتِيحَ الْخَزَائِنِ مِنْ كَثْرَتِهَا

Sekumpulan orang tidak mampu membawa kunci-kuncinya, karena banyaknya kunci perbendaraannya.

إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ
الْقَصَصُ – الْآيَةُ 76
يَعْنِي فَرَحَ الْأَشَرِ وَالْبَطَرِ التَّكَبُّرُ

Ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga, …” (Al-Qasash: 76)
Maksudnya bangga karena sombong, congkak dan takabur.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
الْقَصَصُ – الْآيَةُ 76

“… Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (Al-Qasash: 76)

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…”

وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
الْقَصَصُ – الْآيَةُ 77

“… dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasash: 77)

مَاذَا كَانَ جَوَابُ هَذَا الْمِسْكِينِ ؟

Apa jawaban orang bodoh (Qarun) ini?

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي
الْقَصَصُ – الْآيَةُ 78

Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qasash: 78)

لَيْسَ لِلهِ فَضْلٌ فِي ذَلِكَ أَنَا حَصَّلْتُهُ بِكَدِّي وَكَسْبِي وَخِبْرَتِي لِلصَّنَائِعِ وَخِبْرَتِي لِلتِّجَارَةِ مَا قَالَ هَذَا مِنَ اللهِ

Allah tidak punya andil dalam hal itu, aku mendapatkannya karena kerja kerasku, pekerjaanku, pengalamanku dalam membuat barang, pengalamanku dalam berdagang, dan Qarun tidak berkata bahwa ini adalah dari Allah.

قَالَ هَذَا أَوْ أَنَا مُسْتَحِقٌّ لَهُ عِنْدَ اللهِ مَا هُوَ فَضْلٌ مِنَ اللهِ أَنَا مُسْتَحِقٌّ عَلَى اللهِ هَذَا هَذَا حَقِّي

Qarun berkata, “Aku pantas mendapatkannya di sisi Allah dan ini bukan karena karunia dari Allah, aku berhak mendapatkannya, bukan karena Allah, ini adalah hakku.”

كَمَا يَقُولُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ هَذِهِ حُقُوقُنَا وَهَذَا حَقُّنَا مَا يَقُولُ هَذَا فَضْلٌ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَنٌّ مِنَ اللهِ

Sebagaimana ucapan banyak orang, “Ini adalah hak kami, kami berhak mendapatkanya.” Mereka tidak berkata, “Ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala, ini adalah pemberian dari Allah.”

فَيَحْمَدُ اللهَ عَلَى ذَلِكَ وَيَنْظُرُ إِلَى مَنْ حَوْلَهُ مِنَ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ

Semestinya dia memuji Allah atas karunia tersebut dan memperhatikan fakir miskin di sekitarnya.

بَلْ يَنْسِبُ هَذَا إِلَى كَدِّهِ وَكَسْبِهِ وَحِيَلِهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ وَظِيفَتِهِ خِبْرَتِهِ شَهَادَاتِهِ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ لَا هَذَا مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Namun dia justru menganggap nikmat ini karena kerja kerasnya, upayanya, usahanya dan lain sebagainya, pekerjaannya, pengalamannya, ijazah-ijazahnya dan seterusnya. Tidak! Ini semua dari Allah ‘azza wa jalla.

وَإِلَّا غَيْرُكَ قَدْ يَكُونُ غَيْرُكَ أَحْذَقَ مِنْكَ وَأَعْرَفَ مِنْكَ

Karena selain Andapun, selain Anda ada yang lebih pandai dari Anda, lebih pintar dari Anda,

وَلَكِنَّ اللهَ اِبْتَلَاكَ اِمْتَحَنَكَ بِهَذَا الْمَالِ وَهَذِهِ النِّعْمَةِ فَاشْكُرِ اللهَ عَلَيْهَا

namun Allah hanya ingin menguji Anda dengan harta dan kenikmatan ini, maka bersyukurlah kepada Allah atas nikmat ini!

الْأَمْرُ الثَّالِثُ وَهُوَ الرُّكْنُ الثَّالِثُ مِنْ أَرْكَانِ الشُّكْرِ صَرْفُهَا فِي طَاعَةِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا

KETIGA:
Rukun syukur yang ketiga adalah menggunakan nikmat pemberian Allah dalam ketaatan kepada Allah jalla wa ‘ala,

فِي طَاعَةِ الْمُنْعِمِ لَا تَصْرِفْهَا فِي الْمُحَرَّمَاتِ فِي الْإِشْرَافِ فِي التَّبْذِيرِ فِي الْأَسْفَارِ إِلَى الْبِلَادِ الْكَافِرَةِ لِلشَّهْوَاتِ الْمُحَرَّمَةِ

dalam ketaatan kepada Allah yang memberi nikmat. Jangan Anda gunakan nikmat tersebut untuk hal-hal yang haram, berfoya-foya, boros, pergi ke negara-negara kafir, untuk memuaskan syahwat yang terlarang.

اصْرِفْهَا فِي طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا تَصْرِفْهَا فِي فَتْحِ الْمَحَلَّاتِ الَّتِي
الْمَحَلَّاتِ الَّتِي تُنْتِجُ الشُّرُورَ تُنْتِجُ الْمَعَازِفَ وَالْمَزَامِيرَ وَتُنْتِجُ الأَغَانِي وَتُنْتِجُ الْآثَامَ

Manfaatkan untuk ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, jangan gunakan untuk membuka tempat-tempat yang menciptakan keburukan, memunculkan alat-alat musik dan seruling, memunculkan nyanyian-nyanyian dan menimbulkan berbagai dosa.

وَالْمَحَلَّاتِ الَّتِي لَا تُنْتِجُ إِلَّا الشَّرُّ تَفْتَحُ عَلَى النَّاسِ بَابَ الشَّرِّ تَنْشُرُ الشَّرَّ بِمَصَانِعِكَ وَمَحَلَّاتِكَ

Dan tempat-tempat yang tidak menghasilkan apapun kecuali kejelekan, membuka pintu keburukan kepada manusia, menyebarkan keburukan dengan perbuatan dan tempat-tempat yang Anda buat.

هَذَا مِنْ كُفْرِ النِّعْمَةِ كُفْرٌ بِالْعَمَلِ

Ini adalah bentuk kufur nikmat, kufur dalam perbuatan.

اللهُ جَلَّ وَعَلَا قَالَ لِنَبِيِّهِ سُلَيمَانَ لَمَّا عَلَّمَهُ مَا عَلَّمَهُ وَأَعْطَاهُ مِنَ الْمُلْكِ مَا أَعْطَاهُ

Allah jalla wa ‘ala berfirman kepada Nabi Sulaiman ketika Allah telah ajarkan kepadanya ilmu yang tidak diajarkan kepada yang lainnya, dan ketika Allah berikan kepadanya kerajaan yang tidak Allah berikan kepada yang lainnya. Allah berfirman kepada Nabi Sulaiman:

قَالَ لَهُ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا
سَبَإ – الْآيَةُ 13

“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).”
(QS. Saba’: 13)

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
سَبَإ – الْآيَةُ 13

“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba’: 13)

يَعْنِي لَمَّا… لَمَّا أَعْطَى دَاوُودَ عَلَيْهِ السَّلَامُ دَاوُودَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَعْطَاهُ اللهُ أَنَّهُ عَلَّمَهُ صِنَاعَةَ الدُّرُوعِ

Yakni ketika Allah memberi karunia kepada Nabi Daud ‘alaihissalaam, Nabi Daud ‘alaihissalaam diajari oleh Allah kemampuan dalam membuat baju besi.

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا ۖ يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ ۖ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya, …

أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ
سَبَإ الْآيَةُ 10 – 11
وَهِيَ الدُّرُوعُ

“… buatlah zirah yang besar-besar, …” (QS. Saba’: 10-11)
Yaitu baju besi.

وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ ۖ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
سَبَإ – الْآيَةُ 11

“…dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Saba’: 11)

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ ۖ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ ۖ وَمِنَ الْجِنِّ مَن يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَمَن يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ
سَبَإ الْآيَةُ 12

“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Rabnya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.” (QS. Saba’: 12)

…يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya …”

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِن مَّحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَّاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
سَبَإ – الْآيَةُ 13

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba’: 13)

فَسَمَّى الْعَمَلَ الصَّالِحَ بِالْمَالِ الصَّالِحِ سَمَّاهُ شُكْرًا لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ

Allah menyebut pekerjaan yang baik dari harta yang baik dengan sebutan syukur kepada Allah ‘azza wa jalla.

وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْعَمَلَ السَّيِّءَ مِنَ الْمَالِ فَتْحُ الْمَحَلَّاتِ الْفَاسِدَةِ الْمُنْتَجَاتِ الْفَاسِدَةِ الْأَسْفَارُ الْمُحَرَّمَةُ الشَّهْوَاتُ الْمُحَرَّمَةُ الَّتِي يُنْفِقُ الْأَمْوَالَ فِيهَا هَذَا كُفْرٌ كُفْرٌ لِنِعْمَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Dan hal ini menunjukkan bahwa perbuatan buruk dalam menggunakan harta; membuka tempat-tempat yang buruk dan menghasilkan hal-hal yang merusak, berpergian untuk perkara yang haram, melampiaskan syahwat yang terlarang, yang mana seseorang mengeluarkan hartanya untuk hal-hal tersebut, ini merupakan bentuk tidak bersyukur terhadap nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.